Saya dulu mengira kerja di tambang itu soal ketahanan fisik dan disiplin. Soal siapa yang paling kuat bangun pagi, paling tahan begadang, dan paling jarang mengeluh. Saya juga mengira gaji besar adalah kompensasi yang adil untuk semuanya.
Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk sadar bahwa anggapan itu keliru.
Saya sadar bukan saat pertama kali masuk site, bukan saat pertama kali kerja lembur, dan bukan saat pertama kali menghadapi tekanan. Saya sadar ketika pulang cuti, duduk di rumah sendiri, dan merasa tidak sepenuhnya hadir. Tubuh saya di rumah, tapi kepala saya masih di site. Jam biologis saya rusak. Refleks kerja saya masih menyala. Dan saya tidak tahu bagaimana cara mematikannya.
Di situlah saya mulai paham: tambang bukan hanya mengubah jadwal hidup, tapi juga cara kita menjadi manusia.
Tambang sering diceritakan sebagai urusan batu dan uang. Komoditas dan angka. Target dan produksi. Dari luar, semuanya terlihat rapi dan rasional. Tapi dari dalam, tambang adalah ekosistem manusia yang terus-menerus dipaksa menyesuaikan diri.
Tubuh saya belajar beradaptasi bukan karena saya kuat, tapi karena tidak ada pilihan. Jam kerja panjang dianggap normal. Kurang tidur dianggap fase adaptasi. Lelah mental jarang diakui, karena tidak terlihat. Selama saya masih bisa berdiri dan bekerja, saya dianggap baik-baik saja.
Di laporan harian, semuanya tampak berjalan. Sistem hidup. Angka tercapai. Tidak ada kolom untuk mencatat bahwa hari itu saya bekerja dengan kepala berat dan konsentrasi setengah. Tidak ada ruang untuk berkata, “hari ini saya tidak sepenuhnya sanggup.”
Saya pelan-pelan belajar mengabaikan sinyal tubuh sendiri. Dan ketika tubuh berhenti protes, saya mengira itu kemajuan. Belakangan saya tahu: itu bukan kuat, itu mati rasa.
Semakin lama saya di tambang, semakin saya melihat satu pola yang mengganggu: manusia pelan-pelan menghilang dari cerita. Kami memanggil satu sama lain dengan jabatan dan fungsi. Kami menilai dari output, bukan kondisi. Kami menyederhanakan kelelahan menjadi masalah mental individu, bukan akibat sistem.
Saya melihat orang-orang baik menjadi lebih keras. Bukan karena sifat, tapi karena tekanan. Saya melihat kesabaran terkikis bukan oleh satu kejadian besar, tapi oleh akumulasi kecil yang tidak pernah diselesaikan. Dan saya sadar, saya juga ikut berubah.
Saya pernah menuntut tanpa benar-benar mendengar. Pernah menganggap lelah orang lain sebagai kurang siap. Pernah memilih keputusan yang “aman untuk sistem” meski tahu dampaknya ke manusia. Bukan karena saya jahat, tapi karena saya terlalu lama hidup di dalam logika tambang yang mengutamakan kelangsungan operasi di atas segalanya.
Ada kesepian khas di site yang sulit dijelaskan. Bukan kesepian karena sendirian, tapi kesepian karena tidak punya ruang untuk jujur. Kami hidup bersama, bekerja bersama, bercanda bersama, tapi jarang benar-benar bicara.
Tidak ada budaya untuk berkata, “saya capek secara mental.”
Tidak ada ruang untuk mengaku, “saya rindu rumah.”
Tidak ada waktu untuk bertanya, “kamu baik-baik saja?”
Saya juga memilih diam. Karena semua orang diam. Dan diam menjadi norma.
Malam hari di barak sering menjadi momen paling jujur—bukan karena ada obrolan, tapi karena keheningan. Duduk sendiri, menatap layar ponsel tanpa benar-benar membaca, hanya menunggu waktu lewat. Saya sering bertanya dalam hati: berapa banyak dari kami yang sebenarnya ingin didengar, tapi tidak tahu harus bicara ke siapa?
Tambang juga mengajarkan saya tentang keputusan—keputusan yang tidak pernah sesederhana di PowerPoint. Banyak keputusan diambil dengan data terbatas, waktu sempit, dan tekanan dari berbagai arah. Di laporan, keputusan itu terlihat rasional. Di kepala saya, keputusan itu datang dengan wajah orang-orang yang terdampak.
Saya belajar bahwa tidak semua keputusan bisa benar untuk semua pihak. Tapi saya juga belajar betapa mudahnya melupakan manusianya jika kita terlalu fokus pada sistem. Dan saya pernah terjebak di sana.
Teknologi sering dianggap jawaban. Automasi, AI, sistem canggih. Saya bekerja cukup dekat dengan teknologi untuk tahu satu hal: tidak ada teknologi yang menyelamatkan tanpa manusia. Sistem secanggih apa pun runtuh jika orang-orangnya lelah, tertekan, atau tidak didengar.
Saya melihat teknologi disalahkan atas kegagalan yang sebenarnya berakar pada beban kerja. Saya melihat manusia disalahkan atas sistem yang sejak awal tidak realistis. Di situ saya sadar: teknologi di tambang bukan soal inovasi, tapi soal kompromi dengan realita manusia.
Kepemimpinan juga terasa berbeda di tambang. Pemimpin terbaik yang pernah saya temui bukan yang paling pandai bicara, tapi yang paling hadir. Yang mau turun lapangan. Yang mau mendengar tanpa defensif. Yang paham bahwa satu keputusan bisa berdampak pada banyak kehidupan.
Sebaliknya, kegagalan kepemimpinan terasa sangat nyata ketika manusia hanya diperlakukan sebagai angka. Tambang tidak kekurangan sistem. Tambang sering kekurangan empati.
Dulu saya mengira harga kerja di tambang jelas: waktu dan tenaga ditukar uang. Sekarang saya tahu, ada harga lain yang lebih halus. Kepekaan yang berkurang. Emosi yang ditunda. Normalisasi terhadap hal-hal yang seharusnya dipertanyakan.
Saya tidak menulis ini sebagai keluhan. Saya menulis ini sebagai pengakuan. Karena banyak dari kami tidak sadar bahwa kami berubah—sampai perubahan itu terasa asing.
Saya menulis karena terlalu banyak cerita tambang yang hilang. Tidak masuk laporan. Tidak dibahas di rapat. Tidak pernah keluar dari site. Padahal, di sanalah pelajaran terbesar berada. Tentang batas manusia. Tentang pentingnya empati. Tentang sistem yang seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya.
Hari ini, jika ada yang bertanya apa arti tambang bagi saya, jawabannya tidak lagi sederhana. Tambang adalah tempat saya belajar tentang kelelahan yang tidak selalu terlihat, tentang keputusan yang tidak pernah netral, dan tentang manusia—termasuk saya sendiri—yang mencoba bertahan di dalam sistem besar.
Tambang bukan soal batu.
Tambang bukan soal uang.
Tambang adalah tentang manusia.
Dan selama manusia masih bekerja di dalamnya, ceritanya layak ditulis, diingat, dan tidak disederhanakan menjadi angka semata.


