Bab 2 Wasiat dan Ilmu Pusaka Batin

Posted on

2.1 Lorong Waktu ke Ruang Pini Sepuh

Jalur menanjak menuju rumah Ema Warsih adalah transisi yang tegas dari dunia Kuwu Asmara menuju warisan yang hampir terlupakan. Sementara jalan di bawah dipenuhi debu diesel dan jejak roda traktor, jalan setapak ini dinaungi oleh pohon-pohon tua yang rimbun, menghasilkan kelembapan tanah yang sejuk dan aroma humus alami. Arsyad merasa seolah ia sedang berjalan mundur melewati lorong waktu, dari realitas kehancuran modern menuju tempat yang masih mempertahankan integritasnya.

Pondok Ema Warsih terletak di punggung bukit, terbuat dari kayu yang menghitam oleh usia, beratapkan ijuk yang teelah dipenuhi lumut hijau. Tidak ada listrik, tidak ada televisi, hanya suara gemericik air dari pancuran bambu dan hembusan angin yang membawa bisikan hutan.

Di teras, Arsyad disambut oleh aroma akar-akaran kering dan rempah yang digantung. Ema Warsih sedang duduk di bale-bale, menumbuk ramuan dalam lumpang batu. Usianya sudah sangat senja, tetapi matanya, setajam jarum yang menusuk benang, memancarkan cahaya yang tidak dimiliki oleh mata manusia biasa. Wajahnya dipenuhi kerutan yang rapi dan terstruktur, seolah setiap garisnya adalah naskah kuno yang menyimpan cerita panjang. Rambutnya disanggul tinggi, hanya menyisakan beberapa helai yang memutih.

Ema Warsih tidak terkejut melihat Arsyad. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang menunjukkan bahwa ia sudah tahu segala sesuatu yang terjadi di bawah bukit.

“Aku tahu kau akan datang, Cung,” sapanya, suaranya lembut, seperti dedaunan kering yang bergesekan. “Kau kembali membawa kertas, tapi bau lumpur dan kesedihan di dadamu.”

Arsyad berlutut di hadapannya, meletakkan ransel dan fragmen kayu Ulin di tanah. Ia tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Rasa malu karena kegagalan ilmiahnya di Muara sudah cukup menjadi pengantar.

“Ema, saya gagal,” kata Arsyad, suaranya parau. “Ilmu yang saya bawa tidak mampu menghentikan Kuwu. Kertas-kertas saya tidak mampu menyelamatkan Pangung Ngaruat Jagat. Bahkan, mereka merobohkan tiang suci…”

Ia menunjukkan potongan kayu Ulin itu. Ema Warsih hanya mengangguk, tanpa menunjukkan emosi yang berlebihan. Ia mengambil fragmen kayu itu, memegangnya dengan hormat, lalu mengembalikannya ke Arsyad.

“Tiang yang di atas memang harus roboh agar tiang yang di dalam bisa berdiri,” ujar Ema Warsih penuh teka-teki. “Kau baru mengerti, Cung. Ilmu yang diajarkan di kota itu hanya kulit. Kekuatan Kuwu bukan hanya uang, tetapi keraguan yang ia tanam di hati warga. Dan keraguan hanya bisa dilawan dengan keyakinan.”

Ruang Pini Sepuh dan Ritual Kidung

Ema Warsih mempersilakan Arsyad masuk ke dalam gubuk, membawanya ke sebuah ruangan kecil di bagian belakang yang disebut Ruang Pini Sepuh. Ruangan ini terasa seperti kapel adat: gelap, sejuk, dan penuh objek-objek simbolis.

Dindingnya tidak dihiasi foto, melainkan dengan untaian rajah pada daun lontar, bambu kuning yang kering, dan karung-karung berisi berbagai jenis benih lokal yang dibungkus kain putih. Di tengah ruangan, terdapat tungku kecil yang mengeluarkan asap tipis, beraroma kayu cendana dan kemuning.

“Duduklah di sana, Cung,” perintah Ema Warsih.

Ema Warsih kemudian melakukan ritual singkat. Ia duduk di depan tungku, menyalakan lilin dari sarang lebah, dan mulai melantunkan kidung kuno. Kidung itu panjang, berisi narasi tentang penciptaan Muara Cijulang, peran Naga Mangsa (simbol kehancuran), dan bagaimana Karuhun (leluhur) dulu menggunakan benih dan lumpur untuk membuat perjanjian abadi dengan lautan.

Kidung itu bukan sekadar lagu; itu adalah sejarah lisan, filsafat ekologi, dan sekaligus doa. Selama kidung dilantunkan, Arsyad merasakan setiap sel dalam tubuhnya—yang selama ini terpaku pada data dan angka—terikat kembali pada narasi Pangpung. Ilmu yang ia bawa terasa ringan, tetapi warisan yang ia dengar terasa berat dan mendalam.

Setelah kidung selesai, Ema Warsih memadamkan lilin dan menatap Arsyad dengan serius.

“Kidung ini adalah Buku Agung kita, Cung. Kau datang kemari, bukan untuk belajar menanam. Kau datang untuk meminta izin menggali Ilmu Adat, untuk membuka Wasiat Benih Purba yang disimpan Aki Sarman. Benar begitu?”

Arsyad mengangguk, meletakkan patahan kayu Ulin di depan Ema Warsih sebagai tanda permintaan izin.

“Saya datang untuk itu, Ema. Saya tahu, Aki Sarman menyembunyikan formula itu karena ia yakin itu adalah satu-satunya Akar Sejati yang bisa menyembuhkan Pangpung. Tapi saya, Ema, saya seorang sarjana. Saya tidak mengerti bagaimana menggabungkan formula leluhur dengan Ilmu yang saya bawa. Saya butuh panduan untuk menafsirkan Rasa itu secara ilmiah, agar warga bisa percaya, dan agar saya bisa melawan Kuwu dengan kebenaran yang tidak bisa dibantah.”

Permintaan Arsyad itu kompleks. Ia tidak hanya meminta resep, ia meminta Ema Warsih untuk menjadi jembatan antara dua dunia yang terpisah: Sains dan Adat.

Ema Warsih menghela napas, panjang dan dalam. Ia kemudian menceritakan sebuah analogi yang mengena.

“Kau tahu, Cung? Dulu Aki Sarman selalu bilang, hutan bakau itu seperti tubuh manusia. Bakau adalah paru-parunya. Lumpur adalah darahnya. Dan Rajah Penyelamat (mantra) adalah jiwanya. Ilmu kalian, adalah pisau bedah yang bisa membedah organ, menganalisis penyakit. Tapi, hanya Rasa yang bisa memanggil jiwa kembali ke tubuh yang sekarat.”

Ia mendekati Arsyad, menatap langsung ke matanya, seolah menguji kedalaman komitmennya.

“Kau meminta izin, Cung. Izin ini tidak murah. Jika kau gagal, kau tidak hanya mencemari Ilmu Kertas yang kau bawa. Kau mencemari Rasa yang sudah dijaga ribuan tahun. Ilmu Adat bukan untuk main-main, bukan untuk proyek, dan bukan untuk dijual.”

Ema Warsih menyentuh bahu Arsyad. “Baik. Aku berikan izin itu. Tapi kau harus bersumpah: kau akan menggunakan Ilmu Kertas-mu untuk menerjemahkan Wasiat ini, bukan untuk menolaknya. Mulai sekarang, kau harus belajar memahami Naga Mangsa.”

Dialog ini secara resmi memberikan Arsyad akses ke pengetahuan rahasia, tetapi juga memberikan beban tanggung jawab yang luar biasa. Ia kini terikat oleh sumpah ganda: Ngawekas kepada Aki Sarman, dan kepatuhan pada tuntunan Ema Warsih. Perjalanan ilmiah-spiritualnya telah dimulai, dan titik awal pertamanya adalah memahami filosofi inti dari kehancuran: Naga Mangsa.

2.2 Ilmu Luhung dan Kritik Kertas

Setelah Arsyad mendapatkan izin untuk menggali ilmu adat, suasana di Ruang Pini Sepuh berubah. Ketegangan ritual berganti menjadi kedalaman filosofis. Ema Warsih menyajikan segelas air rebusan akar wangi kepada Arsyad, bukan sebagai minuman penghilang dahaga, melainkan sebagai ramuan pembuka pikiran.

“Kau datang untuk mencari resep, Cung,” ujar Ema Warsih, menyalakan tungku kecil kembali. “Tapi sebelum kita bicara resep, kita harus bicara tentang penyakitnya. Penyakit ini namanya Naga Mangsa.”

Arsyad, yang terbiasa dengan istilah ilmiah seperti carrying capacity (daya dukung lingkungan) atau ecological degradation (degradasi ekologis), mencoba menafsirkan istilah adat itu. “Naga Mangsa? Apakah itu metafora untuk kerakusan manusia, Ema? Atau siklus alam yang tidak seimbang?”

Ema Warsih tersenyum, bukan senyum persetujuan, melainkan senyum koreksi. “Itu adalah keterbatasan Ilmu Kertas-mu, Cung. Kau selalu mencoba membongkar alam menjadi bagian-bagian kecil: metafora, siklus, data, variabel. Tapi kau lupa, alam adalah satu kesatuan yang bernyawa.”

Ema Warsih berdiri, berjalan ke arah dinding yang dihiasi rajah dan benih.

Naga Mangsa bukan hanya kerakusan manusia. Ia adalah energi kehancuran yang lahir ketika tiga unsur terpisah: Tanah, Air, dan Rasa. Naga Mangsa tidak akan kenyang. Ia melahap keindahan, melahap kesuburan, dan akhirnya melahap akal sehat manusia itu sendiri. Kuwu Asmara hanyalah kuku dari Naga itu. Mesin diesel dan truk-truknya adalah napasnya.”

Arsyad menyimak. Ia mulai melihat kesamaan antara mitologi adat dan teori ilmiah. Naga Mangsa adalah negative feedback loop yang tidak terkontrol—ketika pengerukan pasir (melukai Tanah) menyebabkan air laut mati (meracuni Air), dan warga kehilangan Pamali (menghilangkan Rasa).

“Bagaimana kita melawan Naga Mangsa, Ema? Dengan formula Wasiat Benih Purba?” tanya Arsyad.

“Formula itu hanya alat, Cung. Kuncinya adalah Ilmu Luhung,” jawab Ema Warsih.

Kritik Kertas: Pemisahan Ilmu dan Rasa

Ema Warsih kemudian melancarkan kritik tajam terhadap pendidikan modern Arsyad. Ia menyebutnya Kritik Kertas—kritik terhadap ilmu yang tercatat di atas kertas tebal, tetapi terpisah dari bumi tempat ia tumbuh.

“Kau belajar Ilmu di kota, Arsyad. Kau belajar mengukur kedalaman lumpur, menghitung kadar garam air. Semua itu benar. Tapi Ilmu itu didapat dari ruangan ber-AC, dari data yang dikirim oleh satelit,” jelasnya.

Ilmu Kertas-mu membuat kau pandai berbicara tentang pohon yang tumbuh 300 kilometer dari Pangpung. Tapi ia tuli terhadap bisikan akar di bawah kakimu. Ilmu kalian adalah ilmu yang takut kotor. Ilmu yang terpisah dari lumpur dan rasa sakit.”

Ema Warsih menekankan bahwa kegagalan Arsyad di Muara bukan karena kurangnya data, melainkan karena kurangnya Rasa yang menyertai Ilmu.

“Kau datang ke Mang Udin membawa pasal-pasal undang-undang dan data propagule. Apakah Mang Udin butuh itu? Tidak. Mang Udin butuh keyakinan bahwa lautan akan pulih. Keyakinan itu tidak bisa kau cetak di kertas, Cung. Keyakinan itu harus kau bawa dalam ritual, dalam sumpah, dalam Ilmu Luhung.”

Ilmu Luhung, menurut Ema Warsih, adalah ilmu yang menyatu. Itu adalah gabungan dari:

  1. Observasi Mendalam: Menghabiskan waktu yang cukup di alam, melebihi sekadar pengambilan sampel.
  2. Kepatuhan Moral: Mengetahui batas-batas Pamali—menggunakan ilmu bukan untuk mendominasi, melainkan untuk melayani alam.
  3. Transfer Energi: Memasukkan Rasa (jiwa) dalam setiap tindakan, mulai dari menumbuk ramuan hingga menanam bibit.

“Resep Wasiat Benih Purba yang kakekmu tinggalkan adalah bukti sempurna Ilmu Luhung,” kata Ema Warsih, sambil menatap Arsyad dengan serius. “Itu adalah formula ilmiah yang dibungkus dalam bahasa adat. Kau harus menggunakan Ilmu Kertas-mu untuk menafsirkan, bukan untuk menguji Wasiat ini. Jika kau mengujinya dengan keraguan, hasilnya akan gagal. Kau harus mengujinya dengan iman.”

Penerimaan Konsep Naga Mangsa

Arsyad merasakan kata-kata Ema Warsih menusuk egonya sebagai seorang sarjana. Ia mulai menyadari bahwa apa yang ia sebut ‘tahayul’ atau ‘metafora’ adalah bahasa ilmiah yang digunakan oleh leluhurnya untuk menjelaskan fenomena yang sama. Naga Mangsa adalah nama adat untuk ketidakseimbangan energi di ekosistem estuari yang dirusak manusia.

“Jadi, Ema,” kata Arsyad, kini lebih rendah hati. “Jika Naga Mangsa adalah energi kehancuran, maka Wasiat Benih Purba adalah penawar energinya. Itu adalah Ilmu Luhung yang harus saya terjemahkan ke dalam bahasa IPB?”

“Tepat,” angguk Ema Warsih. “Dan untuk mengaktifkannya, kau harus menemukan benihnya, Siki Jati Diri, yang ditinggalkan Aki Sarman. Benih itu bukan hanya resep. Ia adalah kontrak antara manusia dan alam. Kontrak yang sudah kau lupakan saat kau membawa Ilmu Kertas ke kota.”

Ema Warsih lalu menjelaskan detail filosofis dari resep yang akan mereka cari:

  1. Bubuk Kerang: Bukan hanya sumber Kalsium Karbonat (yang akan dipahami Arsyad secara ilmiah), tetapi sebagai simbol ‘pengembalian hutang’ pada laut. Mengambil tulang (cangkang) dari laut untuk menyembuhkan luka lautan.
  2. Fermentasi Lumpur: Bukan hanya proses mikrobiologis (yang akan dipahami Arsyad), tetapi sebagai ritual ‘mematangkan Rasa’—mengubah yang busuk menjadi penyembuh, dan memastikan kesabaran.

“Kau harus bersihkan pikiranmu dari keangkuhan ijazah, Arsyad. Kau tidak datang untuk mengoreksi Ilmu kami. Kau datang untuk mengisi kekosongan ilmumu sendiri. Jika Ilmu Luhung adalah pisau, Rasa adalah tangan yang mengendalikan pisau itu. Kau harus menjadi pisau yang dipandu oleh Rasa,” tutup Ema Warsih, mengakhiri ceramahnya.

Arsyad menegakkan punggungnya. Ia kini memahami beban dan peran barunya. Gelar sarjana kehutanan IPB tidak lagi menjadi beban, melainkan menjadi alat penerjemah. Ia harus menggunakan keahlian analitisnya untuk membuka rahasia Wasiat Benih Purba, tetapi ia harus menjalaninya dengan keyakinan yang diajarkan oleh Ema Warsih.

“Saya siap, Ema. Tunjukkan di mana saya bisa menemukan Wasiat Mencari Siki Jati Diri,” pinta Arsyad, komitmennya kini tulus dan tak tergoyahkan.

2.3 Wasiat Mencari Siki Sejati

Di dalam Ruang Pini Sepuh, keheningan menyelimuti Ema Warsih dan Arsyad, hanya diselingi oleh suara deburan ombak yang sayup-sayup dari kejauhan—suara yang kini terasa seperti bisikan rahasia, bukan lagi ratapan. Ema Warsih bangkit, memimpin Arsyad ke sudut ruangan. Di sana, terdapat sebuah lemari kayu jati tua, berat dan gelap, yang diukir dengan motif akar bakau yang melilit.

Ema Warsih menyentuh ukiran akar itu dengan kedua tangannya, melafalkan sebuah mantra pendek yang terdengar seperti nama-nama kuno. Kemudian, ia membuka laci tersembunyi yang terkunci rapat—bukan dengan kunci logam, melainkan dengan mekanisme geser yang hanya bisa diaktifkan oleh tekanan jari yang spesifik.

“Ini adalah tempat penyimpanan Aki Sarman,” kata Ema Warsih. “Di sinilah Ilmu Luhung disimpan, jauh dari mata yang buta dan tangan yang serakah.”

Dari dalam laci, Ema Warsih mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus dengan kain tenun lusuh berwarna merah marun. Ketika bungkusan itu dibuka, terungkaplah sebuah Naskah Daun Lontar yang usianya mungkin ratusan tahun, diikat dengan tali ijuk. Naskah itu terasa dingin di tangan Arsyad, dan mengeluarkan aroma samar garam dan cengkeh kering. Ini adalah harta karun intelektual yang ia cari.

“Ini Wasiat Benih Purba,” bisik Ema Warsih. “Aki Sarman menyalinnya dari Karuhun (Leluhur) kita. Ia adalah formula untuk melawan Naga Mangsa, untuk mengikat kembali bumi yang terlepas. Wasiat ini adalah Siki Jati Diri itu sendiri—cetak birunya.”

Arsyad mengambil naskah itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya, menemukan tulisan tangan kakeknya yang rapi, yang bercampur dengan aksara Sunda kuno yang digoreskan pada daun lontar yang tipis. Naskah itu tidak berisi daftar bahan yang jelas seperti di laboratorium. Sebaliknya, ia adalah puisi kriptik, sebuah rangkaian petunjuk yang sengaja dibuat ambigu bagi mereka yang tidak memiliki Rasa.

Arsyad membaca isinya dengan saksama:

Wasiat Mencari Siki Jati Diri

“Bila Muara telah sakit, dan Tiang Jati Diri telah runtuh, Carilah Penawar di Tiga Simpul yang Tersembunyi.

Simpul Pertama adalah Benih Abadi:

Darah Putih dari Cangkang Patah, Digerus di Malam Bulan Mati.

Hutang Laut dibayar dengan Tulangnya, Agar Benih memiliki Iman.

Campurkan dengan Darah Hitam dari Hutan di Atas Bukit, Darah Pohon yang Tak Kenal Asin.

Simpul Kedua adalah Rahim Penyembuh:

Lumpur Mati di Ketiak Akar Hidup, dari tempat Pasang Tak Sampai, dari tempat Surut Berawal.

Biarkan ia Mendekap Darah Putih dan Darah Hitam dalam Gelap, Terbungkus dalam Janji Dua Musim (Dua Kali Siklus Panas dan Hujan).

Aduk dengan Kesabaran, Hanya Saat Bayangan Panjangku Melebur di Air.

Simpul Ketiga adalah Pangung Sejati:

Benih Abadi tidak akan Tumbuh, sebelum Akarnya Sendiri Ditemukan.

Akar Sejati berdiam di Bawah Tiang yang Dirubuhkan, di Kedalaman Tujuh Jengkal Dinding Hati.

Carilah ia, di Malam Tanpa Bintang, dengan Tiang Patah sebagai Penunjuk Arah.

Akar Sejati akan berbicara hanya kepada yang membawa Ilmu dan Rasa di Bahu yang Sama.”

Terjemahan Ilmu Kertas

Arsyad menyandarkan naskah itu di lututnya. Wajahnya yang tegang menunjukkan perpaduan antara kebingungan dan kegembiraan seorang ilmuwan yang baru saja menemukan kode rahasia. Inilah kesempatan baginya untuk memamerkan kegunaan Ilmu Kertas yang ia bawa.

“Ini luar biasa, Ema,” kata Arsyad, mengatur napasnya. “Ini bukan sekadar takhayul. Ini adalah formula kimia ekologis yang dienkripsi.”

Arsyad segera mulai menerjemahkan Wasiat itu ke dalam bahasa ilmiah modern, menggunakan memorinya tentang Biologi Kelautan dan Ilmu Tanah.

  1. “Darah Putih dari Cangkang Patah, Digerus di Malam Bulan Mati.”
    1. Terjemahan: “Darah Putih” pasti adalah Kalsium Karbonat (CaCO3), yang berasal dari cangkang kerang atau moluska (“Cangkang Patah”). Di ilmu lingkungan, bubuk cangkang digunakan untuk menaikkan pH tanah asam (liming) dan meningkatkan nutrisi bagi bibit.
    1. Ritual/Rasa: Proses “Digerus di Malam Bulan Mati” (Malam tanpa bulan) adalah penanaman Rasa ke dalam bahan. Secara ilmiah, mungkin untuk memastikan ketenangan dan fokus, atau menghindari kelembaban berlebihan, tetapi secara spiritual, itu adalah pengakuan bahwa bahan ini suci.
  2. “Darah Hitam dari Hutan di Atas Bukit.”
    1. Terjemahan: Ini adalah petunjuk yang kurang spesifik, tapi “Darah Hitam” kemungkinan besar adalah Arang Hayati (Biochar) atau Kompos Humus yang berasal dari hutan dataran tinggi di belakang Pangpung (“Hutan di Atas Bukit”). Bahan ini sangat kaya karbon dan berfungsi sebagai agen retensi air serta penyubur, sangat dibutuhkan untuk merehabilitasi tanah pasir yang tandus.
  3. “Rahim Penyembuh”
    1. Terjemahan: Ini adalah proses Fermentasi atau Inkubasi. “Janji Dua Musim” berarti minimal enam bulan (siklus panas dan hujan). “Lumpur Mati di Ketiak Akar Hidup” mengacu pada lumpur yang diambil dari tempat yang stabil, yang masih dilindungi bakau asli, untuk mendapatkan mikroorganisme yang diperlukan sebagai katalis fermentasi.
    1. Aksi: Formula ini, yang kini ia pahami sebagai Pupuk Organik Padat Berbasis Kalsium Karbonat dan Biochar (POPB-CaC), memerlukan waktu pembuatan yang lama. Ini menunjukkan bahwa perlawanan tidak bisa instan, harus sabar.

Misi Mencari Akar Sejati

Namun, dari semua fragmen, Simpul Ketiga adalah yang paling mendesak dan paling berbahaya.

“Ema, ini kuncinya. Wasiat ini bilang, benih tidak akan tumbuh, sebelum Akar Sejati di bawah Pangung Ngaruat Jagat ditemukan,” kata Arsyad, menunjukkan baris terakhir. “Akar Sejati itu adalah Simpul Energi yang harus kita aktifkan. Kuwu merobohkan tiang di atas, tapi ia meninggalkan Akar di bawah.”

“Ya, Cung. Benar,” Ema Warsih mengangguk. “Aki Sarman pernah berujar, Akar Sejati adalah benih awal yang ditanam bersamaan dengan Tiang Jati Diri. Ia menyimpan janji pertama. Jika ia ditemukan, ia akan memancarkan energi ke seluruh Muara, memberi ‘Iman’ pada setiap bibit bakau yang kau tanam.”

“Carilah ia, di Malam Tanpa Bintang, dengan Tiang Patah sebagai Penunjuk Arah.”

Ini adalah instruksi yang sangat spesifik dan segera. “Malam Tanpa Bintang” adalah metafora untuk Malam Bulan Mati (New Moon), hari di mana bulan tidak terlihat dan kegelapan mencapai puncaknya. Secara adat, ini adalah waktu paling suci dan paling kuat untuk ritual.

Arsyad menyadari jam di ponselnya: Malam Bulan Mati akan tiba dalam dua hari. Ia harus bergerak cepat. Dan yang lebih penting, ia harus kembali ke lokasi Kuwu Asmara, di tengah malam, ke tempat yang dijaga oleh Ujang, menggunakan fragmen Tiang Ulin yang patah itu sebagai satu-satunya alat penunjuk.

“Saya mengerti, Ema. Saya akan pergi mencari Akar Sejati. Begitu saya menemukannya, saya akan memulai proses pembuatan formula POPB-CaC ini, seperti yang diinstruksikan. Ilmu saya akan menjadi tangan, dan Wasiat ini akan menjadi jiwa.”

Ema Warsih tersenyum, senyum persetujuan yang penuh kelegaan. “Pergilah, Cung. Tapi ingat, Naga Mangsa tidak akan tidur. Di Malam Tanpa Bintang, kegelapan Naga itu juga paling kuat. Kau akan sendirian, membawa Ilmu Kertas dan janji Adat. Hati-hati.”

Arsyad menyimpan Naskah Daun Lontar itu dengan hati-hati ke dalam ranselnya, bersebelahan dengan ijazahnya. Kini, ia tidak hanya membawa dua beban, ia membawa dua senjata yang siap disatukan. Misi pertamanya adalah infiltrasi spiritual dan arkeologis: menggali rahasia di bawah reruntuhan Pangung.

2.4 Ekspedisi Malam Bulan Mati

Dua hari terasa seperti dua jam. Arsyad menghabiskan waktu itu di pondok Ema Warsih, menyerap ketenangan dan fokus yang ia butuhkan. Ia menyembunyikan ijazah dan Naskah Lontar, dan mempersiapkan peralatan. Ini bukan lagi misi seorang insinyur, tetapi misi seorang penjelajah yang beroperasi di wilayah musuh.

Peralatannya sederhana, namun strategis:

  1. Patahan Kayu Ulin: Sebagai Penunjuk Arah yang termuat dalam wasiat, dan sebagai simbol Rasa.
  2. Sekop Kecil dan Alat Ukur Lipat: Alat-alat ini disamarkan, mewakili Ilmu Kertas—presisi pengukuran sangat penting.
  3. Lampu Kepala Merah: Untuk meminimalkan pantulan cahaya di malam hari.
  4. Bungkusan Kain Hitam: Untuk membawa pulang Akar Sejati setelah ditemukan.

Malam itu, Malam Bulan Mati, kegelapan turun ke Muara Cijulang seperti tirai tebal. Energi Naga Mangsa terasa paling kuat—hampa, sunyi, dan penuh potensi bahaya. Arsyad menuruni bukit, bergerak dalam bayangan.

Ketika ia mencapai jalan utama, ia bisa mencium aroma udara laut yang bercampur dengan sisa-sisa solar dan lumpur yang diaduk. Di kejauhan, ia bisa mendengar anjing-anjing melolong, dan dari arah Balai Desa, samar-samar terdengar suara musik dangdut dari pos jaga Kuwu—petanda Ujang dan anak buahnya sedang bersantai, namun tetap waspada.

Arsyad harus beroperasi di bekas lokasi Pangung Ngaruat Jagat, yang kini berada di tengah area pengerukan, tak jauh dari tumpukan pasir curian Kuwu.

Memecahkan Kode “Tujuh Jengkal Dinding Hati”

Arsyad berlutut di bekas lokasi Tiang Jati Diri—kawah dangkal yang telah ia temukan dua hari lalu. Ia mengeluarkan patahan kayu Ulin itu. Itu adalah momen sinkronisasi antara Ilmu dan Rasa.

Wasiat itu berbunyi: “Akar Sejati berdiam di Bawah Tiang yang Dirubuhkan, di Kedalaman Tujuh Jengkal Dinding Hati.”

1. Menafsirkan ‘Tujuh Jengkal’:

Secara adat, Jengkal adalah ukuran yang fleksibel, biasanya dari ujung ibu jari ke ujung jari tengah. Namun, Arsyad ingat dari pelajaran Antropologi Lingkungan bahwa ukuran adat sering kali berhubungan dengan rata-rata antropometri manusia di komunitas tersebut, yaitu ukuran tangan Aki Sarman.

Arsyad menggunakan alat ukur lipatnya. Ia mengambil patokan dari Mang Udin (sebagai representasi generasi nelayan tua) yang jengkalnya sekitar 22 sentimeter.

7 Jengkal ≈ 7 x 22 cm = 154 cm

Kedalaman yang harus ia gali adalah sekitar 1,5 meter. Ini kedalaman yang signifikan, yang membutuhkan waktu dan upaya keras, apalagi harus dilakukan dalam kegelapan dan di bawah tekanan ancaman Ujang.

2. Menafsirkan ‘Dinding Hati’:

Ini adalah bagian kriptik yang paling sulit. Ema Warsih tidak memberikan petunjuk selain bahwa “Dinding Hati” adalah titik paling dalam dan paling suci.

Arsyad menggunakan Ilmu Kertas-nya untuk menafsirkan istilah ini secara kontekstual:

  • Dalam konteks konstruksi adat, Hati (inti) sering kali merujuk pada lapisan tanah yang paling stabil atau lapisan tanah yang paling dalam sebelum mencapai air tanah.
  • Dalam konteks ekologis, Dinding Hati mungkin mengacu pada lapisan Tanah Liat (Clay Layer) yang berfungsi sebagai lapisan penahan air dan nutrisi, menjaga akar-akar purba tetap hidup.
  • Aki Sarman seorang Pini Sepuh, ia pasti tahu bahwa di Muara, tanah sangat labil. Akar Sejati tidak akan ditanam di lapisan pasir yang mudah terkikis. Ia harus ditanam di lapisan tanah liat padat (lapisan A-horizon atau B-horizon yang lebih dalam) yang menjadi ‘Dinding’ pelindung.

Oleh karena itu, target Arsyad jelas: Ia harus menggali hingga kedalaman sekitar 1,5 meter, hingga ia menyentuh lapisan tanah liat yang padat.

Misi Penggalian

Arsyad mulai menggali dengan hati-hati. Tanah muara, meskipun keruh, ternyata sangat lembap di kedalaman ini. Suara sekopnya yang bergesekan dengan lumpur terdengar sangat keras di keheningan Malam Bulan Mati.

Setelah mencapai kedalaman satu meter (sekitar empat setengah jengkal), ia mulai merasakan ketakutan. Jika Ujang atau anak buahnya berpatroli, ia akan tertangkap basah sedang melakukan ‘vandalism’ di lokasi proyek Kuwu, yang bisa berakhir dengan kekerasan fisik.

Ia mencoba fokus pada Rasa yang ditanamkan Ema Warsih. Ia membayangkan Naga Mangsa—kekosongan yang disebarkan Kuwu—dan ia menyalurkan kemarahannya pada energi positif, memvisualisasikan Energi Akar Sejati yang akan ia temukan.

Sekitar 1,4 meter (hampir tujuh jengkal), sekopnya membentur sesuatu yang keras, jauh lebih keras dari batu karang atau pecahan puing. Bunyinya seperti benturan logam.

Jantung Arsyad berdebar. Ia menggali lebih hati-hati, menggunakan tangannya yang terlindungi sarung tangan. Ia merasakan bentuk yang bulat, padat, dan halus.

Setelah membersihkan lumpur yang tebal, Arsyad menarik keluar benda itu: Itu adalah sebuah Batu Bundar Hijau Lumut, sekitar ukuran kepala bayi, diikat dengan akar bakau yang telah mengeras dan menjadi satu dengan batu itu. Di atas batu itu, terukir dengan sangat halus simbol yang sama dengan yang ada di Tiang Jati Diri: Lilitan Akar dengan Daun yang Tumbuh ke Bawah.

Ini adalah Akar Sejati—bukan akar pohon, melainkan batu yang melambangkan Inti Jati Diri Pangpung, yang ditanam sedalam Dinding Hati komunitas. Batu itu terasa dingin, tetapi ia memancarkan getaran yang tenang dan kuat saat disentuh.

Arsyad mengukur kedalaman galiannya: tepat 155 cm. Ilmu Kertasnya telah berhasil menerjemahkan kode adat kakeknya dengan presisi yang hampir sempurna.

Aktivasi Sumpah

Misi belum selesai. Arsyad ingat nasihat Ema Warsih: ia tidak hanya harus mengambil Akar Sejati, ia harus mengaktifkan sumpah di tempat itu.

Ia meletakkan Batu Akar Sejati itu di tanah, lalu ia mengambil patahan Kayu Ulin dan menancapkannya ke lumpur di sebelah batu. Ia berlutut, wajahnya menghadap ke laut yang diselimuti kegelapan.

“Aki Sarman, Ema Warsih, Karuhun Pangpung…” bisik Arsyad, suaranya dipenuhi janji yang dalam.

“Saya, Arsyad, Sarjana Kehutanan, pewaris Ngawekas, telah menemukan Akar Sejati ini. Mulai malam ini, saya satukan Ilmu Kertas dan Ilmu Luhung. Saya bersumpah untuk melawan Naga Mangsa. Saya akan mengembalikan Rasa pada Pangpung, dan saya akan menanam Benih Abadi di tanah yang telah dicuri. Biarkan Akar ini menjadi saksi. Biarkan Pamali dihidupkan kembali.”

Tepat setelah ia menyelesaikan sumpahnya, tiba-tiba, Arsyad mendengar suara yang mendekat. Cahaya senter yang kuat menyapu Muara. Ujang dan beberapa anak buahnya datang untuk patroli malam!

Arsyad harus bergerak. Ia membungkus Batu Akar Sejati dengan kain hitam secepat kilat, meletakkannya dengan hati-hati ke dalam ransel. Ia menyamarkan galian itu dengan pasir dan puing seadanya, lalu merangkak menjauh dari bekas Pangung, bergerak cepat menuju kegelapan yang lebih padat di tepi hutan bakau yang tersisa.

Ia berhasil lolos dari pandangan Ujang dan anak buahnya. Ujang dan kelompoknya hanya menyenter area pengerukan tanpa melihat galian baru itu. Arsyad telah mendapatkan harta karun itu, tetapi ia kini menjadi target utama Naga Mangsa yang telah bangkit dan mencium bahaya.

2.5 Telepon Kepercayaan ke Jakarta

Fajar mulai menyingsing ketika Arsyad tiba kembali di pondok Ema Warsih. Lelah fisik dan emosi, ia langsung disambut oleh Ema Warsih di ambang pintu. Arsyad mengeluarkan Batu Akar Sejati yang dibungkus kain hitam. Energi batu itu terasa menenangkan, sebuah kontras nyata dengan kekacauan yang ia tinggalkan di bawah bukit.

Ema Warsih menyentuh batu itu, matanya berkaca-kaca. “Kau berhasil, Cung. Ngawekas Aki Sarman telah berlanjut. Sekarang, kau bisa memulai Ritual Peracikan.”

Selama dua hari berikutnya, Arsyad memulai proses pembuatan formula sesuai dengan interpretasinya terhadap Wasiat. Dengan bimbingan Ema Warsih, ia menyintesis Rasa dan Ilmu.

  1. Darah Putih (Kalsium Karbonat): Ema Warsih memimpin ritual penggilingan cangkang kerang yang dikumpulkan dari tepi hutan purba. Secara adat, proses ini adalah ‘membayar hutang’ pada laut. Secara ilmiah, Arsyad tahu bubuk ini akan menaikkan pH lumpur asam yang rusak akibat pengerukan.
  2. Darah Hitam (Biochar/Humus): Mereka mengambil tanah hitam subur dari lapisan hutan bukit. Secara adat, ini adalah ‘darah kehidupan’ dari daratan. Secara ilmiah, Arsyad mengidentifikasinya sebagai humus kaya karbon yang akan meningkatkan daya serap air di tanah pasir yang tandus.
  3. Rahim Penyembuh (Fermentasi): Arsyad mencampur bahan-bahan itu dengan lumpur yang diambil Ema Warsih dari spot tersembunyi—lumpur yang kaya mikroorganisme bermanfaat. Formula ini dimasukkan ke dalam wadah besar yang ditutup rapat, diletakkan di tempat teduh, siap menjalani proses Fermentasi Dua Musim (enam bulan).

Proses peracikan ini memuaskan sisi spiritual Arsyad. Ia melihat bagaimana kearifan leluhur adalah sains terapan yang dibungkus dalam ritual. Namun, sisi Ilmu Kertas Arsyad yang pragmatis mulai gelisah.

Enam bulan adalah waktu yang lama. Kuwu Asmara tidak akan menunggu. Dan yang lebih penting, Arsyad tahu bahwa untuk meyakinkan komunitas yang sudah skeptis seperti Mang Darta, dan untuk melawan Kuwu Asmara yang akan mencap ini sebagai ‘tahayul klenik’ yang mengganggu Tata Ruang, ia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar Wasiat.

Ia membutuhkan Validasi Ilmiah Resmi.

Jika formula ini bisa diuji di laboratorium, dan menghasilkan data survival rate bibit yang unggul dalam kondisi yang buruk (kandungan nutrisi tinggi, pH stabil), maka Arsyad memiliki amunisi yang tak bisa dibantah oleh Kuwu. Ia bisa melawan Kekuatan Uang dengan Kekuatan Data.

Ia membutuhkan koneksi dari masa lalunya di Jakarta. Ia membutuhkan Lia.

Lia adalah rekan Arsyad di sebuah LSM konservasi yang bekerja sama dengan departemen IPB. Lia adalah antitesis dari Ema Warsih: pragmatis, analitis, dan sangat bergantung pada data digital. Lia memiliki akses ke jaringan laboratorium dan kredibilitas akademis yang diperlukan. Mengajak Lia adalah mempertaruhkan segalanya, tetapi Arsyad tahu, fusi Ilmu dan Rasa membutuhkan Lia sebagai katalisator.

Arsyad menuju satu-satunya titik di pondok Ema Warsih yang memiliki sinyal telepon, dekat pohon besar yang tumbuh melampaui atap. Ia menghubungi Lia.

“Halo, Li? Ini Arsyad.”

Lia, terdengar sibuk di tengah hiruk pikuk kota, menjawab dengan nada profesional. “Syad! Astaga, kau akhirnya telepon. Aku dengar kau sudah pulang. Kenapa tiba-tiba menghilang dari Jakarta? Ada apa? Sudah dapat tawaran pekerjaan?”

“Lupakan pekerjaan, Li. Aku butuh bantuanmu. Aku butuh kau datang ke Pangpung, Cijulang. Sekarang juga.”

Lia terdiam sejenak. “Cijulang? Syad, aku lagi di tengah proyek Blue Carbon di Sumatera. Aku nggak bisa cuti mendadak. Ada apa sih? Apa Pangpung butuh analisis GIS untuk perencanaan ruang?”

“Bukan, Li. Ini lebih besar dari GIS. Ini adalah inovasi biologis lokal yang berpotensi merevolusi rehabilitasi mangrove.” Arsyad menggunakan bahasa akademis untuk menarik perhatian Lia.

“Aku menemukan resep, Li. Resep kuno. Aku sudah memformulasikannya—secara teknis, ini adalah high-efficacy organo-mineral substrate,” Arsyad menjelaskan. “Menggunakan bubuk cangkang sebagai buffer kalsium karbonat, biochar lokal, dan proses fermentasi mikroba yang unik. Aku butuh kau datang membawa alat uji cepat—uji kandungan nutrisi N-P-K, pH, dan salinitas. Aku butuh data real-time untuk memvalidasi formula ini sebelum aku menerapkannya di lapangan.”

Lia, si pragmatis, terkesima. Organo-mineral substrate? Itu adalah istilah yang mahal di dunia riset. “Tunggu, Syad. Resep kuno? Kau serius? Dari mana kau dapat bubuk cangkang dan biochar unik itu? Kalau ini benar, ini bisa jadi breakthrough.”

“Aku serius. Ini adalah Wasiat Benih Purba yang diturunkan oleh kakekku, Aki Sarman. Aku sudah menggali Akar Sejati-nya. Tapi, aku tidak bisa melawan Kuwu Asmara—yang saat ini sedang menghancurkan desa untuk proyek pasir—hanya dengan cerita adat. Aku harus melawan dia dengan datamu, Li. Dengan kredibilitas Ilmu Kertas yang kau bawa.”

Arsyad menjelaskan singkat tentang Kuwu Asmara, pengerukan pasir, dan bahaya yang ia hadapi. Ia menekankan bahwa ini adalah kasus ekosida yang sempurna, dan formula Wasiat adalah satu-satunya jawaban.

“Li, aku butuh kau datang bukan hanya sebagai rekan, tapi sebagai saksi independen. Kau harus membuktikan bahwa apa yang disebut Kuwu sebagai ‘tahayul’ adalah sains yang unggul,” Arsyad memohon. “Ini adalah pertarungan antara Ilmu Luhung dan Naga Mangsa. Tapi untuk memenangkan pertarungan ini, kita butuh validasi Ilmu Kertas.”

Setelah keheningan yang panjang, Lia akhirnya menjawab. Suaranya kini terdengar serius, ketertarikan ilmiahnya telah mengatasi keraguan logistiknya.

“Baik, Syad. Kedengarannya gila, tapi… organo-mineral substrate dengan proses fermentasi lokal? Aku tertarik. Beri aku tiga hari. Aku akan atur cuti darurat, dan aku akan bawa alat uji N-P-K portabel dari Lab. Aku akan datang sebagai perwakilan LSM, dan aku akan memvalidasi Wasiat-mu itu. Tapi kau harus janji, kau tidak bohong soal potensi breakthrough ini.”

“Aku janji, Li. Terima kasih. Kau adalah kepercayaan terakhirku dari Jakarta,” tutup Arsyad.

Arsyad berhasil menyatukan Rasa secara internal, dan sekarang ia telah memanggil Ilmu modern untuk datang dan menyatukannya secara eksternal. Lia, sang pakar data, akan menjadi penengah yang akan membuktikan bahwa Wasiat itu nyata.

2.6 Ancaman Mesin Diesel dan Tugas Suci

Dalam dua hari penantian kedatangan Lia, energi di Pangpung terasa semakin memanas. Kuwu Asmara, yang telah mencium penolakan keras dari Arsyad di Balai Desa, meningkatkan frekuensi pengerukan pasir dan intimidasi. Keberhasilan Arsyad dalam menemukan Akar Sejati dan meracik Wasiat Benih Purba di pondok Ema Warsih, meskipun tersembunyi, seolah telah menarik perhatian Naga Mangsa yang semakin lapar.

Pagi itu, Arsyad memutuskan untuk memeriksa sisa-sisa bibit bakau yang masih bertahan di tepi muara, yang sempat disinggung oleh Mang Darta. Bibit-bibit ini adalah hasil proyek penanaman beberapa tahun lalu yang luput dari tebasan Kuwu. Arsyad ingin mengambil sampel tanah di sekitar bibit tersebut sebagai kontrol (data pembanding) untuk diuji oleh Lia.

Saat tiba di lokasi, sebuah pemandangan mengerikan menyambutnya.

Sekitar lima puluh bibit bakau muda, yang tingginya belum mencapai lutut, kini telah disabotase secara sistematis. Akar-akar mereka dicongkel, batang-batang mereka patah, dan beberapa disiram dengan cairan berminyak yang pekat—jelas sekali itu adalah oli bekas atau diesel yang sengaja dibuang. Aroma minyak itu menusuk, membunuh kehidupan mikroba di tanah.

Ini bukan sekadar vandalisme acak. Ini adalah tindakan yang diperhitungkan untuk memastikan tidak ada kehidupan bakau yang tersisa di area proyek Kuwu. Ini adalah pesan keras dari Mesin Diesel Kuwu: Tidak ada ruang untuk kehidupan alam di Muara ini.

Arsyad berlutut, merasakan dinginnya oli di tangannya. Kemarahannya yang sebelumnya adalah teori, kini menjadi kemarahan yang nyata. Ia sudah tahu Kuwu Asmara serakah, tetapi ia tidak menyangka Kuwu akan menggunakan cara sekeji ini—meracuni bibit yang lemah.

“Mereka membunuh anak-anak hutan ini,” pikir Arsyad, mencengkeram gumpalan tanah yang tercemar. Tindakan ini secara ilmiah adalah bencana: oli mesin akan mencegah aerasi akar dan meracuni biota laut kecil yang vital bagi ekosistem.

Sambil mengumpulkan sampel tanah tercemar dan beberapa bibit yang mati sebagai bukti (data yang akan sangat dibutuhkan Lia), Arsyad melihat dua sosok mendekat dari jauh. Itu adalah Ujang, preman Kuwu, dan seorang anak buahnya, menunggangi motor trail, sedang berpatroli.

Arsyad bergerak cepat. Ia menyamar sebisa mungkin di balik rimbunnya semak, membiarkan Ujang lewat. Ujang melaju, menyeringai puas melihat kehancuran bibit itu, seolah memastikan pekerjaannya telah selesai. Jelas, sabotase ini adalah ulah mereka.

Arsyad kembali ke pondok Ema Warsih dengan hati yang hancur. Ia menunjukkan bibit yang mati dan tanah yang tercemar oli kepada Ema Warsih.

“Mereka meracuni tanah, Ema. Mereka membunuh bibit yang tersisa. Kuwu Asmara tidak hanya ingin menjual pasir, dia ingin memastikan Pangpung mati total,” lapor Arsyad, suaranya dipenuhi rasa bersalah karena ia terlambat.

Ema Warsih menyentuh tanah yang tercemar itu. Wajahnya yang tua tidak menunjukkan kejutan, tetapi kesedihan yang mendalam.

“Naga Mangsa tidak hanya melahap air dan tanah, Cung. Ia melahap harapan. Ini adalah tugasmu, Arsyad. Kau harus menunjukkan kepada mereka bahwa Ilmu Luhung mampu menyembuhkan racun dari Mesin Diesel mereka.”

Tugas Suci: Pengikatan Ngawekas

Ema Warsih tahu bahwa kedatangan Lia, seorang asing dari kota besar, dan implementasi formula Wasiat akan memicu konflik yang lebih besar. Sebelum Arsyad dan Lia melangkah ke medan pertempuran, Arsyad harus diikat pada komitmen moral yang tidak dapat digoyahkan oleh ancaman Kuwu Asmara, atau godaan uang yang mungkin ditawarkan Kuwu.

Malam itu, Ema Warsih meminta Arsyad kembali ke Ruang Pini Sepuh. Di sana, Batu Akar Sejati diletakkan di atas piring tanah liat. Ema Warsih menyiapkan air suci dan asap dupa, bukan untuk ritual penyembuhan, melainkan untuk ritual pengikatan janji suci.

“Kau sudah mengambil Wasiat, Cung. Kau telah memanggil Ilmu Kertas-mu untuk datang,” kata Ema Warsih. “Tapi kau harus tahu, perjuangan ini akan panjang, dan godaan akan datang dari segala arah—dari Kuwu, bahkan dari orang-orang sekitarmu.”

“Apa pun godaannya, Ema, saya tidak akan menjual Pangpung,” tegas Arsyad.

“Janji lisan tidak cukup,” kata Ema Warsih, mengambil pisau adat. “Kau harus mengikatkan diri pada Ngawekas.”

Ngawekas adalah janji suci yang mengikat secara spiritual, yang dampaknya dipercaya akan melebihi konsekuensi hukum duniawi. Ini adalah komitmen abadi pada Tali Paranti (Warisan Adat).

Ema Warsih memotong sedikit rambut Arsyad dan meneteskan beberapa tetes darah Arsyad pada Batu Akar Sejati. Kemudian, ia mengambil sehelai benang dari kain pembungkus Wasiat.

“Aku mengikatkanmu pada bumi Pangpung, pada air Muara, dan pada janji Aki Sarman. Darah ini adalah meterai. Rambut ini adalah akar,” ucap Ema Warsih dalam kidung. “Kau bersumpah, Arsyad, bahwa kau akan menggunakan Wasiat Benih Purba untuk kedaulatan pangan dan spiritual Pangpung. Kau bersumpah bahwa kemenangan tidak akan kau jual, dan Ilmu Kertas-mu tidak akan tunduk pada Kuwu, korporasi, atau siapa pun yang melihat Muara ini hanya sebagai komoditas.”

Arsyad mengulang janji itu, merasakan hawa dingin dan ketegasan janji suci yang merasuk ke dalam jiwanya. Ia menyadari, melalui ritual ini, ia tidak hanya menjadi ahli kehutanan, tetapi juga Dalang Konservasi—seorang pemimpin spiritual-ekologis yang terikat pada tugas suci yang abadi.

Ema Warsih mengakhiri ritual dengan memberikan Batu Akar Sejati kepada Arsyad untuk ia simpan. “Batu ini adalah jangkar. Ia akan menjagamu dari Naga Mangsa. Sekarang pergilah, istirahat. Besok, Papada Rasa (kemitraan) akan dimulai. Kau akan kedatangan sekutu yang membawa Ilmu Kertas. Gunakan Ilmu-nya, dan kuatkan ia dengan Rasa.”

Arsyad meninggalkan Ruang Pini Sepuh. Ia kini membawa bukti sabotase (racun Mesin Diesel), formula rahasia (Wasiat), dan janji suci yang tidak bisa dilanggar (Ngawekas). Ia siap menyambut Lia dan memulai pertempuran nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *