Bab 3 Sintesis dan Papada

Posted on

3.1 Cinta di Tengah Intimidasi Lumpur

Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang mencekam. Arsyad menghabiskan waktu dengan Ema Warsih, mengawasi formula Wasiat Benih Purba yang perlahan berfermentasi dan menyiapkan sampel kontrol dari bibit yang diracuni oli (2.6).

Di tengah hari yang panas, sebuah mobil SUV berwarna putih dengan stiker LSM kecil di pintunya berhenti di tikungan Pangpung—persis di tempat Arsyad diturunkan beberapa hari lalu. Dari dalamnya, keluar Lia.

Lia mengenakan celana lapangan, rompi teknisi, dan membawa dua koper: satu berisi pakaian dan satu lagi berisi peralatan laboratorium portabel. Wajahnya yang biasa terlihat cerah di Jakarta, kini tercoreng oleh debu kering Muara. Ia segera melihat pemandangan di sekitarnya.

Kejutan Lia tidak bisa disembunyikan. Dalam foto-foto proyek Arsyad empat tahun lalu, Muara Cijulang adalah hutan bakau yang subur. Yang kini ia lihat adalah pemandangan pasca-perang: lahan datar, tunggul hitam, dan tumpukan pasir abu-abu menjulang tinggi. Kehancuran yang diceritakan Arsyad terasa jauh lebih nyata dan brutal.

Lia langsung menghampiri Arsyad yang menunggunya di pinggir jalan.

“Syad! Ya Tuhan, ini… ini tidak nyata,” ujar Lia, matanya membesar, melihat jejak roda traktor dan bau diesel yang pekat. “Aku membaca laporan degradasi, tapi ini ekosida. Kuwu Asmara ini bukan koruptor biasa, dia perusak masif.”

Arsyad hanya mengangguk. “Selamat datang di Pangpung, Li. Tempat di mana Ilmu Kertas kita tidak punya tempat berpijak.”

Saat mereka berjalan menuju pondok Ema Warsih, mereka harus melewati beberapa truk pengangkut pasir yang baru selesai memuat. Truk-truk itu melaju kencang, menyemburkan debu yang mengotori Lia. Ini adalah sambutan pertama dari Intimidasi Lumpur Kuwu Asmara.

Pengujian Wasiat dengan Data Lab

Setibanya di pondok Ema Warsih, Lia dengan sigap membuka koper labnya. Ia adalah profesional sejati. Kejutannya tentang kehancuran lingkungan segera berubah menjadi fokus ilmiah.

Arsyad menunjukkan dua set sampel lumpur:

  1. Sampel Kontrol Negatif (Lumpur Beracun): Tanah yang diambil dari area bibit yang diracuni oli/diesel.
  2. Sampel Wasiat (Lumpur Fermentasi): Formula Wasiat Benih Purba yang baru diinkubasi dua hari (walaupun belum matang, bisa diuji kandungan awalnya).

“Baik, Syad. Mari kita uji hipotesis Ilmu Luhung-mu,” kata Lia, memasukkan sampel ke dalam tabung reaksi mini.

Lia menguji empat parameter kunci, sementara Arsyad mengawasi dengan cemas.

Hasil Uji Cepat Laboratorium Lia:

Parameter Sampel Kontrol Negatif (Beracun) Sampel Wasiat (Benih Purba) Implikasi Ilmiah (Ilmu Kertas)
pH 4.5 (Sangat Asam) 6.8 (Netral Stabil) Bubuk Cangkang (CaCO_3) berhasil menetralisir keasaman dan menciptakan buffer kimia yang dibutuhkan bibit bakau.
Nitrogen (N) Sangat Rendah Tinggi Proses peracikan dan biochar secara cepat meningkatkan N organik yang vital untuk pertumbuhan vegetatif.
Salinitas Bervariasi (Tidak Stabil) Stabil Komponen Wasiat (Lumpur dan Biochar) membantu menstabilkan retensi air, mencegah fluktuasi salinitas ekstrem.
Oli/Toxics Positif Kuat Negatif Diperlukan uji lanjutan, tetapi biochar dan mikroba dari lumpur fermentasi berpotensi menjadi agen bioremediasi yang unik.

Lia menatap hasil di layarnya. Kerut di dahinya menghilang, digantikan oleh ekspresi terkejut dan hormat.

“Syad… Aku tidak percaya ini,” Lia berbisik. “Secara kimia, formula ‘Darah Putih’ dan ‘Darah Hitam’ ini bekerja sebagai Pupuk Bioremediasi Unggul. pH-nya hampir sempurna. Di lab, untuk mendapatkan hasil secepat ini, kita perlu bahan kimia pabrikan yang mahal. Formula Wasiat kakekmu mencapai hasil yang sama hanya dengan bahan-bahan lokal.”

Ilmu Kertas Lia telah memvalidasi Rasa Ema Warsih. Di hadapan data yang tak terbantahkan, keraguan Lia lenyap.

“Jadi, Naga Mangsa bisa dilawan dengan bubuk kerang dan keyakinan?” tanya Lia, masih tidak percaya.

“Naga Mangsa bisa dilawan dengan Ilmu yang memiliki Rasa, Li,” koreksi Arsyad, tersenyum lega. “Sekarang kau telah melihat datanya. Kau percaya padaku?”

“Aku percaya pada data, Syad,” jawab Lia, namun tatapannya pada Arsyad kini melembut. “Dan data ini menunjukkan bahwa kakekmu adalah ahli Biologi Tanah yang terhebat. Kita harus patenkan ini sebagai Inovasi Biologis Lokal.”

Hubungan di Tengah Intimidasi Lumpur

Keberhasilan uji lab ini menjadi titik tolak bagi terjalinnya Papada Rasa—kemitraan batiniah mereka. Lia, yang awalnya datang sebagai peneliti, kini berkomitmen secara pribadi dan profesional pada perjuangan ini.

Saat mereka membereskan peralatan, tiba-tiba terdengar suara klakson yang memekakkan telinga dari bawah bukit. Truk pengangkut pasir Kuwu Asmara, yang biasanya hanya beroperasi di Muara, kini sengaja naik ke jalan setapak menuju pondok Ema Warsih. Truk itu tidak bisa mencapai pondok, tetapi ia berhenti di tempat yang cukup tinggi untuk melihat.

Arsyad dan Lia keluar. Di depan pondok, mereka melihat Ujang berdiri di samping truk, tangannya disilangkan.

Ujang berteriak, suaranya memantul di lereng bukit. “Hei, Sarjana! Sudah bosan main lumpur? Sekarang bawa perempuan dari kota? Jangan ganggu pekerjaan kami! Cepat turun, atau aku yang jemput!”

Ini adalah puncak Intimidasi Lumpur—upaya Kuwu untuk menyergap Arsyad dan mengusir Lia, menghancurkan potensi kemitraan sejak awal.

Lia, meskipun takut, meraih ponselnya. Ia mengaktifkan perekam video. “Ini bukti ancaman, Syad. Kita harus merekam ini.”

Arsyad berdiri tegak di depan Lia dan pondok Ema Warsih. Ia tahu, mundur berarti membiarkan Kuwu menang secara psikologis. Ia tidak akan mundur.

“Ujang! Katakan pada Kuwu Asmara, kami tidak bermain lumpur,” balas Arsyad, suaranya setenang mungkin. “Kami sedang menguji formula yang akan mengembalikan ikan ke muara, formula yang jauh lebih bernilai dari pasir kotor yang kau jual! Kami punya data, dan data itu tidak bisa kau lawan dengan ancaman!”

Ujang tertawa, tawa yang terdengar kosong dan kejam. Ia tidak peduli dengan data. Ia hanya peduli dengan demonstrasi kekuasaan.

Ujang menyalakan mesin truk. Truk itu mundur sedikit, lalu dengan sengaja maju, menggilas semak belukar dan bebatuan di pinggir jalan, menciptakan kebisingan dan semburan debu yang masif ke arah pondok. Itu adalah peringatan fisik yang jelas.

Ketika truk itu akhirnya berbalik dan pergi, meninggalkan jejak Jejak Roda yang baru, Arsyad menoleh ke Lia. Wajah Lia pucat, tetapi matanya kini menunjukkan tekad yang sama kuatnya dengan Arsyad.

“Mereka tidak akan berhenti,” bisik Lia.

“Aku tahu,” jawab Arsyad. “Tapi mereka tidak tahu bahwa kita baru saja memvalidasi senjata rahasia kita. Aku tidak sendirian lagi, Li.”

Di tengah ketegangan dan bahaya itu, Lia menyentuh tangan Arsyad. Sentuhan itu bukan hanya persahabatan, melainkan janji komitmen. Mereka telah melewati batas ketakutan dan keraguan ilmiah. Cinta di Tengah Intimidasi Lumpur telah bersemi, menyatukan Ilmu dan Rasa mereka di bawah ancaman Naga Mangsa.

3.2 Jabar dan Peluncuran Dapur Wasiat

Setelah insiden intimidasi truk Kuwu Asmara, Arsyad dan Lia menyadari bahwa mereka tidak bisa beroperasi hanya dari pondok terpencil Ema Warsih. Mereka membutuhkan basis komunitas yang terpusat, yang berfungsi sebagai benteng fisik sekaligus simpul moral. Mereka membutuhkan wajah baru yang dipercaya, tetapi juga skeptis, untuk memimpin front komunitas. Wajah itu adalah Jabar.

Jabar adalah tokoh muda yang dikenal cerdas, tetapi sangat sinis terhadap janji-janji pemerintah dan proyek-proyek ‘rehabilitasi’ dari kota yang selalu gagal. Ia adalah mantan pemuda nelayan yang kini bekerja serabutan, sering kali menggunakan humor sarkas untuk menutupi keputusasaannya terhadap Muara Cijulang. Jika Arsyad bisa meyakinkan Jabar, ia bisa meyakinkan seluruh pemuda di Pangpung.

Arsyad dan Lia menemui Jabar di warung kopi kecil dekat pelabuhan lama. Jabar sedang sibuk mengutak-atik mesin motor tua, wajahnya berminyak dan fokus.

“Bar, aku butuh bantuanmu,” sapa Arsyad, duduk di bangku kayu di sebelahnya.

Jabar mendongak, matanya yang tajam menatap Arsyad, lalu beralih ke Lia yang tampak asing. “Wah, Sarjana kita. Setelah ditolak Kuwu Asmara, sekarang kau jadi tour guide cewek kota? Bantuan apa? Bantu aku menyetel karburator? Mesin ini lebih jujur daripada janji resor Kuwu.”

Sarkasme Jabar adalah cerminan dari kepahitan komunitas. Arsyad tahu ia tidak bisa menawarkan janji kosong. Ia harus menawarkan data yang didukung Rasa.

“Aku tidak datang dengan janji resor, Bar. Aku datang dengan data dan Wasiat,” kata Arsyad serius, lalu ia menyerahkan selembar kertas yang berisi hasil uji cepat N-P-K yang dilakukan Lia, bersebelahan dengan transkripsi Wasiat Benih Purba dalam aksara Sunda kuno.

Jabar mengambil kedua kertas itu. Ia mengerutkan dahi saat membaca angka-angka ilmiah Lia, lalu tertawa keras saat melihat teks Wasiat kakeknya.

“pH 6.8? Kandungan Nitrogen Tinggi? Lalu apa ini? ‘Darah Putih dari Cangkang Patah, Digerus di Malam Bulan Mati’? Kau mau membuat Pupuk Magis, Syad? Kau menghabiskan empat tahun di IPB untuk kembali menjadi dukun?” cibir Jabar.

Lia, yang terbiasa menghadapi skeptisisme akademis, maju. “Dengar, Jabar. Darah Putih itu adalah Kalsium Karbonat murni. Kami telah menguji kandungannya. Formula ini adalah substrat restorasi yang paling unggul yang pernah aku lihat. Aku bisa tunjukkan padamu. Formula ini akan membuat akar bakau tumbuh empat kali lebih cepat di tanah pasir yang tandus.”

Jabar masih skeptis, tapi tatapannya pada Lia berubah. Ia menghormati angka, dan fakta bahwa seorang ahli dari Jakarta bersedia datang ke Pangpung hanya untuk formula ini menarik perhatiannya.

“Kenapa harus formula kakekmu? Kenapa tidak pakai pupuk urea dari toko pertanian?” tantang Jabar.

“Karena urea adalah Ilmu Kertas yang hanya memanjakan daun dan membunuh akar. Formula ini adalah Ilmu Luhung,” jelas Arsyad, mengambil alih. “Ia dibuat dari tulang laut (kerang) dan darah bumi (humus) Pangpung sendiri. Ia mengembalikan kesuburan dengan rasa hormat pada Pamali. Jika kita gunakan ini, kita tidak hanya menanam pohon. Kita menanam kembali keyakinan.”

Arsyad kemudian menunjuk ke arah Muara. “Kuwu Asmara berhasil membuat nelayan seperti Mang Darta melanggar Pamali dan menjadi kuli pasir. Kenapa? Karena Kuwu menghancurkan hope (harapan). Formula ini, jika berhasil, akan mengembalikan harapan mereka. Aku butuh kau, Bar, untuk mengorganisir pemuda. Aku butuh tempat yang aman untuk memulai produksi massal formula ini. Aku butuh Dapur Wasiat.”

Jabar melihat tatapan tulus Arsyad dan keyakinan ilmiah Lia. Ia menghela napas panjang. Setelah menimbang-nimbang antara sinisme dan harapan, harapanlah yang menang.

“Oke, Sarjana Dukun,” ujar Jabar, menyeringai. “Aku percaya pada angkamu, dan aku percaya pada dendammu. Kalau formula ini bisa mengalahkan Kuwu dan mengembalikan ikan, aku ikut. Tapi aku tidak mau bekerja di bukit Ema Warsih. Itu terlalu jauh. Kita butuh tempat di tengah kampung, di mana semua orang bisa melihat.”

Detail Pendirian Dapur Wasiat

Jabar mengusulkan penggunaan gudang ikan tua milik keluarganya yang sudah tidak terpakai—tepat di pusat desa, dekat pasar.

“Gudang ini bekas gudang ikan, sekarang isinya cuma jaring lapuk. Kita ubah jadi Dapur Wasiat,” usul Jabar. “Setiap orang yang melintas akan tahu apa yang kita lakukan. Tidak bisa disembunyikan. Kalau Kuwu mau menyerang, dia harus menyerang di depan mata warga.”

Keputusan Jabar sangat strategis. Dengan menempatkan Dapur Wasiat di pusat desa, mereka mengubah proyek konservasi menjadi gerakan komunal dan politik.

Detail Operasional Dapur Wasiat:

  1. Lokasi: Gudang Ikan Tua Jabar (simbol ekonomi lama yang dihidupkan kembali).
  2. Peran: Jabar ditugaskan untuk mengumpulkan tenaga kerja sukarela (pemuda skeptis) dan mengumpulkan bahan baku lokal (kerang, lumpur).
  3. Proses: Formula fermentasi Wasiat Benih Purba yang sudah dibuat Ema Warsih (batch pertama) akan disalin dan diproduksi dalam skala yang lebih besar.
  4. Tujuan: Produksi masal substrat unggul untuk penanaman 1.000 bibit bakau di lahan kritis sebagai uji coba skala komunitas.

Peluncuran Dapur Wasiat ini adalah puncak sintesis Papada Rasa. Arsyad membawa Ilmu dan Wasiat, Lia membawa Validasi dan Data, dan Jabar membawa Komunitas dan Logistik.

Di gudang tua itu, Arsyad memimpin sesi pelatihan pertama. Ia menggabungkan bahasa ilmiah dan bahasa adat:

  • “Kita harus menjaga suhu fermentasi agar mikroorganisme bekerja maksimal!” (Ilmu)
  • “Kita harus mengaduknya dengan Rasa yang tulus, karena ini adalah Rahim Penyembuh lautan!” (Adat)

Lia menggunakan alat uji pH portabelnya untuk memastikan setiap adonan memiliki kualitas yang sama. Jabar, meskipun masih melontarkan lelucon, bekerja dengan tekun, memastikan proses pengumpulan cangkang kerang dilakukan dengan benar.

Ketika fermentasi dimulai di puluhan wadah baru, Arsyad merasa energi positif kembali mengalir di Pangpung. Bau diesel dan lumpur kering di Muara kini mulai ditimpali dengan aroma fermentasi yang asam dan berbau tanah yang sehat dari Dapur Wasiat.

Namun, di balik kegembiraan itu, Arsyad dan Lia tahu bahwa mereka telah mendeklarasikan perang terbuka. Kuwu Asmara pasti sudah menerima laporan tentang Dapur Wasiat ini dan kehadiran Lia. Konflik fisik dan birokrasi hanya tinggal menunggu waktu.

“Syad,” kata Lia, menatap puluhan wadah fermentasi. “Ini butuh setidaknya enam bulan untuk matang sempurna. Tapi kita tidak punya waktu. Kita harus uji coba skala kecil sekarang juga. Kita butuh data survival rate untuk presentasi.”

“Aku tahu, Li,” jawab Arsyad. “Tapi sebelum kita tanam, kita harus mendapatkan izin. Dan kita harus bersiap menghadapi penolakan pertama Kuwu.”

3.3 Perdebatan Data Melawan Rasa

Setelah mendirikan Dapur Wasiat, tim inti Arsyad, Lia, dan Jabar mulai merencanakan langkah berikutnya: mengajukan permohonan izin penanaman skala kecil di lahan kritis yang sudah teridentifikasi. Tujuan mereka adalah mendemonstrasikan efektivitas formula Wasiat di bawah pengawasan Kuwu Asmara, dengan harapan Kuwu tidak bisa menolak hasil yang terbukti.

Namun, persiapan presentasi izin itu memicu ketegangan yang tak terhindarkan antara Data Lia dan Rasa Arsyad. Perdebatan ini terjadi di gudang Dapur Wasiat yang lembap, diapit oleh wadah-wadah fermentasi yang berbau asam manis.

Lia, yang terbiasa bekerja dengan investor dan birokrasi kota, berpendapat bahwa presentasi harus didominasi oleh Ilmu Kertas.

“Syad, dengarkan aku. Kita tidak bisa mengajukan permohonan ke Kuwu Asmara dengan membawa-bawa cerita Naga Mangsa atau Pamali. Itu akan langsung dicap klenik dan ditolak,” tegas Lia, sambil menunjuk grafik batang yang ia siapkan di laptop portabelnya. “Kita harus profesional. Kita tunjukkan hasil uji pH 6.8 yang stabil, kita tunjukkan kadar N-P-K yang tiga kali lipat lebih tinggi dari pupuk biasa, dan kita gunakan istilah seperti local bioremediation dan high-calcium substrate. Itu bahasa Kuwu, itu bahasa proyek!”

Jabar, yang bertugas mendengarkan aspirasi warga, cenderung setuju dengan Lia. “Kuwu tidak mengerti Rasa, Syad. Kuwu mengerti angka. Kalau kau bilang Pamali, dia bilang kau menghambat investasi. Kalau kau bilang pH 6.8, dia harus berpikir dua kali, karena itu angka yang tidak bisa ia bantah.”

Arsyad menolak pandangan ini. Ia merasa Lia dan Jabar gagal memahami inti pertempuran mereka, yang bukan hanya ilmiah, tetapi juga spiritual-moral.

“Kalian berdua benar, Kuwu Asmara tidak mengerti Rasa. Tapi, warga Pangpung mengerti Rasa! Mang Darta, Mang Udin—mereka tidak peduli pH 6.8. Mereka peduli pada kembalinya martabat dan janji Aki Sarman,” balas Arsyad.

Arsyad berjalan ke wadah fermentasi, mengaduknya perlahan. “Formula ini dibuat dari bubuk kerang yang kita kumpulkan dengan ritual membayar hutang pada laut. Itu adalah narasi budaya yang kuat, Li. Jika kita hanya menyajikan data, kita mungkin mendapatkan izin menanam, tapi kita tidak akan mendapatkan kepercayaan warga.”

Ia menatap Lia lurus-lurus. “Jika kita hanya menggunakan Ilmu Kertas, kita tidak berbeda dengan kontraktor resor yang menggunakan studi AMDAL palsu. Kita harus membuktikan bahwa Wasiat ini unggul karena ia dibuat dengan Rasa—dengan penghormatan pada alam. Narasi Naga Mangsa adalah cara kita menjelaskan kepada warga bahwa kehancuran ini adalah akibat melanggar sumpah, dan Wasiat ini adalah cara kita menunaikan kembali sumpah itu.”

Perdebatan ini berpusat pada pertanyaan filosofis: Apakah tujuan utama adalah mendapatkan izin menanam (kemenangan teknis) atau mendapatkan kembali jiwa komunitas (kemenangan moral)?

  • Lia (Data): Memprioritaskan kemenangan teknis. Fokus pada output yang bisa diukur. Strateginya adalah netralisasi: buktikan kualitas ilmiah untuk membungkam Kuwu.
  • Arsyad (Rasa): Memprioritaskan kemenangan moral. Fokus pada input dan proses. Strateginya adalah polarisasi: gunakan Adat untuk menarik garis pemisah yang jelas antara Wasiat yang suci dan proyek Kuwu yang serakah.

Sintesis Strategi (Mencari Papada Rasa):

Setelah perdebatan yang intens, Jabar menemukan jalan tengah, memainkan peran sebagai penerjemah budaya.

“Oke, Syad. Aku setuju, kita butuh Rasa untuk menggerakkan warga. Tapi Lia benar, kita butuh Data untuk menggerakkan Kuwu,” kata Jabar. “Begini. Di Balai Desa, kita presentasikan data yang dibuat Lia. Kita bicara pH dan NPK, bahasa yang Kuwu mengerti. Tapi, di Balai Pertemuan Nelayan, kita presentasikan Rasa yang kau bawa. Kau tunjukkan patahan Tiang Jati Diri, kau ceritakan Wasiat Aki Sarman. Kita gunakan formula yang sama, tapi kita kemas dengan dua bahasa yang berbeda.”

Jabar melanjutkan, menyeringai. “Kuwu akan mengizinkan kita karena angka-angka Lia meyakinkannya bahwa ini adalah ‘proyek inovatif’ yang bisa ia klaim. Warga akan ikut serta karena cerita Naga Mangsa dan Pamali yang kau sampaikan menyentuh hati mereka.”

Arsyad menyetujui ide ini. Ini adalah esensi dari Papada Rasa: Ilmu dan Rasa bekerja sama, tetapi Ilmu berfungsi sebagai senjata diplomatik, sedangkan Rasa berfungsi sebagai motor penggerak massa.

Lia juga menerima. Ia menyadari bahwa data ilmiahnya, meskipun kuat, akan tetap menjadi ‘Ilmu Kertas’ tanpa narasi yang mengakar kuat di hati komunitas.

“Baik,” putus Lia. “Aku akan menyiapkan Memorandum Teknis. Kau, Syad, siapkan pidato Ngawekas-mu. Tapi ingat, di Balai Desa, jangan sebut-sebut Naga Mangsa di depan Kuwu. Kita serang dia dengan profesionalisme.”

Arsyad mengangguk. Kemitraan mereka telah melewati ujian filosofis pertamanya, mencapai sintesis strategis yang akan mereka gunakan sebagai senjata ganda melawan Kuwu.

Pengecekan Lapangan dan Kesiapan Data

Sebelum presentasi, Arsyad dan Lia melakukan uji coba cepat. Mereka menanam 50 bibit bakau di lahan kritis, membandingkan tiga kelompok:

  1. Kelompok Kontrol (Lumpur Biasa): Ditanam di pasir tandus Muara.
  2. Kelompok Kimia (Pupuk Pabrikan): Ditanam dengan pupuk urea standar.
  3. Kelompok Wasiat (Formula Benih Purba): Ditanam dengan substrat fermentasi Arsyad-Ema Warsih.

Meskipun baru beberapa hari, Lia mencatat perbedaan pertumbuhan yang mencolok pada Kelompok Wasiat. Pertumbuhan akarnya jauh lebih kuat, dan daunnya menunjukkan warna hijau yang lebih sehat—data yang cukup untuk mengamankan presentasi mereka.

“Kita siap, Syad,” kata Lia, menutup buku catatannya. “Angka-angka ini adalah benteng pertahanan kita. Besok kita hadapi Kuwu.”

Mereka telah mencapai kesepakatan bahwa Ilmu akan menjadi peluru yang ditembakkan di Balai Desa, tetapi Rasa akan menjadi sumber kekuatan yang mengisi peluru itu.

3.4 Penolakan di Balai Desa

Pukul sepuluh pagi. Suasana di Balai Desa terasa tegang dan formal. Ruangan yang biasanya kosong kini dipenuhi oleh Kuwu Asmara, didampingi oleh Ujang (berperan sebagai ‘Kepala Keamanan Proyek’), Sekretaris Desa, dan beberapa anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa) yang jelas-jelas tunduk pada Kuwu. Meja panjang di tengah ruangan berfungsi sebagai garis demarkasi psikologis.

Arsyad dan Lia duduk di hadapan mereka, ditemani Jabar yang membawa tas berisi sampel tanah dan bibit bakau unggul. Mereka membawa Memorandum Teknis—dokumen yang disusun oleh Lia, yang sengaja dibuat padat dengan jargon ilmiah dan data yang sulit dibantah.

Kuwu Asmara memulai pertemuan dengan nada otoriter yang dibuat-buat ramah. “Selamat datang kembali, Insinyur Arsyad. Dan selamat datang, Nona Lia, dari Jakarta. Saya dengar kalian membawa ‘Inovasi Lokal’ yang akan mengganggu Tata Ruang kita yang sudah rapi. Silakan, presentasikan, tapi tolong cepat. Waktu saya terbatas untuk mengurus izin pembangunan resor.”

Presentasi Senjata Data

Lia mengambil alih kendali presentasi, persis seperti yang direncanakan. Ia mengabaikan nada meremehkan Kuwu dan langsung meluncurkan serangan dengan Data.

“Terima kasih, Kuwu. Kami datang mewakili Koperasi Konservasi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli pada ekosistem estuari. Kami mengajukan izin untuk proyek rehabilitasi 1.000 bibit bakau di lahan kritis seluas satu hektar di Muara,” Lia memulai dengan suara profesional.

Lia kemudian memproyeksikan data hasil uji cepatnya di laptop Arsyad.

“Seperti yang Anda lihat di grafik ini, Kuwu, tanah di Muara saat ini memiliki pH yang sangat asam (4.5) karena kerusakan dan rembesan oli. pH ini menghambat pertumbuhan Propagul Rhizophora secara masif. Formula yang kami kembangkan, yang kami sebut Substrat Bioremediasi Organo-Mineral, berhasil menetralkan pH tanah menjadi 6.8 dalam waktu 48 jam.”

Lia menggunakan semua istilah ilmiah yang ia kuasai: Kalsium Karbonat, Biochar, Nutrien Retensi, dan Survival Rate. Ia menjelaskan bahwa substrat ini menjanjikan laju pertumbuhan 25% lebih cepat daripada metode penanaman tradisional, menjadikannya solusi cost-effective dan cepat. Ia bahkan menyebutkan potensi formula ini untuk direkomendasikan sebagai Best Practice oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Kuwu Asmara dan Sekretaris Desa tampak bingung. Mereka tidak mengerti istilah-istilah itu, tetapi mereka mengerti implikasi dari kata-kata seperti Cost-Effective, Inovasi, dan Kementerian. Kuwu, yang ingin menghindari kontroversi nasional, mulai gelisah.

“Ini… ini pupuk, ya?” tanya Kuwu, mencoba menyederhanakan.

“Ini lebih dari pupuk, Kuwu. Ini teknologi ekologis yang mengembalikan kesuburan bumi yang dicemari. Dan yang terbaik, ia dibuat dari bahan baku lokal Muara Cijulang, tanpa biaya impor,” sahut Arsyad, mengambil kesempatan untuk menyisipkan sedikit Rasa (kearifan lokal) ke dalam bahasa Ilmu.

Penolakan Berbasis Tata Ruang

Kuwu Asmara tahu ia tidak bisa menyerang data Lia. Ia harus mengubah arena pertempuran dari ilmiah ke birokrasi dan politik kekuasaan.

“Baik, Nona Lia. Saya mengapresiasi inovasi kalian. Tapi masalahnya bukan pada pupuk Anda. Masalahnya adalah pada Tata Ruang,” potong Kuwu Asmara, sambil tersenyum licik.

Ia mengambil peta lipat besar yang menunjukkan Muara Cijulang. Di peta itu, area yang diajukan Arsyad untuk penanaman telah ditandai dengan warna merah cerah, berlabel “Zona Pembangunan Resor dan Pantai Rekreasi.”

“Area yang kalian ajukan ini sudah kami plotkan untuk investasi jangka panjang, yang nilainya puluhan miliar rupiah bagi desa. Ini adalah lahan kuning yang akan dijual. Menanam bakau di sana, apalagi 1.000 bibit, sama saja dengan mengganggu rencana induk pembangunan yang sudah disahkan BPD,” Kuwu menjelaskan, menunjuk anggota BPD yang mengangguk kaku.

Ini adalah serangan yang cerdik. Kuwu mengubah masalah konservasi menjadi masalah legalitas dan nilai ekonomi. Ia mengklaim bahwa Wasiat Arsyad adalah takhayul yang mengganggu Tata Ruang Resor—proyek yang Kuwu klaim akan menyejahterakan warga.

“Kuwu, tapi tanah itu adalah area konservasi bakau alami!” protes Arsyad.

“Telah didegradasi, Arsyad. Dan kini, secara hukum desa, itu adalah lahan kering non-produktif,” balas Kuwu, memotong Arsyad dengan cepat. “Saya punya kewajiban untuk memprioritaskan kesejahteraan ekonomi yang instan. Proyek kalian, yang baru berjanji panen dalam lima tahun, mengganggu janji uang tunai hari ini.”

Ujang, yang selama ini diam, maju sedikit. “Lagipula, Sarjana. Kalau bakau itu tumbuh lagi, nanti menghalangi pemandangan pantai buat turis. Siapa yang mau resor di tengah hutan busuk?”

Deklarasi Perang Birokrasi

Kuwu Asmara mengakhiri presentasi tanpa memberi kesempatan Lia untuk membalas. Ia melipat peta itu dengan suara berdebum.

“Keputusan Balai Desa dan BPD, berdasarkan pertimbangan Tata Ruang, adalah Menolak Izin Proyek Penanaman Bakau di Muara Cijulang. Kalian dipersilakan menanamnya di pekarangan rumah kalian, atau di bukit Ema Warsih. Tapi tidak di zona pembangunan kami. Kecuali…” Kuwu Asmara mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapan predatornya mengunci Arsyad.

“Kecuali, Arsyad, kau bersedia menjual formula pupuk inovatif itu kepada kami. Kami bisa menggunakannya untuk menumbuhkan tanaman hias di resor kami. Kami bayar mahal. Jual Ilmu-mu, dan lupakan Rasa Adat kakekmu itu.”

Ini adalah godaan terakhir. Kuwu tidak hanya menolak izin; ia berusaha membeli formula itu untuk greenwashing proyeknya sendiri—menggunakan Wasiat untuk menumbuhkan kejahatan.

Lia, yang terkejut oleh manuver politik ini, hampir saja membantah. Tapi Arsyad menghentikannya dengan pandangan mata. Ia tahu, berdebat birokrasi di sini adalah sia-sia.

“Terima kasih atas tawaran Anda, Kuwu,” kata Arsyad, suaranya kini tenang. “Formula ini dibuat dengan Rasa Pangpung, dan tidak akan dijual untuk memuluskan kerakusan. Kami mengerti penolakan Anda. Tapi kami tidak akan berhenti. Jika kami tidak bisa menanam di lahan yang Anda klaim, kami akan menanam di lahan yang diakui oleh Adat.”

Arsyad, Lia, dan Jabar keluar dari Balai Desa dengan tangan kosong. Mereka kalah secara birokrasi, tetapi mereka telah mencapai tujuan tersembunyi mereka: Kuwu Asmara telah melihat kekuatan data mereka, dan godaan uangnya telah ditolak mentah-mentah.

Kekalahan ini adalah kemenangan strategis. Arsyad tahu, rencana selanjutnya adalah memindahkan pertempuran dari Balai Desa (politik Kuwu) ke Balai Pertemuan Nelayan (hati komunitas).

3.5 Membawa Proyek ke Skala Komunitas

Kekalahan di Balai Desa terasa pahit, tetapi bukan kejutan. Arsyad, Lia, dan Jabar kembali ke Dapur Wasiat dengan perasaan campur aduk. Lia, yang terbiasa menang dengan data, sangat frustrasi.

“Ini konyol, Syad! Mereka mengakui keunggulan formula kita, tapi menolaknya karena Tata Ruang? Itu alasan politik, bukan birokrasi!” Lia membanting tas laptopnya ke atas meja kayu. “Dia menggunakan hukum formal untuk melegalkan tindak kejahatannya. Kita kalah sebelum bertempur.”

Jabar mengangguk, namun lebih tenang. “Itu Kuwu Asmara, Li. Dia tidak pernah kalah di lapangan perizinan. Kita memang tidak akan bisa mengalahkan dia di kantornya. Sarjana Dukun, apa langkahmu? Bukankah kau bilang kau punya rencana Rasa?”

Arsyad tersenyum tipis. Ia mengusap Batu Akar Sejati yang selalu ia simpan di ranselnya. “Kekalahan itu adalah pembenaran. Kuwu memaksa kita untuk memilih arena pertempuran yang sebenarnya: hati Pangpung, bukan Balai Desa. Kita punya Wasiat, kita punya Ngawekas, dan kita punya Akar Sejati.”

“Kita akan menanam di lahan yang diakui oleh Adat, bukan oleh Kuwu Asmara,” deklarasi Arsyad. “Lahan yang disebut Ema Warsih sebagai Lahan Karuhun—zona penyangga yang tidak bisa disentuh oleh pembangunan komersial.”

Validasi GIS terhadap Peta Adat

Rencana Arsyad adalah menggunakan Ilmu Kertas Lia untuk memvalidasi Ilmu Luhung Ema Warsih. Arsyad meminta Lia untuk membandingkan peta Tata Ruang Kuwu dengan peta historis Muara dan data Geospasial (GIS) yang ia bawa dari Jakarta.

Ema Warsih menyediakan Peta Adat Pangpung—selembar kain usang yang digambar dengan tangan. Peta itu menunjukkan batas-batas fisik dengan simbol-simbol kuno: Batas Tiga Pohon Bakau Seribu Tahun, Garis Lumpur Suci, dan Tempat Pasang Paling Tinggi.

Lia, seorang penganut keras presisi satelit, awalnya merasa lucu melihat ‘peta’ itu. Namun, ia menyusun laptop dan memulai pekerjaannya.

  1. Overlay Citra Satelit: Lia mengambil citra satelit resolusi tinggi dari Muara Cijulang (data arsip dari masa sebelum pengerukan Kuwu) dan meng-overlay-nya dengan Peta Adat.
  2. Korelasi Ekologis: Ia terkejut. Garis Batas Tiga Pohon Bakau Seribu Tahun yang ditandai Ema Warsih ternyata berkorelasi dengan zona sedimentasi optimal yang diidentifikasi oleh analisis geospasial. Garis Lumpur Suci berada tepat di area dengan kandungan organik tertinggi yang juga memiliki risiko erosi terendah.
  3. Identifikasi Lahan Karuhun: Lia mengidentifikasi sepetak lahan kecil (sekitar satu hektar) di tepi Muara, yang secara historis memiliki bakau paling lebat dan paling tua, tetapi secara resmi tidak termasuk dalam peta Tata Ruang Kuwu—seperti forgotten territory. Anehnya, lahan ini juga ditandai dalam Peta Adat sebagai Lahan Ngawekas, zona yang dilindungi secara mutlak oleh Karuhun.

Lia menoleh ke Arsyad dengan mata berbinar, ekspresi campur aduk antara keheranan ilmiah dan penghormatan.

“Syad, peta adat ini gila. Batas-batas Karuhun ini… ini bukan batas spiritual, ini batas ekologis yang sempurna. Kakekmu dan leluhurmu tidak butuh alat GIS untuk memetakan Muara. Mereka tahu di mana tempat terbaik untuk menanam. Aku bisa memverifikasi Lahan Ngawekas ini dengan akurasi sentimeter. Secara teknis, Kuwu tidak memiliki kewenangan penuh atas lahan ini, karena ia bukan bagian dari zona resor yang diprioritaskan Kuwu.”

Sintesis tercapai. Ilmu Kertas (GIS) memvalidasi Ilmu Luhung (Peta Adat).

Menggerakkan Hati Komunitas

Dengan data dan Rasa di tangan, Arsyad dan tim tahu bahwa kini saatnya menggerakkan massa. Tugas ini jatuh ke tangan Jabar, yang memiliki jaringan sosial terkuat di antara pemuda dan nelayan.

Jabar segera memanggil Rapat Adat di Balai Pertemuan Nelayan—sebuah bangunan kayu tua yang jauh dari jangkauan Kuwu dan Balai Desa. Rapat ini dihadiri oleh Mang Darta (tokoh nelayan tua yang skeptis), Mang Udin, dan puluhan pemuda serta nelayan yang sudah lama pasrah pada Kuwu.

Arsyad berdiri di depan kerumunan, membawa Naskah Lontar kakeknya dan Batu Akar Sejati. Lia berdiri di sampingnya, membawa laptop dengan grafik GIS dan data ilmiah. Ini adalah presentasi Papada Rasa yang sebenarnya.

Arsyad memulai dengan narasi: Ia tidak berbicara tentang uang, ia berbicara tentang martabat.

“Kita baru saja ditolak oleh Kuwu Asmara di Balai Desa. Dia bilang proyek kita mengganggu pembangunan resor. Dia bilang Wasiat kakekku adalah takhayul yang mengganggu rencana puluhan miliar rupiahnya,” Arsyad memulai dengan tenang. “Tapi Kuwu berbohong. Ia tidak hanya menjual pasir, ia menjual jiwa Pangpung kepada Naga Mangsa.”

Ia kemudian menunjukkan bukti sabotase—bibit yang mati dan tanah yang tercemar oli. “Racun Mesin Diesel Kuwu membunuh anak-anak hutan kita. Formula kimia yang murah dan cepat ini adalah bentuk keputusasaan. Kuwu ingin kita tunduk pada ketergantungan.”

Kemudian, Arsyad melakukan transisi ke solusi, menyatukan Rasa dan Ilmu.

“Aku tidak datang dengan takhayul, aku datang dengan Ilmu Luhung kakekku. Wasiat ini adalah sains yang dienkripsi dalam puisi. Lihatlah.” Arsyad menunjuk ke Lia. “Nona Lia dari Jakarta, seorang ahli kehutanan yang terlatih, telah memvalidasi Wasiat ini. Ia membuktikan bahwa bubuk kerang dan humus lokal menghasilkan substrat yang empat kali lebih unggul daripada pupuk pabrikan.”

Lia mengambil alih, berbicara dalam bahasa yang disederhanakan, tetapi dengan kredibilitas ilmiah. “Data satelit saya menunjukkan bahwa Kuwu mencaplok lahan suci untuk resornya. Tapi di Lahan Ngawekas, tanah di sana sempurna untuk bakau. Kami tidak meminta izin Kuwu. Kami meminta izin dari Karuhun untuk menanam di Lahan Ngawekas.”

Mang Darta, yang selama ini skeptis, angkat bicara. “Lahan Ngawekas itu… itu tanah keramat, Syad. Sudah puluhan tahun tidak ada yang berani menyentuhnya. Jika kita menanam di sana, Kuwu akan marah besar, tapi dia tidak bisa menyentuh kita karena itu Pamali.”

Mang Darta tersenyum, senyum yang menunjukkan harapan dan keberanian. “Saya sudah lelah menjadi kuli pasir. Saya lelah melihat Muara mati. Jika Wasiat ini benar-benar mengembalikan Rasa dan martabat kita, saya akan ikut. Kami tidak punya apa-apa lagi selain janji suci leluhur.”

Keputusan komunitas bulat: Proyek ditolak secara birokrasi, tetapi disahkan secara adat.

Peluncuran Misi Penanaman (Operasi Ngawekas)

Dengan dukungan komunitas, Arsyad, Lia, dan Jabar segera meluncurkan Operasi Ngawekas.

Keesokan harinya, puluhan pemuda dan nelayan, yang dipimpin oleh Jabar, mulai memindahkan formula Wasiat Benih Purba dari Dapur Wasiat ke Lahan Ngawekas. Mereka bekerja dalam keheningan yang penuh hormat, tahu bahwa mereka sedang melanggar Tata Ruang Kuwu Asmara, tetapi menunaikan Tali Paranti Adat.

Di Lahan Ngawekas, Arsyad memimpin prosesi penanaman 1.000 bibit pertama. Lia dan Jabar mengawasi aspek teknis, memastikan setiap bibit ditanam dengan jumlah substrat yang tepat. Arsyad memastikan setiap bibit ditanam dengan Rasa yang tepat—sebelum menanam, ia memimpin doa singkat memohon restu Karuhun.

Ini adalah demonstrasi kekuatan baru Pangpung: Kekuatan Komunitas yang Dipandu oleh Ilmu dan Adat.

Namun, Kuwu Asmara tidak bodoh. Saat penanaman mencapai puncaknya, dari kejauhan terlihat motor trail Ujang melaju kencang ke arah mereka, diikuti oleh sebuah mobil patroli desa. Konfrontasi fisik yang dihindari di Balai Desa kini tidak terhindarkan di Lahan Ngawekas.

3.6 Tumbuh Tunas Jati Diri

Suasana di Lahan Ngawekas berubah dari khidmat menjadi tegang. Di tengah proses penanaman bibit ke-900, rombongan Kuwu Asmara tiba. Kuwu datang dengan mobil sedan dinas, didampingi Ujang yang mengendarai motor trail dengan wajah yang bengis, diikuti oleh mobil patroli desa.

Mereka berhenti tepat di batas Lahan Ngawekas yang baru saja ditandai dengan bendera adat oleh Jabar. Kuwu Asmara keluar dari mobilnya, mengenakan kemeja safari yang rapi, sangat kontras dengan lumpur dan keringat yang membalut para nelayan.

“Hentikan! Hentikan tindakan ilegal ini!” teriak Kuwu Asmara, suaranya memantul di muara. “Arsyad! Kalian melanggar keputusan resmi Balai Desa! Kalian tidak punya izin! Kalian menanam takhayul di lahan yang sudah dipetakan untuk pengembangan wisata! Aku perintahkan kalian cabut semua bibit itu sekarang, atau Ujang akan melakukannya dengan paksa!”

Ujang segera turun dari motornya, mengambil linggis panjang yang tersimpan di bagasi mobil patroli, dan mulai berjalan ke arah nelayan dengan langkah mengancam.

Konfrontasi: Rasa Melawan Kekuasaan

Arsyad maju, berdiri tegak di depan barisan nelayan yang kini mulai gentar, termasuk Mang Darta dan Mang Udin. Lia berdiri di samping Arsyad, tangannya memegang laptop dan alat uji portabel.

“Kuwu, kami tidak melanggar hukum. Kami menanam di Lahan Ngawekas—lahan yang diakui oleh Peta Adat Pangpung sebagai zona konservasi. Lahan ini tidak termasuk dalam Tata Ruang yang Anda tunjukkan di Balai Desa,” balas Arsyad, suaranya tenang namun tegas.

“Peta Adat? Itu omong kosong! Takhayul!” Kuwu meludah ke lumpur. “Takhayul tidak punya kekuatan hukum! Ini adalah lahan kosong milik negara, dan saya akan menjualnya untuk kemajuan! Ujang, hancurkan tiga baris bibit pertama! Tunjukkan pada Sarjana ini siapa yang berkuasa di Pangpung!”

Ujang mulai mendekat. Nelayan-nelayan mundur sedikit, takut pada kekerasan yang dibawa oleh preman Kuwu. Inilah titik kritisnya: akankah janji Ngawekas Arsyad bertahan melawan kekerasan fisik Kuwu?

Tepat ketika Ujang mengangkat linggisnya, Lia berteriak.

“Tunggu, Kuwu! Sebelum Anda menghancurkan, silakan lihat data ini!”

Lia berlari ke barisan bibit yang paling awal ditanam—bibit yang disuburkan dengan Wasiat Benih Purba dua minggu lalu. Ia berlutut di sebelah bibit kecil itu.

Klimaks Ilmiah: Validasi Survival Rate 85%

“Kuwu, Anda bilang ini takhayul?” Lia menantang, dengan laptop di tangannya. “Kami tidak menanam takhayul, kami menanam sains terbaik!”

Lia dengan cepat menunjukkan perbandingan tiga baris bibit yang ditanam sebagai uji coba lapangan skala kecil (seperti yang disiapkan di 3.3).

  1. Barisan Kontrol: Bibit yang ditanam di pasir tandus. Survival Rate 10%. Akarnya lemah, daunnya menguning.
  2. Barisan Kimia: Bibit yang ditanam dengan pupuk urea standar. Survival Rate 40%. Pertumbuhan cepat, tapi akarnya rapuh (seperti yang diprediksi Arsyad).
  3. Barisan Wasiat (Benih Purba): Bibit yang ditanam dengan formula Arsyad-Ema Warsih.

Lia menyajikan data yang paling krusial. “Dari 100 bibit yang kami tanam di lahan yang sama, bibit Wasiat Benih Purba menunjukkan Survival Rate 85%!

Angka 85% adalah angka yang luar biasa tinggi untuk lahan yang sangat terdegradasi. Angka itu langsung menyerang logika Kuwu Asmara dan Ujang.

“Laju pertumbuhan akar (root mass) pada kelompok Wasiat 80% lebih besar dari kontrol,” lanjut Lia, menantang Kuwu secara visual dan ilmiah. “Kuwu, Anda bisa menghancurkan batang pohon ini dengan linggis. Tapi Anda tidak bisa menghancurkan data ini. Bibit ini sehat karena Wasiat kakek Arsyad telah menetralisir racun di tanah Anda. Anda akan menghancurkan inovasi ilmiah yang bisa memulihkan semua bakau di kawasan ini!”

Kuwu Asmara terkejut. Ia mengerti bahwa 85% adalah angka keberhasilan yang sangat tinggi, yang bisa menarik perhatian media, bahkan pemerintah pusat. Menghancurkan bibit itu sekarang berarti menghancurkan proyek ilmiah yang terbukti.

Tumbuh Tunas Jati Diri

Di saat Kuwu Asmara masih ragu, Arsyad mengambil alih panggung moral. Ia berlutut di samping bibit Wasiat, memeluknya dengan hormat.

“Kuwu, Anda mengatakan Wasiat ini takhayul. Tapi Anda tidak bisa menolak kenyataan bahwa tunas ini tumbuh,” ujar Arsyad, menunjuk tunas muda yang terlihat kuat. “Tunas ini bukan hanya bakau, Kuwu. Ia adalah Tunas Jati Diri Pangpung yang tumbuh kembali setelah Anda mencabut Akar Sejati-nya. Nelayan ini, mereka tidak menanam bakau untuk uang. Mereka menanam untuk martabat yang Anda curi!”

Mang Udin dan Mang Darta, yang telah melihat Kuwu Asmara bimbang di hadapan Lia dan data-data itu, maju. Puluhan nelayan lain yang tadinya pasif kini berdiri tegak, membentuk barisan manusia di sekeliling Arsyad dan bibit-bibit.

“Kami sudah lelah menjadi kuli pasir, Kuwu,” kata Mang Darta, suaranya kini penuh keberanian. “Kami akan menjaga Tunas Jati Diri ini, karena dia menjanjikan ikan, bukan janji palsu resor Anda!”

Kuwu Asmara menyadari bahwa ia telah kalah di arena ini. Jika ia memerintahkan Ujang untuk menyerang sekarang, ia akan memicu kerusuhan komunal di depan saksi dari LSM dan data ilmiah. Kerusuhan itu akan menarik perhatian yang ia hindari. Ia telah kalah moral dan kalah data.

Wajah Kuwu memerah. Ia memberi isyarat marah kepada Ujang untuk menurunkan linggisnya.

“Baik!” teriak Kuwu Asmara, menunjuk ke Arsyad. “Kalian menangkan pertarungan lumpur ini. Tapi jangan harap kalian bisa menang di meja hukum! Aku akan gugat kalian karena menghambat investasi!”

Kuwu Asmara dan rombongannya pergi dengan rasa malu, meninggalkan Ujang yang menatap tajam ke arah Arsyad dan Lia.

Penguatan Papada Rasa

Ketika ketegangan mereda, kegembiraan meluap di Lahan Ngawekas. Nelayan bersorak. Tunas Jati Diri telah tumbuh dan berhasil melawan ancaman Mesin Diesel.

Lia menutup laptopnya, menatap Arsyad dengan kekaguman yang mendalam. “Arsyad, kau benar. Data itu hanya kulitnya. Rasa adalah yang membuat mereka berani melawan Kuwu.”

Lia meraih tangan Arsyad. “Aku mengakui keunggulan Wasiat. Formula ini luar biasa, Syad. Aku akan mendedikasikan semua ilmuku untuk ini.”

Mereka berbagi pandangan yang dalam, sebuah momen pengakuan timbal balik: Lia mengakui keunggulan Rasa (Adat), dan Arsyad diyakinkan bahwa Ilmu (Data) adalah benteng yang tidak bisa ditembus oleh Kuwu. Papada Rasa telah mencapai klimaksnya.

Arsyad tahu, kemenangan ini hanya awal. Kuwu Asmara akan membalas dengan gugatan hukum (4.6). Mereka harus bersiap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *