010 Jumat refleksi – Evaluasi Minggu 2

Posted on

Miskomunikasi yang Hampir Fatal

07.30 WITA – Ujian Akhir Pekan: Blind Navigation

Jumat pagi di Minggu kedua. Langit mendung menggantung di atas site, seolah mendukung suasana tegang yang dirasakan Arya dan 59 peserta lainnya. Hari ini adalah ujian praktek final untuk modul Komunikasi Radio.

Pak Eko, instruktur bersuara bariton itu, sudah menyiapkan “Arena Penyiksaan”.

“Kalian lihat lapangan berlumpur itu?” Pak Eko menunjuk area kosong seluas lapangan sepak bola yang dipenuhi rintangan: ban bekas raksasa, cone oranye, dan bendera penanda.

“Satu orang mata ditutup (Blindfolded) menyetir mobil Golf Cart. Satu orang jadi Navigator di menara pandang menggunakan radio. Navigator harus memandu si Buta melewati rintangan tanpa menabrak.”

“Ingat,” Pak Eko menekankan. “Golf Cart ini saya modifikasi. Kalau menabrak cone, klakson akan bunyi panjang. Itu artinya kalian GAGAL. Dan di dunia nyata, itu artinya kalian menabrak jurang.”

Arya berpasangan dengan Kevin. Kevin yang menyetir (mata ditutup), Arya yang jadi Navigator.

08.30 WITA – “Kiri Dikit” yang Membino

Giliran mereka tiba. Arya naik ke menara pandang. Kevin duduk di belakang kemudi mobil golf, matanya tertutup kain hitam tebal.

Arya memegang HT. Jantungnya berdegup. “Tenang, Ya. Pake Phonetic Alphabet. Pake Brevity,” gumamnya pada diri sendiri.

Arya menekan PTT. “Kevin, ini Arya. Maju pelan. Speed 5. Ganti.”

Kevin menginjak gas. Mobil bergerak. “Oke, di depan ada ban. Kiri… kiri dikit, Vin!” perintah Arya.

Kevin memutar setir ke kiri. Tapi seberapa banyak “dikit” itu? Kevin memutar setir setengah putaran. Mobil berbelok tajam ke kiri, nyaris menabrak tiang bendera.

“Woi! Kebanyakan! Balas kanan! Kanan lagi!” teriak Arya panik di radio.

Kevin bingung. “Kanan mana? Kanan jam 3 atau jam 1?”

“Kanan sana! Awas!”

BRAAAKK! TEEEEEET!

Mobil Kevin menabrak tumpukan ban bekas. Klakson tanda gagal berbunyi nyaring memalukan.

Pak Eko geleng-geleng kepala di bawah menara. “Gagal. Turun.”

09.30 WITA – Analisis Kegagalan: Asumsi adalah Pembunuh

Arya turun dengan wajah lesu. Kevin membuka penutup matanya, tampak kesal. “Lu gimana sih, Ya? Bilang ‘Kiri Dikit’, gue pikir 90 derajat!” protes Kevin.

Pak Eko mengumpulkan semua peserta.

“Kalian lihat kejadian barusan?” tanya Pak Eko tegas. “Itu contoh klasik Miskomunikasi. Arya menggunakan kata sifat yang ambigu. ‘Dikit’, ‘Banyak’, ‘Sana’, ‘Situ’. Itu kata-kata sampah di radio!”

“Otak manusia menerjemahkan ‘Dikit’ itu beda-beda. Bagi Arya ‘Dikit’ itu 10 derajat. Bagi Kevin ‘Dikit’ itu 45 derajat. Akibatnya? Tabrakan.”

Pak Eko menatap Arya. “Arya, kalau kamu mau dia belok sedikit, gunakan instruksi terukur. Contoh: ‘Kemudi Kiri Satu Putaran’ atau ‘Arah Jam 10’. Itu angka. Angka itu pasti. Bahasa ‘Dikit’ itu perasaan. Jangan bawa perasaan ke lapangan!”

Arya menunduk. Ia merasa bodoh. Logika komputernya harusnya tahu ini. Komputer tidak mengerti “sedikit”. Komputer butuh “integer” atau “float”. Kenapa saat bicara dia kembali ke bahasa warung kopi?

11.00 WITA – The Near Miss (Kejadian Nyata)

Saat sesi evaluasi lapangan hampir selesai, tiba-tiba radio Pak Eko berbunyi. Kali ini bukan simulasi. Itu suara dari Channel Emergency.

“All Unit, Radio Silence! Mayday Mayday! Terjadi insiden di Simpang 4 Pit Utara. LV 04 terjepit HD.”

Wajah Pak Eko berubah batu. Ia segera menyambar radio Rig di posko. “Posko Monitor. Status korban?”

“Korban nihil. Hanya kerusakan material. Unit LV masuk blind spot HD saat antre.”

Pak Eko menghela napas lega, lalu menatap para peserta. “Kalian dengar? Baru saja kejadian. LV (Light Vehicle) kegencet Truk Raksasa.”

“Penyebabnya biasanya satu: Komunikasi yang tidak tuntas. Mungkin LV bilang ‘Saya masuk’, tapi HD belum bilang ‘Silakan’. Atau LV berasumsi HD sudah lihat dia. Asumsi membunuhmu.

Insiden di radio itu menjadi penutup yang mencekam sebelum Sholat Jumat. Realita lapangan kembali menampar mereka: pelajaran minggu ini bukan main-main.

13.30 WITA – Sidang Jumat: Transformasi Suara

Setelah Sholat Jumat, peserta kembali dikumpulkan di Aula. Kali ini suasananya sedikit lebih rileks dibanding Jumat lalu. Tidak ada formulir pengunduran diri di meja.

Pak Johan (Lead Mentor) masuk. Ia tersenyum tipis.

“Saya dengar rekaman radio kalian minggu ini,” kata Pak Johan. “Minggu lalu, suara kalian di radio kayak anak ayam kehilangan induk. Cicit-cuit nggak jelas, banyak ‘Eeee’, ‘Anu’, ‘Itu’.”

“Hari ini, saya dengar perubahan.”

Pak Johan memutar sebuah rekaman audio dari sesi latihan tadi pagi (kelompok Sarah yang berhasil).

“Navigator: Sarah. Driver: Bimo. Posisi Start. Maju lurus 10 meter. Arah jam 12. Kecepatan 5. Ganti.” “Driver: Kopi. Maju lurus.” “Navigator: Stop. Obstacle di depan. Kemudi Kiri Penuh. Maju perlahan. Ganti.”

Suaranya tegas. Dingin. Tanpa emosi. Efisien.

“Itu,” tunjuk Pak Johan. “Itu suara Engineer. Suara yang memberikan rasa aman. Sarah, Bimo, Good Job.”

Tepuk tangan bergema di ruangan. Arya ikut tepuk tangan, meski ada rasa iri sedikit karena dia gagal tadi pagi. Tapi dia belajar banyak.

14.30 WITA – Evaluasi Minggu 2: Refleksi Arya

Giliran sesi berbagi (sharing session). Arya memberanikan diri angkat tangan.

“Silakan, Arya. Apa yang kamu pelajari dari kegagalanmu tadi pagi?” tanya Pak Eko.

Arya berdiri. Ia menarik napas.

“Saya belajar bahwa bahasa sehari-hari kita itu penuh racun, Pak. Racun ambiguitas. Kita terbiasa bilang ‘OTW’ padahal masih mandi. Kita terbiasa bilang ‘Dikit lagi’ padahal masih jauh.”

Seisi ruangan tertawa kecil, membenarkan.

“Di sini, kebiasaan itu berbahaya. Saya belajar bahwa komunikasi radio itu seperti Coding. Syntax-nya harus tepat. Variabelnya harus jelas. Kalau input salah, output-nya kecelakaan. Tadi pagi saya kasih input ‘Kiri Dikit’, output-nya Kevin nabrak.”

Pak Eko mengangguk puas. “Kesimpulan yang bagus. Kamu orang komputer, jadi pakailah logika komputer saat bicara. Zero Ambiguity.”

16.00 WITA – Menutup Minggu dengan ‘Copy’

Evaluasi ditutup dengan pembagian jadwal jaga malam minggu (Roster Piket). Meskipun Sabtu-Minggu libur pelatihan, mereka tetap harus piket memantau radio di Posko secara bergilir.

“Minggu depan,” kata Pak Johan menutup sesi. “Kita akan masuk ke Fase 3: Fisik & Mentalitas Infrastruktur. Kalian akan belajar bahwa IT bukan cuma duduk di belakang meja. Kalian akan belajar manjat tower, narik kabel di lumpur, dan melawan capek. Siapkan fisik kalian.”

Arya berjalan keluar aula. Langit sore mulai cerah.

“Ya,” panggil Kevin. “Sorry tadi gue nabrak.” “Gue yang salah, Vin. Instruksi gue sampah,” jawab Arya sambil terkekeh. “Ntar malem kita ngopi, gue traktir. Tapi pesennya harus pake kode NATO ya.”

Kevin tertawa. “Kopi Susu. Kilo Sierra. Satu Gelas. Ganti.”

Mereka tertawa lepas. Beban minggu kedua terangkat.

Arya merasa ada yang berubah dalam dirinya. Dulu di Pangandaran, ia pendiam. Di IPB, ia bicara seperlunya. Sekarang, ia belajar bahwa suara adalah instrumen kontrol.

Ia menatap HT di pinggangnya. Benda itu bukan lagi beban. Itu adalah perpanjangan dari dirinya.

“Arya to Base. Evaluasi selesai. Menuju Mess Hall. Out.” bisiknya pelan ke radio yang mati.

Minggu kedua: TUNTAS. Transformasi: Dari Gagap menjadi Tegas.

Rangkuman Pembelajaran Minggu ke-2 (Komunikasi)

  1. Protokol Komunikasi (The Language of Safety):
  • Phonetic Alphabet: Menggunakan standar NATO (Alpha, Bravo) untuk mengeja, menghilangkan kesalahan dengar.
  • Brevity (Keringkasan): Prinsip “Think – Push – Speak”. Menghapus kata sambung tidak berguna (“Anu”, “Eee”). Komunikasi harus padat.
  • Closed Loop Communication: Setiap perintah harus dikonfirmasi ulang (Readback). “Maju 5 meter” -> “Kopi, Maju 5 meter”.
  1. Teknologi Radio (The Tool):
  • Trunking System: Memahami radio digital cerdas vs radio analog konvensional.
  • Emergency Button: Fungsi vital tombol oranye dan konsekuensi menekannya (Silence All).
  • Dead Zone: Memahami keterbatasan fisik gelombang radio dan cara mengatasinya (Relay/Repeater).
  1. Tumbuh Kembang Mental (Character Arc):
  • Assertiveness: Peserta belajar menjadi asertif (tegas) tanpa menjadi kasar.
  • Precision: Mengubah pola pikir dari “Kira-kira” menjadi “Pasti/Terukur”.
  • Responsibility: Menyadari bahwa setiap kata yang keluar di frekuensi publik memiliki dampak keselamatan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *