002 Filosofi K3LH

Posted on

Mengapa Nyawa Lebih Mahal dari Server

04.30 WITA – Alarm Subuh dan Rindu Nasi Kuning Ciamis

Suara alarm dari ponsel Arya menjerit memecah keheningan kamar B-104. Di luar, langit masih gelap gulita, namun ambience suara di site tambang tidak pernah benar-benar sunyi. Dengung samar mesin genset raksasa dan gema reverse alarm (alarm mundur) unit alat berat dari kejauhan menjadi lullaby yang asing.

Arya bangun dengan punggung kaku. Kasur busa standar asrama ini jelas berbeda dengan kasur kapuk di rumahnya di Pangandaran. Ia duduk di tepi ranjang, mengumpulkan nyawa. Biasanya, jam segini di Pangandaran, ibunya sudah sibuk di dapur menyiapkan nasi kuning dan sambal goreng tempe untuk dijual atau sarapan keluarga. Aroma kunyit dan santan itu tiba-tiba terbayang begitu nyata, membuat perut Arya berbunyi perih.

“Bangun, Ya. Telat sarapan, nggak dapat makan. Hukum rimba,” suara serak Bimo, teman sekamarnya yang lulusan Elektro ITS, terdengar dari ranjang atas.

Arya menyeret kakinya ke kamar mandi. Air shower terasa dingin menusuk tulang, tapi efektif membilas kantuk. Saat bercermin, ia melihat wajahnya sendiri yang tampak sedikit lebih tirus atau mungkin hanya efek lampu neon putih yang pucat. Ia mengenakan seragam bootcamp yang baru dibagikan kemarin sore: kemeja lapangan abu-abu dengan garis reflektor (scotlight) di dada dan punggung, celana jeans tebal, dan yang paling menyiksa: sepatu safety boots.

Sepatu itu beratnya minta ampun. Ujungnya dilapisi baja (steel toe). Bagi Arya yang terbiasa memakai sandal jepit ke warung atau sneakers ringan saat kuliah di Bogor, memakai safety boots rasanya seperti mengikatkan batu bata di pergelangan kaki.

“Berat banget langkah gue hari ini,” gumam Arya sambil mengikat tali sepatu. Ia tidak tahu, beban mental yang akan ia terima hari ini jauh lebih berat daripada sepatu itu.

07.00 WITA – Ruang Kelas yang Mencekam

Ke-60 peserta “elit” itu kini duduk rapi di Main Training Room. Ruangannya besar, dingin, dan steril. Kontras dengan debu merah di luar sana. Mereka semua membuka laptop, siap mencatat. Kebiasaan anak kuliahan: dosen masuk, buka laptop, catat poin penting.

Namun, instruktur hari ini bukan dosen.

Pintu terbuka. Masuklah seorang pria paruh baya dengan aura yang membuat suhu ruangan terasa turun dua derajat. Kulitnya gelap terbakar matahari, rambutnya cepak memutih, dan wajahnya keras seperti pahatan batu karang. Namanya Pak Rudi. Desas-desusnya, beliau adalah legenda K3LH (Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan Hidup) yang didatangkan khusus dari salah satu tambang emas terbesar dan tersulit di Papua.

Pak Rudi berjalan ke depan kelas tanpa membawa laptop atau bahan presentasi. Ia hanya membawa sebuah helm proyek yang pecah terbelah dua. Ia meletakkan helm pecah itu di meja depan dengan suara keras. BRAK!

Seluruh peserta terlonjak kaget. Kevin yang duduk di baris depan bahkan sampai menjatuhkan pulpennya.

“Tutup laptop kalian,” perintah Pak Rudi. Suaranya rendah, tapi memiliki resonansi yang menekan dada. Tidak ada yang berani membantah. 60 layar laptop tertutup serentak.

“Hari ini kita tidak bicara tentang algoritma. Kita tidak bicara tentang Python, Java, atau Cloud Computing. Kita bicara tentang alasan kenapa kalian harus pulang ke rumah dalam keadaan utuh. Lengkap dengan sepuluh jari tangan dan sepuluh jari kaki.”

Pak Rudi menatap satu per satu wajah peserta. Tatapannya tajam, seolah sedang memindai siapa yang paling lemah mentalnya.

“Kalian pintar. Saya tahu. IPK kalian di atas 3.8. Kalian lulusan kampus terbaik di Jawa. Kalian mengalahkan ribuan pelamar,” Pak Rudi memulai, berjalan perlahan di lorong antar meja.

