Pagi di Nusa Cakra Resorts & Spa seharusnya menjadi momen perkenalan yang anggun bagi Arya. Udara Bali Timur terasa hangat, membawa aroma laut yang asin dan manisnya bunga Kamboja, sebuah kontras yang sempurna dengan ketegasan tugasnya sebagai IT Manager yang baru. Ia baru saja menyesap kopi pertamanya, membiarkan pikirannya berkeliaran memetakan kompleksitas resort—ratusan kamar, beach club yang jauh, dan jantung digital yang harus ia jaga. Ia tahu, di balik kemewahan ini, infrastruktur teknis bisa jadi rentan, tetapi ia tidak menyangka kerentanan itu akan menyambutnya dengan ledakan.
Tepat pukul 09.15. Waktu yang brutal.
Lobi yang didesain terbuka lebar, penuh dengan noise yang menyenangkan—suara koper beroda, bisikan concierge, tawa dari kolam—tiba-tiba diselimuti oleh keheningan yang tajam, diikuti oleh desahan panik yang menyebar. Rombongan tur yang baru datang berdiri terpaku, sementara pasangan yang seharusnya sudah di bandara kini menatap jam tangan mereka dengan wajah tegang.
Ponsel Arya bergetar hebat di saku kemejanya. Itu adalah Devi, Supervisor Front Office, yang suaranya terdengar tercekat di ujung telepon. “Pak Arya! Server mati! Semuanya down total! Kami tidak bisa check-out siapa pun! Terminal POS di restoran juga offline!” Teriakan Devi, meskipun teredam oleh telepon, terasa seperti alarm kebakaran yang membakar gendang telinga Arya. Adrenalin Arya langsung melonjak, menenggelamkan rasa kantuk dan kelelahan perjalanannya. Ia merasakan beban tanggung jawab yang menindih: bukan hanya sekadar memperbaiki bug, tetapi mengembalikan nyawa operasional hotel dalam hitungan menit. Kegagalan ini, di saat peak season, berarti kerugian reputasi yang tak terhitung dan potensi penalti finansial.
Arya segera bergerak. Ia menemui Devi, yang matanya sudah berkaca-kaca, dikelilingi oleh staf Front Desk yang panik dan menunjuk ke layar monitor yang gelap atau menampilkan pesan error yang sama. “Devi, tenang. Dengarkan saya. Kita beli waktu,” kata Arya, suaranya berusaha keras untuk terdengar setenang mungkin, padahal jantungnya berdegup tak karuan. “Ambil semua form check-out kertas. Catat semua tagihan manual. Minta maaf kepada tamu. Tawarkan mereka kompensasi kecil—satu dessert gratis di restoran saat dinner nanti. Yakinkan mereka. Saya butuh 45 menit.” Tugasnya yang pertama adalah memenangkan kendali atas situasi human-to-human di lobi, sehingga ia bisa fokus pada machine-to-machine di belakang layar.
Bersama Wayan, teknisi junior yang terlihat lesu dan pasrah, Arya bergegas menuju ruang server. Ruangan kecil itu terletak jauh di balik kantor back office, sebuah bunker yang sesak dan panas. Begitu pintu dibuka, udara panas menerpa wajah Arya. Bau debu dan aroma ozon yang samar-samar menyengat, mengingatkan pada listrik yang terlalu panas.
“Di mana jantung masalahnya?” tanya Arya.
Wayan menunjuk ke sebuah tower server tua. Kotak logam itu tampak usang dan berdebu, kontras sekali dengan kesan mewah Nusa Cakra. Server itu berkedip lampu merah error dengan frekuensi yang mengkhawatirkan. Namun, yang paling mengerikan adalah suara yang keluar darinya: ‘klik-klik-klik’ yang ritmis dan keras. Arya tahu suara itu. Itu adalah melodi kematian hard drive, sinyal pasti dari Disk Array Failure. Data PMS/POS, data reservasi tamu, dan detail penagihan kami, semuanya dienkripsi di dalam kotak yang sekarat ini.
“Server tua ini adalah Single Point of Failure kita, Wayan. Berapa usianya?” tanya Arya, frustrasi mulai mendidih.
“Lebih dari tujuh tahun, Pak. Kami sering mengeluh, tapi anggaran untuk ganti tidak pernah disetujui. Kami hanya bisa membersihkan debu,” jawab Wayan, nada suaranya penuh kekecewaan.
“Sekarang bukan waktunya meratapi anggaran. Sekarang waktunya bertarung,” tukas Arya, menguatkan dirinya sendiri. Tugasnya kini bukan hanya memperbaiki, tetapi melakukan transfusi darurat sebelum data kritis hilang selamanya.
“Wayan, backup kami? Server cadangan mana?”
Wayan menunjuk ke sebuah server lain di pojok, tertutup terpal. “Cold Spare, Pak. Kami tidak pernah mengaktifkannya. Datanya di-mirror seminggu yang lalu, kami rasa.”
Cold Spare. Server yang belum terkonfigurasi, tidak teruji, dan tidak otomatis failover. Ini adalah kegagalan desain infrastruktur yang sangat fatal. Arya tahu pemulihan akan memakan waktu yang lama.
“Lupakan mirroring yang usang. Kita akan memindahkan koneksi jaringan dari yang sekarat ke yang cadangan sekarang,” perintah Arya. “Kita lakukan Transfusi Darah Darurat.”
Mereka berdua berlutut, bergerak cepat di tengah labirin kabel yang berantakan. Arya memimpin, Wayan mengikuti dengan sigap. Arya mencabut kabel fiber dari server yang mengeluarkan bunyi ‘klik’ dan menyambungkannya ke port server cadangan. Tindakan ini harus presisi. Satu kesalahan port akan membuat mereka membuang waktu.
Arya kemudian fokus pada router jaringan inti. Ia harus mengubah rute jaringan, memanipulasi konfigurasi IP agar traffic yang masuk ke hotel diarahkan ke alamat server cadangan yang baru. Di layar monitor kecil yang terhubung, ia mulai memasukkan configuration file terakhir yang berhasil ia temukan di folder backup. Ia tahu ini adalah momen paling kritis. Jika konfigurasi jaringan ini salah, atau jika boot file server cadangan rusak, seluruh upaya akan sia-sia, dan waktu 45 menit yang ia janjikan kepada Devi akan berakhir dengan kekacauan total di lobi.
Menunggu server cadangan booting adalah sebuah siksaan yang panjang. Panas di ruang server terasa semakin menyengat, membuat keringat membanjiri kemeja Arya. Ia bersandar di rak, tangannya gemetar, merasakan ketakutan yang dingin menjalari tulang punggungnya. Ia membayangkan wajah GM, wajah Devi yang putus asa, dan bisikan marah para tamu. Ia berjuang melawan rasa takut gagal, menggantinya dengan fokus mutlak.
“Wayan, ping ke lobi! Cek connectivity!”
Setelah beberapa detik yang terasa seperti jam, Wayan berseru, “Berhasil, Pak! Jaringan sudah stabil!”
Arya segera meraih walkie-talkie yang ia letakkan di dekatnya. “Devi, login ke PMS sekarang. Coba proses check-out tamu pertama, posting tagihan minibar yang kamu catat manual, dan cetak faktur!”
Keheningan kembali menyelimuti walkie-talkie. Beberapa detik yang terasa sangat lama. Arya menahan napas, menanti hasil. Kegagalan check-out akan berarti mereka harus mengulang semuanya.
Tiba-tiba, suara Devi kembali. Kali ini, suaranya penuh lega, bahkan terdengar tawa kecil yang sarat emosi. “Berhasil, Pak Arya! Check-out sukses! Tagihan masuk dengan benar. Kami kembali beroperasi! Terima kasih banyak, Pak! Kekacauan sudah terkendali.”
Arya ambruk di kursi Wayan. Kelelahan fisik dan mental segera menyerang. Ia berhasil. Operasi penyelamatan memakan waktu 58 menit. Ia telah menyelamatkan hotel dari bencana finansial dan reputasi yang hampir pasti terjadi. Rasa kepuasan yang memabukkan bercampur dengan kemarahan terpendam terhadap desain infrastruktur yang rentan ini.
Malam itu, setelah semua check-out dan penagihan manual diselesaikan, Arya duduk sendirian di kantornya. Wayan dan Komang sudah pulang, mata mereka memancarkan rasa hormat yang baru ditemukan. Arya mengambil selembar kertas kosong. Ia harus memanfaatkan momentum ini.
Kegagalan server ini adalah bukti nyata bahwa berhemat pada infrastruktur IT adalah bentuk taruhan yang sangat bodoh dalam industri hospitality. Ia harus mengubah infrastruktur yang usang menjadi Jantung Baja.
Arya mulai menulis proposal mendesak. Ia akan meminta anggaran untuk segera migrasi ke platform virtualisasi dengan redundansi Hot Spare—server cadangan yang selalu online dan siap mengambil alih dalam hitungan detik—bukan cold spare yang membutuhkan waktu berjam-jam. Ia juga akan membuat Dokumentasi Disaster Recovery (DRP) yang jelas, melatih tim IT, dan bahkan tim Front Office, agar semua orang tahu apa yang harus dilakukan saat krisis datang.
Arya tersenyum tipis. Ia telah memenangkan pertempuran pertama. Ia telah memperoleh kepercayaan timnya dan perhatian dari General Manager, yang mengiriminya pesan singkat, “Kerja bagus, Arya. Bawa proposal ke meja saya besok pagi.”
Petualangan 100 hari ini baru saja dimulai, dan Arya tahu, tantangan yang akan datang akan jauh lebih rumit, tapi ia sudah siap. Ia tidak akan membiarkan server tua itu membunuh hotelnya lagi. Ia akan membangun fondasi digital yang sekokoh fondasi fisik resort itu sendiri.


