Dari Land Clearing hingga Port
07.00 WITA – Wisata Debu
Pagi ini, Arya dan 59 peserta lainnya tidak masuk ke ruang kelas ber-AC. Mereka dikumpulkan di area parkir sarana. Tiga buah bus Manhaul 4×4 (bus khusus tambang dengan sasis truk tinggi, berpenggerak empat roda, dan kerangka pelindung guling di dalamnya) sudah menunggu. Mesinnya menderu kasar.
“Hari ini kita jalan-jalan,” teriak Pak Haryo, Instruktur Lapangan. “Kalian tidak bisa menjadi IT Tambang kalau tidak tahu dari mana uang gaji kalian berasal. Kalian harus melihat perjalanan ‘Emas Hitam’ ini dari dalam perut bumi sampai ke kapal pembeli.”
Arya naik ke bus nomor 2. Kursinya keras, sabuk pengamannya model tiga titik seperti mobil balap. Di sebelahnya duduk Sarah, peserta dari UGM.
“Siapkan masker kalian. Dan jangan tidur. Perjalanan ini akan panjang dan berguncang,” peringatan Pak Haryo terdengar lewat interkom bus.
Bus mulai bergerak meninggalkan area Basecamp. Guncangan pertama langsung terasa saat ban off-road menghantam kerikil jalan hauling.
08.30 WITA – Fase 1: Land Clearing (Hutan yang Hilang)
Pemberhentian pertama adalah area terluar tambang. Bus berhenti di sebuah bukit yang membatasi area tambang aktif dengan hutan asli.
Arya turun dan melihat pemandangan yang kontras. Di sisi kiri, hutan Kalimantan yang lebat, hijau, dan penuh suara burung. Di sisi kanan, tanah merah yang gundul, rata, dan penuh batang kayu yang ditumpuk rapi.
“Ini tahap awal: Land Clearing,” jelas Pak Haryo.
Sebuah Bulldozer raksasa tipe D375 berwarna kuning sedang mendorong pepohonan tumbang. Suara rantai besinya bergemerincing menggilas tanah.
Arya merasakan sedikit sesak di dada. Sebagai anak pecinta alam saat SMA di Ciamis, melihat pohon-pohon besar itu tumbang menimbulkan rasa bersalah.
“Saya tahu apa yang kalian pikirkan,” kata Pak Haryo, seolah membaca pikiran Arya. “Ini terlihat merusak. Dan memang, kita mengubah bentang alam. Tapi lihat ke sana.”
Pak Haryo menunjuk area di belakang mereka yang sudah hijau kembali—area reklamasi.
“Kita pinjam tanah ini dari negara. Kita ambil batuaranya untuk listrik di Jawa dan Sumatera, lalu kita kembalikan lagi tanahnya, kita tanami lagi. Tugas IT di sini apa?”
Arya berpikir sejenak. “Monitoring luasan bukaan lahan, Pak? Pakai Drone?”
“Tepat!” seru Pak Haryo. “Kita pakai Drone Photogrammetry dan Citra Satelit. Kalau operator Dozer ini babat hutan 1 meter saja melewati batas izin (batas konsesi), perusahaan bisa didenda miliaran dan izin dicabut pemerintah. Jadi, IT menjaga agar kerusakan lingkungan tidak melebihi yang diizinkan.”
Arya mengangguk. Perspektifnya bergeser. IT di sini bukan hanya soal profit, tapi juga compliance (kepatuhan) hukum dan lingkungan.
09.30 WITA – Fase 2: Drilling & Blasting (Melawan Kerasnya Tanah)
Bus bergerak lagi, masuk lebih dalam ke area lubang (Pit). Mereka berhenti di jarak aman, sekitar 500 meter dari sebuah dinding tebing batu yang sudah dipasangi bendera-bendera kecil berwarna merah.
“Tutup telinga kalian. Buka mulut sedikit,” instruksi Pak Haryo.
BLARR!!
Tanah di bawah kaki Arya bergetar hebat. Di kejauhan, tebing batu itu runtuh seketika disertai kepulan debu putih. Suara ledakannya datang belakangan, menghantam dada.
“Itu Blasting (Peledakan),” lanjut Pak Haryo setelah debu mereda. “Tanah penutup (Overburden) itu keras. Harus diledakkan biar bisa digali.”
“Peran IT di sini?” tanya Pak Haryo.
Bimo mengangkat tangan. “Hitung volume ledakan?”
“Lebih canggih dari itu,” jawab Pak Haryo. “Kita pakai High Precision GPS di mesin bor (Drill). Mesin itu tahu persis harus ngebor di koordinat mana dan sedalam apa, akurasinya sentimeter. Data itu dikirim lewat Wi-Fi ke kantor Engineering. Kalau salah bor, ledakannya bisa gagal atau getarannya merusak rumah warga di desa terdekat.”
Arya mencatat. Konektivitas di area blasting sangat krusial. Data geologi harus real-time.
11.00 WITA – Fase 3: Coal Getting & Hauling (Kesibukan di Dasar Lubang)
Bus turun ke dasar Pit. Ini adalah titik terendah, sekitar -100 meter di bawah permukaan laut. Dinding-dinding tanah di sekeliling mereka seperti benteng raksasa. Panasnya luar biasa karena sirkulasi udara minim.
Di sini, Arya melihat “Emas Hitam” itu. Lapisan batubara setebal 10 meter yang hitam mengkilat, terjepit di antara lapisan tanah cokelat.
Ekskavator raksasa (Shovel) PC2000 sedang mengeruk batubara itu dan menumpahkannya ke bak Haul Truck HD785. Satu kali keruk, 20 ton terangkat. Tiga kali keruk, truk penuh.
“Ini Coal Getting,” teriak Pak Haryo mengatasi suara mesin. “Truk ini akan membawa batubara ke pelabuhan (Port) atau ke tempat penumpukan (ROM). Jaraknya 30 kilometer.”
“Di sini otak IT bekerja paling keras. Namanya FMS (Fleet Management System). Sistem kitalah yang menyuruh truk nomor 105 untuk pergi ke Shovel nomor 3. Kenapa? Karena Shovel nomor 3 antreannya paling pendek. Kalau salah perintah, truk antre panjang, solar terbuang, produksi turun.”
Arya melihat tablet di dalam kabin truk yang lewat. Di sana ada peta digital. Itu algoritma Shortest Path, batin Arya. Dijkstra Algorithm yang gue pelajari di semester 3, dipakai beneran di sini buat ngatur truk raksasa.
13.00 WITA – Fase 4: Crushing & Processing (Menghaluskan Si Kasar)
Setelah makan siang kotak (nasi padang) di dalam bus yang berguncang, mereka tiba di area Crusher atau CPP (Coal Processing Plant).
Truk-truk tadi menumpahkan batubara bongkahan besar ke dalam sebuah corong raksasa (Hopper). Di bawahnya, mesin penggiling berputar menghancurkan batubara itu menjadi ukuran lebih kecil dan seragam.
Debu hitam pekat menyelimuti area ini.
“Di sini batubara ‘dimasak’,” ujar Pak Haryo. “Bukan dimasak pakai api, tapi dicampur (blending). Pembeli minta kalori 4200. Batubara dari Pit A kalorinya 4000, dari Pit B kalorinya 4500. Tugas Quality Control menghitung campurannya.”
“IT punya sensor di Conveyor Belt (ban berjalan). Namanya Ash Analyzer. Alat itu menembakkan sinar nuklir ringan untuk membaca kandungan abu batubara secara real-time saat berjalan 5 meter per detik. Datanya langsung masuk ke server SAP di Jakarta.”
Arya ternganga. Nuklir? Sensor Real-time? Selama ini ia pikir batubara cuma digali dan dijual. Ternyata ada proses kimia fisika yang dipantau ketat oleh IT.
15.00 WITA – Fase 5: Port & Barging (Uang di Atas Air)
Perjalanan berakhir di tepi Sungai Mahakam. Port atau pelabuhan khusus batubara.
Angin sungai yang segar menyapu wajah Arya yang sudah kusam oleh debu. Di depannya, sebuah tongkang (Barge) raksasa berukuran 300 feet sedang diisi batubara lewat belalai conveyor (Jetty).
“Inilah Cash Register kita,” kata Pak Haryo sambil merentangkan tangan. “Saat batubara jatuh ke tongkang itu, saat itulah argo uang berjalan.”
“Satu tongkang ini isinya 8.000 ton. Kalau harga batubara 100 dolar per ton, hitung sendiri berapa duit di depan mata kalian.”
Kevin berbisik cepat, “Delapan ratus ribu dolar… Dua belas miliar rupiah. Satu kapal.”
Arya menelan ludah. Uang sebanyak itu mengapung di sungai.
“Peran IT?” Pak Haryo menunjuk ke jembatan timbang (Weighbridge) di gerbang pelabuhan. “Timbangan itu harus akurat. Selisih 0.1% saja, kita rugi atau pembeli komplain. Koneksi data dari pelabuhan ke kantor pusat tidak boleh putus sedetik pun. Kalau putus, surat jalan (shipping document) tidak bisa cetak, kapal tidak bisa berangkat, kena denda keterlambatan (demurrage) ribuan dolar per jam.”
17.00 WITA – Perjalanan Pulang & Refleksi Rantai Pasok
Matahari mulai terbenam saat bus Manhaul membawa mereka kembali ke camp. Langit Kalimantan berwarna ungu kemerahan, siluet hutan dan alat berat menjadi pemandangan yang magis.
Arya duduk diam, kepalanya bersandar di kaca jendela yang bergetar. Badannya lelah luar biasa setelah 10 jam terguncang di jalan, tapi otaknya penuh.
Hari ini, kepingan puzzle itu menyatu.
Selama kuliah, Arya belajar tentang “Sistem”. Tapi sistem di kepalanya adalah Flowchart di atas kertas. Input -> Process -> Output.
Hari ini ia melihat Sistem Fisik.
- Input-nya adalah Hutan dan Tanah.
- Process-nya adalah Ledakan, Galian, Angkutan, dan Gilingan.
- Output-nya adalah Energi (Batubara).
Dan di setiap panah alur itu, ada “benang digital” yang menjaga semuanya tetap tersambung. Sensor, GPS, Radio, Server, Kabel Fiber Optic. Jika benang itu putus, raksasa ini lumpuh.
“Gila ya, Ya,” Sarah tiba-tiba bicara, memecah lamunan Arya. “Kenapa, Sar?” “Gue baru sadar, codingan yang nanti kita buat itu dampaknya segede ini. Kalau gue salah query database stok di pelabuhan, kapal bisa ditahan. Negara bisa rugi devisa.”
Arya mengangguk. “Bener, Sar. Dulu gue pikir IT di tambang cuma benerin printer atau pasang Wi-Fi. Ternyata kita ini ‘Sistem Saraf’ dari monster ini.”
Arya teringat Pangandaran. Di sana, nelayan bergantung pada jaring. Di sini, ribuan karyawan bergantung pada jaringan (network).
Saat bus memasuki gerbang camp, Arya melihat lampu-lampu kantor IT menyala terang. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat gedung itu sebagai tempat kerja orang kantoran yang membosankan. Ia melihatnya sebagai Control Tower.
Dan dia, Arya dari Ciamis, adalah salah satu calon penjaganya.
“Mulai besok, gue nggak bakal ngeluh lagi soal sinyal susah,” gumam Arya. “Tugas gue justru bikin sinyal itu ada.”
Pembelajaran Hari ke-4
Teknis (Mining Business Process):
- Mining Value Chain: Memahami alur: Land Clearing -> Drilling & Blasting -> Overburden Removal -> Coal Getting -> Hauling -> Crushing -> Barging.
- IT Touchpoints: Mengidentifikasi peran IT di setiap fase:
- Survey/Clearing: Drone, GIS, Citra Satelit.
- Blasting: High Precision GPS, IoT Sensors.
- Hauling: FMS (Fleet Management System), Fatigure Monitoring.
- Processing: SCADA, Quality Sensors (Ash Analyzer).
- Port: Weighbridge System, Inventory Management.
- Financial Impact: Memahami korelasi langsung antara uptime sistem IT dengan arus kas (cash flow) perusahaan, terutama di titik krusial seperti jembatan timbang dan pelabuhan.
Psikologis (Perspective Shift):
- The Big Picture: Peserta tidak lagi melihat tugas mereka sebagai potongan kode yang terisolasi, melainkan bagian dari rantai pasok industri global.
- Sense of Magnitude: Rasa kagum dan hormat terhadap kompleksitas operasional tambang. Mengurangi arogansi sektoral (IT vs Non-IT).
- Environmental Awareness: Kesadaran akan dampak lingkungan industri, memicu tanggung jawab moral untuk menggunakan teknologi demi meminimalisir kerusakan (presisi penggalian).


