005 Jumat Refleksi – Evaluasi Minggu 1

Posted on

Siapa yang Ingin Pulang?

Lokasi: Masjid Al-Ikhlas (Area Camp) & Ruang Sidang Utama Tokoh Utama (POV): Arya (Lulusan Ilmu Komputer IPB, Asli Pangandaran) Fokus: Spiritual Grounding, Mental Breakdown, dan Konsolidasi Angkatan.

11.45 WITA – Sajadah di Antara Debu

Hari Jumat di site tambang memiliki aura yang sedikit berbeda. Mesin-mesin raksasa di pit tetap meraung, produksi tidak pernah berhenti, namun ritme manusia sedikit melambat menjelang waktu ibadah.

Arya berjalan menuju Masjid Al-Ikhlas yang terletak di tengah kompleks camp. Masjid itu bangunan kayu ulin yang kokoh dan indah, satu-satunya bangunan di sana yang memiliki arsitektur “manusiawi”, bukan kotak kontainer kaku.

Di rak sepatu, pemandangan unik tersaji. Tidak ada sepatu pantofel atau sandal kulit mahal. Yang berjejer adalah ratusan pasang safety boots kotor berlumpur, diletakkan rapi. Sepatu direktur tambang bersanding dengan sepatu mekanik magang. Di hadapan Tuhan—dan di area suci masjid—semua pangkat dilepas. Semua sama-sama hamba yang berdebu.

Arya mengambil wudhu. Air yang membasuh wajahnya terasa sangat sejuk, melunturkan kerak keringat dan debu batubara yang menempel di pori-pori sejak pagi.

Saat masuk ke dalam masjid, hawa dingin AC dan aroma karpet yang khas menyambutnya. Khatib hari itu adalah seorang Bapak berbaju koko putih yang dirangkap dengan rompi safety hijau.

“Jemaah sekalian,” suara khatib bergema. “Amanah itu berat. Di tambang ini, amanah kita bukan cuma target produksi. Amanah kita adalah menjaga nyawa rekan di sebelah kita. Jika kita lalai, jika kita main HP saat bekerja, lalu teman kita celaka… maka darahnya ada di tangan kita. Itu dosa yang akan kita bawa mati.”

Arya tertegun. Di Pangandaran, khutbah Jumat biasanya tentang sabar atau rezeki. Di sini, khutbah Jumat adalah tentang K3LH (Keselamatan Kerja) dari sudut pandang akhirat. Keimanan dan Keselamatan ternyata satu nafas.

Arya bersujud panjang. Di keningnya yang menempel di sajadah, ia menumpahkan segala lelah, takut, dan rasa kecil yang ia rasakan selama lima hari ini. Ya Allah, kuatkan mental hamba. Jangan biarkan hamba menyerah hanya karena debu dan bentakan.

13.30 WITA – Ruang Sidang: The Purge

Setelah makan siang, suasana berubah drastis. 60 peserta dikumpulkan di Aula Utama. Kursi disusun melingkar besar, seperti arena pengadilan.

Di tengah lingkaran, duduk lima orang instruktur utama, termasuk Pak Haryo (Ops), Pak Rudi (Safety), dan Pak Johan (Lead Mentor). Wajah mereka tidak bersahabat. Tidak ada senyum ramah seperti saat makan malam.

Di meja tengah, tergeletak satu tumpuk kertas. Kertas itu bertuliskan: FORMULIR PENGUNDURAN DIRI.

“Selamat siang,” suara Pak Johan dingin.

“Siang, Pak!” jawab peserta serempak, namun nadanya was-was.

“Satu minggu,” Pak Johan mengangkat satu jari. “Kalian sudah merasakan satu minggu di ‘neraka’ ini. Kalian sudah merasakan tidur di kasur keras, makan antre, dibentak satpam, naik truk panas, dan melihat betapa kecilnya kalian di hadapan alat berat.”

Pak Johan berdiri, berjalan mengelilingi lingkaran peserta. Langkah sepatu boots-nya terdengar tek… tek… tek… di lantai keramik.

“Jujur saja. Siapa yang merasa salah jurusan? Siapa yang merasa, ‘Wah, ternyata tambang bukan buat saya. Saya mau balik ke SCBD saja, kerja di startup, ngopi cantik tiap sore’?”

Hening. Tidak ada yang berani bergerak. AC ruangan terasa semakin dingin.

“Tidak usah malu,” lanjut Pak Rudi menimpali. “Lebih baik kalian pulang sekarang daripada nanti kalian mati konyol di lapangan karena kerja setengah hati. Atau lebih parah, kalian membunuh orang lain karena ketidafokusan kalian.”

Tiba-tiba, suara isak tangis terdengar. Pelan, tapi di ruangan yang sunyi itu, suaranya seperti petir.

Semua mata tertuju ke arah sumber suara. Itu Fikri, peserta dari Jakarta, lulusan universitas swasta mahal. Wajahnya merah, bahunya berguncang.

“Sa… saya, Pak,” Fikri mengangkat tangan dengan gemetar.

“Kenapa, Fikri?” tanya Pak Johan datar. Tidak membentak, tapi menyelidik.

“Saya… saya nggak kuat, Pak,” Fikri terbata-bata. “Di sini nggak ada sinyal. Pacar saya di Jakarta marah-marah terus karena susah dihubungi. Saya nggak bisa tidur karena camp berisik suara truk. Saya… saya takut mati kayak di video kemarin.”

Fikri menangis makin keras. Tekanan isolasi dan culture shock telah menghancurkan pertahanannya.

Arya menatap Fikri dengan campur aduk. Ada rasa kasihan, tapi ada juga rasa takut. Apakah gue bakal kayak Fikri? Arya juga rindu ibunya. Arya juga takut. Tapi melihat Fikri menyerah, entah kenapa justru memicu nyali “Anak Laut” dalam diri Arya.

Anak Pangandaran nggak boleh cengeng. Bapak gue ngelawan ombak pasang buat makan. Masa gue ngelawan sinyal jelek aja nangis? batin Arya, tangannya mengepal di bawah meja.

Pak Johan mengangguk. “Baik. Fikri, silakan maju. Ambil kertas ini. Bus ke bandara berangkat jam 4 sore.”

Fikri maju, mengambil kertas itu, dan keluar ruangan sambil menunduk. Suara pintu tertutup terdengar sangat final.

Sekarang tinggal 59 orang.

14.30 WITA – Evaluasi Brutal: Ujian Lisan

Setelah drama Fikri, suasana menjadi tegang. Pak Haryo mengambil alih.

“Oke, yang mental tempe sudah keluar. Sekarang kita tes, apakah sisa 59 orang ini punya otak atau cuma punya nyali kosong.”

Ini bukan ujian tertulis. Ini adalah Rapid Fire Question. Pertanyaan acak dilempar ke peserta acak.

“Kamu! Kacamata!” Pak Haryo menunjuk Kevin. “Siap, Pak!” “Apa itu Golden Rule nomor 3?” “Ehh… anu… Bekerja di Ketinggian, Pak!” “Salah! Itu nomor 4! Nomor 3 itu Isolation & LOTO! Kamu mau mati kesetrum?! Berdiri!”

Kevin berdiri dengan wajah pucat.

“Kamu! Yang dari IPB! Arya!” Arya tersentak. “Siap, Pak!” “Kemarin kamu seharian di bengkel sama Pak Saleh. Apa keluhan utama dia soal tablet FMS?”

Arya menarik napas. Ia ingat buku catatan kecilnya. Ia ingat wajah lelah Pak Saleh.

“Tombol terlalu kecil, Pak. Tidak bisa dipencet pakai sarung tangan berminyak. Dan layarnya silau kalau kena matahari siang, kontrasnya kurang tinggi.”

Pak Haryo terdiam sejenak. Menatap Arya tajam.

“Bagus,” kata Pak Haryo singkat. “Kamu mendengarkan. Kamu tidak cuma melihat dengan mata, tapi dengan empati. Duduk.”

Arya menghembuskan napas lega. Kakinya lemas. Pujian satu kata “Bagus” dari Pak Haryo rasanya lebih berharga daripada nilai A di transkrip nilai.

Sesi berlanjut selama satu jam. Mereka dicecar soal JSA, soal alur batubara, soal hierarki. Yang tidak bisa menjawab harus berdiri. Di akhir sesi, setengah ruangan berdiri.

“Lihat teman kalian yang berdiri,” kata Pak Johan. “Mereka ini calon-calon jenazah kalau tidak berubah minggu depan. Minggu ini saya maafkan karena kalian masih rookie. Minggu depan, kalau kalian tidak hafal Life Saving Rules di luar kepala, kalian susul Fikri.”

16.00 WITA – Pembagian “Armor”

Menjelang sore, nada instruktur mulai melunak.

“Kalian yang bertahan duduk di sini,” Pak Johan merendahkan suaranya. “Kalian sudah melewati fase ‘Shock’. Minggu ini tujuannya cuma satu: Menghancurkan Kesombongan Kalian.”

“Dan saya lihat, kesombongan itu sudah mulai rontok. Kalian mulai hormat sama satpam. Kalian mulai hormat sama sopir. Kalian mulai takut sama Tuhan dan alam.”

Para asisten instruktur masuk membawa tumpukan rompi baru. Warnanya bukan lagi oranye polos pengunjung (Visitor). Warnanya Hijau Stabilo dengan tulisan besar di punggung: MINING IT TRAINEE.

“Pakai rompi ini,” perintah Pak Johan. “Ini bukan sekadar seragam. Ini tanda bahwa kalian sudah diterima sebagai ‘Keluarga’. Di tambang, rompi hijau artinya ‘Orang Baru yang Harus Dilindungi’. Kalau kalian pakai ini di lapangan, operator akan menjaga kalian. Mekanik akan mengajari kalian.”

Arya memakai rompi itu. Pas di badan. Rasanya bangga sekali. Jauh lebih bangga daripada saat memakai toga wisuda. Toga adalah tanda dia selesai belajar. Rompi ini adalah tanda dia baru mulai belajar hal yang sesungguhnya.

“Selamat berakhir pekan. Sabtu Minggu libur. Pakai waktu itu untuk tidur, nyuci baju, dan telepon orang tua. Bubar!”

17.30 WITA – Telepon ke Pangandaran

Sore itu, di area khusus yang memiliki sinyal Wi-Fi agak kuat (dekat kantor utama), Arya melakukan panggilan WhatsApp Video ke ibunya.

Wajah ibunya muncul di layar. Sedikit pecah-pecah (pixelated), tapi senyumnya jelas.

“Arya! Kasep pisan anak Emak. Gimana di sana? Makan enak?”

Arya tersenyum, menahan air mata yang tiba-tiba mendesak keluar. Ia ingin cerita soal Fikri yang pulang. Ia ingin cerita soal Pak Rudi yang galak. Ia ingin cerita soal nyaris jatuh dari tangga CCTV.

Tapi ia menelannya kembali.

“Enak, Bu. Makan daging terus. Temen-temen baik. Arya sehat,” jawab Arya. Ia tidak mau ibunya khawatir.

“Syukur atuh. Bapak tadi abis ngangkat jaring, dapet kakap merah gede. Bapak bilang, ‘Andai si Arya ada, kita bakar-bakar’. Kamu hati-hati ya, Nak. Sholat jangan tinggal. Doa Emak nggak pernah putus.”

“Iya, Bu. Doain Arya kuat ya.”

“Pasti kuat atuh. Anak laut mah nggak boleh takut ombak.”

Panggilan berakhir. Arya duduk di bangku taman camp, menatap langit yang mulai gelap.

Di sekelilingnya, Kevin, Bimo, Sarah, dan yang lain juga sedang menelpon keluarga masing-masing. Ada yang tertawa, ada yang menangis pelan, ada yang berdebat dengan pacar.

Tapi ada satu hal yang berubah.

Saat mereka selesai menelpon, mereka saling pandang. Ada anggukan kecil di antara mereka. Anggukan yang berkata: “Kita senasib. Kita seperjuangan. Kita nggak bakal pulang sebelum jadi Insinyur Tambang beneran.”

Minggu pertama yang brutal telah berakhir. Ego sarjana telah runtuh, digantikan oleh fondasi mentalitas prajurit industri.

Arya bangkit, menepuk debu di celananya. “Yuk, Bim, ke kantin. Laper gue.” “Gas, Ya. Katanya malem ini menunya Sate Kambing.”

Di balik bukit, lampu-lampu pit mulai menyala satu per satu, menantang kegelapan hutan. Arya tersenyum. Ia siap menyambut Minggu ke-2.

Pembelajaran Minggu ke-1 (Recap)

Evaluasi Teknis:

  • Safety First: Peserta memahami bahwa kepatuhan K3LH (APD, JSA, LOTO) adalah syarat mutlak, bukan opsional.
  • Operational Context: Memahami alur bisnis tambang (Pit to Port) dan posisi IT sebagai pendukung kritis (Business Enabler).
  • User Centricity: Memahami karakteristik user (operator/mekanik) yang unik: fisik kuat, lingkungan keras, dan butuh antarmuka teknologi yang sederhana (rugged usability).

Evaluasi Psikologis (Tumbuh Kembang):

  • Resilience (Ketahanan): Kemampuan bangkit dari shock budaya dan isolasi fisik. Peserta yang lemah (seperti Fikri) tersingkir secara alamiah.
  • Humility (Kerendahan Hati): Pengakuan bahwa gelar akademik tidak menjamin kompetensi lapangan. Munculnya rasa hormat pada pekerja kasar (Blue Collar).
  • Esprit de Corps (Jiwa Korsa): Terbentuknya ikatan emosional antar peserta karena penderitaan bersama. Mereka bukan lagi saingan, tapi saudara seperjuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *