006 Bahasa Radio & Brevity

Posted on

Etika Komunikasi di Frekuensi VHF

06.30 WITA – Senin Pagi yang Berisik

Senin pagi di Minggu ke-2. Akhir pekan yang singkat telah berlalu. “Masa bulan madu” orientasi sudah resmi berakhir. Jika Minggu 1 adalah tentang Shock Therapy, maka Minggu 2 adalah tentang Adaptasi.

Arya terbangun bukan oleh alarm HP, melainkan oleh suara statis yang nyaring. Krosak… krosak…

“Tes satu dua, Radio Check. Repeater Selatan aman. Ganti.”

Suara itu berasal dari Handy Talkie (HT) Motorola yang tergeletak di meja Bimo. Setiap kamar kini dibekali satu unit HT yang wajib menyala 24 jam. Suara percakapan operator, sekuriti, dan dispatcher menjadi latar suara kehidupan mereka sekarang. Bagi Arya yang terbiasa dengan ketenangan perpustakaan IPB atau suara ombak Pangandaran yang ritmis, suara radio ini adalah polusi kebisingan yang mengganggu. Kasar, terputus-putus, dan penuh istilah asing.

“Berisik banget sih,” gerutu Bimo sambil menyambar handuk. “Gue mimpi lagi debugging kodingan, tiba-tiba ada suara orang teriak ‘Tumpahkan muatan!’ di kuping gue.”

Arya terkekeh sambil merapikan tempat tidur. “Biasain, Bim. Itu suara uang lagi kerja.”

Namun, jauh di lubuk hatinya, Arya merasa cemas. Hari ini jadwalnya adalah Radio Communication Protocol. Bagi anak IT yang lebih suka chatting lewat Slack, Discord, atau WhatsApp daripada menelepon, berbicara lewat radio adalah mimpi buruk. Di radio, suara kita didengar oleh ratusan orang sekaligus. Satu kali salah bicara, satu tambang tahu kebodohan kita.

08.00 WITA – Sang Konduktor Orkestra

Kelas pagi ini dipandu oleh instruktur baru. Namanya Pak Eko. Beliau bukan insinyur, bukan juga manajer berdasi. Beliau adalah Senior Dispatcher yang sudah pensiun dari lapangan dan kini menjadi pelatih. Tubuhnya kecil, tapi suaranya… Masya Allah, suaranya bulat, berat, dan sangat jelas. Jenis suara yang biasa terdengar di film-film perang saat jenderal memberi perintah.

“Selamat pagi, Calon Insinyur,” sapa Pak Eko lewat mikrofon, meski tanpa mikrofon pun suaranya pasti terdengar sampai kantin belakang.

“Kalian orang IT. Kalian jago bikin jaringan. Kalian paham TCP/IP, Fiber Optic, 4G LTE. Tapi ada satu teknologi tua yang masih menjadi raja di tambang. Ada yang tahu?”

“Radio VHF, Pak!” jawab Reza lantang.

“Betul. Very High Frequency. Analog maupun Digital,” Pak Eko mengangguk. “Kenapa kita masih pakai teknologi tahun 60-an ini? Kenapa nggak pakai WhatsApp Call aja ke sopir truk?”

Arya mengangkat tangan. “Karena latency, Pak. Dan WhatsApp butuh sinyal seluler yang nggak stabil di lubang. Radio itu Point-to-Multipoint, satu ngomong semua dengar. Lebih cepat untuk koordinasi massal.”

“100 buat Arya,” kata Pak Eko. “Tapi ingat, radio itu punya kelemahan fatal. Sifatnya Half-Duplex. Artinya, kalau saya ngomong, kalian tidak bisa ngomong. Kalau dua orang ngomong barengan, sinyalnya tabrakan. Bunyinya ngiiing atau blocking. Informasi hilang.”

Pak Eko menatap seluruh kelas dengan serius.

“Tambang ini punya 500 unit alat berat. Bayangkan kalau 500 orang mau ngomong di satu saluran yang sama. Kalau kalian ngomongnya bertele-tele kayak lagi presentasi skripsi, operasional macet. Truk tabrakan. Orang mati.”

09.30 WITA – The Phonetic Alphabet Drill

Sesi pertama adalah menghapus kebiasaan “Ejaan Kampung”.

“Arya, eja namamu pakai radio,” perintah Pak Eko.

Arya mengambil HT latihan di mejanya, menekan tombol PTT (Push to Talk). “Arya. A untuk Ayam, R untuk Rusa, Y untuk Yoyo, A untuk Angsa. Ganti.”

Gerrrr… seisi kelas tertawa.

Wajah Pak Eko datar. “Ayam? Angsa? Kamu lagi belanja di pasar atau lagi di area industri? Kalau sinyal putus-putus, ‘Ayam’ bisa terdengar kayak ‘Bayam’ atau ‘Diam’. Salah tafsir!”

“Mulai hari ini, lupakan Ayam dan Rusa. Kita pakai NATO Phonetic Alphabet. Standar Internasional.”

Pak Eko menulis di papan tulis putih: A – Alpha B – Bravo C – Charlie … R – Romeo Y – Yankee

“Ulangi, Arya!”

Arya menelan ludah, mencoba lagi. “Alpha. Romeo. Yankee. Alpha. Ganti.”

“Bagus. Terdengar lebih profesional, kan? Itu bukan biar gaya-gayaan. Bunyi ‘Alpha’ itu tegas, beda jauh sama ‘Delta’. Di tengah badai hujan, saat suara kresek-kresek, kode ini yang menyelamatkan pesan kalian.”

Mereka menghabiskan satu jam berikutnya untuk menghafal A sampai Z. Bagi Arya, ini seperti belajar sintaks bahasa pemrograman baru. Jika di Python dia harus hafal indentasi, di sini dia harus hafal bahwa ‘S’ adalah ‘Sierra’, bukan ‘Sepatu’.

11.00 WITA – Konsep “Brevity” (Keringkasan)

Ini adalah bagian tersulit bagi Arya. Sebagai orang Sunda yang dibesarkan dengan budaya santun, Arya terbiasa dengan basa-basi. “Punten, permisi, mohon maaf mengganggu waktunya…”

“Di radio,” kata Pak Eko tegas, “Kesopanan itu bukan lewat kata-kata manis. Kesopanan di radio adalah Singkat, Padat, Jelas. Itu yang disebut Brevity.”

“Jangan pernah bilang: ‘Selamat pagi Bapak Dispatcher yang terhormat, mohon maaf saya Arya dari IT mau izin mengetes radio apakah suaranya masuk?’”

Pak Eko menirukan gaya bicara itu dengan nada mengejek.

“Kalian menghabiskan 10 detik. Dalam 10 detik itu, mungkin ada sopir truk yang mau teriak ‘Rem blong!’ tapi nggak bisa masuk karena frekuensi kalian pakai buat basa-basi busuk!”

“Cukup bilang: ‘Dispatch, Arya IT. Radio Check. Ganti.’ Itu sopan. Itu efisien. Itu menyelamatkan nyawa.”

Arya mencatat di bukunya dengan huruf kapital: HAPUS BASA-BASI. THINK – PUSH – SPEAK.

Rumusnya adalah:

  1. THINK: Pikirkan kalimatnya dulu.
  2. PUSH: Tekan tombol, tunggu 1 detik (agar suku kata awal tidak terpotong).
  3. SPEAK: Bicara dengan intonasi datar.

14.00 WITA – Simulasi Lapangan: Panic Attack

Sore harinya, mereka dibawa ke area parkir LV (Light Vehicle). Mereka dibagi berpasangan. Satu orang di dalam mobil, satu orang di tenda posko yang berjarak 500 meter.

Arya kebagian jatah di dalam mobil bersama Sarah. Tugas mereka adalah melaporkan simulasi kerusakan unit lewat radio Rig mobil (radio mobil yang powernya lebih besar, 25-50 Watt).

Saluran radio di-set ke Channel Latihan. Tapi Pak Eko memperingatkan, “Channel ini dipantau oleh seluruh instruktur. Jangan malu-maluin.”

Giliran Arya. Skenarionya: Mobil mogok di tengah jalan karena ban pecah.

Arya memegang mikrofon radio (Hand Mic). Tangannya berkeringat dingin. Jantungnya berdegup kencang. Ia biasa coding di depan laptop sendirian. Berbicara ke sebuah benda mati yang didengarkan banyak orang adalah teror mental baginya. Public speaking anxiety-nya kambuh.

“Ayo, Ya. Tekan,” bisik Sarah menyemangati.

Arya menekan tombol PTT.

“Ehh… Halo… eh, Posko. Ini Arya. Mobilnya… anu… bannya meletus. Bisa minta tolong? Ganti.”

Suara statis membalas. Tapi bukan suara temannya di posko, melainkan suara Pak Eko yang menggelegar lewat radio.

“UNIT ARYA! COPY? KAMU NGOMONG SAMA SIAPA? HALO ITU SIAPA? ANU ITU APA? ULANGI! IDENTITAS DULU BARU PESAN!”

Arya kaget setengah mati sampai menjatuhkan mikrofon ke pangkuannya. Wajahnya merah padam. Ia yakin seluruh angkatan mendengarnya dimarahi.

Sarah mengambil mikrofon itu. Ia menarik napas, wajahnya tenang.

“Posko Latihan, LV-05. Panggil. Ganti,” suara Sarah tenang dan jelas.

“Masuk LV-05. Silakan,” jawab posko.

“LV-05 posisi KM 2. Ban kiri depan pecah. Butuh mekanik tyre. Unit aman di pinggir jalan. Ganti.”

“Copy LV-05. Bantuan meluncur.”

Sarah menaruh mikrofon kembali. Ia menatap Arya. “Lo grogi ya?”

Arya mengusap wajahnya kasar. “Parah, Sar. Gue blank. Gue kayak orang bego.”

“Nggak apa-apa,” kata Sarah. “Lo cuma belum biasa declare identitas. Di kodingan kan kita declare variable dulu. Nah, ini sama. Declare siapa kita, panggil siapa object-nya, baru kirim function-nya.”

Analogi Sarah masuk akal. Arya tersenyum kecut. Ternyata Sarah si anak UGM ini lebih cepat adaptasi soal komunikasi.

16.00 WITA – Insiden Nyata (Hampir)

Saat perjalanan pulang kembali ke kelas menggunakan bus, kejadian tak terduga terjadi. Sopir bus mereka tiba-tiba mengerem mendadak.

Di depan, ada sebuah truk tangki air (Water Truck) yang mundur tanpa aba-aba, nyaris menabrak bus mereka. Sopir bus Arya membunyikan klakson panjang.

Sopir bus menyambar radio. Kali ini di Channel Operasional (Channel Umum).

“Unit Water Truck 04! Anda mundur buta! Perhatikan belakang! Ada Manhaul di sini!” teriak sopir bus dengan nada tinggi tapi tetap menggunakan istilah teknis yang jelas.

Hening sejenak. Lalu terdengar balasan. “Copy Manhaul. Maaf, spion kotor. Terima kasih infonya.”

Arya melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri.

Jika sopir bus tadi panik dan cuma teriak “Woi awas!” di radio, mungkin sopir truk air tidak merasa dipanggil. Tapi sopir bus menyebut “Unit Water Truck 04”. Spesifik. Langsung pada target.

Insiden tabrakan terhindarkan hanya karena komunikasi yang presisi dalam hitungan detik.

Arya merinding. Teori Pak Eko tadi pagi bukan omong kosong. “Brevity” itu bukan soal gaya, itu soal nyawa. Basa-basi “Mohon maaf Bapak” tidak akan sempat menyelamatkan mereka dari pantat truk air seberat 20 ton itu.

19.00 WITA – Refleksi: Menemukan Frekuensi Diri

Malam itu, Arya duduk di teras mess. Ia membawa HT-nya. Ia tidak mematikannya, melainkan mendengarkan percakapan malam di Channel Produksi.

“Exca 204, muatan lumpy (bongkahan besar). Hati-hati.” “Copy 204. HD 115 masuk antrean.” “HD 115, spotting (mundur parkir) di kiri.” “Roger.”

Percakapan itu mengalir seperti musik. Singkat. Efisien. Tanpa emosi berlebih. Sebuah tarian balet mekanikal yang dikoordinasikan lewat gelombang udara.

Arya teringat Bapaknya di Pangandaran. Bapaknya kalau di laut juga jarang bicara. Kalau teriak cuma satu kata: “Tarik!”, “Lepas!”, “Kiri!”.

Selama ini, Arya yang kuliah di kota menganggap cara bicara orang lapangan itu kasar dan tidak intelek. Ia bangga dengan bahasa akademisnya yang penuh bunga-bunga dan istilah Inggris.

Tapi malam ini, Arya sadar. Bahasa akademis itu mewah, tapi lambat. Bahasa lapangan itu kasar, tapi survive.

Arya menekan tombol PTT di HT-nya (di channel khusus IT yang sepi). Ia ingin melatih lidahnya.

“IT Base, Arya Check. Signal 5 by 5. Out.”

Ia bicara sendiri. Tapi suaranya terdengar lebih mantap. Tidak ada lagi “Ehh” atau “Anu”.

Arya mulai memahami, menjadi Mining IT Engineer bukan berarti menghilangkan identitasnya sebagai orang komputer. Tapi ia harus meng-install “protokol komunikasi” baru di otaknya. Protokol yang low-latency dan high-reliability.

Di kamar, Bimo bertanya, “Lo ngapain ngomong sendiri di teras, Ya?”

“Lagi kalibrasi mulut, Bim,” jawab Arya sambil tersenyum. “Biar besok kalau ngomong sama Dispatcher nggak diketawain satu tambang lagi.”

Hari keenam ditutup dengan sebuah pemahaman: Suara adalah Senjata. Dan seperti senjata, ia harus digunakan dengan hati-hati, presisi, dan hanya saat dibutuhkan. Arya si anak pendiam mulai belajar bersuara lantang.

Pembelajaran Hari ke-6

Teknis (Radio Communication):

  • Phonetic Alphabet: Penggunaan standar NATO (Alpha, Bravo, Charlie) untuk mengeja kode unit atau lokasi agar tidak terjadi miskomunikasi (ambiguity) akibat sinyal buruk.
  • Simplex/Half-Duplex Nature: Memahami bahwa radio VHF bergantian (satu bicara, yang lain diam). Konsep “Stepping on” (menimpa suara orang lain) adalah dosa besar.
  • Call Sign Protocol: Struktur komunikasi baku: Panggil Siapa + Dari Siapa + Pesan. (Contoh: “Dispatch, Unit 105. Breakdown.”).

Psikologis (Mental Growth):

  • Overcoming Speech Anxiety: Mengatasi ketakutan berbicara di saluran publik (open channel). Membangun kepercayaan diri vokal.
  • Adaptability: Transisi dari budaya komunikasi “Sopan Santun Timur” yang bertele-tele ke budaya komunikasi “Industri Militer” yang tegas dan ringkas (Assertiveness).
  • Clarity of Thought: Belajar menyusun pikiran sebelum berbicara (Think before Speak). Keterampilan ini ternyata juga berguna untuk logika programming.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *