Tema: Bahaya Lingkungan (Air Asam Tambang) | Kerusakan Fisik Infrastruktur | Respon Darurat & Keselamatan | Improvisasi Lapangan
Ketika hujan asam turun dan membanjiri area tambang, semua infrastruktur IT berubah menjadi kapal yang harus bertahan di lautan beracun. Kabel terendam, konektor terkelupas, dan sensor mati satu per satu. Kami bergerak seperti tim penyelamat armada, mencoba menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.
Hujan di tambang batubara membawa dua jenis ancaman. Pertama adalah lumpur yang melumpuhkan jalan, membuat roda truk selip. Kedua, dan yang jauh lebih berbahaya serta jarang diketahui orang awam, adalah kimia air itu sendiri. Hujan deras selama tiga hari berturut-turut mengguyur Site Delta tanpa ampun. Di tambang terbuka, hujan adalah musuh alami. Air hujan yang jatuh ke dalam lubang galian yang dalam bereaksi dengan lapisan batuan yang mengandung sulfur (pyrite) yang tersingkap akibat penggalian.
Reaksi oksidasi ini mengubah air hujan yang tawar menjadi Asam Sulfat. Air yang menggenang di kolam penampungan (Sump) di dasar pit berubah warna menjadi hijau toska yang indah namun mematikan. pH-nya bisa jatuh ke angka 3 atau bahkan 2—setara dengan air aki atau cuka pekat. Sifatnya sangat korosif; mampu membuat besi berkarat dalam semalam, merapuhkan karet pelindung kabel, dan menyebabkan iritasi kulit parah pada manusia. Ini disebut Air Asam Tambang (Acid Mine Drainage – AMD).
Bencana terjadi di pagi buta, saat kabut masih menyelimuti hutan. Monitor NOC berkedip merah. Alert: Link Pit Utara Down. Link ini adalah jalur Fiber Optic (FO) utama yang menghubungkan Kantor Besar dengan area operasional Pit Utara. Pit Utara adalah area produksi paling sibuk saat ini. Di sana, armada Overburden Removal—puluhan truk dan ekskavator raksasa—sedang bekerja mengejar target pengupasan tanah. Tanpa link data, sistem Dispatch mati. Alat berat menjadi buta, tidak terkoordinasi. Efisiensi operasi anjlok ke titik nol.
Titik Emosional Terendah: Danau Beracun
“Cari putusnya di mana!” perintah saya. Tim jaringan segera menggunakan alat OTDR (Optical Time Domain Reflectometer). Alat ini menembakkan laser ke dalam kabel kaca dan menghitung waktu pantulannya untuk menentukan lokasi patahan dengan presisi meter. Layar OTDR menunjukkan angka: 1.250 meter dari simpul utama.
Kami meluncur ke lokasi dengan mobil 4×4, menerobos lumpur setinggi ban. Hati saya mencelos saat mobil kami sampai di titik koordinat tersebut. Titik 1.250 meter itu berada di sebuah lembah cekungan alami yang dikelilingi tebing. Dulu, seminggu yang lalu, itu adalah jalur kering tempat tiang kabel kami berdiri tegak. Sekarang, akibat hujan badai ekstrem dan kegagalan pompa dewatering di area tersebut, cekungan itu telah berubah menjadi danau buatan seluas lapangan bola dengan kedalaman diperkirakan dua meter.
Pemandangannya indah sekaligus mengerikan. Air danau itu berwarna hijau muda jernih—tanda khas air dengan kandungan logam berat dan asam tinggi. Tidak ada kehidupan di air itu. Tidak ada ikan, tidak ada jentik nyamuk. Sunyi. Tiang penyangga kabel fiber optik kami tidak terlihat. Kemungkinan besar roboh tersapu longsoran tebing kecil akibat gerusan air. Kabel hitam yang membawa data vital perusahaan kini tenggelam di dasar danau beracun itu.
Tekanan dari Operasional datang bertubi-tubi lewat radio trunking. “IT! Kapan connect? Alat kami standby semua! Kami butuh dispatch! Ini rugi ratusan juta per jam!” teriak Pengawas Tambang Pit Utara. Saya berdiri di pinggir danau asam itu, menatap air hijau yang tenang. Saya tahu bahayanya. “Pak, kita tidak bisa nyebur ke sana,” kata supervisor lapangan saya, Budi, wajahnya ngeri. “Kalau kulit kena air pH 3 dalam waktu lama, bisa gatal, perih, dan melepuh. Belum lagi kita tidak tahu dasar danau itu. Itu lumpur hisap (settling mud) bekas tambang. Kalau kaki terjebak, kita tenggelam.”
Saya berada di persimpangan jalan kepemimpinan yang paling sulit. Sebagai manajer yang bertanggung jawab atas kontinuitas bisnis, saya harus memulihkan operasi secepatnya. Setiap menit downtime adalah kerugian dolar. Tetapi sebagai pemimpin tim, saya bertanggung jawab atas nyawa dan keselamatan anak buah saya. Saya tidak mungkin memerintahkan mereka berenang di kolam asam demi seutas kabel. Tidak ada KPI (Key Performance Indicator) yang seharga nyawa manusia.
Solusi: Armada Angkatan Laut Dadakan
“Kita tidak perlu berenang,” gumam saya, otak saya berputar mencari aset perusahaan lain yang bisa dipakai. Saya teringat Departemen Lingkungan Hidup (Enviro). Mereka sering mengambil sampel air di tengah kolam pengendapan limbah yang luas untuk uji lab. Saya menyambar radio. “IT memanggil Enviro. Monitor!” “Enviro masuk. Ada apa Pak Kheri?” “Pak, posisi perahu karet sampling di mana?” “Di gudang, Pak. Kenapa?” “Bawa ke KM 4 jalan hauling Pit Utara sekarang! Emergency! Saya pinjam perahu dan kaptennya.”
Setengah jam kemudian, mobil Enviro tiba membawa perahu karet oranye kecil lengkap dengan dayung. Pemandangan itu sangat surealis: Di tengah hutan tambang yang keras, dikelilingi alat berat raksasa dan debu batubara, ada perahu karet yang akan diluncurkan seolah-olah kami sedang berwisata arung jeram di Bali. Dua teknisi saya, yang paling ringan badannya, naik ke perahu. Mereka mengenakan jaket pelampung (life vest) lengkap dan sarung tangan karet kimia panjang sampai siku (chemical resistant gloves). “Hati-hati, jangan sampai terciprat ke mata,” pesan saya. “Kalau kena kulit, langsung bilas pakai air bersih yang kita bawa.”
Mereka mendayung perlahan ke tengah genangan asam itu. Dayung mereka memecah air hijau yang tenang. Mereka menggunakan galah bambu panjang yang ujungnya diberi kait kawat untuk meraba dasar danau, mencari kabel yang tenggelam. Suasana tegang. Semua mata di pinggir danau tertuju pada perahu kecil itu. Sepuluh menit berlalu dalam ketegangan. “Dapat!” teriak teknisi di perahu. Galahnya tersangkut sesuatu yang berat. Mereka menarik perlahan. Kabel hitam fiber optik muncul ke permukaan, meneteskan air hijau.
Kondisinya menyedihkan. Jacket (kulit luar) kabel yang terbuat dari polietilen standar (PE) terlihat melepuh dan berubah warna. Di beberapa bagian, kulitnya terkelupas, entah karena reaksi kimia asam yang ekstrem atau karena terjepit batu tajam saat tiang roboh. Inti kacanya jelas patah di dalam karena tekukan tajam saat tiang jatuh.
Implementasi: Jembatan Udara Darurat
Masalah baru muncul: Kami tidak bisa melakukan penyambungan (splicing) kabel fiber optik di atas perahu karet kecil yang bergoyang-goyang. Alat Fusion Splicer membutuhkan kestabilan presisi mikron untuk melelehkan dan menyambung kaca. Guncangan sedikit saja akan membuat sambungan gagal (high loss). “Tarik ke pinggir!” perintah saya. “Bawa kedua ujung yang putus ke darat!”
Mereka memotong kabel yang terendam itu, lalu menarik kedua ujungnya ke tepian yang kering dan tinggi, di atas bukit kecil yang aman dari banjir. Di sana, di atas bak belakang mobil Toyota Hilux yang dijadikan meja kerja darurat, tim splicing mulai bekerja. Mereka bekerja dengan presisi dokter bedah di tengah hutan. Mereka mengupas kulit kabel yang rusak terkena asam, memotong bagian yang terkontaminasi, membersihkan gel pelindung dengan alkohol, dan menyambung ulang inti kaca selebar rambut itu dengan fusi panas listrik. Angin bertiup kencang, membawa debu. Kami membentangkan terpal untuk melindungi mesin splicer dari debu. Layar alat splicer menunjukkan grafik penyambungan. Aligning… Fusing… Estimated Loss: 0.01 dB. Sempurna.
Namun, kami tidak boleh mencemplungkan kabel itu kembali ke air asam. Kabel standar tidak dirancang untuk rendaman kimia jangka panjang. Kulitnya akan hancur lagi dalam seminggu. Dan kami tidak punya tiang baru untuk menggantungnya. Saya melihat sekeliling. Di pinggir tebing danau itu, tumbuh pohon-pohon Akasia liar yang kuat dan tinggi. “Jangan ditanam lagi,” putus saya. “Kita buat jembatan udara. Jadikan pohon itu tiang listrik sementara.”
Teknisi saya memanjat pohon akasia tersebut dengan sabuk pengaman. Kami membentangkan kabel fiber optik itu melintasi dahan-dahan pohon, tinggi 5 meter di atas permukaan air danau, jauh dari jangkauan banjir asam berikutnya. Kami mengikatnya dengan tali ties longgar agar pohon tetap bisa tumbuh. Itu adalah solusi sementara yang jelek secara estetika—kabel hitam menggantung melintasi danau seperti jemuran raksasa di tengah hutan—tapi itu satu-satunya cara untuk menjauhkan aset kami dari racun di bawah sana.
Kemenangan: Koneksi di Atas Racun
Dua jam setelah operasi “Angkatan Laut” dimulai, radio saya berbunyi. “Pak, link Pit Utara UP. Lampu hijau solid di switch. Latensi 3ms.” Di kejauhan, saya mendengar suara deru mesin truk-truk di Pit Utara mulai menderu serempak. Data telah mengalir kembali. Otak tambang telah hidup lagi.
Kami pulang dengan sepatu bot penuh lumpur, baju basah oleh keringat, tapi dengan hati lega. Tidak ada satu pun anggota tim yang cedera atau terkena luka bakar kimia. Kami berhasil memulihkan operasi tanpa mengorbankan keselamatan.
Pengalaman di “Danau Beracun” itu mengubah standar infrastruktur kami selamanya. Sejak hari itu, saya merevisi standar teknis kabel di buku pedoman IT. Untuk area cekungan yang rawan banjir atau genangan, saya mewajibkan penggunaan kabel fiber optik tipe ADSS (All-Dielectric Self-Supporting) yang kulitnya lebih tebal dan tangguh, atau membungkus kabel dalam pipa HDPE ganda yang dilas rapat (butt fusion) agar kedap air dan asam 100%.
Saya belajar bahwa alam tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Alam selalu mencari celah—lewat petir, lewat karat, atau lewat air asam. Tugas pemimpin bukan melawan alam dengan nekat, tapi beradaptasi dengan cerdas, memanfaatkan sumber daya yang ada (seperti perahu Enviro dan pohon Akasia), dan selalu, selalu, menempatkan keselamatan tim di atas koneksi internet.
Quote: “Alam memiliki cara kerjanya sendiri yang sering kali kejam dan tak terduga. Air asam bisa melarutkan besi, tapi tidak bisa melarutkan kecerdikan tim yang solid. Adaptasilah dengan lingkunganmu, atau lingkunganmu yang akan menelanmu bulat-bulat. Jangan pernah menukar keselamatan nyawa dengan kecepatan koneksi, karena data bisa dikirim ulang, tapi nyawa tidak.”
