Operasi yang Tak Boleh Mati
08.00 WITA – The Sanctum (Ruang Suci)
Setelah tiga hari berturut-turut mandi debu dan lumpur di lapangan, hari ini Arya dan kelompoknya dibawa kembali ke peradaban. Tepatnya, ke gedung paling steril dan paling dijaga ketat di seluruh area tambang: Gedung Command Center.
“Lepas sepatu safety kalian di loker depan,” perintah Pak Haryo. “Ganti dengan sandal karet anti-statik yang sudah disediakan. Cuci tangan. Jangan bawa debu masuk ke dalam.”
Arya merasa aneh. Biasanya di tambang semuanya kasar. Tapi area ini terasa seperti rumah sakit atau laboratorium chip. Pintunya menggunakan Access Control biometrik (sidik jari dan wajah).
Bip. Klik. Pintu tebal itu terbuka.
Arya melangkah masuk, dan seketika ia merasa diteleportasi dari Hutan Kalimantan ke markas NASA di Houston.
Ruangan itu luas, gelap, dan dingin (suhu dijaga stabil 18 derajat Celcius). Dinding depannya dipenuhi oleh Video Wall raksasa—layar LED selebar 10 meter yang menampilkan peta tambang digital secara real-time, grafik produksi, dan ratusan titik CCTV.
Di hadapan dinding layar itu, duduk berderet puluhan orang yang menghadap monitor melengkung (curved monitor). Mereka mengenakan headset canggih, tangan mereka menari di atas keyboard dan mouse. Suara di ruangan itu hening, hanya terdengar gumaman rendah perintah radio dan ketikan keyboard.
“Selamat datang di Otak Tambang,” bisik Pak Haryo, suaranya pelan seolah takut mengganggu ibadah khusyuk para penghuni ruangan itu.
09.00 WITA – Para Pemain Catur Raksasa
Pak Haryo memperkenalkan mereka pada Dispatcher.
“Kalian lihat Mas-mas yang duduk di sana?” tunjuk Pak Haryo. “Mereka bukan lagi main game Dota atau Valorant. Mereka sedang bermain catur. Tapi bidak caturnya adalah truk seberat 200 ton dan ekskavator seharga 50 miliar.”
Arya mendekat ke belakang kursi salah satu Dispatcher senior. Namanya Mas Agung. Di layar Mas Agung, terlihat peta digital Pit Bintang dengan titik-titik bergerak.
Ada notifikasi pop-up muncul di layar: “EXCAVATOR 205 – WAITING FOR TRUCK”.
Dengan cekatan, Mas Agung mengklik sebuah titik truk (HD 304) yang sedang kosong, lalu men-drag-and-drop titik itu ke arah Exca 205. “HD 304, re-assign to Exca 205. Jalur tengah,” ucap Mas Agung tenang lewat mikrofon.
Di layar, status truk berubah. Di lapangan (5 km dari situ), sopir truk HD 304 menerima perintah baru di tabletnya dan memutar kemudi.
Arya merinding. Klik mouse Mas Agung di ruangan dingin ini mengubah arah gerak monster besi di lumpur sana.
“Ini namanya FMS (Fleet Management System),” jelas Pak Haryo. “Sistem ini menghitung algoritma antrean. Tujuannya: Jangan sampai ada ekskavator yang nganggur (hang) nunggu truk, dan jangan sampai ada truk yang antre kepanjangan (queueing). Semuanya harus flow.”
“Arya, kamu anak Ilkom. Kamu tahu algoritma Traveling Salesman Problem?” “Tahu, Pak. Mencari rute terpendek,” jawab Arya. “Nah, FMS ini melakukan itu untuk 500 unit sekaligus, real-time, dengan variabel jalan yang berubah-ubah. Kalau server FMS ini nge-lag sedetik saja, antrean kacau, produksi turun ribuan ton.”
10.30 WITA – Ketika Otak Mengalami “Stroke”
Saat mereka sedang asyik mengamati, tiba-tiba suasana ruangan berubah tegang. Salah satu layar di Video Wall berkedip merah. Peta digital di area Pit Selatan menjadi abu-abu (greyed out).
Seorang Supervisor Dispatcher berdiri. “Pit Selatan Lost Comm! Semua unit blind!”
Mas Agung dan Dispatcher lain mulai sibuk. “Cek Radio! Cek Repeater!” “Monitor HD 505, posisi di mana? Sinyal GPS hilang!”
Kepanikan terkendali melanda ruangan. Tanpa data GPS, Dispatcher buta. Mereka tidak tahu di mana truk berada. Mereka tidak bisa memberi perintah. Di lapangan, sopir truk akan bingung: Lanjut jalan atau berhenti?
Pak Haryo menyenggol Arya. “Lihat itu. Itu yang terjadi kalau IT gagal.”
Seorang teknisi IT (Network Engineer) berlari masuk dari pintu samping yang tembus ke Ruang Server. “Koneksi Backhaul Microwave ke Tower Selatan putus, Pak! Kemungkinan tersambar petir atau power down!” lapor teknisi itu.
“Berapa lama recovery?” tanya Supervisor Dispatcher tegas. “Lagi failover ke link cadangan. Butuh 3 menit.”
“Tiga menit itu lama, Mas! Itu 20 truk yang bisa salah jalan!” hardik Supervisor.
Arya menahan napas. Ia melihat betapa tingginya tekanan di ruangan ini. Tiga menit downtime internet di kosan mungkin cuma bikin kesal karena buffering YouTube. Di sini, tiga menit downtime artinya kekacauan operasional.
Tepat 2 menit 45 detik kemudian, layar yang abu-abu kembali berwarna. Titik-titik truk muncul kembali.
“Link UP! Data masuk!” seru teknisi IT.
Napas lega terdengar serempak di ruangan itu. Mas Agung kembali menekan tombol PTT. “Seluruh unit Pit Selatan, sistem normal. Lanjut operasional.”
13.00 WITA – Di Balik Kaca: The Server Room
Setelah drama itu, Pak Haryo mengajak mereka ke ruang di balik dinding kaca Command Center. Data Center.
Ruangan ini lebih dingin lagi. Dan bising. Bukan bising mesin truk, tapi bising dengungan ribuan kipas pendingin (cooling fan) server.
Rak-rak server (Rackmount) berjejer rapi dengan lampu indikator berkedip-kedip hijau dan biru. Kabel-kabel Fiber Optic kuning dan oranye tertata rapi seperti seni instalasi.
“Ini jantungnya,” kata Pak Haryo. “Tadi yang putus itu cuma satu urat saraf di lapangan. Tapi kalau ruangan ini yang mati… tamat riwayat tambang ini.”
Pak Haryo menunjuk satu rak khusus. “Ini server FMS. Harganya 2 Miliar. Di dalamnya ada database SQL yang mencatat setiap liter solar yang dibakar, setiap ton batubara yang digali. Kalau database ini korup, kita nggak bisa bayar kontraktor, kita nggak bisa tagih pembeli.”
Arya menatap rak server itu dengan hormat. Sebagai mahasiswa, ia biasa coding di laptop atau cloud gratisan. Di sini, ia melihat infrastruktur fisik (On-Premise) yang menopang bisnis miliaran dolar.
“Kalian lihat lantai ini?” Pak Haryo menunjuk lantai Raised Floor yang berlubang-lubang. “Di bawah sini ada sistem pemadam api gas (FM200). Kalau ada api, gas akan menyemprot, mematikan api tanpa merusak elektronik. Tapi gas itu juga bisa mematikan manusia karena menyerap oksigen. Jadi kalau alarm bunyi, kalian punya 30 detik buat lari keluar sebelum ruangan ini jadi kamar gas.”
Arya mundur selangkah. Seram amat.
15.00 WITA – Analisis Kelelahan (Fatigue Monitoring)
Kembali ke ruang Dispatch, mereka diajak melihat layar khusus di pojok: Fatigue Monitoring Station.
Di layar itu, tidak ada peta. Yang ada adalah deretan video live streaming wajah-wajah sopir di dalam kabin truk.
“Ini AI (Artificial Intelligence) yang bekerja,” jelas operator Fatigue. “Kamera di kabin mendeteksi mata sopir. Kalau matanya merem lebih dari 1,5 detik, atau kalau dia sering menguap, sistem akan kasih alarm.”
Tiba-tiba, ada satu kotak video yang berkedip merah. Seorang sopir terlihat kepalanya terangguk-angguk. Matanya terpejam.
BEEP BEEP!
Di dalam kabin truk (terdengar lewat audio), kursi sopir itu bergetar hebat dan alarm bunyi keras membangunkannya. Sopir itu kaget, langsung melek.
Di Command Center, operator langsung kontak radio. “Unit 404, terdeteksi Microsleep. Minggir sekarang. Parkir aman. Tidur 15 menit atau minta ganti sopir.”
“Siap… maaf, ngantuk banget,” jawab sopir itu dengan suara lemas.
Arya ternganga. “Itu… real time, Pak?”
“Real time. Bayangkan kalau tidak ada sistem IT ini. Sopir itu mungkin sudah menabrak tebing 5 detik lagi. IT menyelamatkan nyawanya barusan.”
Dada Arya berdesir. Ini bukan teori. Ini bukan skripsi. Ini adalah kode program yang menjaga nyawa seorang ayah agar bisa pulang ke rumah.
19.00 WITA – Refleksi: Bukan Game Strategi
Malam itu, Arya duduk di mess hall dengan pikiran penuh.
Selama ini, Arya suka main game strategi seperti Age of Empires atau SimCity. Ia suka mengatur kota, mengatur pasukan. Rasanya seru.
Hari ini, ia melihat versi nyatanya. Tapi di versi nyata ini, tidak ada tombol Restart atau Load Game.
Dispatcher di ruangan dingin itu menanggung beban mental yang luar biasa. Dan orang IT… orang IT adalah penjaga panggungnya. Jika panggung roboh (server mati, jaringan putus), pertunjukan bubar dan pemainnya celaka.
“Bim,” kata Arya sambil mengaduk kopinya.
“Hm?”
“Gue dulu cita-cita mau jadi Game Developer. Bikin dunia virtual.”
“Terus?”
“Sekarang gue mikir, jadi Mining IT lebih keren. Dunianya nyata. Risikonya nyata. Dan kalau gue berhasil bikin sistem yang stabil, gue bukan cuma dapet High Score… gue dapet pahala nyelametin orang.”
Bimo tersenyum, menepuk bahu Arya. “Sah. Udah mulai dewasa lo, Ya. Nggak sia-sia lo kena debu seminggu.”
Arya menatap ke arah Gedung Command Center yang lampunya masih menyala terang di kejauhan. Di dalamnya, “otak” itu tidak pernah tidur. Dan Arya berjanji, suatu hari nanti, dia yang akan memastikan otak itu tetap terjaga.
Pembelajaran Hari ke-9
Teknis (Mission Critical Systems):
- Fleet Management System (FMS): Memahami cara kerja “Otak Tambang” (Dispatch) yang mengoptimalkan pergerakan unit secara real-time menggunakan algoritma dan GPS.
- Server Infrastructure: Pengenalan Data Center standar industri (Raised Floor, Precision Air Conditioning, FM200 Fire Suppression) dan konsep High Availability (redundansi).
- Fatigue Tech: Penerapan Computer Vision dan AI untuk mendeteksi kelelahan operator (Microsleep) sebagai mitigasi kecelakaan fatal.
Psikologis (Mental Growth):
- Pressure Awareness: Memahami tekanan tinggi yang dihadapi rekan kerja (Dispatcher) dan bagaimana kegagalan IT menambah beban tersebut.
- Sense of Gravity: Menyadari bahwa “Down System” bukan sekadar masalah teknis, tapi masalah keselamatan dan kerugian finansial masif.
- Respect for the “Brain”: Menghormati kompleksitas integrasi sistem. Satu layar di Command Center adalah hasil kerja keras ratusan sensor dan kilometer kabel di lapangan.
