008 Zona Ledakan dan Server yang Menari

Posted on

Tema: Getaran Fisik vs Perangkat Keras | Manajemen Risiko Bencana | Improvisasi Lapangan | Fisika Dasar

Tidak banyak orang pernah melihat server “menari”—bergoyang akibat getaran alat berat di zona blasting. Setiap dentuman terasa seperti pukulan palu pada rak server, memaksa kami memikirkan ulang semua teori instalasi. Di tambang, bahkan server pun harus belajar bertahan hidup.

Di PT Bara Nusantara Energi, istilah “Getaran” bukanlah sebuah metafora puitis atau sekadar gangguan kecil seperti truk lewat depan rumah. Itu adalah fakta geologis harian yang mendefinisikan ritme kerja kami. Untuk mengambil emas hitam (batubara) dari perut bumi Kalimantan, kita harus memecahkan batuan penutup (overburden) yang keras terlebih dahulu. Dan cara paling efisien—dan satu-satunya cara ekonomis—untuk memecahkan batuan sekeras beton itu adalah dengan bahan peledak: Campuran Amonium Nitrat dan Fuel Oil (ANFO).

Aktivitas ini disebut Blasting (Peledakan). Biasanya, zona peledakan berada jauh—kilometeran jaraknya dari fasilitas pendukung seperti kantor, bengkel, dan camp. Kami memiliki peta zona aman (Safety Zone) yang ketat. Namun, seiring dengan target produksi yang digenjot dan perluasan lubang tambang (pit expansion) di Site Delta, garis depan penambangan semakin hari semakin mendekat ke arah area perkantoran sementara (Porta-camp).

Fasilitas Porta-camp kami hanyalah bangunan semi-permanen yang terbuat dari kontainer bekas yang dimodifikasi, ditumpuk, dan berdiri di atas tiang pancang sederhana yang ditanam di tanah liat yang labil. Di salah satu kontainer inilah, di ruangan yang kami sebut “Pusat Data Sementara”, kami menyimpan “Jantung Cadangan” perusahaan: Local Backup Server. Server ini bertugas mereplikasi data dari server utama setiap jam. Ini adalah polis asuransi kami.

Jumat itu adalah hari yang buruk untuk menjadi sebuah Hard Disk Drive (HDD). Sebagai ahli infrastruktur dan Disaster Recovery, saya tahu persis anatomi sebuah server. Komponen yang paling rentan bukanlah prosesor silikon atau memori RAM, melainkan Hard Disk mekanikal. Di dalamnya ada piringan magnetik (platter) berlapis kaca yang berputar pada kecepatan gila: 10.000 hingga 15.000 putaran per menit (RPM). Sebuah jarum pembaca (read/write head) melayang di atas piringan yang berputar itu dengan jarak hanya beberapa nanometer—lebih tipis dari sehelai rambut manusia, bahkan lebih tipis dari sidik jari. Keseimbangan ini sangat presisi. Jika server berguncang keras saat piringan sedang berputar dan jarum sedang bekerja, jarum itu akan menabrak piringan. Head Crash. Piringan tergores. Data hancur secara fisik. Tidak ada software pemulihan data di dunia yang bisa memperbaiki goresan fisik pada piringan kaca.

Titik Emosional Terendah: Hitung Mundur Kematian

Siang itu, awan badai hitam menggantung rendah di langit. Departemen Pengeboran dan Peledakan (Drill & Blast) memutuskan untuk memajukan jadwal peledakan dari pukul 17.00 menjadi pukul 13.00 untuk menghindari hujan sore. Jika bahan peledak basah, bisa terjadi gagal ledak (misfire), yang sangat berbahaya. Keputusan itu mendadak.

Sirene peringatan mulai meraung di seluruh site. Suaranya panjang dan meratap. Suara Blaster Master menggema lewat pengeras suara menara dan radio semua frekuensi: “Perhatian seluruh unit. Peringatan Peledakan. Area Pit Utara. Tiga menit menuju inisiasi. Semua unit menyingkir ke zona aman radius 500 meter.”

Saya berdiri di dalam ruang server backup di Porta-camp. Lantai kayunya bergetar ringan setiap kali truk Haul lewat di jalan tambang berjarak 100 meter. Jika truk lewat saja sudah membuat lantai bergoyang, bagaimana dengan ledakan 50 ton dinamit yang berjarak hanya 800 meter? Jarak ini sudah masuk zona aman untuk manusia (tidak akan kena lemparan batu), tapi untuk getaran tanah (ground vibration)? Ini zona merah bagi peralatan presisi.

Saya menatap layar monitor server dengan ngeri. Indikator proses Mirroring Database menunjukkan angka 65%. Server sedang bekerja keras menulis data cadangan operasional minggu ini. Piringan hard disk di dalamnya sedang berputar pada kecepatan maksimum, dan jarum pembacanya sedang menari-nari menulis data transaksi bahan bakar senilai miliaran rupiah.

Dilema besar melanda saya. Keringat dingin mulai menetes di pelipis. Jika saya mematikan server sekarang secara paksa (Hard Shutdown atau cabut kabel), proses penulisan data akan terputus mendadak di tengah jalan. Database SQL yang sedang terbuka bisa korup (corrupt). Kami bisa kehilangan data integritas transaksi yang belum tersimpan. Memulihkannya butuh waktu berhari-hari downtime. Namun, jika saya membiarkannya menyala saat ledakan terjadi 2 menit lagi, gelombang kejut tanah (ground shock) akan menghantam tiang pancang kontainer ini. Guncangan itu akan merambat ke lantai, ke rak server, dan akhirnya ke hard disk yang sedang berputar. Head Crash adalah kepastian.

“Matikan saja Pak! Cabut kabelnya!” teriak staf junior saya, Budi, panik mendengar sirene yang semakin intens dan hitung mundur di radio. Wajahnya pucat. Dia tahu bahayanya. “Tidak bisa! Kita sedang writing di sektor kritis! Kalau corrupt, kita tamat! Database ini tidak punya salinan lain!” sergah saya. “Proses safe shutdown butuh 15 menit. Kita cuma punya 90 detik!”

Kami terjebak. Alam (atau lebih tepatnya, dinamit buatan manusia) akan segera menghantam mesin presisi kami. Saya merasa gagal sebagai manajer karena tidak mengantisipasi jadwal peledakan dadakan ini dalam perencanaan BCP (Business Continuity Plan). Rak server kami hanyalah rangka besi siku standar yang dibaut kaku ke lantai kayu. Tidak ada peredam. Tidak ada shock absorber. Kekakuan ini akan membunuh data kami.

Solusi: Suspensi Karet Jalanan

Otak saya berputar mencari solusi fisika dasar. Energi tidak bisa dimusnahkan, tapi bisa diredam. Kami butuh isolator getaran. Kami butuh memisahkan server dari lantai yang akan berguncang. Kami butuh suspensi, seperti mobil.

Saya melihat ke luar jendela kontainer. Di halaman parkir berlumpur yang becek, tergeletak tumpukan barang bekas. Ada drum oli, kayu palet, dan… ban bekas. Tumpukan ban bekas mobil operasional (Light Vehicle/LV) yang biasa dijadikan pembatas parkir atau pot bunga darurat. Karet. Karet adalah peredam getaran terbaik. Elastis. Kenyal. Murah.

“Ambil ban bekas!” teriak saya pada Budi dan dua teknisi lainnya. “Empat biji! Sekarang!” “Hah? Buat apa Pak?” Budi melongo, tidak paham. “Jangan banyak tanya! Lari! Ambil yang ukurannya sama!”

Kami berlari keluar seperti orang gila, mengabaikan gerimis yang mulai turun, menyeret empat ban mobil berlumpur masuk ke ruang server yang dingin dan bersih. Lantai menjadi kotor, tapi persetan dengan kebersihan. “Angkat raknya!” perintah saya. Untungnya, ini adalah rak half-height (24U) yang tingginya hanya sedada, bukan rak penuh full-height. Tapi beratnya tetap sekitar 100 kg dengan semua server, baterai UPS, dan switch di dalamnya. “Satu… dua… tiga… Angkat!”

Dengan sisa tenaga dan adrenalin, kami bertiga mengangkat sudut-sudut rak server. Otot punggung saya menjerit. Staf keempat, dengan cekatan, menyelipkan ban mobil bekas itu di bawah kaki-kaki rak server. Satu ban di tiap sudut.

Kini, rak server itu tidak lagi berdiri kaku di atas lantai kayu keras yang terhubung ke tanah. Ia “mengapung” di atas bantalan karet ban yang empuk dan elastis. Saya menggoyangkan rak itu sedikit. Rak itu terlihat miring dan goyah seperti jeli. Sangat tidak stabil jika dilihat dari kacamata standar instalasi ISO. Tapi “goyah” itulah tujuannya.

Detik-Detik Menentukan

Kami mundur selangkah, napas terengah-engah, menunggu kiamat kecil. Suara di radio memuncak: “LIMA… EMPAT… TIGA… DUA… SATU… PELEDAKAN!”

Di kejauhan, dinding tambang runtuh dalam ledakan debu. BOOM! Suara ledakan datang belakangan karena kecepatan suara lambat, tapi gelombang tanah (seismic wave) datang lebih dulu, merambat lewat lapisan batuan dengan kecepatan ribuan meter per detik.

Lantai Porta-camp tempat kami berdiri berguncang hebat. Rasanya seperti gempa bumi skala 5 Richter. Gelas kopi di meja saya bergeser dan jatuh pecah. Kaca jendela bergetar trrrrt seolah mau pecah. Debu dari plafon berjatuhan. Lampu neon berayun liar. Saya harus berpegangan pada meja agar tidak jatuh.

Saya menahan napas, mata saya tidak berkedip menatap rak server di atas ban bekas itu. Rak itu bergoyang. Saat lantai kayu di bawahnya tersentak keras ke atas dan ke bawah oleh gelombang tanah, ban karet itu tertekan (compress) dan memantul (rebound). Rak server itu memantul-mantul lembut. Boing… boing…

Bukannya menerima pukulan hentakan tajam (sharp impact) yang mematikan, server itu malah “menari” pelan. Ban karet itu menyerap energi kinetik tajam dari tanah, dan melepaskannya perlahan sebagai ayunan lembut gelombang sinus. Ayunan lembut ini bisa ditoleransi oleh mekanisme hard disk. Yang membunuh hard disk adalah hentakan (G-Force tinggi), bukan ayunan.

Saya merangkak mendekat ke monitor, berdoa dalam hati. Lampu indikator hard disk tetap berkedip hijau stabil. Tidak ada lampu oranye (Fault). Tidak ada suara klik kematian (click of death) yang mengerikan dari dalam sasis.

Satu menit kemudian, getaran berhenti. Debu mulai turun. Suasana kembali sunyi. Saya memeriksa log sistem di layar konsol. Mirroring Process: 72%… 73%… 74%… Proses berlanjut. Tidak ada error. Tidak ada bad sector. Integritas data 100%.

Kemenangan: Fisika Sederhana

Kami berempat bersorak di ruangan sempit itu, berpelukan di antara ban bekas berlumpur. Sore itu, saya merasa lebih bangga daripada saat mendapatkan sertifikasi IT internasional. Empat buah sampah karet yang tidak berharga telah menyelamatkan aset data perusahaan yang tak ternilai harganya.

Sore itu juga, saya membuat Request for Action (RFA) resmi ke departemen Sipil untuk membangun dudukan beton permanen yang terpisah dari struktur kontainer, lengkap dengan spring damper (peredam pegas) profesional. Tapi pelajaran hari itu sangat berharga: Kecanggihan teknologi tidak selalu butuh alat mahal. Terkadang, untuk menyelamatkan teknologi tinggi, Anda hanya butuh pemahaman fisika dasar tentang inersia dan elastisitas, serta keberanian untuk terlihat konyol—menaruh server mahal di atas ban bekas—demi menyelamatkan keadaan.

Quote: “Teknologi canggih sekalipun tidak bisa melawan hukum fisika. Ketika tanah tempatmu berpijak tidak aman, belajarlah untuk menjadi fleksibel. Kekakuan akan mematahkanmu, tapi fleksibilitas akan meredam hantaman. Di zona bahaya, kemampuan untuk ‘menari’ mengikuti guncangan adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup dan menjaga integritas data.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *