Mencari Titik Buta di Kontur yang Berubah
07.00 WITA – Mobil Landak
Arya berdiri di depan kantor IT, menatap sebuah mobil Double Cabin yang penampilannya aneh. Mobil itu dipenuhi antena di atapnya. Ada antena cambuk panjang, ada antena sirip hiu, ada antena GPS bulat jamur. Sekilas, mobil itu tampak seperti landak besi atau kendaraan pemburu hantu di film.
“Ini namanya Drive Test Vehicle,” kata Mas Dedi, Senior RF (Radio Frequency) Engineer yang akan menjadi mentor Arya hari ini. Mas Dedi orangnya santai, rambut gondrong diikat, tipikal teknisi lapangan yang lebih nyaman bicara dengan mesin daripada dengan manusia.
“Hari ini kita akan berburu hantu,” lanjut Mas Dedi sambil membuka pintu mobil. Di dalamnya, kursi penumpang depan sudah dicopot, digantikan oleh rak besi berisi perangkat elektronik yang berkedip-kedip. Ada Spectrum Analyzer, ada laptop Rugged, dan kabel yang semrawut.
“Hantu apa, Mas?” tanya Arya polos.
“Hantu sinyal. Atau lebih tepatnya, tempat di mana sinyal itu mati. Kita sebut Dead Zone atau Blank Spot,” jawab Mas Dedi. “Arya, kamu jago data kan? Hari ini tugasmu bukan nyetir. Tugasmu baca grafik. Kamu jadi navigator sinyal.”
Arya duduk di kursi belakang yang disulap jadi meja kerja. Di hadapannya ada layar monitor tambahan yang menampilkan peta digital tambang (Mine Map).
“Tambang ini beda sama Jakarta, Ya,” Mas Dedi mulai menyetir keluar dari parkiran. “Di Jakarta, gedung diam di tempat. Kalau kamu pasang BTS (Menara Sinyal), sinyalnya stabil selamanya. Di sini? Gunung hari ini ada, besok sudah hilang digali. Lembah hari ini belum ada, besok sudah jadi jurang 100 meter.”
“Kontur tanah berubah tiap jam. Dan gelombang radio itu bodoh. Dia cuma bisa jalan lurus (Line of Sight). Kalau ketabrak bukit baru, dia berhenti. Akibatnya? Operator di balik bukit itu buta dan tuli.”
09.00 WITA – Menuruni Perut Bumi
Mobil Landak itu bergerak menuju Pit Bintang, area penambangan terbesar dan terdalam saat ini. Kedalamannya mencapai -200 meter di bawah permukaan laut.
Saat mobil mulai menuruni ramp (jalan miring akses tambang), Arya merasakan telinganya berdengung.
“Telan ludah, Ya. Perubahan tekanan udara,” kata Mas Dedi santai.
Pemandangan di luar jendela berubah drastis. Langit yang tadinya luas kini menyempit, dibatasi oleh dinding-dinding tanah raksasa (Highwall) di kiri kanan mereka. Semakin ke bawah, debu semakin pekat karena sirkulasi udara terperangkap. Panas mesin dari ratusan truk yang beroperasi di lubang ini membuat suhu di luar mencapai 40 derajat Celcius.
Mata Arya terpaku pada layar laptop. Aplikasi monitoring bernama Nemo Handy sedang berjalan.
Grafik sinyal (RSSI – Received Signal Strength Indicator) menunjukkan garis hijau stabil di angka -75 dBm.
“Masih bagus,” gumam Arya. “Sinyal penuh.”
“Tunggu sampai kita ke Sump (Dasar sumur),” sahut Mas Dedi.
Mereka melewati antrean raksasa Haul Truck yang sedang loading. Suara radio di mobil masih ramai terdengar. “HD 405, masuk loading point 3.” “Copy.”
Tapi begitu mobil berbelok ke balik sebuah dinding batuan baru (Disposal In-Pit), grafik di layar Arya anjlok drastis.
Garis hijau berubah jadi kuning… lalu oranye… lalu merah. Angka RSSI jatuh bebas: -95 dBm… -105 dBm… -115 dBm.
Suara radio di dashboard mulai kresek-kresek parah. Suara operator terdengar seperti robot yang kehabisan baterai. “…Disp…ch… lapor… a..man…”
Lalu… Hening. Layar laptop menunjukkan angka -120 dBm. Garis merah putus-putus. NO SERVICE.
“Kita sampai,” kata Mas Dedi mematikan mesin mobil. “Selamat datang di Zona Mati.”
10.30 WITA – Kesunyian yang Mencekam
Suasana di titik itu aneh. Secara visual, tempat itu sibuk. Ada satu unit Bulldozer D155 yang sedang meratakan tanah di pojok, sekitar 100 meter dari mereka.
Tapi secara audio di dalam kabin, dunia mati. Radio Rig diam. HT di pinggang Arya diam. HP? Jangan tanya, sudah mati sejak di gerbang pit.
“Ini bahayanya, Ya,” Mas Dedi menunjuk Dozer itu. “Operator Dozer itu, Pak Yanto namanya. Dia kerja sendirian di pojok situ. Kalau tiba-tiba dinding tebing di atasnya longsor… dia nggak akan denger peringatan dari Geotech. Kalau mesinnya meledak… dia teriak di radio nggak ada yang denger.”
Arya merinding. Ia melihat Dozer itu mendorong tanah dengan tekun. Si operator tidak tahu bahwa dia sedang berada di dalam “gelembung bisu”.
“Turun, Ya. Kita ukur manual pakai Spectrum Analyzer handheld.”
Arya turun. Panasnya luar biasa. Debu langsung menempel di kulit yang berkeringat. Ia memegang alat ukur yang bentuknya seperti GameBoy tebal dengan antena.
Ia berjalan mendekati area kerja Dozer (masih di jarak aman). Jarum penunjuk sinyal di alat itu nyaris tidak bergerak dari dasar.
“Mas Dedi!” teriak Arya. “Di sini Noise Floor-nya tinggi! Ketutup tebing Highwall sisi Selatan!”
Mas Dedi mengangguk, mencatat di tabletnya. “Shadowing effect. Tebing itu baru digali minggu lalu kan? Nah, Repeater kita di Bukit 5 sudah nggak bisa tembus ke sini. Sudutnya kehalang.”
Arya merasa sesak. Bukan karena debu, tapi karena membayangkan nasib Pak Yanto di dalam Dozer itu. Di layar komputer Arya di kantor, “Dead Zone” hanyalah bercak warna merah di peta. Di sini, “Dead Zone” adalah seorang bapak-bapak yang terisolasi dari pertolongan.
11.30 WITA – Interaksi di Titik Nol
Mas Dedi memberi isyarat tangan ke operator Dozer untuk berhenti sebentar. Pak Yanto mematikan mesin, lalu membuka pintu kabin.
“Woi! Mas Dedi! Tumben main ke lubang buaya!” teriak Pak Yanto ramah, wajahnya cemong debu batubara.
Mas Dedi dan Arya mendekat.
“Pak, sampeyan tahu nggak kalau radio sampeyan mati di sini?” tanya Mas Dedi.
Pak Yanto tertawa renyah. “Wah, tahu banget Mas! Dari tadi pagi saya teriak minta kirim solar, nggak ada yang nyaut. Saya pikir radio saya rusak, saya pukul-pukul dikit. Masih nggak nyaut. Ya wis, saya kerja aja. Nanti pas istirahat saya naik ke tanjakan sana biar dapet sinyal.”
Arya tertegun. “Bapak nggak takut?”
Pak Yanto menatap Arya, lalu tersenyum teduh. “Takut ya takut, Mas. Namanya kerja di bawah tebing. Kalau longsor ya wassalam. Tapi target produksi harus dapet. Kalau saya berhenti kerja cuma gara-gara sinyal ilang, nanti SPV marah, bonus anak istri saya ilang.”
“Makanya saya seneng Mas-mas IT dateng. Berarti ada harapan sinyal balik kan?” harap Pak Yanto.
Arya merasakan beban berat di dadanya. Harapan itu… ada di tangannya.
“Iya, Pak,” jawab Arya cepat. “Kami usahakan. Hari ini juga.”
13.00 WITA – Perang Data vs Solusi Fisik
Kembali ke mobil AC, mereka makan siang (nasi bungkus) sambil membuka laptop. Arya mengolah data log yang baru direkam. Ia melakukan visualisasi heatmap.
“Mas,” Arya menunjuk layar. “Kalau kita lihat konturnya, sinyal dari Repeater Utama (Tower A) kepotong di elevasi -150. Tapi… lihat celah di bukit Disposal Utara ini.”
Arya menarik garis simulasi di software Radio Mobile.
“Kalau kita pasang Repeater Portable (Trailer) di koordinat ini… dia bisa ‘nembak’ sinyal lewat celah itu, lalu memantulkannya ke bawah sini. Reflection.”
Mas Dedi mengunyah ayam gorengnya sambil melihat simulasi Arya. Matanya menyipit. “Lo pake prinsip Diffraction ya? Memanfaatkan ujung bukit buat membelokkan sinyal?”
“Iya Mas. Teorinya di Fisika Dasar IPB gitu. Gelombang bisa membelok kalau kena sudut tajam. Meskipun loss-nya gede, tapi lumayan buat ngangkat sinyal jadi -95 dBm. Minimal suara kedengeran meski agak kresek.”
Mas Dedi menepuk punggung Arya keras. “Cerdas lo! Gue tadi mikirnya mau pasang tower baru, tapi itu butuh seminggu. Solusi lo bisa dieksekusi sore ini pake Trailer Solar Cell.”
“Ayo balik ke kantor. Kita perintah tim Rigging buat tarik Trailer ke bukit itu.”
15.30 WITA – Eksekusi: Menyalakan Lilin di Kegelapan
Sore itu juga, tim IT bergerak cepat. Sebuah Mobile Repeater Trailer—sebuah menara mini yang dipasang di atas gerobak yang ditarik mobil, lengkap dengan panel surya—derek menuju koordinat yang dihitung Arya.
Arya ikut mengawasi. Ia melihat tim teknisi menegakkan tiang antena teleskopik setinggi 10 meter itu.
“Arahkan Azimuth 210 derajat! Tilt turun 3 derajat!” teriak Mas Dedi membaca kompas.
Saat antena sudah berdiri tegak, Mas Dedi menyalakan perangkat Repeater. Lampu indikator berkedip hijau.
“Tes,” kata Mas Dedi ke radio genggamnya. “Arya, monitor di frekuensi Dozer.”
Arya memegang HT-nya. Menunggu.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara yang dinanti-nanti.
“…Dispatch… ini Dozer 05… Tes radio… Masuk nggak? Ganti.”
Itu suara Pak Yanto! Suaranya sedikit berdesis (noise), tidak jernih sempurna, tapi pesannya jelas.
Mas Dedi menyambar mikrofon. “Masuk Pak Yanto! 3 by 5. Agak kotor tapi jelas. Lanjut kerja Pak. Hati-hati.”
“Alhamdulillah! Maturnuwun Mas IT! Akhirnya saya nggak ngomong sama tembok lagi!” balas Pak Yanto riang.
Arya menghembuskan napas panjang. Lega. Rasanya seperti baru saja memberikan tabung oksigen kepada orang yang tenggelam.
19.00 WITA – Refleksi: Peta Kehidupan
Malam itu, Arya lembur di kantor, bukan karena disuruh, tapi karena ia ingin menyelesaikan laporan peta coverage terbaru.
Di layar monitornya yang besar, peta tambang terlihat seperti lukisan abstrak berwarna-warni. Hijau artinya sinyal kuat, merah artinya sinyal lemah.
Arya menatap titik kecil di mana Pak Yanto bekerja. Tadi pagi titik itu merah gelap. Sekarang, berkat perhitungan difraksi dan trailer yang ia usulkan, titik itu berubah menjadi kuning kehijauan.
Arya tersenyum.
Dulu di kampus, ia memproses data untuk mencari pola, mencari tren pasar, atau sekadar menyelesaikan tugas. Data itu dingin. Angka hanyalah angka.
Tapi hari ini, Arya belajar bahwa data spasial di tambang adalah representasi nyawa. Satu piksel warna merah di peta, artinya ada seorang ayah yang bekerja dalam bahaya tanpa bisa minta tolong. Satu piksel yang ia ubah menjadi hijau, artinya ia telah memberikan rasa aman bagi keluarga ayah tersebut.
“Gimana, Ya? Seru main RF?” tanya Mas Dedi yang lewat sambil membawa kopi.
“Seru, Mas. Pusing, tapi nagih,” jawab Arya.
“Bagus. Itu baru satu lubang. Besok lubang sebelah sana digali lagi, sinyal ilang lagi. Kerjaan kita nggak bakal abis, Ya. Kita ini penjaga bayangan. Kejar-kejaran sama alat berat.”
Arya menutup laptopnya. Ia teringat Pak Yanto. Besok gue mau sapa dia lagi di radio, batinnya.
Malam itu, Arya tidur nyenyak sekali. Bukan karena lelah fisik, tapi karena hatinya tenang. Ia tahu, malam ini, tidak ada “hantu” bisu yang gentayangan di Pit Bintang. Suara telah kembali.
Pembelajaran Hari ke-8
Teknis (RF Engineering):
- RSSI & Signal Strength: Memahami satuan dBm. -70 dBm itu bagus, -100 dBm itu batas wajar, -120 dBm itu mati total.
- Line of Sight (LOS) & Shadowing: Memahami sifat gelombang radio VHF/UHF yang tidak bisa menembus tanah tebal. Bukit/tebing menciptakan Dead Zone.
- Diffraction & Reflection: Teknik memanfaatkan kontur alam untuk membelokkan sinyal di area blind spot tanpa harus membangun tower permanen.
- Mobile Infrastructure: Penggunaan Repeater Trailer (Unit pemancar bergerak bertenaga surya) sebagai solusi taktis untuk tambang yang dinamis.
Psikologis (Mental Growth):
- Data Empathy: Kemampuan melihat manusia di balik data. Menyadari bahwa peta digital di layar monitor berdampak langsung pada keselamatan orang di lapangan.
- Problem Solving Agility: Kemampuan memberikan solusi cepat (deploy trailer) berdasarkan analisis data teoretis (simulasi software).
- Connection: Rasa terhubung dengan operator. Memahami bahwa “Sinyal” bagi orang lapangan adalah bentuk “Teman” yang menemani kesendirian kerja.


