005 Paru-Paru Hitam di Ruang Putih

Posted on

Tema: Lingkungan Berbahaya (Debu) | Konflik Operasional vs Pemeliharaan | Inovasi Lintas Disiplin | Manajemen Krisis Aset

Ruang server seharusnya menjadi tempat paling bersih di dunia, tetapi tambang punya definisi kebersihan sendiri. Debu halus membawa jejak batubara menyelinap ke dalam rak server, perlahan mencekik alat yang bekerja tanpa keluh. Ketika kipas mulai batuk-batuk, kami tahu sesuatu yang buruk sedang tumbuh di dalamnya.

Di benak kebanyakan orang, istilah “Data Center” atau “Ruang Server” membangkitkan imajinasi tentang lingkungan yang steril, futuristik, dan bersih. Kita membayangkan lantai raised floor antistatis yang putih mengkilap, dinding tanpa noda, kabel-kabel yang tertata rapi dengan presisi militer, dan udara dingin yang disaring filter HEPA hingga tidak ada sebutir debu pun yang melayang. Itu adalah standar industri ISO. Itu adalah “Ruang Putih” yang diajarkan di setiap buku teks dan sertifikasi manajemen infrastruktur IT.

Namun, realitas di Site Delta, salah satu area kerja utama PT Bara Nusantara Energi di pedalaman Kalimantan Timur, adalah kebalikan total dari fantasi tersebut. Di sini, kebersihan adalah kemewahan yang mustahil. Di sini, musuh kita bukanlah hacker bertudung yang mencoba mencuri data dari jarak jauh, melainkan partikel fisik yang mencoba membunuh mesin dari jarak dekat secara brutal.

Salah satu hub distribusi jaringan (Distribution Point) kami terletak di “Zona Merah”, hanya berjarak 300 meter dari fasilitas Primary Crusher. Crusher adalah monster mekanis raksasa—sebuah mesin penghancur seukuran gedung tiga lantai yang tugasnya melumat batuan batubara mentah (Run of Mine) sebesar mobil kecil menjadi bongkahan-bongkahan seragam berukuran 50 milimeter agar bisa dimuat ke conveyor belt menuju pelabuhan. Mesin ini adalah mulut pertama yang memakan hasil tambang. Ia tidak pernah berhenti lapar. Dan ia sangat kotor.

Masalah utama berada di dekat Crusher bukanlah suara bisingnya yang mencapai 110 desibel (meskipun itu cukup untuk membuat telinga berdenging seharian), melainkan “napas”-nya. Setiap kali Dump Truck raksasa membuang muatan (dumping) ke dalam hopper dan mesin penggiling berputar, ia memuntahkan awan debu hitam pekat ke udara. Partikel-partikel mikroskopis ini—PM2.5 dan PM10—bukan debu tanah biasa. Ini adalah debu batubara murni.

Dan bagi seorang manajer IT, debu batubara memiliki satu sifat fisika yang menakutkan: Konduktivitas. Berbeda dengan debu rumah tangga yang bersifat isolator, debu batubara mengandung karbon tinggi yang mampu menghantarkan listrik. Jika debu ini masuk ke dalam sirkuit elektronik server, ia bukan hanya menyumbat aliran udara; ia bisa menciptakan jembatan listrik mikro antar komponen di motherboard. Ini bisa menyebabkan hubungan arus pendek (short circuit) yang fatal, percikan api (arcing), dan bahkan kebakaran. Debu ini adalah pembunuh berantai bagi peralatan elektronik.

Titik Emosional Terendah: Alarm Merah di Siang Bolong

Siang itu, di tengah puncak musim kemarau bulan Agustus, matahari membakar tanah dengan suhu 36 derajat Celcius. Angin bertiup kencang dari arah barat ke timur—tepat membawa kepulan debu dari Crusher langsung menghantam kontainer kantor yang menampung rak server kami. Saya sedang duduk di NOC utama yang berjarak 2 kilometer dari sana, menikmati kopi siang, ketika Sistem Pemantauan Lingkungan (Environment Monitoring System) di layar saya mulai berteriak dengan notifikasi merah yang berkedip-kedip.

Alert: Node Crusher – Rack 04 Temperature Critical > 38°C. Alert: Node Crusher – Rack 05 Temperature Critical > 40°C. Alert: Fan Speed 100% (Max RPM).

“AC-nya mati lagi?” tanya saya pada teknisi piket dengan nada kesal, teringat insiden cicak sebelumnya. “Cek status listriknya!” “Negatif, Pak. Listrik stabil. AC menyala normal. Sensor suhu ruangan terbaca 20 derajat Celcius. Dingin sekali di sana. Tapi suhu core prosesor server melonjak gila-gilaan,” jawab teknisi itu bingung sambil menunjuk grafik yang menanjak vertikal. “Ini aneh. Ruangannya dingin, tapi servernya demam tinggi.”

Saya merasakan firasat buruk. Saya memutuskan untuk turun ke lapangan untuk investigasi langsung. Saya menyambar kunci mobil 4×4. Mengemudi ke area Crusher saat itu rasanya seperti memasuki zona perang badai pasir di film Mad Max. Langit tampak gelap bukan karena mendung, tapi karena partikel hitam yang melayang di udara, menghalangi matahari. Jarak pandang turun drastis. Saya mengenakan masker respirator N95 ganda dan kacamata pelindung (safety goggles) sebelum keluar dari mobil. Udara terasa berpasir, tajam, dan sesak di kulit.

Saat saya membuka pintu ruang server di kontainer itu, pemandangan di dalam membuat jantung saya berhenti sejenak. Ruangan itu memang dingin. Dua unit AC Split 2PK bekerja keras menghembuskan udara 18 derajat. Tetapi rak server—yang seharusnya berwarna hitam metalik bersih dengan lampu indikator hijau yang tajam—kini telah berubah wujud. Rak itu tertutup lapisan beludru hitam tebal. Debu itu ada di mana-mana. Ia melapisi lantai vinil, menempel di dinding, menutupi kabel, dan yang paling parah, menyumbat total lubang ventilasi (air intake) di bagian depan server.

Kipas-kipas server menjerit pada putaran maksimum (15.000 RPM), suaranya seperti mesin jet yang mau lepas landas. Mereka berusaha mati-matian menarik udara dingin dari ruangan untuk mendinginkan prosesor yang membara. Namun, karena lubang napasnya tersumbat tembok debu padat setebal 2 sentimeter, tidak ada udara yang bisa masuk. Server-server itu sedang tercekik. Mereka sedang mengalami asfiksia termal. Dan yang lebih mengerikan, hidung saya mencium bau yang sangat spesifik: bau ozon samar. Itu tanda adanya percikan listrik mikro. Debu konduktif itu sudah mulai masuk ke dalam sirkuit.

Ini adalah bom waktu. Jika satu percikan api muncul di dalam sasis yang penuh debu batubara mudah terbakar, seluruh kontainer ini akan meledak dan terbakar habis dalam hitungan menit. Data timbangan produksi hari ini akan hilang.

Konflik Internal: Perang Melawan Produksi

Saya tidak punya pilihan. Saya segera berlari keluar, menuju pos kontrol Crusher yang berada di menara tinggi di sebelahnya. Saya mencari Superintendent Operasional, Pak Eko. Pak Eko adalah orang lapangan tipe lama: keras, berorientasi target, kulitnya terbakar matahari, dan dia tidak suka orang kantoran mencampuri urusannya. Dia sedang sibuk memantau aliran batubara di monitor CCTV sambil berteriak di radio.

“Pak Eko!” teriak saya mengatasi kebisingan mesin crusher yang menggemuruh dan guncangan lantai. “Saya minta Shutdown Crusher sekarang! Minimal 2 jam. Angin sedang kencang ke arah ruang server saya. Debu Bapak membunuh peralatan saya. Server timbangan overheat dan berisiko meledak!”

Pak Eko menoleh pelan. Dia menatap saya dari balik kacamata hitamnya, lalu menunjuk ke jendela kaca besar yang menghadap ke jalan tambang. Di sana, antrean Dump Truck mengular panjang, mungkin ada 20 unit, menunggu giliran buang muatan. “Bapak bercanda?” tanyanya dengan nada tidak percaya dan sedikit meremehkan. “Lihat antrean itu! Target crushing kita hari ini 45.000 ton untuk mengejar kapal yang sudah sandar di pelabuhan. Kapal itu kena denda demurrage 20 ribu dolar sehari kalau telat muat. Kalau saya matikan mesin 2 jam, antrean akan macet total sampai ke pit. Produksi berhenti. Bapak mau tanggung jawab?” Dia mendekatkan wajahnya. “AC Bapak kan dingin, kenapa servernya manja sekali? Kena debu sedikit saja rewel.”

Saya merasakan frustrasi yang mendalam. Di mata orang operasional, IT hanyalah departemen pendukung, “Cost Center” yang kerjanya di ruangan nyaman. Mereka tidak paham bahwa “otak” digital yang mencatat tonase timbangan mereka sedang sekarat. Mereka pikir selama lampu menyala, semuanya baik-baik saja.

“Pak, dengarkan saya,” saya mendekat, menatap matanya tajam, mengabaikan hierarki. “Debu itu konduktif. Itu listrik! Jika server timbangan itu meledak karena korsleting, sistem pencatatan tonase Bapak mati total. Bapak mau mencatat 45.000 ton batubara pakai kertas nota dan pulpen manual di tengah debu ini? Berapa jam waktu yang terbuang untuk catat satu per satu truk? Dan kalau server itu mati, butuh seminggu untuk mendatangkan penggantinya dari Jakarta! Seminggu Bapak catat manual! Bapak sanggup?”

Ancaman “manual” selalu ampuh. Wajah Pak Eko berubah sedikit. Dia tahu mimpi buruk administrasi jika sistem digital mati. Antrean truk akan memanjang hingga ke jalan umum jika pencatatan dilakukan manual. Sopir akan marah, data akan kacau, dan dia akan disalahkan karena data produksi tidak akurat. Dia menghela napas kasar. “Saya tidak bisa kasih 2 jam,” katanya akhirnya, menawar dengan keras. “Saya kasih waktu 30 menit saat pergantian shift operator jam 12 siang nanti. Tidak lebih satu detik. Bersihkan mainan Bapak dalam 30 menit.”

Inovasi Solusi: Meminjam Paru-Paru Raksasa

Saya kembali ke kontainer server dengan berlari. 30 menit. Waktu yang sangat sempit. Mustahil membersihkan detail motherboard dalam waktu sesingkat itu. Membuka satu server saja butuh 10 menit. Kami punya empat rak penuh. Dan masalah utamanya: Meskipun kami membersihkannya hari ini dengan vacuum cleaner, besok debu akan kembali menumpuk. Angin musim ini tidak akan berhenti. Kami tidak menyelesaikan masalah, kami hanya menundanya. Kami butuh perisai. Kami butuh filter yang kuat yang bisa menahan partikel jahat itu tapi tetap membiarkan udara dingin lewat.

Tapi filter apa? Filter AC standar terlalu tipis; debu mikro lolos begitu saja. Filter HEPA terlalu rapat (high impedance); aliran udara akan terhambat dan server tetap kepanasan karena kipas server tidak didesain untuk menyedot sekuat itu. Saya butuh sesuatu yang didesain untuk menyaring debu tambang ekstrem dalam volume besar, namun tetap membiarkan udara mengalir deras (high airflow).

Saya melihat sekeliling dengan putus asa. Mata saya tertumbuk pada area workshop alat berat di seberang jalan. Sebuah Dump Truck Komatsu HD 785 raksasa sedang diservis di bay perbaikan. Mekanik sedang mengganti saringan udaranya. Filter udara truk itu berbentuk kotak panel raksasa, tebal, kokoh, dengan lipatan-lipatan kertas kuning yang padat. Ia dirancang khusus oleh insinyur Jepang untuk membiarkan mesin diesel 12 silinder bernapas lega di tengah badai debu tambang yang paling ekstrem sekalipun.

Sebuah ide gila—dan mungkin sedikit konyol—muncul di benak saya. Inovasi kanibalisasi lintas disiplin. “Pinjam mobil operasional!” teriak saya pada staf logistik saya, Andi. “Ke gudang sparepart sekarang. Minta 10 unit Air Filter Kabin untuk unit alat berat (Heavy Equipment Cabin Filter). Yang bentuknya panel kotak persegi panjang, bukan yang tabung bulat.” “Untuk apa Pak? Kita kan tidak punya alat berat. Orang gudang pasti bingung, kode Cost Center kita IT, bukan Plant,” tanya Andi ragu. “Jangan banyak tanya! Bilang saja perintah Manajer IT untuk eksperimen darurat. Bawa juga lakban industri (duct tape) hitam yang besar dan cable ties yang banyak. Cepat!”

Implementasi: Rekayasa Lakban

Tepat jam 12.00 siang. Mesin Crusher berhenti menderu. Pergantian shift dimulai. Keheningan yang aneh dan debu yang mulai mengendap turun di lokasi. “Serbu!” perintah saya. Tim IT saya masuk ke ruang server dengan vacuum cleaner industri. Kami menyedot lapisan debu hitam di muka rak secepat kilat. Wajah kami hitam terkena debu. Waktu berjalan cepat. 10 menit berlalu hanya untuk membersihkan bagian luar pintu rak.

Andi datang membawa tumpukan filter truk yang masih baru, terbungkus plastik. “Buka!” Kami melakukan improvisasi gila. Kami mengambil filter udara kabin alat berat itu—yang tebalnya 5 cm dan kokoh—dan menempelkannya tepat di depan pintu jaring (mesh door) rak server. Ukurannya hampir pas. Kami menyusunnya seperti menyusun keramik dinding. Kami menggunakan lakban hitam dan pengikat kabel untuk merekatkannya ke rangka pintu rak, memastikan tidak ada celah udara (air gap) yang bocor di pinggir-pinggirnya.

Ruang server kami yang tadinya terlihat canggih dan mahal, kini terlihat seperti bengkel kumuh. Rak server senilai ratusan ribu dolar itu kini “memakai masker” filter truk berwarna kuning cerah yang ditempel lakban hitam secara kasar. Sangat tidak estetik. Sangat tidak standar. Sangat “MacGyver”. “Nyalakan AC lagi!” perintah saya. “Nyalakan server!”

Kami menahan napas. Apakah filter ini terlalu tebal? Apakah server akan mati lemas? Angin dingin dari AC tersedot masuk. Saya memegang tangan saya di belakang filter, di bagian dalam pintu rak. Ada aliran udara! Angin berhembus cukup kencang. Filternya cukup berpori untuk membiarkan udara dingin lewat, tapi serat mikronya yang padat didesain untuk menangkap partikel debu jahat itu. Kami memantau layar suhu di laptop. 38°C… 37°C… 36°C… Angka itu terus turun. Dalam 15 menit, suhu stabil di angka 28°C. Server bisa bernapas lagi. Paru-paru hitamnya kini terlindungi oleh teknologi penyaringan otomotif terbaik.

Kemenangan: Pembuktian di Depan Skeptis

Ketika Pak Eko menyalakan kembali Crusher jam 12.30, debu kembali mengepul pekat, menyelimuti kantor kami. Tapi kali ini, saya melihatnya dengan tenang dari balik jendela kaca. Saya tahu partikel hitam itu akan menabrak filter kuning truk yang kami pasang, terperangkap di serat-seratnya, dan tidak mampu menyentuh sirkuit sensitif di dalamnya.

Sore harinya, saya mengajak Pak Eko masuk ke ruang server untuk melihat “karya seni” kami. Dia terkejut melihat filter kuning cerah yang baru dipasang 4 jam lalu sudah berubah warna menjadi abu-abu gelap pekat, hampir hitam di bagian tengahnya. Dia menyentuh filter itu dengan jarinya, dan ujung jarinya menjadi hitam legam. “Gila,” gumamnya, menyeka keringat bercampur debu di dahinya. “Itu semua debu yang mencoba masuk ke mesin Bapak?” “Ya, Pak. Dalam 4 jam saja,” jawab saya pelan. “Dan bayangkan, debu yang sama juga masuk ke paru-paru operator Bapak yang berdiri di pos jaga tanpa masker yang layak.”

Insiden itu membuka matanya. Bukan hanya server saya yang selamat. Minggu depannya, dalam rapat K3, Departemen Operasional menyetujui anggaran darurat untuk memasang sistem Water Spray (penyemprot air otomatis) bertekanan tinggi di mulut Crusher untuk menekan debu (dust suppression). Mereka melakukannya bukan demi server saya, tapi karena bukti visual hitam di filter kuning itu menyadarkan mereka betapa mengerikannya “musuh hitam” itu bagi kesehatan manusia dan mesin.

Server kami tetap memakai “masker truk” itu selama setahun ke depan, diganti setiap bulan, sampai solusi Water Spray permanen selesai dibangun.

Quote: “Musuh terbesar teknologi di lapangan bukanlah virus komputer, melainkan lingkungan tempat ia tinggal. Terkadang, solusi IT terbaik tidak ditemukan di katalog perangkat lunak canggih, tapi di gudang suku cadang mekanik di seberang jalan. Adaptasi lintas disiplin adalah kunci bertahan hidup di zona ekstrem. Jangan malu terlihat ‘kampungan’ jika itu menyelamatkan aset miliaran rupiah. Di hadapan debu yang mematikan, fungsi selalu lebih penting daripada estetika.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *