1.1 Aroma Pengkhianatan di Muara
Arsyad tidak perlu membuka mata untuk tahu di mana ia berada. Hidungnya adalah sensor yang jauh lebih jujur daripada matanya. Sepanjang perjalanannya di bus malam dari Bogor, aroma yang paling ia rindukan adalah campuran air payau yang hangat, garam yang kental, dan aroma tanah yang direndam oleh pasang surut. Itu adalah aroma kampung halamannya, Muara Cijulang, rumah bagi hutan bakau terluas yang pernah ia kenal. Aroma yang selama empat tahun di IPB ia pertahankan dalam memorinya, seolah itu adalah jimat penangkal keruwetan teori.
Namun, ketika roda mobil travel yang ia tumpangi berhenti mendadak di dekat tikungan Pangpung, hidungnya mendeteksi sesuatu yang salah. Aroma itu ada, tetapi tertindih, terkorupsi, oleh bau asing yang menusuk: bau diesel yang pekat, debu yang kering kerontang, dan—yang paling memilukan—bau pasir yang gosong, seolah lautan itu sendiri sedang terbakar dari dalam.
“Sudah sampai, Den,” ujar sopir travel dengan nada datar.
Arsyad, dengan tas ransel dan tas jinjing berisi soft file skripsinya, melangkah keluar. Matahari pagi masih enggan bersinar penuh, meninggalkan Muara dalam selubung cahaya abu-abu yang dingin. Ia berdiri di atas aspal retak. Di sebelah kirinya, harusnya ada hutan bakau yang rapat, Rhizophora dan Avicennia yang berdiri tegak seperti barisan prajurit. Di sebelah kanannya, harusnya ada deretan perahu nelayan yang siap berlayar.
Namun, realitas yang menyambutnya adalah gambaran dari bab paling buruk dalam buku ekologi mana pun.
Yang ada di sebelah kiri adalah lahan datar, tandus, berwarna abu-abu kecokelatan. Hanya tunggul-tunggul hitam sisa penebangan liar yang mencuat dari lumpur kering, seolah jari-jari patah dari raksasa yang sudah mati. Tanah itu, yang dulunya adalah penyerap air terbaik, kini retak-retak, menunjukkan tekstur yang mirip kulit buaya yang kekeringan. Tumpukan pasir hasil pengerukan menjulang tinggi, dibiarkan begitu saja di sisi leuweung (hutan), menunggu truk-truk pengangkut. Di kejauhan, ia bisa mendengar dengung rendah—suara mesin diesel yang bekerja tanpa henti.
Ini bukan sekadar deforestasi. Ini adalah pembantaian ekologis.
Arsyad merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menusuk dadanya. Itu adalah sensasi yang sama saat ia mendapati nilai mata kuliah konservasi hutan tropisnya A-, padahal ia merasa sudah bekerja keras. Kali ini, rasa sakit itu jauh lebih otentik.
“Muara ini paru-paru kita, Syad. Kalau paru-paru hilang, kita mati perlahan.” Kata-kata mendiang Aki Sarman, sesepuh adat dan kakeknya, menggema di benaknya.
Ia merogoh tasnya, mengeluarkan map plastik transparan. Di dalamnya tersimpan ijazah sarjana kehutanan, yang dicetak di atas kertas berkualitas tinggi dengan logo IPB yang megah. Selama empat tahun, ia menghabiskan waktu mempelajari dinamika estuari, fungsi mangrove sebagai pemecah ombak alami, dan formula penanaman kembali terbaik: IPTEK.
“Aku kembali dengan ilmuku, Aki. Aku siap membenahi paru-paru ini,” bisiknya pada udara yang terasa berat oleh debu.
Tapi realitas di hadapannya menamparnya. Bagaimana mungkin ilmu yang ia pelajari, yang menjanjikan solusi, gagal mencegah kehancuran secepat dan semasif ini? Jarak antara teori konservasi yang indah di buku teks dan lumpur busuk di Pangpung terasa seperti jurang tak berdasar.
Arsyad berjalan menyusuri jalan setapak yang kini dipenuhi jejak ban traktor. Ia melihat sisa-sisa perahu yang terdampar, bukan karena ombak besar, tapi karena dangkalnya muara yang kini dipenuhi endapan pengerukan pasir.
Seorang pria tua duduk di bawah satu-satunya pohon ketapang yang tersisa, sibuk memperbaiki jala yang robek, tetapi gerakannya lambat dan penuh keputusasaan. Itu adalah Mang Udin, tetangga sekaligus mentor melautnya sejak kecil.
“Mang Udin,” sapa Arsyad, suaranya sedikit bergetar.
Mang Udin mengangkat kepala. Matanya yang cekung menatap Arsyad dari ujung kaki hingga ke ijazah yang masih tergenggam erat.
“Oh, Arsyad. Sudah pulang, Den?” Sambutannya kering, tanpa kehangatan khas sambutan pulang kampung.
“Sudah, Mang. Tadi pagi. Saya lihat… ini kenapa, Mang?” Arsyad menunjuk ke arah lahan bakau yang kini hanya tunggul.
Mang Udin meletakkan jalanya, mendesah berat. “Kenapa? Kau tanya kenapa? Kau kan sarjana, Den. Kau kan sekolah jauh-jauh. Kau bawa kertas tebal-tebal itu. Harusnya kau yang tahu kenapa!”
Sindiran itu menghantam Arsyad telak. Ia adalah seorang ahli kehutanan, namun ia kembali ke desanya justru ketika hutannya lenyap. Gelar sarjananya terasa seperti beban memalukan, bukan mahkota.
“Di buku, Mang, kami diajarkan bahwa hutan bakau adalah benteng alam. Harus dilindungi dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Kami belajar bahwa Rhizophora menghasilkan propagule ribuan setiap tahun. Kalau ditebang, seharusnya ada regenerasi alami…”
Mang Udin tertawa, tawa yang terdengar seperti gesekan pasir kasar. “Undang-Undang? Propagule? Regenerasi? Semua itu hanya kata-kata di kertas yang kau pegang, Den.”
Mang Udin menunjuk ke muara. “Lihat airnya. Airnya sudah sakit. Ikan sudah tidak mau masuk. Jangankan propagule, janin ikan pun tak mau berenang di air rasa diesel dan lumpur kering ini. Mereka bilang, tanah ini dibuka untuk ‘pembangunan resor’ dan ‘tata ruang baru.’ Tapi yang kami lihat, ini cuma pengerukan pasir yang dijual ke kota.”
Mang Udin mendekat, menatap Arsyad dengan tatapan memohon sekaligus menuduh. “Di kampusmu, kau belajar cara menanam, kan? Kau belajar cara menghitung karbon, kan? Nah, sekarang coba tanam. Coba hitung berapa nyawa nelayan yang hilang kalau bakau ini habis. Ilmumu harusnya bisa melawan Kuwu Asmara dan preman-premannya, Den. Bukan cuma melawan soal di ujian.”
Kata-kata Mang Udin adalah kontras yang brutal. Arsyad telah menghabiskan empat tahun berjuang dengan rumus-rumus kompleks, model spasial, dan analisis GIS untuk memecahkan masalah konservasi secara global. Namun, masalah di depan matanya jauh lebih sederhana, dan jauh lebih kejam: konflik antara moral dan uang.
Apa gunanya ilmu kehutanan terbaik di Indonesia, jika aku tidak bisa melindungi sepetak tanah bakau di kampungku sendiri?
Perasaan hancur itu berubah menjadi kemarahan dingin. Ia tahu betul siapa Kuwu Asmara yang dimaksud Mang Udin. Kepala desa yang ambisius, yang sejak awal memandang Pangpung bukan sebagai warisan, tapi sebagai aset yang bisa dijual.
“Kuwu yang menyuruh pengerukan ini, Mang?” tanya Arsyad, mengepalkan tangan.
“Siapa lagi? Ia bilang, ‘Daripada bakau jadi sarang nyamuk, lebih baik jadi uang untuk desa.’ Ia bawa preman, si Ujang, untuk mengamankan alat berat. Warga yang protes, diancam. Yang dulunya nelayan, sekarang jadi kuli angkut pasir karena tak ada lagi ikan di laut,” jelas Mang Udin, nada suaranya penuh keputusasaan.
Arsyad menunduk, menatap lumpur yang sudah menjadi semen. Di lumpur itu, ia melihat bayangan wajahnya sendiri, dengan ijazah yang menggantung di lehernya seperti beban utang, bukan janji masa depan.
Ia teringat salah satu ceramah dosennya di semester akhir: “Konservasi sejati bukanlah tentang data, tapi tentang mengubah perilaku. Dan perilaku hanya bisa diubah melalui kepemimpinan yang berakar pada budaya lokal.”
Saat itu, ia menganggapnya sebagai omong kosong filosofis. Sekarang, di tengah kehancuran ini, kalimat itu terasa seperti satu-satunya petunjuk. Ilmu adalah peta, tapi adat adalah kompas. Ia hanya membawa peta.
“Saya janji, Mang. Saya akan cari jalan,” kata Arsyad, suaranya kini lebih tegas. Ia tidak tahu bagaimana, tapi ia harus memulainya.
Ia mengalihkan pandangannya dari Mang Udin ke arah muara, di mana ia dulu sering mencari kerang bersama Aki Sarman. Di sana, di tengah tumpukan pasir, ia melihat bekas fondasi yang tidak wajar—sepotong kayu besar yang dicabut paksa, kini hanya menyisakan lubang kawah di tanah kering.
Jantung Arsyad serasa berhenti.
Itu adalah tempat di mana Pangung Ngaruat Jagat berdiri.
Panggung itu bukan sekadar tempat pentas; itu adalah titik nol spiritual desa, tempat diadakannya ritual pembersihan alam dan janji-janji adat. Hilangnya panggung itu jauh lebih menyakitkan daripada hilangnya bakau. Itu adalah simbol Aroma Pengkhianatan yang paling murni. Itu adalah pukulan terakhir ke jantung Pangpung.
Arsyad mencengkeram ijazahnya, meremas kertas itu hingga sedikit kusut. Ilmu yang ia bawa telah dikalahkan bahkan sebelum ia sempat menggunakannya. Ia menyadari: ia tidak bisa lagi hanya mengandalkan ilmu dari buku. Untuk melawan kehancuran ini, ia harus kembali mencari apa yang ia tinggalkan saat berangkat: Rasa.
Ia harus mencari akar sejati, bukan hanya teorinya. Ia harus mencari Ema Warsih.
1.2 Ironi Sarjana di Tanah Sendiri
Penemuan puing-puing Pangung Ngaruat Jagat adalah katalis. Jika hilangnya hutan bakau adalah tragedi ekologis, maka penghancuran panggung suci adalah deklarasi perang spiritual. Arsyad berlutut di dekat bekas fondasi itu, tangannya menyentuh pasir yang dingin. Ia bisa merasakan sisa energi dari kayu yang dulu dihormati.
Mang Udin, yang mengikuti tatapan Arsyad, hanya menghela napas. “Pangung itu… dihancurkan tiga bulan lalu. Katanya, menghalangi pandangan ke laut. Kuwu bilang, ‘Kalau ada resor, Pangung itu harus dirobohkan. Biar turis melihat laut yang terbuka, bukan panggung usang penuh klenik.’”
“Menghalangi pandangan?” ulang Arsyad, lidahnya terasa kelu. “Pangung itu adalah jantung Cijulang! Itu yang menjaga laut dari amarah. Pangung itu bukan klenik, Mang, itu adalah cultural capital! Nilai kebudayaan yang tak ternilai!”
“Ah, kau bicara nilai lagi, Den,” potong Mang Udin, nada sinisnya semakin kentara. Ia duduk kembali, mengambil jalanya, dan mulai menusukkan benang dengan cepat. “Kuwu tidak mengerti nilai budaya. Ia hanya mengerti nilai rupiah. Dan rupiah berbicara lebih keras di telinga warga yang lapar, Den.”
Dialog itu membawa Arsyad ke inti dilema: Ironi Sarjana di Tanah Sendiri.
Ia, yang bergelar insinyur kehutanan, kini berhadapan dengan masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh perhitungan biomassa atau t-test statistik. Masalahnya adalah moral, politik, dan perut. Gelar yang seharusnya memberinya kekuatan, kini terasa seperti dinding kaca yang memisahkannya dari realitas pahit komunitasnya.
“Ceritakan, Mang,” pinta Arsyad, duduk di sampingnya, membuang genggaman pada ijazahnya. “Laut ini mandul sejak kapan? Sejak pengerukan dimulai?”
Mang Udin mengangguk. “Ya. Dua tahun ini sudah terasa. Tapi enam bulan terakhir, betul-betul parah. Muara makin dangkal, Den. Air pasang makin lama masuknya. Air laut yang harusnya biru kehijauan, sekarang keruh seperti kopi susu karena lumpur dan pasir yang diaduk-aduk terus oleh kapal keruk.”
Ia menunjuk ke jala yang diperbaikinya. “Jala ini. Dulu, sekali tebar, hasilnya bisa untuk makan seminggu. Sekarang? Kadang pulang hanya bawa sampah plastik dan rebon (udang kecil) yang cacat. Kami menyebutnya Tolak Bala Baru—bukan bala alam, tapi bala dari mesin diesel.”
Arsyad, dengan otak ilmiahnya, mulai memproses data ini. Muara dangkal berarti salinitas (kadar garam) tidak stabil. Turbiditas (kekeruhan) tinggi menghalangi penetrasi cahaya, membunuh plankton dan alga, yang merupakan basis rantai makanan. Hancurnya bakau (tempat pemijahan) memutuskan siklus hidup ikan. Ini adalah kehancuran yang terstruktur, sistematis.
“Secara teori, Mang, kalau hutan bakau hilang, ombak yang datang akan lebih kuat, mengikis daratan. Kenapa Kuwu tidak takut dengan abrasi?”
Mang Udin menyeringai pahit. “Takut? Mereka tidak takut, Den. Mereka justru sengaja. Pasir yang dikeruk itu dijual, dan tanah yang terkikis itu akan diuruk kembali dengan semen dan batu mahal untuk ‘resor’ mereka. Mereka menjual alam dua kali. Pertama, jual pasir. Kedua, jual proyek urukan. Kuwu bilang, abrasi itu ‘peluang bisnis.’”
Deskripsi Mang Udin tentang ‘menjual alam dua kali’ mengguncang Arsyad. Ini bukan hanya korupsi; ini adalah model bisnis ekosida yang sadis. Pengetahuan kehutanan Arsyad mengajarkan cara melindungi alam; ia tidak pernah diajari cara melawan orang yang sengaja menghancurkan alam untuk mendapat untung ganda.
“Jadi, Mang Udin dan nelayan lain… apa yang kalian lakukan?”
Mang Udin merentangkan tangan. “Apa yang bisa kami lakukan, Den? Kami sudah tua. Kami hanya tahu cara melaut dan memperbaiki jala. Kami protes ke Balai Desa, tapi Kuwu hanya menertawakan kami. Ia bilang, ‘Kalian mau makan dari daun bakau atau dari uang tunai?’”
Di sinilah letak konflik terbesar Arsyad. Sebagai sarjana, ia membawa solusi teknis (program rehabilitasi bakau, gugatan hukum). Tapi solusi itu tidak akan bekerja jika komunitas sudah hancur secara sosial dan ekonomi. Nelayan yang lapar akan selalu memilih uang tunai hari ini daripada bakau yang berbuah ikan lima tahun lagi.
“Saya bawa formula rehabilitasi, Mang. Saya bisa tunjukkan data survival rate yang tinggi. Kami bisa tanam kembali. Tapi saya butuh dukungan warga.”
Mang Udin menggeleng perlahan, matanya nanar. “Kau tahu, Den? Dulu Aki Sarman melarang keras warga menjual apa pun dari hutan, apalagi pasir. Itu Pamali (tabu) besar. Aki bilang, pasir adalah ‘tulang’ lautan. Kau keruk tulangnya, lautan akan lumpuh. Sekarang, kami sendiri yang menjadi kuli keruk tulang itu.”
Mang Udin mendesah dalam-dalam, menatap ijazah Arsyad yang tergeletak di lumpur. “Kau kembali, Den, dengan gelar yang mahal. Tapi gelar itu tidak bisa memberi kami ikan hari ini, dan juga tidak bisa membuat kami berani melawan Kuwu. Kami sudah kalah di perut kami sendiri.”
Beban Ijazah itu kini benar-benar terasa. Arsyad menyadari bahwa ia tidak hanya memikul janji pada Aki Sarman; ia memikul harapan seluruh komunitas yang sudah menyerah pada nasib. Ijazah ini adalah janji bahwa ia akan kembali membawa perubahan. Jika ia gagal, gelar Sarjana Kehutanan itu hanyalah bukti ironis kegagalan pendidikan tingginya di hadapan realitas lokal yang kejam.
Arsyad bangkit berdiri, membersihkan lumpur di lututnya. Ia harus mengubah pendekatannya. Ilmu hanya bisa dibeli jika ia memiliki modal; dalam kasusnya, modalnya adalah kepercayaan komunitas.
“Saya mengerti, Mang. Saya tidak akan datang dengan proposal. Saya akan datang dengan janji.”
Mang Udin menaikkan alisnya. “Janji apa?”
“Janji untuk menggabungkan dua hal yang Kuwu Asmara anggap berlawanan: Ilmu dan Rasa,” kata Arsyad, menatap lurus ke mata Mang Udin. “Ilmu dari IPB memberitahu saya bagaimana pohon tumbuh. Tapi Rasa dari Aki Sarman yang memberitahu saya kenapa pohon itu harus tumbuh, dan bagaimana membuatnya bertahan melawan uang. Aku harus mencari akar sejati itu, Mang.”
Keputusan itu sudah bulat. Arsyad tidak bisa hanya bermain di ranah ilmiah. Untuk memenangkan pertempuran ini, ia harus kembali ke asal: mencari kunci yang ditinggalkan Aki Sarman, yang pasti tersembunyi dalam Wasiat Benih Purba atau di balik petuah Ema Warsih.
Mang Udin terdiam lama. Akhirnya, ia hanya berkata, “Pergilah, Den. Tapi hati-hati. Kuwu Asmara sudah buta oleh uang. Dan ia tahu kau adalah cucu Aki Sarman, penjaga adat terakhir.”
Ancaman itu jelas. Arsyad bukan hanya melawan korupsi; ia melawan Kuwu yang menganggapnya sebagai musuh ideologis—seorang sarjana muda yang berani menggugat status quo dengan membawa warisan kuno.
Arsyad mengambil ijazahnya, menggulungnya, dan menyimpannya di ransel. Ia tak akan memamerkan gelar itu lagi. Ia akan menyimpannya sebagai senjata rahasia, dan kini, ia akan mencari senjata yang jauh lebih kuno dan lebih kuat.
Ia tahu ke mana ia harus pergi: ke puncak bukit, ke rumah Ema Warsih, tempat ia akan memulai perjalanan dari seorang Sarjana Kehutanan menjadi seorang Penjaga Pangpung.
1.3 Kehancuran Panggung Ngaruat Jagat
Arsyad meninggalkan Mang Udin di bawah pohon ketapang yang tersisa. Setiap langkahnya menjauhi muara, hatinya terasa semakin berat, seolah ia membawa beban seluruh lumpur kering Pangpung di pundaknya. Kata-kata Mang Udin tentang ‘kuli keruk tulang lautan’ dan tawa pahit Kuwu Asmara terus menusuknya, namun tak ada yang sesakit penemuan yang baru saja ia saksikan: ketiadaan Pangung Ngaruat Jagat
Ia kembali berjalan pelan, berjarak sekitar dua puluh meter dari tempatnya berbicara dengan Mang Udin, menuju titik di mana panggung itu seharusnya berdiri tegak. Di sana, di antara tumpukan sisa-sisa pengerukan yang ditinggalkan sembarangan, terdapat kawah dangkal yang mengering. Kawah itu adalah bekas penanaman tiang utama panggung, yang oleh Aki Sarman disebut Tiang Jati Diri.
Arsyad berlutut lagi, kali ini bukan di jalan setapak, melainkan tepat di bekas lokasi suci itu. Ia tidak lagi peduli pada debu diesel atau pasir yang mengotori celana mahalnya. Ia mencari sesuatu. Dan kemudian, tangannya menyentuh material yang lebih padat dan lebih tua dari tanah di sekitarnya.
Itu adalah sepotong kecil kayu Ulin, padat dan hitam seperti batu, yang nyaris terbenam di lumpur. Kayu ini pasti patahan dari Tiang Jati Diri yang dicabut paksa. Arsyad menggenggamnya, merasakan urat kayu yang keras dan abadi. Di zaman modern ini, Kuwu Asmara bisa meratakan hutan bakau dengan izin, tetapi ia tidak bisa menghapus jejak spiritual dari kayu Ulin ini.
Kayu ini adalah kunci, jembatan ke masa lalu, dan pemicu bagi klimaks emosional yang telah ia tahan sejak kedatangan. Matanya terpejam, dan lingkungan bising oleh mesin diesel di kejauhan lenyap. Arsyad terperosok ke dalam kilas balik yang jelas dan mendalam.
Flashback: Janji di Pangung Suci (Lima Tahun Lalu)
Arsyad remaja, berusia delapan belas tahun, berdiri di atas Pangung Ngaruat Jagat yang masih berdiri megah. Udara penuh dengan aroma dupa dan sesajen, diiringi sayup-sayup kidung yang dinyanyikan para Pini Sepuh.
Di tengah panggung, di bawah atap ijuk yang teduh, duduk Aki Sarman, kakeknya. Wajah Aki Sarman dipenuhi kerutan yang seperti peta kearifan, matanya tajam namun teduh, menatap Arsyad dengan bangga.
Hari itu adalah hari pelepasan. Arsyad akan berangkat ke Bogor untuk kuliah di IPB.
“Kau sudah besar, Cung,” ujar Aki Sarman, suaranya parau namun penuh wibawa. “Kau akan belajar Ilmu Jauh. Ilmu yang tercatat di kertas-kertas tebal, di laboratorium yang dingin.”
Arsyad muda, penuh semangat idealisme, menjawab lantang. “Ya, Aki. Saya akan bawa Ilmu terbaik untuk memajukan Pangpung. Saya akan jadi insinyur yang mengajari mereka cara konservasi yang benar!”
Aki Sarman tertawa kecil, tawa yang bergetar. Ia menunjuk ke arah hutan bakau yang saat itu masih lebat. “Kau lihat itu, Cung? Itu adalah ilmu yang bernyawa. Pohon itu adalah gurumu, laut adalah sekolahmu. Ilmu yang terbaik adalah yang tidak bisa dicetak di kertas.”
Aki Sarman memegang tangan Arsyad, mencengkeramnya kuat-kuat. “Kau pergi membawa Ilmu, itu bagus. Tapi kau harus janji pada Aki, dan kau harus janji di hadapan Ngaruat Jagat (Penjaga Alam) ini.”
“Janji apa, Aki?”
“Ngawekas—Janji Suci,” bisik Aki Sarman. “Kau harus ingat: Ilmu adalah alat. Rasa adalah sumber. Jangan sampai kau menjadi Sarjana yang pandai menghitung kerugian, tetapi tidak merasakan kesedihan. Jangan biarkan Ilmu membuatmu lupa pada Rasa.”
Aki Sarman lalu menjelaskan. “Di bawah panggung ini, tersembunyi sebuah wasiat. Ini bukan harta, Cung, tapi formula, resep. Itu adalah Siki Jati Diri atau Wasiat Benih Purba. Ini adalah rahasia bagaimana kita menjaga Pangpung berabad-abad lamanya. Resep itu hanya boleh kau buka jika Muara ini betul-betul di ambang kehancuran.”
Arsyad muda, meskipun idealis, saat itu masih menganggapnya sebagai metafora. “Baik, Aki. Saya janji. Saya akan mencari Ilmu dan membawanya pulang dengan Rasa. Saya tidak akan membiarkan Pangpung hancur.”
Tepat sebelum Arsyad beranjak, Aki Sarman memberikan pesan terakhir, pesan yang kini terasa seperti sebuah ramalan: “Waspadai mereka yang melihat hutan hanya sebagai tumpukan kayu, dan adat hanya sebagai tumpukan takhayul. Mereka akan menghancurkan Tiang Jati Diri ini terlebih dahulu, karena mereka tahu, tanpa Rasa, kau tak punya kekuatan, sekalipun kau menyandang gelar Sarjana terbaik.”
Kembali ke Realitas
Arsyad tersentak dari kilas balik itu. Genggamannya pada patahan kayu Ulin menguat hingga buku-buku jarinya memutih. Ramalan Aki Sarman telah menjadi kenyataan. Kuwu Asmara tidak hanya menghancurkan bakau (tumpukan kayu), ia juga menghancurkan Pangung (tumpukan takhayul) terlebih dahulu, tepat seperti yang dikatakan kakeknya.
Air mata yang ia tahan sejak awal kedatangan kini tumpah. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kemarahan yang membara dan penyesalan yang mendalam. Ia merasa gagal. Ia kembali membawa Ilmu (gelar sarjana), tetapi ia terlambat. Ia gagal memenuhi Ngawekas yang ia ucapkan lima tahun lalu.
“Maafkan saya, Aki,” lirihnya. “Saya terlalu percaya pada kertas. Saya terlalu percaya pada undang-undang.”
Namun, penyesalan itu segera digantikan oleh tekad yang membaja. Patahan kayu Ulin di tangannya bukan lagi puing, melainkan tongkat estafet. Janji Ngawekas itu, janji di hadapan Ngaruat Jagat yang kini tiada, harus ditepati.
Ia menyadari peran barunya: ia bukan hanya sarjana kehutanan. Ia adalah pewaris spiritual. Ia harus berhenti berpikir seperti seorang PNS yang menyusun proposal, dan mulai berpikir seperti seorang Dalang Konservasi—orang yang bisa menyatukan Ilmu dan Rasa.
Ia harus mulai dari wasiat itu. Siki Jati Diri. Resep yang tersembunyi.
Klimaks emosional ini adalah titik balik naratif. Arsyad tidak lagi bergerak karena tugas, melainkan karena sumpah suci yang dilanggar oleh pihak lain. Beban ijazah telah bergeser menjadi Tekad Mencari Akar Sejati.
Ia menyimpan patahan kayu Ulin itu ke dalam ranselnya, bersebelahan dengan ijazahnya. Kini, kedua benda itu, Ilmu dan Rasa, akan menjadi pendamping perjalanannya.
Ia harus mengidentifikasi musuh-musuhnya dan mencari petunjuk wasiat itu.
1.4 Jejak Roda dan Kuwu Serakah
Setelah mengubur sisa kemarahannya dan menyimpan fragmen kayu Ulin—Tiang Jati Diri yang patah—ke dalam ranselnya, Arsyad bergerak. Ia tahu, langkah pertama dari penebusan Ngawekas bukan hanya mencari petunjuk spiritual, tetapi menghadapi musuh yang nyata. Ia harus melihat langsung siapa yang telah merobohkan panggung kakeknya, dan ia tahu di mana menemukan mereka.
Di Pangpung, setiap jejak kerusakan akan selalu mengarah ke satu tempat: Balai Desa.
Arsyad berjalan menuju pusat kampung. Jalan yang dulunya adalah jalur berbatu yang teduh kini berubah menjadi jalan tanah padat yang berdebu, penuh dengan bekas Jejak Roda traktor dan truk besar. Setiap jejak itu seperti garis petunjuk, menunjukkan rute utama perdagangan pasir ilegal yang dijalankan di bawah naungan Kuwu.
Ketika ia tiba di Balai Desa, suasana di sana tidaklah seperti kantor pemerintahan. Lebih mirip pos keamanan di lokasi proyek konstruksi. Di pelataran Balai Desa yang dulunya asri, kini terparkir sebuah pick-up double cabin yang dicat hitam mengilap—simbol kekuasaan baru—dan sebuah traktor tua yang rodanya berlumur lumpur kering.
Di teras, dua sosok sedang bercakap-cakap santai sambil menyesap kopi. Salah satunya adalah pria bertubuh besar dengan kulit gelap dan kalung rantai perak yang tebal. Itu pasti Ujang, preman kepercayaan Kuwu. Sosok kedua, yang duduk di kursi rotan Balai Desa, adalah pria paruh baya yang mengenakan batik dengan motif mencolok dan cincin akik besar di jari telunjuknya. Aura keserakahan yang tak disembunyikan terpancar darinya. Itu adalah Kuwu Asmara.
Kuwu Asmara melihat Arsyad mendekat. Ia mengenali Arsyad. Wajahnya yang tebal menunjukkan senyum yang bukan keramahan, melainkan ejekan.
“Wah, lihat siapa yang pulang!” seru Kuwu Asmara, dengan suara lantang yang sengaja dibuat agar terdengar oleh Ujang. “Sarjana kehutanan dari Bogor! Insinyur hutan kita! Saya kira kau sudah lupa jalan pulang, Arsyad!”
Ujang ikut menyeringai, menatap Arsyad dengan pandangan meremehkan, seolah menilai apakah Arsyad bisa menjadi ancaman fisik.
Arsyad mengabaikan sapaan itu. Ia berhenti tepat di depan Kuwu Asmara, di bawah plang nama Balai Desa yang sedikit miring.
“Saya tidak lupa jalan pulang, Kuwu,” jawab Arsyad, menjaga nadanya tetap datar, meskipun ada bara api kemarahan yang membakar di dadanya. “Saya pulang karena mencium bau pengkhianatan di muara. Saya pulang karena kehancuran ini.”
Kuwu Asmara menyandarkan tubuhnya ke kursi, memutar cincin akiknya dengan santai. “Kehancuran? Anak muda, kau terlalu drama. Ini bukan kehancuran, ini Pembangunan Tata Ruang. Kami sedang mengubah desa nelayan miskin menjadi destinasi wisata tepi pantai. Kami sedang memajukan Pangpung dengan membuka lahan untuk resor!”
“Memajukan dengan menghancurkan hutan bakau? Dengan menjual pasir yang merupakan tulang lautan? Dengan merobohkan Pangung Ngaruat Jagat?” Arsyad menuntut, suaranya naik satu oktaf.
Mendengar nama Pangung Ngaruat Jagat, senyum Kuwu Asmara sedikit memudar, namun ia segera mengendalikan ekspresinya.
“Soal Pangung itu, itu hanyalah kayu tua, Arsyad. Takhayul yang menghalangi kemajuan. Saya merobohkannya karena mengganggu estetika Tata Ruang. Itu sudah seizin BPD dan keputusan bersama. Pangung itu adalah sisa-sisa masa lalu yang harus kita buang agar kita bisa meraih masa depan. Masa depan itu, Arsyad, adalah uang tunai dan properti, bukan dongeng dan pamali kakekmu!”
Kuwu Asmara dengan sengaja mengaitkan penghancuran itu dengan Aki Sarman, menantang Arsyad secara personal.
“Kakek saya meninggalkan warisan, Kuwu. Warisan Rasa dan kearifan,” balas Arsyad. “Anda hanya meninggalkan bekas Jejak Roda dan tumpukan hutang moral. Saya punya ijazah kehutanan dari kampus terbaik. Saya tahu persis apa fungsi ekologis bakau. Tindakan Anda adalah kejahatan ekosida yang melanggar hukum konservasi!”
Tiba-tiba, Ujang berdiri. Tubuhnya yang besar bergerak cepat, mendekati Arsyad. “Hei, Sarjana. Jaga mulutmu. Hukum-hukummu itu hanya berlaku di Jakarta. Di sini, hukumnya Kuwu. Kau mau bilang Kuwu melanggar hukum? Kau mau kuajarkan bagaimana hukum adat Kuwu bekerja di sini?”
Ujang meletakkan tangan besarnya di bahu Arsyad, mencengkeramnya sedikit. Itu adalah ancaman fisik yang jelas, upaya untuk mendominasi.
Arsyad tidak gentar. Ia telah melihat kehancuran Pangung, dan ancaman fisik dari seorang preman tidak berarti apa-apa dibandingkan sumpah Ngawekas kakeknya.
“Hukum yang benar selalu berlaku, Ujang. Anda melanggar Undang-Undang, dan Anda melanggar Adat. Jika Anda terus mengeruk pasir, laut akan mati, dan janji resor Kuwu hanya akan menjadi gundukan semen di atas kuburan ekosistem.”
Kuwu Asmara melambaikan tangan, memerintahkan Ujang untuk mundur. Kuwu itu menikmati pertunjukan ini, merasa superior.
“Dengar, Arsyad,” ujar Kuwu Asmara, nadanya berubah menjadi paternalistik yang menjijikkan. “Kau baru lulus. Kau polos. Saya tahu kakekmu dulu orang terhormat. Tapi ini zaman modern. Kehutanan yang kau pelajari di IPB itu untuk hutan di Kalimantan, bukan untuk rawa busuk di Cijulang. Di sini, kami butuh uang! Saya beri kau tawaran: lupakan soal bakau, lupakan soal adat. Kau kan pintar komputer? Kau datang saja ke sini, bantu saya menyusun proposal investasi resor. Saya gaji kau dua kali lipat dari gajimu di Jakarta. Gunakan ilmumu untuk maju, jangan untuk melawan kekuasaan!”
Tawaran Kuwu Asmara adalah ujian moral yang licik. Ia tidak hanya menawarkan uang, tetapi mencoba membeli Ilmu Arsyad, menjadikannya bagian dari sistem korup.
Arsyad menatap mata Kuwu Asmara. Ia melihat kekosongan yang nyata—seorang pria yang telah menjual jiwanya dan kini mencoba membeli jiwa orang lain.
“Terima kasih, Kuwu,” kata Arsyad, tersenyum tipis. “Tapi saya punya ijazah kehutanan, bukan ijazah makelar pasir. Ilmu saya mengajarkan saya cara menumbuhkan kehidupan, bukan cara membunuh alam untuk uang. Saya akan menggunakan ilmu saya. Tapi bukan untuk proposal Anda.”
Ia berbalik, berjalan menjauhi Kuwu Asmara. Konflik pertama telah selesai, bukan dengan kemenangan, tetapi dengan pernyataan perang.
Kuwu Asmara berteriak dari belakang. “Kau akan menyesal, Arsyad! Di desa ini, melawan Kuwu sama artinya melawan nasib! Dan kau tahu, siapa pun yang mencoba mengganggu proyek ini, akan berhadapan dengan Ujang!”
Ujang menggeram. Suara mesin traktor yang diparkir di dekat sana menyala dengan suara gemuruh yang keras, seolah mengamini ancaman itu. Arsyad tidak menoleh. Ia berjalan pergi, meninggalkan aroma diesel dan keserakahan, menuju rumah Ema Warsih.
Ia kini memiliki wajah musuh yang jelas: Kuwu Asmara (Keserakahan Berkuasa) dan Ujang (Kekerasan Preman). Ia tahu ia tidak bisa melawan mereka dengan hukum atau otot. Ia harus melawan mereka dengan sesuatu yang lebih dalam dari keduanya: Wasiat Benih Purba.
1.5 Dilema Pamali dan Kekuatan Uang
Arsyad berjalan menjauh dari Balai Desa, menjauhi aura arogansi Kuwu Asmara dan ancaman Ujang. Setelah konfrontasi itu, ia tidak langsung menuju rumah Ema Warsih. Nalurinya sebagai seorang peneliti, yang terlatih untuk mencari data di lapangan, mendorongnya untuk melihat kondisi warga desa secara langsung. Ia ingin mengukur seberapa dalam kehancuran moral yang diakibatkan oleh ‘pembangunan’ Kuwu.
Ia mengambil jalan memutar, menuju area pinggiran desa yang berbatasan langsung dengan lokasi pengerukan pasir yang paling aktif. Di sanalah, dulunya, berdiri gubuk-gubuk nelayan miskin yang bergantung sepenuhnya pada hasil laut.
Saat tiba, pemandangan itu terasa seperti adegan dari film dokumenter bencana sosial. Bukannya perahu yang dicat warna-warni, yang ia lihat adalah antrean manusia yang berlumur debu, mengangkut karung-karung berisi pasir basah. Mereka adalah mantan nelayan, para petani kecil, dan ibu-ibu rumah tangga yang dulunya memproses ikan. Kini, mereka adalah kuli pasir.
Di antara kerumunan itu, Arsyad melihat sosok yang ia kenal: Mang Darta, seorang nelayan paruh baya yang terkenal karena kepatuhannya pada Pamali—tabu adat—yang diajarkan Aki Sarman. Mang Darta adalah orang yang paling keras menentang penebangan bakau di masa lalu.
Namun, kini Mang Darta berdiri di tengah lumpur, tangannya memegang sekop reyot, bersiap mengisi karung ke-sekian kalinya. Wajahnya lesu, matanya kosong, seperti jiwa yang telah meninggalkan raganya.
Arsyad mendekatinya. “Mang Darta? Apa yang Anda lakukan di sini?”
Mang Darta tersentak, menjatuhkan sekopnya. Ia tampak malu dan terkejut melihat Arsyad, Sarjana dari kota, melihatnya dalam kondisi ini. Ia berusaha menyembunyikan tangannya yang pecah-pecah dan hitam oleh pasir basah.
“Arsyad… kau sudah pulang, Den,” ucap Mang Darta, suaranya pelan dan serak.
“Ya, Mang. Saya lihat… ini kenapa? Anda seharusnya di laut, Mang. Bukan di sini, menjadi kuli Kuwu Asmara,” Arsyad bertanya, nadanya lembut, penuh keprihatinan.
Mang Darta menunduk, menatap lumpur di kakinya. “Laut sudah mati, Den. Mang Udin benar. Dalam enam bulan terakhir, kami hanya pulang dengan tangan kosong. Anak-anak harus makan. Istri sakit. Kuwu datang dengan janji Uang Tunai.”
Ia mendongak, matanya menunjukkan konflik batin yang pedih. “Dulu, saya yang paling keras menentang pengerukan ini. Saya tahu ini Pamali. Aki Sarman bilang, tanah bakau adalah ‘Kasur Lautan,’ tidak boleh digaruk. Pasir adalah tulangnya. Tapi… apa gunanya Pamali kalau perut kami kosong, Den?”
Mang Darta mengungkapkan Dilema Pamali yang dialami seluruh komunitas. Pamali adalah fondasi moral yang menjaga tatanan sosial dan ekologis desa. Melanggar Pamali sama dengan mengundang bencana. Namun, Kekuatan Uang dari Kuwu Asmara telah menciptakan bencana yang lebih instan: kelaparan. Kuwu sengaja menghancurkan sumber daya alam (laut dan bakau) untuk menciptakan kebutuhan buatan (pekerjaan kuli pasir).
“Kuwu menawarkan upah harian yang—secara angka—memang lebih besar daripada hasil melaut yang semakin minim,” jelas Mang Darta, suaranya seperti pengakuan dosa. “Kami tahu, kami sedang menjual masa depan anak cucu kami sendiri. Kami tahu, kami sedang menjadi tentara yang menghancurkan benteng kami sendiri. Tapi… kami tidak punya pilihan.”
Arsyad merasakan kepedihan itu. Sebagai seorang ahli kehutanan, ia bisa menyalahkan Mang Darta karena kurangnya kesadaran ekologis. Namun, sebagai anak Pangpung, ia tahu bahwa tidak ada teori konservasi yang bisa melawan rasa sakit melihat anak kelaparan.
Kuwu Asmara tidak hanya korup; ia adalah manipulator ulung. Strateginya bukan hanya tentang proyek, tetapi tentang destruksi moral. Ia membuat warga melanggar Pamali mereka sendiri, merusak harga diri mereka, sehingga mereka kehilangan hak moral untuk melawan. Ketika warga sudah menjadi bagian dari masalah (kuli pasir), mereka tidak mungkin lagi menjadi bagian dari solusi.
“Berapa banyak nelayan lain yang terpaksa seperti Anda, Mang?” tanya Arsyad.
Mang Darta menyapu pandangannya ke sekeliling. “Hampir semua yang tinggal di muara, Den. Kami bekerja di bawah pengawasan Ujang. Setiap hari, kami diingatkan: jangan mengeluh soal laut, karena laut sudah tidak bisa diandalkan. Yang bisa diandalkan hanya Kuwu dan proyeknya.”
Mendengar nama Ujang, Arsyad teringat ancaman fisik yang baru saja ia terima. Ia mengerti sekarang: Ujang bukan hanya preman, ia adalah pengawas moral, memastikan bahwa tidak ada warga yang berani meninggalkan pekerjaan kuli pasir untuk kembali melaut atau, lebih buruk lagi, kembali ke adat.
“Lalu, bagaimana dengan bibit bakau yang masih tersisa di sebelah sana? Apakah kalian masih menjaganya?” Arsyad menunjuk ke sepetak kecil lahan yang masih menunjukkan kehidupan mangrove muda, warisan dari proyek penanaman beberapa tahun lalu.
Mang Darta menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Sulit, Den. Kami harus bekerja dari pagi hingga sore. Lagipula, mesin keruk Kuwu sering mendekat. Sudah beberapa kali bibit itu dirusak. Kuwu bilang, ‘Kalau mau tanam, tanam saja di pekarangan rumah, jangan halangi truk kami.’”
Konflik ini mengkristal dalam pikiran Arsyad. Ia menyadari inti dari permasalahannya:
- Level Ekologis: Hutan bakau hancur.
- Level Politik: Kuwu Asmara yang serakah memimpin penghancuran.
- Level Sosial-Moral: Komunitas telah kehilangan Pamali dan dipaksa ikut menghancurkan dirinya sendiri demi bertahan hidup.
Ia tidak bisa hanya menanam bibit. Bibit itu akan mati, diinjak traktor, atau bahkan dicabut oleh tangan warga Pangpung sendiri yang sedang menjalankan tugas kuli pasir. Kekuasaan Uang telah mengalahkan Kekuasaan Adat.
Arsyad mengambil keputusan. Ia harus mencari solusi yang menyentuh level sosial-moral dan ekologis secara simultan. Ia tidak bisa membawa Ilmu IPB yang kering. Ia harus membawa Wasiat Benih Purba yang mengandung Rasa dan kekuatan spiritual yang bisa mengembalikan keyakinan Mang Darta dan yang lainnya.
Ia kembali menatap Mang Darta. “Mang, saya tidak menyalahkan Anda. Saya mengerti. Tapi saya kembali bukan untuk menghakimi. Saya kembali untuk memenuhi janji suci pada Aki Sarman. Saya akan mencari cara untuk mengalahkan Kuwu dengan cara yang akan mengembalikan martabat Anda, dan juga mengembalikan ikan di laut.”
Mang Darta menatapnya, ada sedikit percikan harapan yang samar di matanya yang lelah. “Kau punya cara, Den? Setelah semua yang kau pelajari di kota, apa yang bisa kau lakukan yang tidak bisa kami lakukan di sini?”
Arsyad tidak menjawab dengan teori IPB. Ia menjawab dengan keyakinan yang lahir dari patahan kayu Ulin.
“Saya harus menemukan Akar Sejati, Mang. Akar yang bisa mengikat kita semua kembali pada janji Ngaruat Jagat.”
Ia meninggalkan Mang Darta dan kerumunan kuli pasir itu. Pemandangan itu, tragedi Pamali yang terlanggar, adalah motivasi terkuatnya. Arsyad tahu ia tidak bisa melawan Kuwu hanya dengan data ilmiah. Ia harus melawan dengan spiritualitas dan Ilmu yang bersintesis.
1.6 Tekad Mencari Akar Sejati
Langkah kaki Arsyad meninggalkan bau lumpur dan jeritan nurani Mang Darta. Setiap langkahnya menjauhi lokasi pengerukan pasir terasa lebih berat, bukan karena beban ranselnya, tetapi karena bobot kesadaran baru yang ia pikul. Konfrontasinya dengan Kuwu Asmara hanyalah pertarungan kata-kata, sebuah drama pembuka. Pertarungan sejatinya adalah merebut kembali jiwa komunitas Pangpung dari belenggu Kekuatan Uang dan keputusasaan.
Ia berjalan di sepanjang jalan setapak yang kini dipenuhi sampah plastik dan genangan air keruh, ironisnya, di bekas jalur yang dulunya ia hafal sebagai perbatasan suci antara daratan dan laut. Ia memikirkan Mang Darta. Wajah nelayan itu yang penuh Dilema Pamali jauh lebih menyakitkan daripada senyum licik Kuwu. Kuwu Asmara bukanlah musuh yang paling berbahaya. Musuh yang paling berbahaya adalah kepasrahan massal warga desa yang telah kehilangan jangkar moral mereka.
Arsyad berhenti sejenak, mengeluarkan potongan kayu Ulin, Tiang Jati Diri yang patah, dari ranselnya. Ia memegang fragmen itu, merasakan tekstur keras kayu purba yang telah menyaksikan ratusan ritual Ngaruat Jagat. Kayu ini adalah simbol. Ia adalah manifestasi fisik dari sumpah spiritual Aki Sarman.
“Ilmu tanpa Rasa adalah peta tanpa kompas. Rasa tanpa Ilmu adalah kompas yang tak tahu arah.”
Kalimat kakeknya itu berdentang di kepalanya.
Selama bertahun-tahun di Bogor, Arsyad telah menguasai Ilmu modern: Biologi Konservasi, Teknik Rehabilitasi Lahan Pesisir, dan Hukum Lingkungan. Ijazahnya adalah bukti pengetahuannya yang berharga. Ia tahu jenis bakau mana yang tumbuh paling cepat, cara menstabilkan tanah yang terkikis parah, dan pasal-pasal undang-undang yang dilanggar Kuwu.
Namun, Ilmu itu terasa dingin, tidak berdaya di hadapan Mang Darta. Mang Darta tidak butuh data tentang laju erosi; Mang Darta butuh ikan di jaring dan beras di piring. Dan yang terpenting, Mang Darta butuh alasan yang kuat untuk kembali meyakini Pamali, untuk percaya bahwa martabatnya lebih berharga daripada upah harian.
Di sinilah Rasa memainkan perannya. Rasa adalah ikatan emosional, kearifan lokal, dan keyakinan spiritual yang diturunkan oleh Aki Sarman. Hanya dengan mengaktifkan kembali Rasa—yaitu sistem kepercayaan dan Adat—lah Arsyad dapat memberikan warga Pangpung keberanian moral untuk menolak Kuwu.
Maka, tekad Arsyad mengkristal. Misi Ngawekas-nya tidak bisa hanya menjadi proyek rehabilitasi kehutanan. Ia harus menjadi Ekologi Spiritual. Ia harus menyatukan kedua beban yang ia bawa: Ijazah (Ilmu) dan Tiang Jati Diri (Rasa).
Strategi Fusi Ilmu dan Rasa
- Ijazah (Ilmu): Memberikan kerangka teknis. Arsyad tahu ia membutuhkan bibit bakau unggul (misalnya, Rhizophora mucronata yang kuat menahan gelombang) dan teknik penanaman yang tepat untuk lahan yang telah rusak parah akibat pengerukan (remediasi tanah).
- Tiang Jati Diri (Rasa): Memberikan otoritas moral dan mobilisasi sosial. Untuk memastikan bibit yang ia tanam tidak dicabut atau diinjak, ia harus mengembalikan iman warga pada Ngaruat Jagat. Ia tidak bisa meminta mereka untuk menanam bakau; ia harus meminta mereka untuk menunaikan kembali sumpah adat mereka.
Fokus utamanya kini bukan pada bibit, tetapi pada Akar Sejati.
Akar Sejati, dalam konteks ajaran kakeknya, bukanlah akar pohon bakau biasa. Aki Sarman pernah berbisik kepadanya bahwa setiap Pangung Ngaruat Jagat memiliki Akar Sejati—sebuah relik purba, yang ditanam pada hari pertama berdirinya Pangpung. Akar itu dipercaya memiliki dua fungsi:
- Simpul Energi: Menyimpan energi spiritual yang mengikat roh laut dan daratan, memastikan kesuburan alam.
- Simpul Komunitas: Sebagai saksi bisu Sumpah Adat pertama, menjamin kesatuan dan kepatuhan warga pada Pamali.
Jika Kuwu Asmara merobohkan tiang di atas, ia hanya menghancurkan bagian yang terlihat. Akar Sejati berada di bawah tanah, tersembunyi, terlindungi oleh lapisan spiritual yang tebal. Arsyad yakin, jika ia bisa menemukan dan mengaktifkan kembali Akar Sejati ini, ia akan memulihkan kekuatan spiritual Adat yang terpendam, yang akan memicu gerakan moral di hati Mang Darta dan nelayan lain.
Pencarian Akar Sejati adalah langkah pertama dalam rencana barunya. Tetapi, di mana letaknya? Dan bagaimana cara mengaktifkannya?
Arsyad menyadari bahwa ia tidak memiliki semua petunjuknya. Tiang Jati Diri yang patah hanyalah pembuka jalan. Kunci untuk menemukan Akar Sejati hanya dimiliki oleh satu orang: Ema Warsih.
Ema Warsih, saudari mendiang kakeknya, adalah penyimpan memori komunal yang paling murni. Ia adalah tabib, peramu obat tradisional, dan penjaga cerita-cerita lama yang tidak pernah ditulis. Ia selalu menjaga jarak dari hiruk-pikuk desa dan politik Kuwu, memilih hidup sunyi di tepi hutan kecil di punggung bukit yang menghadap langsung ke muara. Ia adalah satu-satunya orang yang masih memegang teguh Pamali tanpa terpengaruh oleh Kekuatan Uang.
Arsyad membenarkan tali ranselnya. Ia memiliki ijazah, ia memiliki fragmen tiang, dan kini ia memiliki tujuan yang jelas. Ia akan meminta Ilmu dari kota untuk membimbing tangannya, dan meminta Rasa dari Ema Warsih untuk membimbing jiwanya.
“Kuwu Asmara,” gumam Arsyad, sambil menatap muara yang diselimuti kabut debu pengerukan. “Kau membuat Pangpung melanggar Pamali demi uang. Aku akan membuat Pangpung menunaikan sumpah Adatnya lagi, dan aku akan mengalahkanmu di akar, di tempat yang tidak pernah kau sentuh dengan mesinmu.”
Ia kini telah mencapai batas kampung dan mulai menanjak ke jalan setapak berbatu yang menuju pondok Ema Warsih. Jalan itu jarang dilewati, terasa lebih sejuk karena dinaungi pohon-pohon besar yang lolos dari pembalakan Kuwu.
Saat ia berjalan, Arsyad merasakan perubahan. Beban ijazah yang sebelumnya terasa seperti kewajiban yang menyesakkan kini terasa seperti peralatan yang siap digunakan. Rasa lelahnya hilang, digantikan oleh ketegasan yang dingin. Ia bukan lagi Arsyad, si sarjana kehutanan yang gagal di kota. Ia adalah Arsyad, Ngawekas Pangpung, yang kembali untuk menanam benih purba di tanah yang sekarat.
Ketika pondok sederhana Ema Warsih terlihat di kejauhan, Arsyad menghela napas panjang, menghirup udara yang lebih bersih, yang masih membawa aroma dedaunan basah dan tanah yang sehat. Ia tahu, pertemuannya dengan Ema Warsih akan menjadi persimpangan jalan terpenting. Ini adalah titik di mana Ilmu harus tunduk pada Rasa, sebelum keduanya dapat bangkit bersama untuk melawan. Pencarian Akar Sejati akan dimulai di sini.


