Ketika Sinyal Suara Menjadi Tali Penyelamat
07.30 WITA – Dua Jenis Nyawa
Pagi itu, meja kerja di Workshop Radio penuh dengan perangkat keras. Bukan laptop atau server, melainkan tumpukan besi hitam dan kabel koaksial.
Pak Eko, instruktur komunikasi, memegang dua benda di kedua tangannya. Tangan kiri: Handy Talkie (HT) Motorola APX. Kecil, portabel, digenggam. Tangan kanan: Mobile Radio (Rig) Motorola XTL. Besar, berat, kotak besi tebal yang biasanya ditanam di dashboard mobil.
“Hari ini kita belajar anatomi,” buka Pak Eko. “Di tangan kiri saya, ini HT. Power-nya cuma 5 Watt. Ini nyawa kalian saat kalian turun dari mobil. Jangkauannya pendek, rentan terhalang bukit.”
“Di tangan kanan saya, ini Rig. Power-nya 45 Watt. Sembilan kali lipat lebih kuat. Ini nyawa kalian saat berada di dalam unit. Sinyalnya bisa menembus hutan, bisa mencapai repeater yang jauh di atas gunung.”
Pak Eko menatap Arya. “Arya, kamu anak Ilkom. Kamu biasa main software. Hari ini kamu bakal kotor. Tugas kalian hari ini adalah Instalasi. Memasang Rig ini ke dalam mobil LV (Light Vehicle) baru yang akan dipakai operasional.”
Arya menelan ludah. “Bongkar dashboard mobil, Pak?”
“Iya. Dan jangan sampai lecet. Apalagi sampai bikin korslet kelistrikan mobil. Kalau mobilnya mogok gara-gara kamu salah sambung kabel power, kamu dorong mobil itu balik ke camp.”
09.00 WITA – Seni Menarik Kabel (Wiring Art)
Arya satu tim dengan Bimo (Elektro ITS). Ini ranahnya Bimo. Anak elektro paham arus lemah dan arus kuat. Arya? Dia lebih paham arus data.
Mereka berhadapan dengan sebuah Toyota Hilux Double Cabin yang masih bau pabrik. Tugas mereka memasang antena di bumper depan, menarik kabel koaksial menembus dinding api (firewall) mesin, masuk ke kabin, dan memasang unit Rig di bawah dashboard.
“Bim, ini kabel merah ke mana?” tanya Arya bingung memegang kabel power radio.
“Langsung ke Aki (Accu), Ya. Jangan ambil dari pemantik rokok (lighter),” jawab Bimo sambil tiduran di kolong mobil, memasang bracket.
“Kenapa nggak dari lighter aja? Kan lebih deket?”
“Radio itu butuh arus stabil dan besar saat transmit (memancar). Kalau ambil dari lighter, kabelnya kecil, bisa panas, terus kebakar. Lagipula, kalau ambil langsung dari Aki, suara radionya ‘bersih’ dari noise mesin,” jelas Bimo panjang lebar.
Arya mengangguk. Ia belajar hal baru. Di dunia coding, “bersih” itu artinya kode yang rapi. Di dunia radio, “bersih” itu artinya listrik yang murni tanpa gangguan elektromagnetik.
Drama kecil terjadi saat mereka harus menarik kabel antena dari bumper depan masuk ke kabin. Lubang karet (grommet) di dinding mesin sangat sempit dan keras.
“Tarik, Ya! Tarik!” teriak Bimo dari dalam kabin. Arya menarik kabel itu dari ruang mesin dengan tangan yang sudah hitam kena debu mesin. “Keras, Bim!” “Pake sabun! Licinin!”
Mereka bergumul selama satu jam hanya untuk satu kabel. Keringat bercucuran. Tangan Arya lecet-lecet. Baju seragam barunya yang kemarin dibanggakan kini sudah ada cap oli di bagian perut.
