Ancaman Senyap di Siang Hari
Setelah bencana di Hari ke-4, yang diakhiri dengan persetujuan mendesak untuk anggaran redundansi inti jaringan, Arya memasuki Hari ke-5 dengan perasaan waspada yang akut. Ia tahu router mungkin sudah dipesan, tetapi akar masalah—kualitas daya—masih menghantuinya. Ia harus memastikan infrastruktur daya cadangan resort berfungsi sebagaimana mestinya.
Pukul 11.00, sebuah email masuk: pemberitahuan dari PLN mengenai pemadaman listrik terencana selama 30 menit pada pukul 14.00 untuk pemeliharaan jaringan di area Bali Timur.
Bagi Arya, ini adalah uji coba lapangan, bukan gangguan. Tugasnya hari ini: memastikan bahwa sistem Uninterruptible Power Supply (UPS) dan Generator (Genset) bekerja mulus untuk menopang semua sistem kritis selama pemadaman, khususnya server PMS dan peralatan jaringan inti yang baru saja diselamatkan. Kegagalan daya cadangan di Bali, yang sering mengalami pemadaman, adalah bencana yang bisa terulang setiap minggu.
Arya segera menuju ruang server untuk memeriksa UPS. Perangkat itu adalah model yang cukup besar, tetapi panel indikatornya menunjukkan kapasitas baterai yang mencurigakan. Setelah mengecek log sistem, ia menemukan kebenaran yang menyakitkan: baterai UPS utama sudah berusia lima tahun—melebihi batas aman pabrikan (yang biasanya tiga tahun). Kapasitas runtime yang seharusnya 30 menit kini tinggal 5 menit. Janji Daya telah dikhianati demi penghematan anggaran.
Mendekati Benteng Engineering
UPS hanyalah paruh pertama dari solusi daya cadangan. Paruh kedua adalah Genset, dan itu adalah urusan departemen Engineering. Arya tahu, hubungan antara IT dan Engineering di banyak hotel sering kali seperti perang dingin: IT mengurus hal-hal virtual, Engineering mengurus hal-hal fisik, dan jarang ada koordinasi.
Arya mencari Kepala Engineering, Pak Gede. Pak Gede adalah pria lokal yang ramah tetapi sangat teritorial terhadap mesin-mesinnya, terutama Genset yang ia anggap sebagai mahkota pekerjaannya.
“Pak Gede,” sapa Arya, mencoba nada kooperatif, “Kita ada pemadaman jam dua. Saya sudah cek UPS, dan baterai kita sudah lemah. Tapi saya ingin konfirmasi, Genset kita, berapa lama waktu yang dibutuhkan dari listrik mati sampai daya stabil masuk ke seluruh resort?”
Pak Gede, dengan percaya diri, menjawab, “Tidak masalah, Arya. Genset saya jagoan. Paling lama, dua menit. Sudah kami tes bulanan.”
“Bolehkah saya minta log tes transfer otomatis bulan lalu, Pak Gede?”
Pak Gede ragu sejenak, lalu memberikan selembar checklist yang ditulis tangan. Dalam log itu, Arya melihat sebuah catatan kecil yang diabaikan: ‘Transfer Delay: 5 menit’. Itu berarti ada celah tiga menit ekstra antara matinya UPS (yang hanya mampu bertahan 5 menit) dan masuknya daya dari Genset. Tiga menit itu cukup untuk mematikan semua server kritis, menghancurkan pekerjaan restorasi Arya dari Hari ke-1.
“Pak Gede, kita punya celah 5 menit,” jelas Arya dengan tenang, menunjukkan log tersebut. “UPS kita hanya tahan 5 menit. Jika ada masalah delay Genset, server PMS kita akan mati. Kita tidak bisa mengambil risiko itu.”
Emosi Arya saat itu adalah ketegasan diplomatis. Ia harus menyampaikan risiko ini tanpa menuduh Pak Gede lalai. Ia harus mengubah rivalitas menjadi kemitraan.
Uji Coba Lapangan yang Mengerikan
Pukul 13.55. Atmosfer di back office terasa tegang. Arya, Wayan, dan Komang berdiri di ruang server, sementara Pak Gede dan teknisi Gensetnya bersiaga di panel utama.
Tugas Arya adalah menguji seluruh rantai daya cadangan dan menentukan titik kritis kegagalan.
Tepat pukul 14.00, listrik padam.
- Momen UPS: Server mulai bersuara bip. Arya mengawasi panel UPS. Indikator daya turun dengan cepat. Setelah empat menit, UPS mulai berteriak, menandakan ia berada di ambang batas. Wayan dan Komang segera mematikan beberapa perangkat non-kritis dan lampu server yang tidak perlu untuk membebaskan sedikit beban daya, sebuah tindakan putus asa yang memberi PMS waktu tambahan 30 detik.
- Momen Transfer: Di menit kelima, UPS sudah di zona merah. Arya memandang Pak Gede dengan gugup. “Genset, Pak Gede!”
- Keterlambatan yang Fatal: Genset memang meraung hidup, tetapi transfer Automatic Transfer Switch (ATS) memakan waktu. Bukan 2 menit, bukan 5 menit, melainkan 7 menit. Di menit ketujuh, tepat saat Genset berhasil menstabilkan daya dan mengirimkannya ke gedung, server PMS Arya mati total.
Gelap. Sunyi.
“Matilah…” bisik Wayan, wajahnya pucat.
Arya merasakan pukulan berat di dada. Semua upaya redundansi yang ia impikan terasa sia-sia di hadapan kegagalan daya yang fundamental. Meskipun pemadaman ini terencana, kegagalan server tetap terjadi.
Konfrontasi dan Kemitraan
Begitu listrik dari Genset stabil dan server berhasil dihidupkan kembali (sekali lagi, membuang waktu 30 menit yang krusial), Arya mendatangi Pak Gede. Ia tidak marah, melainkan kecewa.
“Pak Gede, kita kehilangan PMS karena kita tidak jujur dengan log waktu transfer Genset. Server kita tidak mati karena hardware yang rusak, tapi karena kita gagal mengelola waktu transfer daya,” kata Arya, nadanya penuh keseriusan. “Tiga puluh menit pemadaman terencana bisa kita atasi, tetapi 7 menit delay Genset di atas 5 menit runtime UPS, itu adalah 2 menit bencana.”
Pak Gede, yang melihat sendiri server IT mati di hadapannya, terlihat sangat bersalah. “Saya minta maaf, Arya. Kami selalu mengira Genset bisa diandalkan. Kami tidak pernah melihat delay itu sebagai masalah bagi server.”
Inilah pembelajaran terbesar Arya Hari ke-5: Kegagalan Daya adalah Kegagalan Komunikasi. IT tidak boleh menganggap Engineering tahu betapa rapuhnya server, dan Engineering tidak boleh menganggap runtime UPS tidak relevan. Kepemilikan Bersama adalah satu-satunya solusi.
Janji Protokol Gabungan
Arya dan Pak Gede berjabat tangan, mengakhiri perang dingin antar-departemen. Mereka segera menyusun rencana aksi:
- Audit Baterai UPS: Arya mengajukan permintaan darurat untuk penggantian seluruh set baterai UPS (No. 5). Ia menjamin GM bahwa ini adalah investasi untuk mencegah kerugian Hari ke-1 terulang.
- Perbaikan Genset: Pak Gede berjanji untuk memanggil vendor Genset untuk memperbaiki sensor dan transfer switch agar delay transfer turun menjadi kurang dari 60 detik.
- Protokol Pemeliharaan Gabungan (No. 5): Arya dan Pak Gede membuat komitmen tertulis. Setiap bulan, mereka akan melakukan tes beban Genset, dan IT harus memantau waktu runtime UPS serta waktu transfer switch Genset. Mereka juga akan membuat Redundansi Internet (No. 31) yang lebih baik, memastikan Genset menyuplai daya ke router cadangan yang kini dipesan.
Arya melihat ke luar jendela. Matahari bersinar cerah, dan listrik sudah normal. Ia telah mengubah pemadaman yang mematikan menjadi fondasi kemitraan yang kuat dengan Engineering. Ia telah memastikan bahwa daya cadangan tidak akan menjadi titik tunggal kegagalan lagi. Ia merasa terbebaskan dari kekhawatiran yang ia bawa sejak Hari ke-1.


