Ketenangan yang Menipu di Malam Hari
Setelah tiga hari bergumul dengan server sekarat, PC tua, dan kios merajuk, Hari ke-4 terasa relatif tenang. Arya menghabiskan sebagian besar waktu siang hari untuk memfinalisasi spesifikasi hardware untuk Proyek Jantung Baja dan menyusun draf SLA baru dengan vendor kunci. Ia sempat makan malam cepat di kantor, merasa lega karena check-in sore berjalan mulus, dan Front Office kini terlihat lebih rileks. Ia mulai percaya bahwa ia telah melewati masa-masa terburuk.
Pukul 20.00, malam. Di luar, suasana beach club dipenuhi tawa dan alunan musik lounge. Restoran utama sedang berada di puncak kesibukan dinner service. Inilah waktu di mana Nusa Cakra menghasilkan sebagian besar revenue F&B-nya.
Saat Arya sedang menyelesaikan sebuah spreadsheet, tiba-tiba lampu di kantornya berkedip dua kali. Bukan pemadaman total, hanya flicker listrik yang cepat. Namun, dalam hitungan detik, kantornya menjadi sunyi. Telepon VoIP di mejanya mati total. Lampu kecil pada switch jaringan di sudut ruangan gelap. Jantung Arya mencelos. Keheningan digital yang mendadak ini jauh lebih menakutkan daripada teriakan Devi di Hari ke-1.
Ia bergegas keluar. Di lobi, Manajer Restoran, Pak Danu, berlari ke arahnya dengan wajah panik. “Arya! Kita mati total! Tidak ada POS! Tidak ada Wi-Fi! Tidak ada telepon! Kami tidak bisa mencetak pesanan dapur, dan tagihan tamu terhenti di terminal! Kita tidak bisa memproses kartu kredit!”
Kekacauan ini jauh lebih parah dari Hari ke-1. Saat itu, yang mati hanya server. Kali ini, yang mati adalah otak, sistem saraf, dan pembuluh darah digital seluruh properti. Tanpa jaringan (No. 4), Nusa Cakra menjadi resor yang bisu dan lumpuh. Tugas Arya kini bukan hanya memulihkan server, tetapi menghidupkan kembali seluruh konektivitas properti dalam waktu peak hour yang krusial.
Aroma Kematian dan Ketiadaan HA
Arya berlari menuju ruang server, Wayan sudah menunggunya dengan mata lebar. Begitu pintu dibuka, udara panas yang menyengat terasa berbeda. Ada bau aneh yang bercampur dengan bau debu—bau seperti plastik meleleh dan listrik terbakar, sedikit aroma ozon yang tajam dan mematikan.
Arya segera menuju rak utama. Sumber masalah itu jelas: Router Inti (Core Router), perangkat yang menjadi otak sentral seluruh jaringan Nusa Cakra, gelap gulita. Tidak ada lampu indikator daya, tidak ada denyutan aktivitas. Bahkan kipas pendinginnya pun diam.
“Komang! Ambil senter!” perintah Arya. Sambil menyinari router yang mati, ia bisa melihat sedikit tanda gosong di area kabel daya. Flicker listrik tadi mungkin menyebabkan lonjakan arus atau kegagalan daya yang fatal. “Router ini mati total. Hardware failure penuh. Kita kehilangan seluruh jaringan!”
Frustrasi Arya mencapai titik didih. Inilah yang ia takutkan. Setelah bencana Hari ke-1, ia sudah mewanti-wanti pentingnya Redundansi Jaringan. Namun, karena proposalnya masih berupa draf, desain jaringan warisan ini masih menjadi Single Point of Failure yang masif. Tidak ada HA (High Availability) pair—tidak ada router cadangan yang sudah terkonfigurasi dan otomatis mengambil alih.
“Wayan, kita gunakan Cold Spare lagi. Mana router cadangan dari gudang? Cepat!” perintah Arya, suaranya dipenuhi urgensi.
Pertarungan di Kegelapan
Tiga orang—Arya, Wayan, dan Komang—bekerja dalam kondisi yang sangat buruk. Hanya mengandalkan lampu senter (karena lampu darurat di ruang server sangat redup) dan didesak oleh waktu. Mereka harus membongkar router tua yang berat, yang kini terasa panas, dan menggantinya dengan perangkat cadangan.
Prosesnya sangat rumit. Arya harus memastikan bahwa konfigurasi jaringan yang disalin dari backup (yang kebetulan baru dilakukan kemarin sore) dimuat dengan benar ke router baru. Konfigurasi ini mengatur ribuan alamat IP, VLAN untuk memisahkan lalu lintas tamu, staf, dan server, serta routing protocol ke berbagai resort dan beach club yang tersebar di kawasan itu. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat jaringan tidak berfungsi sebagian, yang malah lebih sulit dipecahkan.
Komang sibuk memasang kabel fiber optik dan ratusan kabel patch yang masuk ke router inti, memastikan setiap kabel tersambung kembali ke port yang benar. Wayan memasukkan configuration file melalui laptop.
Saat mereka bekerja, Arya terus memberikan pembaruan melalui telepon kepada GM yang sedang berada di luar kota. Emosi Arya kini bukan lagi panik, melainkan fokus yang dingin dan membara. Ia tahu setiap detik di lobi berarti tamu semakin marah. Pak Danu dari Restoran terus mengiriminya pesan: Chef mulai panik karena pesanan tidak masuk, dan tamu menolak membayar tanpa tanda terima yang sah.
Setelah 70 menit yang terasa seperti kerja paksa, Wayan berhasil memuat konfigurasi. Lampu-lampu jaringan pada router baru mulai berkedip hijau, satu per satu.
“Uji ping ke server PMS! Uji telepon Front Desk!” perintah Arya.
“Berhasil, Pak! Jaringan sudah kembali!” seru Komang, suaranya terdengar tercekat lega.
Hitungan Kerugian dan Janji HA
Jaringan kembali online. POS mulai berfungsi. Telepon VoIP hidup. Staf Front Desk dan Restoran segera bergegas memproses semua tagihan manual yang mereka catat. Malam itu, Nusa Cakra diselamatkan, tetapi harganya mahal.
Arya kembali ke mejanya, wajahnya hitam oleh debu dan kelelahan. Kelegaan yang ia rasakan dibayangi oleh rasa tanggung jawab yang menusuk. Ia segera menghitung kerugian kasar: kompensasi F&B, lost opportunity penjualan di beach club selama sunset hour, dan biaya overtime staf yang harus membereskan kekacauan data. Total kerugian malam ini jauh melebihi harga router HA yang ia ajukan.
Pembelajaran emosional Hari ke-4 adalah pelajaran tentang Fatalisme Infrastruktur. Infrastruktur yang buruk selalu akan mengejar dan menggigit balik di momen yang paling buruk. Desain jaringan legacy dengan router tunggal adalah bentuk perjudian yang bodoh.
Arya segera memperbarui Proposal Jantung Baja-nya. Ia memprioritaskan:
- Redundansi Inti Jaringan (HA Pair): Mengimplementasikan dua router inti secara cluster (aktif-aktif atau aktif-pasif) sehingga jika satu mati, yang lain mengambil alih secara instan (No. 4).
- Proteksi Daya: Menginvestigasi apakah flicker listrik adalah penyebab kegagalan, dan memastikan router inti terhubung ke UPS yang memiliki surge protection tingkat tinggi.
Arya mengirimkan proposal yang diperbarui kepada GM, melampirkan laporan kerugian malam itu. Ia tidak meminta, ia menuntut. GM membalas dua menit kemudian: “Disetujui. Pesan hardware besok pagi.”
Malam itu, Arya tahu ia telah memenangkan pertempuran yang paling pahit. Ia telah mengubah trauma menjadi otoritas. Ia harus memastikan kengerian bau ozon terbakar di kegelapan tidak akan pernah terjadi lagi di Nusa Cakra.