Tapi saat Rig itu akhirnya terpasang rapi, dan Bimo menekan tombol Power… Tiit! Layar oranye menyala. “SELF TEST PASSED. ZONE: PRODUCTION.”
Ada rasa puas yang aneh menjalar di dada Arya. Kepuasan fisik. Berbeda dengan kepuasan saat kodenya berhasil di-compile. Ini kepuasan yang bisa disentuh.
11.00 WITA – Tuning Antena (SWR)
Belum selesai. Pak Eko datang membawa alat ukur bernama SWR Meter (Standing Wave Ratio).
“Radio nyala bukan berarti bagus,” kata Pak Eko. “Kalau antenanya tidak matching, sinyalnya bakal balik lagi ke radio dan membakar komponen di dalamnya. Namanya Reflected Power.”
Pak Eko menyuruh Arya mengukur. Jarum SWR menunjukkan angka 1.2. “Bagus,” puji Pak Eko. “Di bawah 1.5 itu aman. Kalau di atas 2.0, radio kalian bakal jebol dalam seminggu.”
“Ingat,” Pak Eko menatap mata Arya. “Tali penyelamat itu bukan cuma soal punya alatnya. Tapi soal merawatnya. Antena yang kendor sedikit saja bisa bikin suara kalian putus-putus saat minta tolong.”
14.00 WITA – Uji Coba: Masuk ke Zona Mati
Setelah istirahat siang, Pak Eko memberikan tantangan nyata. “Kalian sudah pasang. Sekarang kita tes. Bawa mobil ini ke Area Disposal Timur. Itu area paling ujung, dekat batas hutan. Di sana ada bukit yang menghalangi sinyal ke Tower Repeater utama.”
“Tugas kalian: Lakukan Radio Check dari sana menggunakan HT, lalu menggunakan Rig. Bandingkan hasilnya.”
Arya menyetir. Bimo di sebelahnya. Mereka melaju meninggalkan area bengkel yang ramai menuju area Disposal (tempat pembuangan tanah penutup) yang sepi. Semakin jauh mereka pergi, jalanan semakin sepi dan hutan semakin rapat.
Hujan gerimis mulai turun. Tanah jalan tambang yang tadinya debu keras berubah menjadi lumpur licin (slippery).
“Hati-hati, Ya. Licin,” ingat Bimo.
Arya mencengkeram setir. Ia belum terlalu mahir mengemudi 4×4 di lumpur.
Sampai di titik koordinat yang ditentukan, mereka berhenti. Area itu sunyi senyap. Kiri kanan dinding tanah setinggi 10 meter. Mereka berada di lembah buatan.
“Oke, tes HT dulu,” kata Arya. Ia turun dari mobil, memegang HT di tangan. Hujan rintik membasahi wajahnya.
Arya menekan PTT. “Dispatch, ini IT Trainee Arya. Radio Check. Ganti.”
Hening. Ia mencoba lagi. “Dispatch, Arya Check. Ganti.”
Hanya suara statis yang terdengar. Krosak… krosak… Lalu bunyi nada tuuut-tuuut pendek. “Bonk,” kata Bimo yang ikut turun. “Itu suara Bonk. Artinya nggak dapet handshake dari Repeater. Sinyal nggak nyampe.”
Arya mengangkat HT-nya tinggi-tinggi, seperti orang cari sinyal HP. Tetap saja. Indikator sinyal di layar HT kosong melompong. “Mati kita, Bim. Kalau mobil mogok di sini, HT ini cuma jadi ganjalan pintu.”
14.45 WITA – The Stuck (Drama Lumpur)
“Yaudah, coba pake Rig,” kata Bimo. “Ayo balik ke mobil.”
Saat mereka hendak naik, Arya terpeleset di gundukan tanah basah. Kakinya menghantam bumper depan mobil cukup keras. “Aduh!”
Tapi bukan kakinya yang jadi masalah. Benturan itu membuat kakinya yang berlumpur tebal menendang tiang antena di bumper depan. Antena itu miring drastis.
“Waduh, Ya! Antenanya bengkok!” seru Bimo.
Mereka masuk ke mobil. Arya mencoba menyalakan Rig. Rig menyala. Tapi saat Arya menekan PTT untuk memanggil Dispatch…
BEEEEEEEP!
Suara nada panjang yang menyakitkan telinga keluar dari Rig. Layar berkedip: “ANTENNA FAIL”.
“SWR-nya naik, Ya!” teriak Bimo panik. “Gara-gara lo tendang tadi, konektornya mungkin patah atau short ke bodi mobil. Proteksi radionya aktif. Dia nolak mancar!”
Arya pucat. Posisi mereka di ujung dunia. HT tidak tembus sinyal karena terhalang bukit (power 5 Watt tidak kuat). Rig rusak antenanya karena kecerobohan Arya.
Dan sialnya, saat Arya mencoba memundurkan mobil untuk mencari posisi lebih tinggi, ban belakang mobil spin di lumpur lunak. Mobil itu malah amblas.
“Mampus,” desis Arya. “Kita stuck. Komunikasi putus.”
15.15 WITA – Kreativitas dalam Kepepet
Keheningan di dalam kabin mobil itu mencekam. Hujan makin deras. Langit menggelap. Mereka terisolasi.
“Gimana nih, Bim? Kita jalan kaki?” tanya Arya. “Jauh, Ya. 5 Kilo ke pos terdekat. Lewat jalan hauling aktif. Bahaya banget jalan kaki di tengah hujan gini, truk nggak bakal liat kita.”
Bimo menatap Rig yang error itu. Otak elektronya berputar. “Tunggu… Rig-nya nggak rusak. Yang rusak antenanya. Kabelnya.”
Bimo menoleh ke belakang jok. Ada kotak perkakas (tool kit) IT yang mereka bawa tadi. “Ya, kita punya kabel LAN kan di tas lo?” “Ada. Kabel UTP. Buat apa?”
“Kabel UTP itu tembaga. Kita bikin antena darurat,” mata Bimo berbinar gila. “Kita sambungin langsung ke center core konektor antena Rig. Kita lempar kabelnya ke atas pohon di tebing itu.”
Arya melongo. “Emang bisa?” “Teorinya bisa. Namanya Long Wire Antenna. Impedansinya bakal ngaco, SWR bakal jelek, tapi mungkin… mungkin cukup buat mancarin sinyal darurat sekian detik sebelum radionya overheat.”
Mereka bekerja cepat. Bimo memotong kabel LAN, mengupasnya, dan melilitkannya ke lubang konektor antena di belakang Rig. Arya nekat keluar hujan-hujanan, memanjat sedikit ke tebing tanah, dan melemparkan ujung kabel itu ke ranting pohon kering di atas tebing.
“Udah, Bim! Tingginya lumayan!” teriak Arya, lalu lari masuk mobil, basah kuyup.
Bimo memegang mikrofon Rig. Tangannya gemetar. “Ini taruhan, Ya. Sekali pencet, mungkin final transistornya jebol karena nggak matching. Tapi kita cuma butuh satu kalimat.”
Bimo menekan PTT. “Mayday, Mayday. Unit IT Trainee stuck di Disposal Timur. Komunikasi darurat. Ganti.”
Hening. Detik terasa jam.
Tiba-tiba, suara Pak Eko terdengar samar-samar, tapi ada! “…Unit IT… kopi pecah-pecah… ulangi lokasi…”
Arya dan Bimo bersorak. “TEMBUS!”
Bimo menekan lagi. “DISPOSAL TIMUR. STUCK LUMPUR. BUTUH SAR.”
“Kopi. Bantuan meluncur. Diam di tempat.”
Bimo melempar mikrofon itu. Ia dan Arya bersandar di jok, napas mereka memburu. Bau keringat, bau hujan, dan bau ozon dari elektronik bercampur jadi satu.
16.30 WITA – Evakuasi & Pelajaran Mahal
Setengah jam kemudian, sebuah LV Rescue datang menarik mobil mereka keluar dari lumpur. Pak Eko ada di mobil itu.
Ia melihat kabel LAN yang menjuntai dari jendela mobil ke atas pohon. Ia tidak marah. Ia malah geleng-geleng kepala sambil tersenyum miring.
“Kreatif,” kata Pak Eko saat mereka sudah aman di jalan keras. “Tapi bodoh.”
“Maaf, Pak,” kata Arya menunduk. “Saya yang salah tendang antena.”
“Kesalahan kamu menendang antena itu fatal. Itu ceroboh,” tegur Pak Eko keras. “Tapi…”
Pak Eko menunjuk kabel LAN itu. “Keputusan kalian untuk tidak panik, tidak jalan kaki sembarangan, dan menggunakan ilmu kalian untuk memodifikasi alat… itu mental engineer. Itu yang menyelamatkan kalian.”
“Ingat rasa takut tadi,” lanjut Pak Eko. “Ingat rasanya saat HT 5 Watt kalian mati kutu. Ingat rasanya saat Rig 45 Watt kalian bisu.”
“Sinyal suara itu tali penyelamat. Kalau talinya putus, kalian harus tahu cara menyambungnya lagi. Entah itu pakai kabel LAN, kawat jemuran, atau apapun. Yang penting suara kalian terdengar.”
19.00 WITA – Refleksi: Bukan Sekadar Alat
Malam itu di mess, Arya membersihkan lumpur dari seragamnya. Bimo sedang sibuk membersihkan konektor Rig yang tadi mereka “perkosa” pakai kabel LAN.
“Bim,” kata Arya. “Gue janji besok-besok gue bakal hormat banget sama tim radio. Ternyata masang ginian susahnya minta ampun. Dan fungsinya…”
“Fungsinya nyawa, Ya,” potong Bimo. “Kalau tadi kita nggak bisa kontak Dispatch, kita bakal nginep di hutan semalem. Tanpa makanan, kedinginan.”
Arya menatap HT di mejanya. Benda itu kini tampak berbeda. Kemarin ia hanya melihatnya sebagai “telepon ribet”. Hari ini, ia melihatnya sebagai satu-satunya benang penghubung dirinya dengan peradaban.
Dan Rig di mobil… itu adalah benteng terakhir.
Pelajaran hari ketujuh masuk sangat dalam. Sebagai orang IT, Arya sering meremehkan hardware tua. Ia memuja Fiber Optic dan 5G. Tapi hari ini, di lumpur dan hujan, teknologi analog VHF dan seutas kabel tembaga lah yang menyelamatkannya.
Kadang, Low Tech is the Best Tech saat kondisi kritis.
Pembelajaran Hari ke-7
Teknis (Hands-on Radio):
- Power Difference: Memahami batasan fisik HT (5 Watt – Short Range) vs Mobile Rig (45 Watt – Long Range). HT sering gagal di area cekungan (Dead Zone), sementara Rig punya daya tembus lebih baik.
- SWR (Standing Wave Ratio): Memahami bahwa antena radio harus tuned (selaras). Jika antena rusak/bengkok, energi radio akan memantul balik dan bisa merusak perangkat, serta gagal memancar.
- Installation Hygiene: Pentingnya instalasi kabel yang rapi dan aman (direct to battery) untuk keandalan komunikasi.
Psikologis (Mental Growth):
- Engineering Mindset under Pressure: Kemampuan berpikir solutif saat alat standar gagal (menggunakan kabel LAN sebagai antena darurat). Tidak menyerah pada keadaan (Resourcefulness).
- Situational Awareness: Kesadaran akan bahaya lingkungan (licin, lumpur) yang bisa merusak peralatan vital (antena). Kecerobohan fisik bisa berakibat fatal pada sistem keselamatan.
- Trust in Tools: Membangun kepercayaan dan rasa hormat terhadap peralatan kerja. Merawat alat = Merawat nyawa.


