001 Pendaratan di Antah Berantah

Posted on

Dari Pesisir Pangandaran Ke Jantung Borneo

07.30 WITA – Lounge Blue Sky, Bandara Sepinggan

Arya menatap pantulan dirinya di kaca jendela ruang tunggu VIP Bandara Sepinggan, Balikpapan. Kemeja flanel kotak-kotak biru, celana chino krem, dan sepatu sneakers yang masih bersih. Di sampingnya, tergeletak ransel berisi laptop high-spec—barang termahal yang pernah ia beli dengan uang tabungan hasil proyek freelance selama kuliah.

Pikirannya melayang sejenak ke rumah orang tuanya di Pangandaran, Jawa Barat. Ia membayangkan deburan ombak Pantai Barat yang biasa ia dengar saat tidur, dan aroma ikan asin yang dijemur tetangga. Arya tersenyum tipis. Ia adalah anak pesisir yang “nekad” merantau sekolah ke SMAN 1 Ciamis, menempuh perjalanan jauh demi pendidikan yang lebih baik, lalu berhasil menembus ketatnya seleksi masuk IPB (Institut Pertanian Bogor).

Di kampungnya, Arya adalah legenda kecil. “Si Arya anu pinter komputer tea, ayeuna damel di Kalimantan, dibiayaan perusahaan gede,” begitu kata ibunya dengan bangga pada tetangga. Beban harapan itu terasa hangat namun berat di pundaknya.

Di sekeliling Arya, duduk 59 pemuda-pemudi lain. Rata-rata dari mereka berwajah kota, berbicara dengan logat Jakarta atau Bandung yang kental. Mereka membahas framework terbaru, startup unicorn, dan kopi artisan.

“Lu dari mana, Bro?” tanya seorang pemuda di sebelahnya yang memakai topi branded. “IPB,” jawab Arya singkat. “Asli Bogor?” “Bukan. Pangandaran. Tapi SMA di Ciamis,” jawab Arya bangga, meski ada sedikit rasa minder yang coba ia tekan. Ia tahu, teman bicaranya ini, Kevin, adalah lulusan ITB yang orang tuanya petinggi bank di Jakarta.

Seorang petugas berseragam Ground Handling masuk ke area lounge, memutus percakapan mereka. “Selamat pagi, Rekan-rekan Mining IT Bootcamp. Pesawat charter ATR 42-600 sudah siap. Kita akan berangkat menuju site dalam 15 menit. Mohon matikan sinyal seluler, perjalanan udara sekitar 45 menit.”

Arya menghela napas panjang. Ini bukan lagi perjalanan bus mikro dari Pangandaran ke Ciamis. Ini adalah liga yang berbeda.

09.00 WITA – Di Atas Kanopi Borneo

Pesawat baling-baling ganda itu menderu, membelah langit Kalimantan Timur. Tidak seperti pesawat jet komersial yang terbang tinggi di atas awan, pesawat perintis ini terbang cukup rendah, menyajikan pemandangan yang membuat Arya menelan ludah.

Jika di Jawa ia terbiasa melihat petak-petak sawah yang rapi, rumah-rumah penduduk yang padat, dan jalan raya yang macet, di sini yang ada hanyalah hijau. Hutan hujan tropis yang tak berujung, seperti karpet raksasa yang menelan bumi. Sungai Mahakam meliuk-liuk seperti ular cokelat raksasa, jauh lebih lebar dan liar dibanding Sungai Citanduy yang ia kenal di Ciamis.

“Gila… nggak ada rumah sama sekali,” gumam Arya pelan.

Tiba-tiba, Kevin di kursi depan menunjuk ke bawah. “Lihat itu, Ya! The Pit!

Arya menempelkan wajahnya ke kaca jendela. Di tengah hijaunya hutan, muncul sebuah “luka” menganga yang sangat besar. Tanah dikupas hingga kedalaman ratusan meter, memperlihatkan lapisan batubara hitam legam.

Dari ketinggian 8.000 kaki, Arya melihat titik-titik kuning kecil bergerak di dalam lubang itu. Logika komputasinya mulai bekerja. Itu truk. Tapi dari sini terlihat seperti semut. Berapa luas area ini? Ratusan hektar? Ribuan? Bagaimana cara mengatur lalu lintas di labirin tanah seperti itu?

10.30 WITA – Pendaratan di Private Airstrip

“Bersiap untuk mendarat. Cuaca sedikit berangin.”

Pesawat berguncang hebat. Sayap kiri miring tajam dihajar angin samping (crosswind). Arya mencengkeram sandaran tangan. Ia teringat masa-masa naik angkutan umum di tanjakan Emplak menuju Pangandaran yang berkelok-kelok, tapi rasa mual kali ini berbeda. Ini mual karena ketidakberdayaan di udara.

Gubrak! Roda pesawat menghantam landasan pacu pribadi (airstrip) di tengah hutan.

Begitu pintu pesawat terbuka, udara panas langsung menyergap masuk. Arya terbiasa dengan panas. Pangandaran itu panas dan lembap khas laut. Tapi panas di sini berbeda. Ini panas yang kering, berdebu, dan menyengat kulit. Matahari seolah berada tepat lima sentimeter di atas kepala.

Di apron, berbaris sepuluh unit mobil Double Cabin 4×4 (Toyota Hilux) berwarna putih, lengkap dengan tiang bendera tinggi (buggy whip) di bumper depan. Mobil-mobil itu tampak gagah, namun kotor oleh debu merah yang mengeras seperti kerak luka.

“Selamat datang di Site!” teriak seorang pria berbadan tegap dengan rompi safety hijau stabilo. Namanya Pak Haryo, instruktur lapangan.

“Tas koper kalian, lempar ke bak belakang mobil! Laptop bawa masuk ke kabin! Cepat! Kita tidak punya waktu seharian!” perintahnya tegas.

Arya ragu sejenak menatap koper hardcase-nya. Ia membelinya dengan susah payah. “Pak, kalau ditaruh di bak belakang, nanti kotor…” Pak Haryo menurunkan kacamata hitamnya. “Mas, kamu pikir kamu lagi liburan di Pantai Batu Hiu? Di sini debu adalah bedak sehari-hari. Lempar atau tinggal.”

Arya tersentak. Gaya bicara Pak Haryo mengingatkannya pada guru kedisiplinan di SMAN 1 Ciamis dulu, tapi kali ini lebih mengintimidasi. Dengan berat hati, Arya meletakkan kopernya ke bak mobil yang penuh debu batubara itu.

11.15 WITA – Perjalanan Menuju Camp (The Hauling Road)

Mobil melaju keluar dari area airstrip masuk ke jalan utama tambang (Hauling Road). Jalanan itu lebarnya tiga kali lipat Jalan Raya Ciamis-Banjar, tapi permukaannya tanah keras yang disiram air.

Tiba-tiba, radio komunikasi (Rig) di dashboard berbunyi. “Peringatan, unit HD 785 muatan penuh masuk Simpang Tiga KM 45. LV harap menepi.”

Sopir mereka, Pak Udin, langsung membanting setir ke kiri, menaiki tanggul tanah, dan berhenti total. “Kenapa berhenti, Pak?” tanya Arya bingung. “Ssst. Lihat,” jawab Pak Udin.

Tanah bergetar. Getaran itu merambat naik hingga ke kursi. Dari tikungan, muncul monster itu.

Sebuah Haul Truck Komatsu 785. Tingginya setara gedung dua lantai SMAN 1 Ciamis. Ban-nya saja lebih tinggi dari mobil yang mereka tumpangi. Suara mesin diesel V12-nya menggeram memekakkan telinga.

Arya menahan napas. Mulutnya sedikit terbuka. Ia pernah melihat truk pasir di Ciamis, ia pernah melihat bus pariwisata besar di Pangandaran. Tapi ini… ini adalah monster. Arya merasa sangat kerdil.

“Itu client kalian,” suara Pak Haryo terdengar dari HT. “Di dalam monster itu, ada komputer yang harganya lebih mahal dari rumah orang tua kalian. Kalau kode kalian salah, monster itu berhenti. Kalau dia berhenti, negara rugi. Masih merasa jago coding?”

Arya menelan ludah. Stake-nya bukan lagi nilai praktikum di Lab Komputer IPB. Stake-nya adalah raksasa ini.

13.00 WITA – Induksi di Mess Hall

Mereka tiba di Basecamp. Kompleks perumahan karyawan yang rapi namun kaku. Arya mendapatkan kamar di Blok A. Kamarnya nyaman, ber-AC, tapi jendelanya dipalang tralis besi tebal.

Masalah sesungguhnya muncul saat Arya mencoba menghubungi ibunya. “Sial,” umpatnya. “Telkomsel No Service.” Ia membuka laptop, menyambung ke Wi-Fi “GUEST-CAMP”. Terhubung. Tapi begitu membuka WhatsApp, loading-nya berputar tanpa henti. Membuka Instagram? Muncul layar merah: “ACCESS DENIED. Social Media Blocked.”

Arya lemas. Ia biasa menelpon ibunya setiap hari, sebuah kebiasaan anak rantau yang rindu rumah. Di sini, ia benar-benar terputus. Rasa sepi yang dulu ia rasakan saat pertama kali nge-kost di Dramaga, Bogor, kini kembali datang dengan intensitas sepuluh kali lipat. Hutan di luar sana terasa mengepungnya.

19.30 WITA – The Overlook (Titik Pandang)

Malam harinya, seluruh peserta dibawa ke The Overlook, titik tertinggi di bibir tambang.

Di bawah sana, terbentang pemandangan yang membuat Arya terdiam. The Pit di malam hari tampak seperti kota cahaya yang terbalik ke dalam tanah. Ribuan lampu sorot menerangi aktivitas yang tak pernah tidur. Suara mesin menderu rendah, bercampur dengan suara jangkrik hutan.

Pak Johan, Lead Instructor, berdiri di depan mereka.

“Selamat datang di ‘Dapur’ Indonesia,” suaranya tenang.

“Saya tahu latar belakang kalian. Ada yang anak pejabat, ada yang anak petani, ada yang dari kota besar, ada yang dari desa,” mata Pak Johan menyapu barisan, seolah berhenti sejenak di wajah Arya.

“Arya, lulusan terbaik IPB,” sebut Pak Johan tiba-tiba, membuat Arya kaget setengah mati. “Kamu mungkin jenius algoritma. Kamu mungkin kebanggaan sekolahmu di Ciamis dulu. Tapi lihat ke bawah sana.”

Pak Johan menunjuk lubang raksasa itu.

“Di sana, alam tidak peduli kamu lulusan mana. Di sana, kalau kamu salah pasang sensor, truk itu bisa buta. Di sana, kalau kamu lambat merespons error, produksi berhenti dan ribuan orang tidak bisa makan.”

“Kalian di sini bukan untuk dilayani. Kalian di sini untuk melayani para operator yang bertaruh nyawa di bawah sana. Runtuhkan ego sarjana kalian. Mulai malam ini, kalian adalah prajurit. Coding kalian adalah senjata untuk menjaga mereka tetap hidup.”

Arya merinding. Angin malam Kalimantan menusuk kulitnya, membawa debu halus yang mulai menempel di kacamata.

Ia teringat perjuangannya. Dulu, ia berjuang keluar dari Pangandaran untuk membuktikan bahwa anak nelayan bisa sarjana. Sekarang, ia sadar tantangannya berbeda. Ia harus membuktikan bahwa sarjana berdasi sepertinya bisa berguna di tengah lumpur dan debu ini.

Arya menatap lampu-lampu di kejauhan yang bergerak seperti kunang-kunang raksasa.

“Bismillah,” bisiknya pelan. “Jangkar sudah diangkat, pantang surut ke pantai.”

Malam itu, di bawah langit Borneo yang luas, Arya si anak Pangandaran, Alumni SMAN 1 Ciamis, dan Lulusan Terbaik IPB, memulai transformasi terbesarnya. Bukan menjadi lebih pintar, tapi menjadi lebih tangguh.

Pembelajaran Teknis & Psikologis Hari ke-1

  1. Poin Teknis (Introduction to Mining IT):

  • Physical Magnitude: Memahami skala fisik aset tambang (Haul Truck, Excavator) yang dilayani oleh sistem IT. Perangkat lunak hanyalah bagian kecil dari sistem mekanis raksasa.
  • Remote Connectivity: Pengenalan langsung pada tantangan infrastruktur telekomunikasi di area terpencil (VSAT, bandwidth terbatas, blokir konten non-produktif).
  • Operational Urgency: Memahami konsep bahwa di tambang, time is money dalam skala ekstrem. Kendaraan operasional (LV/Unit) selalu memiliki prioritas di jalan raya di atas kendaraan penumpang.
  1. Poin Psikologis (Character Growth):

  • Identity Shift: Transisi Arya dari “Kebanggaan Kampung/Kampus” menjadi “Anak Bawang” di industri. Latar belakangnya sebagai anak daerah memberinya daya juang (grit), tapi ia tetap harus meruntuhkan ego intelektualnya.
  • Isolation & Resilience: Rasa terputus dari support system (keluarga di Pangandaran) memaksa Arya untuk mulai membangun ketahanan mental mandiri dan mencari kawan senasib di site.
  • Sense of Duty: Pidato instruktur mengubah persepsi Arya tentang pekerjaannya; dari sekadar “karir bergengsi” menjadi “tugas menjaga keselamatan dan produktivitas bangsa”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *