Tema: Energi Terbarukan (Solar PV) | Kalkulasi Otonomi Daya | Keselamatan Kerja | Kepemimpinan Lapangan | Fisika Baterai
Menara BTS bertenaga surya di tengah hutan tampak anggun dari jauh, tetapi kenyataannya panelnya sering menjadi korban awan gelap, debu tambang, dan ulah satwa liar. Ketika sinyal tiba-tiba hilang, menara itu seperti tertidur tanpa izin—dan tugas kami adalah membangunkannya sebelum operasi terhenti.
Di ujung terjauh konsesi tambang PT Bara Nusantara Energi, berdiri sebuah bukit yang menjulang tinggi di antara lautan hutan hujan tropis Kalimantan. Kami menyebutnya “Bukit Elang”. Bukit ini bukan sekadar gundukan tanah; ia adalah titik strategis tertinggi di wilayah operasi kami. Di puncaknya, berdiri sebuah menara triangle besi setinggi 40 meter yang kesepian, dikelilingi oleh kabut pagi dan suara owa-owa.
Menara Bukit Elang adalah situs Radio Repeater yang paling vital. Tugasnya sederhana namun menyangkut hidup dan mati: menangkap sinyal radio komunikasi dari kantor pusat Site Delta dan memancarkannya ulang (relay) melewati punggungan pegunungan menuju Pos Eksplorasi terdepan yang berjarak 30 kilometer di pedalaman. Pos Eksplorasi itu adalah dunia lain. Di sana, 50 orang—geolog, kru bor, dan tenaga pendukung—hidup di tenda-tenda darurat, mencari cadangan batubara masa depan. Di sana tidak ada sinyal seluler (GSM). Tidak ada internet kabel. Satu-satunya tali pusar yang menghubungkan mereka dengan peradaban, dengan dokter, dengan logistik makanan, dan dengan keluarga mereka adalah sinyal radio yang dipancarkan oleh menara Bukit Elang.
Karena lokasinya yang sangat terpencil dan tidak ada akses jalan yang bisa dilalui truk tangki solar (hanya jalan setapak curam), kami mendesain menara ini sebagai Green Site (Situs Hijau). Ia ditenagai 100% oleh Matahari. Enam lembar panel surya polikristalin 200 Watt-peak menghadap ke langit, memberi makan sebuah bank baterai Deep Cycle Gel raksasa berkapasitas 1.000 Ah. Di atas kertas, desain saya sempurna. Saya telah menghitung “Hari Otonomi” (Autonomy Days)—jumlah hari baterai bisa bertahan menyalakan radio tanpa sinar matahari sama sekali. Kalkulasi saya menunjukkan angka 3 hari. “Tiga hari sudah lebih dari cukup,” pikir saya dengan arogansi seorang insinyur muda saat presentasi desain setahun lalu. “Kita di garis khatulistiwa. Tidak mungkin di Kalimantan matahari tidak muncul selama 3 hari berturut-turut. Ini bukan London.”
Saya salah besar. Saya meremehkan kekuatan alam yang bernama La Niña.
Bulan Desember datang dengan kemarahan. Hujan badai menghantam Kabupaten Rimba Raya tanpa henti. Angin muson barat membawa awan Cumulonimbus yang tebal, hitam, dan berlapis-lapis, menggantung rendah di langit seperti selimut timah. Awan itu memblokir sinar matahari sepenuhnya. Satu hari hujan. Baterai mulai terkuras. Dua hari mendung pekat. Panel surya hanya menghasilkan arus “sampah” (trickle charge). Tiga hari badai. Baterai mencapai titik kritis. Empat hari.
Malam itu, di Network Operations Center (NOC), saya sedang meminum kopi yang sudah dingin, memantau layar dispatch. Tiba-tiba, operator radio berteriak. “Pak! Channel Eksplorasi hening! Tidak ada carrier!” Saya berlari ke konsol radio. Saya menyambar mikrofon. “Pos Eksplorasi, Pos Eksplorasi, ini Delta Monitor. Cek komunikasi. Masuk.” Hening. Hanya desis statis putih (white noise) yang kosong. Krrrsshhhh… Saya mencoba memanggil Repeater itu sendiri. Tidak ada handshake digital.
Saya segera memeriksa sistem pemantauan jarak jauh (Remote Monitoring System) menara Bukit Elang di layar komputer. Data terakhir yang dikirim via modem telemetri 15 menit lalu menunjukkan angka yang membuat darah saya beku: Battery Voltage: 21.5V (System 24V). Status: LOW VOLTAGE DISCONNECT (LVD) ACTIVATED.
Sistem proteksi baterai (LVD) telah bekerja. Untuk mencegah kerusakan kimia permanen pada sel baterai, sistem secara otomatis memutus beban (cut-off load). Radio dimatikan paksa. Menara itu telah tertidur. Kehabisan napas. Dan di balik gunung sana, 50 orang teman kami kini buta, tuli, dan bisu. Terisolasi total di tengah hutan rimba.
Titik Emosional Terendah: Isolasi yang Mengerikan
Keesokan paginya, suasana di ruang rapat darurat sangat tegang. Hujan masih mengguyur deras di luar jendela, seolah mengejek teknologi kami. Manajer Eksplorasi, Pak Bambang, menatap saya dengan wajah pucat dan mata merah. “Kheri, kita harus nyalakan menara itu,” katanya, suaranya bergetar menahan emosi. “Kru saya di sana punya stok makanan untuk seminggu. Itu aman. Tapi… salah satu driller (juru bor) saya punya riwayat asma. Kalau cuaca dingin begini asmanya kambuh, atau ada kecelakaan kerja—tangan terjepit bor, longsor—mereka tidak bisa memanggil helikopter medis. Mereka bisa mati konyol hanya karena radio mati. Saya tidak bisa membiarkan anak buah saya dalam bahaya tanpa jalur komunikasi.”
Kata-kata itu menohok saya tepat di ulu hati. Rasa bersalah menjalari sekujur tubuh. Sayalah yang mendesain sistem itu. Sayalah yang dengan percaya diri bilang “3 hari cukup”. Arogansi teknis saya, kegagalan saya memperhitungkan anomali cuaca ekstrem, kini membahayakan 50 nyawa manusia. “Kita bawa genset portable ke sana. Kita cas baterainya manual,” usul saya cepat. “Kita suntik energi.”
Koordinator Transportasi menggelengkan kepala dengan wajah suram. “Pak Kheri, Bapak sudah lihat jalan akses ke kaki Bukit Elang? Itu jalan tanah liat merah. Setelah seminggu dihajar hujan, itu bukan jalan lagi. Itu bubur lumpur setinggi pinggang. Mobil 4×4 terbaik kita, Land Cruiser dengan winch ganda dan ban pacul 33 inci pun, tidak akan tembus. Pasti kandas di KM 2.” “Helikopter?” tanya saya putus asa. “Pilot menolak terbang,” jawab Pak Bambang. “Visibility di bawah 500 meter. Angin kencang di celah bukit. Terlalu berisiko menabrak tebing. Tidak ada yang berani take off.”
Kami terisolasi. Teknologi canggih kami dikalahkan oleh lumpur dan awan. Alam telah memblokade semua akses mesin. Saya menatap peta topografi di meja rapat. Jarak dari titik pemberhentian mobil terakhir ke puncak bukit adalah 5 kilometer. Mendaki. Saya melihat tangan saya sendiri. Tangan insinyur yang biasa memegang mouse. “Tidak ada pilihan mesin,” gumam saya. “Kita harus menggunakan mesin biologis.” “Maksudmu?” tanya Pak Bambang. “Kita jalan kaki,” putus saya. “Saya yang akan memimpin.” Semua orang di ruangan itu menoleh menatap saya. “Bapak serius? Bawa genset 30 kilo? Mendaki bukit lumpur saat badai?” “Kita bongkar gensetnya. Kita panggul. Tidak ada pilihan lain. Nyawa taruhannya.”
Ekspedisi Pasukan Berlumpur
Satu jam kemudian, tim ekspedisi terbentuk. Saya tidak memerintahkan anak buah saya; saya meminta sukarelawan. “Siapa yang mau ikut saya ke neraka?” tanya saya di ruang IT. Dua teknisi muda yang bugar, Andi dan Budi, langsung mengangkat tangan. “Gas, Pak.” Kami juga dibantu oleh dua tenaga keamanan fisik (Security) yang bertubuh kekar, dan dua orang porter logistik lokal yang hafal medan hutan. Total 7 orang.
Beban kami tidak main-main. Kami harus membawa sumber energi ke puncak gunung.
- Satu unit Genset Portable Honda 2000 Watt (berat total 30 kg). Kami membongkarnya menjadi dua bagian: Blok mesin dan Alternator, agar bisa dipikul terpisah.
- Dua jerigen bensin @20 liter (total 40 kg).
- Satu unit Rectifier/Charger portable 50 Ampere.
- Perbekalan makanan, air, dan kotak P3K.
Kami menaiki mobil sampai batas terjauh yang bisa ditempuh. Mobil itu slip, rodanya berputar sia-sia di dalam lumpur. “Turun!” perintah saya. “Mulai dari sini, kita pakai kaki.” Saya melompat turun. Sepatu bot safety saya langsung terbenam 20 cm ke dalam lumpur dingin yang lengket seperti lem. Hujan menghantam wajah saya. Kami mulai mendaki.
Perjalanan itu adalah siksaan fisik terberat dalam karier saya. Jalan setapak menuju puncak, yang biasanya bisa ditempuh motor trail, kini berubah menjadi sungai lumpur. Kemiringannya 45 derajat. Setiap langkah adalah perjuangan melawan gravitasi dan gesekan. Baru 1 kilometer, napas saya sudah habis. Jantung saya berdegup kencang seperti mau meledak. Beban ransel berisi kabel dan charger terasa semakin berat setiap meter. Hujan terus mengguyur tanpa ampun. Kami terpeleset. Jatuh. Berguling di lumpur. Bangun lagi. Jatuh lagi. Seragam kami yang tadinya oranye cerah berubah menjadi cokelat lumpur dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Di KM 3, Budi, teknisi saya yang menggendong bagian alternator genset, jatuh terduduk di akar pohon. Wajahnya pucat. Napasnya ngik-ngik. “Gak kuat Pak! Kaki saya kram! Tinggalin saya aja!” teriaknya, bercampur tangis frustrasi. Saya menghampirinya. Saya juga lelah setengah mati. Paha saya terasa terbakar asam laktat. Tapi saya ingat wajah Pak Bambang yang ketakutan memikirkan anak buahnya. “Budi, dengar,” kata saya, mencengkeram bahunya yang basah kuyup. “Di balik bukit sana ada 50 teman kita. Mereka tidak tahu nasib mereka. Mungkin ada yang sakit. Mungkin ada yang butuh bantuan. Kita satu-satunya harapan mereka. Kamu mau menyerah di sini dan bilang ke istri mereka kalau kita malas jalan?” Budi menyeka air hujan dan air mata di wajahnya. Dia menatap ke atas bukit yang tertutup kabut. “Ayo Pak,” katanya pelan. Dia berdiri, mengangkat beban besi itu lagi ke pundaknya yang lecet. “Kita selesaikan ini.”
Kemenangan: Raungan Mesin di Puncak
Setelah enam jam pendakian neraka—yang seharusnya cuma 1 jam jika naik mobil di hari cerah—kami melihat bayangan menara itu. Berdiri kaku, abu-abu, dan sunyi di tengah kabut puncak yang dingin. Kondisi di puncak sangat menyedihkan. Panel surya tertutup lapisan lumut licin dan kotoran daun basah yang diterbangkan badai—pantas saja efisiensinya nol. Angin bertiup kencang, membuat kami menggigil kedinginan (hipotermia ringan).
Kami masuk ke dalam shelter baterai yang sempit. Dengan tangan gemetar kedinginan dan jari kaku yang sulit digerakkan, kami merakit kembali genset itu. Memasang baut, menyambung kabel busi. Andi menuang bensin ke tangki. Baunya menyengat, tapi memberi harapan. Saya menghubungkan kabel jumper dari Rectifier ke terminal bank baterai yang mati.
“Tarik!” perintah saya pada sekuriti yang paling kuat. Dia menarik tuas starter. Krek-krek. Gagal. Mesin dingin. “Lagi!” Krek-krek. “Lagi! Buka choke-nya lebar-lebar!” BRRRMMMM… Pletok… BRRRMMMM!!! Suara knalpot genset memecah kesunyian bukit. Asap putih mengepul. Bagi saya, itu adalah suara musik klasik terindah yang pernah saya dengar. Saya melihat jarum Ampere Meter di Rectifier. Melonjak naik. Arus listrik 40 Ampere mengalir deras masuk ke bank baterai yang kelaparan. Tegangan naik perlahan di layar monitor. 21.5V… 22.0V… 23.5V…
Klik. Terdengar suara relay radio di rak repeater berbunyi. Lampu indikator di perangkat radio Motorola menyala. Merah… lalu Kuning… lalu Hijau. Kipas pendingin berputar. Sistem hidup.
Saya menyambar Handie Talkie (HT) di pinggang saya yang sedari tadi bisu. Tangan saya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena antisipasi. Saya menekan tombol PTT. Tuuut. (Nada koneksi berhasil). “Delta Monitor memanggil Pos Eksplorasi. Cek satu dua. Masuk.”
Hening sejenak. Hanya desis statis. Jantung saya berdegup kencang. Apakah radio di sana juga mati? Apakah mereka baik-baik saja? Tiba-tiba, suara yang jernih dan renyah memecah keheningan. “Pos Eksplorasi masuk. Wah, Pak Kheri, tumben panggil. Suaranya jernih sekali, Pak. Ada apa? Apakah kopi di Site Delta habis? Ganti.”
Itu suara Supervisor Eksplorasi. Nadanya santai, bercanda, penuh semangat. Mereka tidak tahu drama yang baru saja terjadi. Mereka tidak tahu bahwa selama 24 jam terakhir mereka ada di bibir jurang isolasi. Mereka tidak tahu bahwa 7 orang baru saja bertaruh nyawa menembus badai demi mendengar suara itu. Saya merosot duduk di lantai beton shelter, bersandar pada dinding baterai yang mulai hangat. Saya tertawa. Tertawa lega sampai perut saya sakit, air mata bercampur air hujan di pipi. Tim saya ikut tertawa, saling berpelukan dalam keadaan kotor penuh lumpur seperti kerbau.
“Pos Eksplorasi, kopi aman. Cuma mau cek sound dan kirim salam hangat dari puncak Bukit Elang. Tetap aman di sana. Lanjut kerja. Delta out.” Saya mematikan radio. Saya tidak memberi tahu mereka tentang perjuangan kami. Biarlah mereka tidur nyenyak, merasa aman karena tahu ada yang menjaga mereka.
Sepulang dari sana, saya tidak membiarkan ini terulang. Saya merevisi total desain power untuk semua menara remote. Saya tidak lagi percaya pada kalkulasi teoritis “3 Hari Otonomi”. Kami menggandakan kapasitas bank baterai untuk mencapai “7 Hari Otonomi”. Dan yang paling penting, kami menambahkan Turbin Angin Kecil (Wind Turbine) sebagai sumber daya hibrida. Saya belajar pelajaran fisika lapangan: Di puncak bukit, saat matahari hilang karena badai, biasanya angin justru bertiup kencang. Kami belajar memanfaatkan musuh (badai) menjadi kawan.
Quote: “Energi hijau itu indah dan mulia di atas kertas proposal, tapi alam tidak peduli dengan idealismemu. Di tengah hutan, redundansi dan kelebihan kapasitas (oversizing) bukanlah pemborosan anggaran; itu adalah harga sebuah nyawa. Selalu siapkan Rencana B, C, dan D saat matahari menolak bersinar, karena harapan bukanlah strategi. Dan ingat, teknologi secanggih apa pun akan mati tanpa keringat manusia yang menjaganya.”