Ia berhenti tepat di samping meja Arya. Jantung Arya berdegup kencang.

“Tapi di mata Dump Truck kapasitas 400 ton yang melaju 40 km/jam, IPK kalian tidak ada harganya. Gelar Sarjana Komputer kamu,” Pak Rudi menunjuk dada Arya, “tidak akan membuat tulang rusukmu lebih keras dari baja. Truk itu buta. Truk itu tuli. Dan kalau kamu berdiri di blind spot-nya, kamu hanyalah gundukan tanah yang akan digilas sampai rata.”

Arya menelan ludah. Tenggorokannya kering.

09.00 WITA – Benturan Logika: Agile vs Safety

Sesi berlanjut dengan materi dasar K3LH. Pak Rudi menjelaskan konsep-konsep yang bagi anak IT terasa sangat kaku dan birokratis.

“Setiap pekerjaan harus ada JSA (Job Safety Analysis),” jelas Pak Rudi. “Mau pasang kabel LAN? Bikin izin. Mau naik tangga ganti CCTV? Bikin izin kerja ketinggian. Mau masuk kolong server? Izin confined space.”

Seorang peserta bernama Reza, lulusan Sistem Informasi yang dikenal kritis dan vokal, mengangkat tangan.

“Pak, izin bertanya. Kami ini tim IT. Pekerjaan kami menuntut kecepatan. Prinsip kami Agile. Kalau mau pasang satu kabel saja harus bikin dokumen berlembar-lembar, kapan kerjanya? Bukankah itu inefficiency? Di startup, moto kami Move Fast and Break Things.”

Suasana hening. Banyak peserta yang mengangguk setuju dalam hati. Bagi mereka, birokrasi adalah musuh inovasi.

Pak Rudi tersenyum tipis. Senyum yang menakutkan.

“Move Fast and Break Things?” ulang Pak Rudi dengan nada sinis. “Silakan pakai moto itu di Silicon Valley. Tapi kalau kamu pakai moto itu di sini, yang kamu break bukan kode program, tapi leher temanmu.”

Pak Rudi menekan tombol remote. Layar proyektor menyala, menampilkan sebuah foto mengerikan. Sebuah mobil operasional (Light Vehicle) yang gepeng seperti kaleng soda yang diinjak, terlindas ban truk raksasa.

“Kejadian tahun 2019. Seorang Engineer IT, jenius seperti kalian. Dia mau memperbaiki access point Wi-Fi di sebuah trailer di tengah tambang. Karena dia merasa ‘Ah, cuma reset modem 5 menit’, dia malas lapor ke dispatch. Dia malas minta izin radio. Dia pikir dia bisa move fast.”

Pak Rudi menunjuk foto mobil gepeng itu.

“Dia menyelonong masuk area manuver truk. Truk HD785 itu punya blind spot (titik buta) sepanjang 25 meter ke depan. Sopir truk tidak melihat mobil kecil itu. Hasilnya? Dia tewas seketika. Tubuhnya hancur. Ibunya di Jawa pingsan saat jenazahnya tiba karena peti matinya tidak boleh dibuka.”

Arya merasa mual. Ia membayangkan ibunya di Pangandaran. Jika itu terjadi padanya… siapa yang akan menjaga ibunya?

“Di dunia kalian, software error artinya bug yang bisa di-patch nanti malam,” suara Pak Rudi merendah, menekan ulu hati setiap peserta. “Di dunia tambang, error kalian tidak bisa di-undo. Tidak ada tombol Ctrl+Z untuk nyawa manusia.”

11.00 WITA – Simulasi Fisik: The Seatbelt Convincer

Matahari Kalimantan sedang ganas-ganasnya saat mereka digiring ke lapangan terbuka untuk simulasi. Suhu mencapai 37 derajat Celcius. Debu beterbangan ditiup angin panas.

Di tengah lapangan, berdiri sebuah alat bernama “Seatbelt Convincer”. Itu adalah sebuah kursi mobil yang dipasang di jalur luncur besi miring. Mekanismenya sederhana: kursi diluncurkan dari ketinggian rendah, lalu berhenti mendadak menabrak bantalan karet. Kecepatannya “hanya” 15-20 km/jam.

“Siapa yang berani coba?” tantang instruktur lapangan.

Arya maju. Ia ingin membuktikan bahwa anak Pangandaran punya nyali. Lagipula, pikirnya, 15 km/jam itu pelan. Ia sering ngebut pakai motor bebek di jalanan Ciamis jauh lebih cepat dari itu.

Arya duduk di kursi itu, memasang sabuk pengaman (safety belt), dan memberi jempol.

“Siap? Tiga, dua, satu!”

Alat diluncurkan. Wuuusss… Dalam hitungan detik… BRRRAK!

Dunia Arya berguncang. Hentakan itu jauh lebih keras dari yang ia duga. Kepalanya tersentak ke depan dengan kekerasan brutal, lalu terbanting kembali ke sandaran kepala. Sabuk pengaman mencengkeram dadanya begitu erat hingga napasnya sesak sesaat. Rasa sakit menjalar di bahu dan leher. Organ dalamnya terasa terguncang.

Arya turun dari kursi dengan kaki gemetar. Ia memegang dadanya yang masih nyeri. Wajahnya pucat.

“Itu baru 15 km/jam,” ujar Pak Rudi datar, berdiri di samping alat itu. “Bayangkan tabrakan di jalan tambang dengan kecepatan 60 km/jam. Tanpa sabuk pengaman, kamu sudah jadi proyektil. Kamu akan terbang menembus kaca depan dan hancur di aspal.”

Arya mengangguk pelan. Egonya sebagai anak muda yang merasa fisik kuat runtuh seketika. Hukum fisika tidak peduli dia lulusan terbaik IPB. Momentum adalah massa dikali kecepatan, dan tubuh manusia terlalu rapuh untuk melawannya.

14.00 WITA – Golden Rules & LOTO

Kembali ke kelas, suasana sudah berubah total. Tidak ada lagi tatapan meremehkan. Tidak ada lagi yang berani curi-curi pandang ke HP. Semua fokus mendengarkan “Kitab Suci” keselamatan tambang.

Pak Rudi mengajarkan 12 Life Saving Rules. Aturan yang jika dilanggar, sanksinya adalah PHK seketika (Golden Rules).

Salah satu yang paling ditekankan untuk orang IT adalah LOTO (Lock Out, Tag Out).

“Kalian orang komputer sering main listrik. Server, UPS, Power Supply,” kata Pak Rudi sambil memegang sebuah gembok merah khusus.

“Sebelum kalian sentuh kabel telanjang, sumber listrik harus dimatikan. Dan saklarnya harus kalian gembok dengan gembok ini. Kuncinya kalian kantongi. Hanya kalian yang boleh buka. Kenapa?”

“Karena kalau kalian sedang asyik menyambung kabel, lalu ada teman kalian yang tidak tahu dan menyalakan listrik… ZAP! Kalian mati gosong. Gembok ini,” Pak Rudi mengangkat gembok merah itu tinggi-tinggi, “adalah penjaga nyawa kalian.”

Arya mencatat dengan tangan sedikit gemetar. Ia teringat masa kuliahnya. Seringkali ia membongkar PC atau server lab tanpa mematikan listrik sepenuhnya karena malas menunggu booting ulang. Ia sadar, kebiasaan “malas” itu bisa membunuhnya di sini.

16.30 WITA – Video Wasiat (Pukulan Emosional)

Sebagai penutup hari, Pak Rudi tidak memberikan kuis atau ujian tertulis. Ia mematikan lampu ruangan.

“Tonton ini. Dan resapi,” katanya.

Di layar lebar, muncul sebuah video dokumenter amatir. Bukan video kecelakaan berdarah, tapi video wawancara seorang wanita muda yang menggendong bayi. Matanya bengkak.

“Mas Budi itu orangnya pintar sekali,” ucap wanita di video itu dengan suara bergetar. “Dia lulusan terbaik teknik elektro. Dia bilang kerja di tambang supaya bisa nabung buat beli rumah kami…”

Wanita itu mulai menangis.

“Hari itu dia lembur. Dia capek. Dia memaksakan diri menyetir unit pulang karena ingin cepat video call sama saya. Dia menabrak tanggul karena microsleep (tertidur sesaat). Cuma sedetik… dan dia pergi selamanya. Sekarang anak kami tidak punya bapak.”

Layar menjadi hitam. Hanya tersisa suara isak tangis wanita itu yang menggema di ruangan audio kelas yang canggih.

Hening. Sunyi senyap yang mencekam.

Arya merasakan matanya panas. Ia teringat ibunya di Pangandaran. Ibunya yang bangga menceritakan kesuksesannya pada tetangga. Bagaimana hancurnya hati sang ibu jika Arya pulang hanya tinggal nama?

Lampu ruangan dinyalakan kembali. Pak Rudi berdiri di depan. Wajah garangnya hilang, digantikan ekspresi lelah seorang veteran yang sudah terlalu sering melihat kematian.

“Saya sudah 25 tahun di tambang. Saya sudah mengantar 12 jenazah rekan kerja ke keluarga mereka. Percayalah, itu tugas terberat di dunia. Saya tidak mau… saya mohon pada kalian… jangan paksa saya mengantar jenazah salah satu dari kalian ke orang tua kalian.”

Suara Pak Rudi bergetar di akhir kalimat. Ketulusan itu menembus hati para peserta yang selama ini dibentengi oleh arogansi intelektual.

“Kalian boleh jenius. Kalian boleh bisa coding AI tercanggih. Tapi safety bukan soal kepintaran otak. Safety adalah soal kepedulian hati. Peduli pada nyawa kalian sendiri, dan peduli pada perasaan orang yang menunggu kalian pulang.”

19.00 WITA – Refleksi di Mess Hall

Malam itu, makan malam terasa berbeda. Jika malam pertama penuh dengan obrolan tentang gaji dan karir, malam ini suasananya lebih kontemplatif.

Arya duduk memandang kartu identitas (Badge) barunya. Di bagian belakang kartu itu tertulis: “Saya Berjanji untuk Bekerja dengan Aman.”

“Gila ya, Ya,” bisik Bimo di sebelahnya. Makanan di piringnya masih utuh. “Gue baru sadar kalau kerjaan kita sengeri itu. Gue pikir IT cuma duduk di kantor.”

Arya mengangguk, menyuapkan nasi yang terasa hambar karena pikirannya penuh.

“Gue jadi inget Ibu di Ciamis,” kata Arya pelan. “Tadi gue sempet mikir ini tempat nyiksa. Panas, debu, sepatu berat. Tapi setelah denger Pak Rudi… gue sadar aturan-aturan ribet itu bukan buat nyusahin kita. Itu cara mereka sayang sama nyawa kita.”

Bimo menatap Arya, lalu mengangguk mantap. “Mulai besok, gue nggak bakal ngetawain orang yang jalan sambil pegang handrail tangga. Gue bakal jadi orang paling safety di sini.”

Malam itu, di kamar B-104, sebelum tidur, Arya tidak langsung memejamkan mata. Ia membuka galeri di HP-nya (yang hanya berisi foto-foto lama karena tidak ada sinyal internet baru). Ia menatap foto wisudanya bersama ibunya.

Bu, Arya janji, batinnya. Arya bakal sukses di sini. Tapi yang lebih penting, Arya janji bakal pulang dengan selamat.

Hari kedua berakhir bukan dengan tambahan ilmu coding, tapi dengan upgrade mentalitas. Mereka bukan lagi sekadar programmer. Mereka sedang ditempa menjadi Mining Engineer yang menghargai setiap detak jantung sebagai aset paling berharga.

Pembelajaran Hari ke-2

Teknis (Hard Skill):

  • Golden Rules / Life Saving Rules: Memahami 12 aturan fatal yang tidak boleh dilanggar (LOTO, Bekerja di Ketinggian, Confined Space, dll).
  • JSA (Job Safety Analysis): Memahami pentingnya dokumen analisis risiko sebelum memulai pekerjaan teknis sekecil apapun.
  • Blind Spot & Interaksi Unit: Mengetahui area buta alat berat dan prosedur komunikasi radio untuk meminta izin lewat/masuk area kerja.

Psikologis (Soft Skill & Growth):

  • Safety Awareness: Pergeseran mindset dari “Safety itu Birokrasi” menjadi “Safety itu Kebutuhan”.
  • Emotional Resilience: Konfrontasi dengan mortalitas (kematian) membangun kedewasaan emosional. Peserta belajar bertanggung jawab atas nyawa sendiri.
  • Respect for Rules: Memahami bahwa dalam industri risiko tinggi, kedisiplinan (obedience) adalah bentuk kecerdasan tertinggi, bukan kreativitas liar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *