003 Hierarki Tambang

Posted on

Menghormati Operator Unit sebagai User Utama

05.30 WITA – Kasta di Ruang Makan

Pagi ketiga di site tambang dimulai dengan aroma nasi goreng dan telur dadar masal di Mess Hall. Arya duduk bersama kelompok “elit”-nya—Kevin (ITB), Sarah (UGM), dan Bimo (ITS). Seragam mereka masih relatif bersih, licin, dan wangi deterjen laundry.

Di meja seberang, duduk kelompok yang berbeda. Mereka adalah para Operator dan Mekanik. Seragam mereka kusam, bernoda oli yang sudah menjadi permanen, dan kulit mereka jauh lebih gelap. Mereka makan dengan lahap, porsi kuli, diselingi tawa keras dan bahasa daerah yang kasar namun akrab.

“Liat tuh,” bisik Kevin pelan, mengedikkan dagu ke arah meja operator. “Mereka yang bakal pakai aplikasi kita nanti. User kita. Kelihatannya… rough banget ya.”

Arya mengunyah kerupuk udangnya pelan. “Ya namanya juga kerja lapangan, Vin. Yang penting mereka ngerti cara pakai tablet FMS (Fleet Management System) nanti.”

Dalam hati, Arya masih menyimpan rasa superioritas halus. Di IPB, ia diajarkan membuat interface yang canggih. Ia berpikir, Seberapa susah sih mengajar orang-orang ini menekan tombol di layar sentuh? Kalau mereka nggak ngerti, berarti mereka yang gaptek, bukan sistem gue yang salah.

Arya teringat para nelayan di Pantai Timur Pangandaran. Bapak-bapak tua yang kulitnya legam dimakan garam laut. Mereka kasar, tapi mereka tahu kapan badai datang hanya dengan melihat awan. Arya menghormati nelayan, tapi entah kenapa di sini, menghadapi mesin raksasa dan operatornya, ia merasa inteleknya lebih tinggi.

Sebuah pemikiran yang akan dihancurkan berkeping-keping hari ini.

07.30 WITA – The Mega Shop: Katedral Mesin

Setelah briefing pagi (P5M – Pembicaraan 5 Menit) yang dipimpin Pak Haryo, rombongan dibawa menuju Main Workshop atau sering disebut “Mega Shop”.

Jika pit adalah medan perang, maka Mega Shop adalah rumah sakitnya. Bangunan ini adalah hangar raksasa setinggi gedung lima lantai yang mampu memuat belasan truk raksasa sekaligus. Lantainya beton tebal yang dicat epoksi abu-abu, namun penuh dengan line batas aman berwarna kuning dan merah.

Suara di dalam sini memekakkan telinga. Desis las karbit, dentum palu godam menghantam baja, dan derit crane yang mengangkat mesin seberat gajah. Bau oli, solar, dan besi panas menyengat hidung.

“Perhatikan garis biru!” teriak Pak Haryo mengatasi kebisingan. “Itu jalur pejalan kaki. Keluar dari garis itu, kalian bisa ketabrak forklift atau keinjek ban loader!”

Arya berjalan di dalam garis biru dengan patuh. Matanya terbelalak melihat sebuah Haul Truck Komatsu 785 yang sedang dibongkar mesinnya. Ban raksasanya dilepas, memperlihatkan sasis baja yang tebalnya seukuran paha manusia dewasa.

“Hari ini, kita belajar tentang Siapa Bos Kalian Sebenarnya,” ujar Pak Haryo, berhenti di depan sebuah truk yang sedang parkir untuk perawatan rutin.

“Kalian pikir bos kalian itu GM IT? Atau Direktur Utama di Jakarta?” Pak Haryo tertawa meremehkan. “Salah besar.”

Pak Haryo menunjuk seorang pria yang sedang duduk di atas ban truk setinggi tiga meter, sedang mengelap kaca spion dengan kain majun kotor.

“Bos kalian adalah dia. Pak Saleh. Operator Senior. Kalau dia bilang sistem IT kalian sampah, maka sistem kalian sampah. Tidak peduli seberapa canggih codingan kalian.”

09.00 WITA – Konfrontasi UX (User Experience)

Pak Haryo memanggil Pak Saleh turun. Pria itu melompat turun dengan tangkas meski tubuhnya agak tambun. Wajahnya garang, kumis tebal, dan ada bekas luka di pipi kiri. Namanya Pak Saleh, asal Bugis, sudah 20 tahun memegang setir di tambang ini.

“Pak Saleh, ini anak-anak pintar dari Jawa. Katanya mau bikin sistem baru buat Bapak,” kata Pak Haryo memancing.

Pak Saleh menatap Arya dan teman-temannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tatapan yang membuat Arya merasa seperti anak kecil yang ketahuan main bola di dalam rumah.

“Oalah, ini to sarjana-sarjananya,” suara Pak Saleh berat dan serak. “Mas, sini naik.”

Ia menunjuk Arya. “Saya, Pak?” “Iya, kau. Yang sepatunya paling bersih. Naik ke kabin. Coba rasakan ‘kantor’ saya.”

Arya menelan ludah. Ia menaiki tangga truk yang tinggi dan curam. Tangganya licin oleh sisa lumpur. Sampai di atas, ia masuk ke dalam kabin operator.

Panas. Meskipun AC menyala, panas dari mesin di bawah kabin merambat naik. Kabin itu sempit, berbau rokok, keringat, dan solar. Di dashboard, ada sebuah tablet layar sentuh tebal yang terbungkus casing karet hitam—Unit FMS (Fleet Management System).

“Duduk di kursi sopir,” perintah Pak Saleh yang menyusul naik.

Arya duduk. Kursinya memiliki suspensi udara yang membal-membal. Pandangannya ke depan sangat terbatas. Moncong truk yang panjang menghalangi pandangan ke bawah.

“Sekarang, coba kau operasikan itu tablet,” kata Pak Saleh. “Anggap kau lagi bawa muatan 100 ton, jalanan licin habis hujan, turunan curam, radio ribut, dan kau harus tekan tombol ‘Arrive at Dump’ di layar itu. Coba!”

Arya mencoba meraih tablet itu. Layarnya agak buram karena debu. Interface-nya terlihat kuno, tombolnya kotak-kotak kecil. “Ini… UI-nya outdated banget, Pak,” komentar Arya spontan, naluri anak Ilkom-nya keluar. “Harusnya tombolnya lebih besar, contrast-nya dinaikin, terus pakai gesture swipe biar lebih modern.”

Pak Saleh tertawa. Tawa yang tidak lucu.

“Swipe? Geser-geser layar?” Pak Saleh mendengus. Ia mengangkat tangannya. Tangan itu besar, kasar, kapalan, dan jari-jarinya berlumuran sisa gemuk (grease) hitam yang lengket.

“Mas, lihat tangan saya. Jari saya segede pisang. Tangan saya kotor oli. Kalau layarnya harus di-geser-geser cantik kayak iPhone kamu, layarnya bakal hitam semua kena oli! Nggak kebaca!”

Arya terdiam. Ia tidak memikirkan itu.

“Dan kau bilang tombol kecil? Mas, kalau truk ini lagi jalan di jalan corrugated (bergelombang), guncangannya kayak gempa bumi! Jari saya goyang-goyang. Kalau tombolnya kecil, saya mau pencet ‘Lapor Kerusakan’, malah kepencet ‘Lapor Siap’. Salah data! Bonus saya dipotong karena dikira saya bohong!”

Pak Saleh mendekatkan wajahnya ke Arya.

“Kalian orang pinter bikin sistem di ruangan AC. Kalian nggak mikir kami di sini tangannya kotor, mata kami capek kena debu, dan truk ini goyangnya minta ampun. Jangan kasih kami sistem yang bikin ribet. Kami mau yang Pencet-Bunyi-Jalan. Paham?”

Arya merasa tertampar. Teori User Interface (UI) yang ia pelajari di kampus tentang estetika dan minimalisme hancur lebur di hadapan tangan kasar Pak Saleh. Estetika tidak ada gunanya di sini. Yang dibutuhkan adalah Fungsionalitas Brutal.

11.00 WITA – Pelajaran Kerendahan Hati

Setelah turun dari truk, Arya masih diam. Egonya sebagai lulusan terbaik IPB sedikit retak. Ia menyadari bahwa ia baru saja bersikap arogan. Ia menganggap user-nya bodoh karena tidak paham teknologi, padahal dialah yang bodoh karena tidak paham konteks user.

Pak Haryo mengumpulkan mereka di area istirahat workshop.

“Gimana rasanya dimarahin Pak Saleh?” tanya Pak Haryo sambil tersenyum.

“Malu, Pak,” jawab Arya jujur.

“Bagus. Itu pelajaran IT nomor satu di tambang: Know Your User. User kalian bukan manajer yang duduk di kantor. User kalian adalah Pak Saleh dan ribuan sopir lainnya. Mereka bekerja 12 jam sehari, jauh dari keluarga, menanggung risiko mati tiap detik.”

“Kalau sistem yang kalian buat—entah itu sensor fatigue, tablet dispatch, atau radio—malah menambah beban kerja mereka, mereka akan mematikannya. Mereka akan mencabut kabelnya. Dan saat itu terjadi, proyek kalian gagal total.”

Pak Haryo mengambil sebotol air mineral.

“Kalian di sini bukan untuk menjadi Raja Teknologi. Kalian di sini adalah Pelayan. Kalian melayani Operasional. Tanpa Pak Saleh yang memindahkan batuan, gaji kalian tidak akan cair. Tanpa kalian yang menjaga sistem, Pak Saleh bisa celaka. Ini simbiosis. Tapi ingat hierarkinya: Produksi adalah Raja, IT adalah Perisai.

14.00 WITA – Makan Siang yang Berbeda

Siang itu, Arya tidak langsung kembali ke meja kelompok “elit”-nya. Ia melihat Pak Saleh sedang duduk merokok di area Smoking Shelter bengkel, masih dengan baju kotornya.

Arya memberanikan diri mendekat. Ia ingat bapak-bapak nelayan di Pangandaran. Kuncinya adalah sowan (mendekat dengan hormat).

“Pak Saleh,” sapa Arya sopan. Pak Saleh menoleh, asap rokok mengepul dari mulutnya. “Opo meneh, Mas Sarjana?”

“Maaf soal tadi, Pak. Saya sok tahu,” kata Arya tulus. “Boleh saya duduk? Saya mau dengar cerita Bapak soal tablet itu. Apa yang paling bikin Bapak kesel dari alat itu?”

Ekspresi Pak Saleh melunak. Ia menggeser duduknya, memberi ruang di bangku kayu panjang itu.

“Nah, gitu dong. Jangan kayak bos,” ujar Pak Saleh, kali ini nadanya lebih bapak-bapak. “Duduk. Jadi gini Mas, itu tablet kalau siang silau banget kena matahari. Tulisan merah di layar hitam nggak kebaca…”

Selama satu jam berikutnya, Arya tidak bicara teknis. Ia hanya mendengarkan. Ia mencatat di buku kecilnya, bukan tentang kode Python, tapi tentang keluhan nyata manusia.

  • Font terlalu kecil.
  • Layar kurang terang.
  • Tombol ‘Emergency’ terlalu dekat dengan tombol ‘Logout’.
  • Sering hang kalau panas.

Arya sadar, catatan di buku kecilnya ini jauh lebih berharga daripada diktat kuliah setebal bantal. Ini adalah requirements murni dari lapangan.

19.00 WITA – Refleksi: Membersihkan Boots

Malam harinya, di teras mess, Arya sedang menyikat sepatu safety boots-nya yang penuh lumpur bengkel. Lumpur itu keras kepala, menempel erat di sela-sela sol karet.

Bimo keluar membawa kopi. “Rajin amat, Ya.”

“Harus bersih, Bim,” jawab Arya tanpa menoleh. “Tadi gue sadar sesuatu.”

“Apaan?”

“Kita ini sebenarnya kuli juga, Bim. Cuma bedanya kuli digital. Kuli yang bawa laptop,” Arya terkekeh pelan. “Gue tadi ngobrol sama Pak Saleh. Ternyata dia punya anak yang kuliah di Unpad. Dia kerja keras banting tulang, panas-panasan, biar anaknya bisa kayak kita. Jadi sarjana.”

Arya berhenti menyikat. Ia menatap sepatu butut itu.

“Gue ngerasa berdosa kalau gue bikin sistem yang nyusahin dia. Dia itu pahlawan buat keluarganya. Tugas gue… tugas kita… bikin kerjaan dia lebih mudah, bukan lebih ribet biar kita kelihatan keren.”

Bimo terdiam, lalu duduk di sebelah Arya. “Iya juga ya. Gue tadi liat mekanik ganti ban segede rumah itu sendirian. Gila kekuatannya. Gue angkat galon aja engap.”

Malam itu, di bawah langit Kalimantan yang gelap, satu lagi lapisan ego Arya terkelupas. Ia belajar tentang Empati.

Sebagai lulusan IPB, ia diajarkan untuk memecahkan masalah. Tapi hari ini ia belajar bahwa ia tidak bisa memecahkan masalah jika ia tidak menghormati orang yang mengalami masalah tersebut.

Hierarki di tambang memang unik. Secara gaji dan pendidikan, Arya mungkin lebih tinggi. Tapi secara peran dan risiko, Pak Saleh dan para operator adalah “User Utama” yang harus ia layani dengan segenap kemampuan logikanya.

Besok, pikir Arya, gue bakal tanya Pak Saleh lagi. Gimana caranya bikin notifikasi yang nggak bikin kaget pas dia lagi nyetir.

Perjalanan menjadi Mining IT Warrior baru saja naik satu level: Dari Intelektual Menara Gading menjadi Pendengar yang Rendah Hati.

Pembelajaran Hari ke-3

Teknis (Hard Skill & UX):

  • FMS Hardware (Fleet Management System): Mengenal perangkat keras Mobile Dispatch (seperti Wenco, Jigsaw, atau Modular) yang terpasang di unit.
  • Environmental UX Design: Memahami bahwa desain antarmuka (Interface) di tambang harus memperhitungkan faktor eksternal: getaran hebat, tangan kotor/berminyak, silau matahari, dan kelelahan mata operator. Estetika harus mengalah pada visibilitas dan kemudahan akses (Accessibility).
  • Network & Device Constraints: Memahami bahwa perangkat di unit sering mengalami overheat dan lost signal, sehingga aplikasi harus didesain robust dan fault-tolerant.

Psikologis (Soft Skill & Growth):

  • Empathy Over Ego: Belajar menurunkan ego intelektual untuk mendengarkan keluhan user (Operator/Mekanik) yang berpendidikan lebih rendah namun berpengalaman lapangan lebih tinggi.
  • Hierarki Pelayanan: Membalik pola pikir: IT bukan “Bos” yang mengatur sistem, tapi “Support” yang melayani kebutuhan Operasional.
  • Human Connection: Membangun hubungan personal dengan pekerja lapangan adalah kunci keberhasilan implementasi teknologi. Tanpa trust dari operator, teknologi secanggih apapun akan ditolak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *