Kata Pengantar
PAPADA RASA – Mengukir Janji di Atas Lumpur
Di manakah letak kebijaksanaan sejati? Apakah ia tersimpan rapi dalam gelar akademis yang harum dan lembar data yang presisi? Atau ia tersembunyi, tersamar dalam bisikan para leluhur, di dalam lumpur yang kotor, dan di tengah aroma fermentasi hutan bakau?
Kisah ini lahir dari krisis Muara Cijulang, permata ekologis yang di ambang kehancuran. Muara itu sedang disantap habis oleh Naga Mangsa—wujud purba dari keserakahan dan korupsi.
Inilah kisah tentang Arsyad, seorang sarjana kehutanan yang pulang ke rumahnya, Pangpung, membawa ijazah dan teori yang gagal total di hadapan kengerian lumpur yang diracuni. Ia harus mengakui bahwa Ilmu Kertas yang ia miliki terasa mandul dan tumpul. Untuk menyelamatkan Muara dan memenuhi Ngawekas (Janji Suci) leluhurnya, ia harus kembali ke asal: Ilmu Luhung, kearifan yang diwariskan oleh Pini Sepuh seperti Ema Warsih.
Ia menemukan sekutu tak terduga dalam diri Lia, seorang ahli data konservasi dari Ibu Kota. Lia, yang mulanya hanya percaya pada presisi GIS dan statistik, dipaksa untuk mengakui bahwa data Ilmu Kertas mereka hanya akan menang jika dibungkus oleh Rasa—kekuatan moral dan komitmen spiritual komunitas.
Novel ini adalah perjalanan panjang mereka untuk mencapai Papada Rasa—penyatuan jiwa, kearifan, dan ilmu—yang menjadi satu-satunya senjata yang mampu melawan mesin Kuwu Asmara dan Naga Mangsa Global di meja bundar pasar Karbon Biru internasional.
Saksikanlah bagaimana perjuangan ini mengubah kekalahan menjadi kemenangan, bagaimana lumpur menjadi laboratorium, dan bagaimana Tali Paranti (Warisan Adat) bukan hanya menjadi mitos, tetapi menjadi Garansi Kualitas Etika yang diakui dan dibayar mahal oleh dunia. Inilah janji abadi Pangpung: Bukti bahwa ketika sebuah komunitas kembali ke akarnya dan berani bertindak dengan Rasa yang dibimbing oleh Ilmu, tidak ada kehancuran yang tidak dapat dipulihkan.
Penulis.
Kheri Arionadi Shobirin, S.Si., M.T.
Pernyataan Fiksi
Seluruh karakter, peristiwa, dialog, dan latar tempat yang disajikan dalam novel ini, termasuk Muara Cijulang, Desa Pangpung, Koperasi Tunas Karuhun, dan formula “Wasiat Benih Purba,” adalah fiksi murni dan merupakan produk imajinasi penulis.
Meskipun novel ini terinspirasi oleh isu-isu nyata terkait konservasi, kearifan lokal, dan konflik agraria di Indonesia, karakter seperti Arsyad, Lia, Kuwu Asmara, Ema Warsih, dan organisasi seperti PT. ADIGUNA PARIGI dan Global Carbon Fund (GCF) adalah ciptaan fiktif yang digunakan semata-mata untuk tujuan naratif. Kesamaan nama, tempat, atau kejadian dengan fakta historis yang ada atau yang masih berlangsung adalah murni kebetulan.
Hak Cipta
Judul : PAPADA RASA: Mengukir Janji Abadi di Atas Lumpur
Penulis : Kheri Arionadi Shobirin, S.Si., M.T.
Penerbit : Kheri Arionadi Shobirin
Terbit : 2025
Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak ada bagian dari buku ini yang boleh direproduksi, disimpan dalam sistem perolehan kembali, atau ditransmisikan dalam bentuk apa pun atau dengan cara apa pun, elektronik, mekanis, fotokopi, rekaman, atau lainnya, tanpa izin tertulis sebelumnya dari penulis atau penerbit.
Pelanggaran terhadap ketentuan di atas merupakan pelanggaran hak cipta dan dapat dituntut secara hukum.
Integritas Data dan Ilmu Kertas
Novel ini secara tematik mengeksplorasi hubungan antara ilmu pengetahuan modern (Ilmu Kertas) dan kearifan ekologis tradisional (Ilmu Luhung). Oleh karena itu, novel ini memuat berbagai terminologi dan angka ilmiah yang spesifik, termasuk:
- Metodologi Ilmiah: Prinsip-prinsip konservasi, bioremediation, analisis GIS (Geographic Information System), dan pasar Blue Carbon yang disajikan adalah konsep ilmiah yang valid.
- Data Fiktif: Namun, seluruh angka, persentase, dan formula yang disebutkan—seperti 85% tingkat kelangsungan hidup bakau, tingkat bagi hasil 60:40 Koperasi, nilai moneter spesifik Karbon Biru (Rp 45 miliar), dan protokol rinci Wasiat Benih Purba—adalah sepenuhnya fiktif. Angka-angka ini digunakan untuk mendukung struktur naratif, mengukur konflik, dan mewujudkan janji plot.
Pembaca disarankan untuk tidak menggunakan angka-angka atau protokol dalam novel ini sebagai panduan ilmiah, hukum, atau finansial. Nilai sejati dari cerita ini terletak pada etika dan semangat Papada Rasa, bukan pada data yang diklaim di dalamnya.
Sinopsis Panjang
Wasiat Sang sarjana: Ilmu, Rasa dan Kebangkitan Pangpung
Setelah bertahun-tahun merantau demi gelar Sarjana Kehutanan, Arsyad kembali ke Pangpung, desa nelayan Cijulang, hanya untuk mencium Aroma Pengkhianatan di Muara. Bakau yang dulu subur kini menjadi kubangan pasir, panggung suci Ngaruat Jagat telah rata, dan laut kehilangan ikannya. Ilmu kertas yang ia bawa dari IPB terasa mandul di hadapan kehancuran ekologis dan spiritual yang didalangi oleh Kuwu Asmara yang korup.
Arsyad harus menanggalkan arogansi ilmiahnya dan mencari Ema Warsih, Pini Sepuh desa. Di sana, ia menemukan Wasiat Mencari Siki Jati Diri, naskah kuno yang berisi resep lumpur ajaib: Wasiat Benih Purba—formula adat untuk menghidupkan kembali bakau. Arsyad, dibantu Lia, rekan aktivis dari Jakarta yang datang membawa validasi ilmiah, harus menyintesis ilmu dan kearifan lokal.
Perjuangan ini bukan hanya tentang bibit, melainkan tentang Papada Rasa—kemitraan yang dipaksakan melawan Kuwu Asmara dan preman-premannya. Dari sabotase traktor, ancaman di malam hari, hingga tuntutan hukum, Arsyad menggunakan benteng moral Silih Asih (Kasih Sayang Komunal) dan strategi anti-kapitalis untuk membalikkan posisi Kuwu.
Puncaknya, setelah berhasil menghidupkan kembali ekosistem dan ekonomi baru (Tunas Karuhun), Arsyad dan Lia harus menghadapi ancaman global: broker Karbon Biru yang mencoba membeli hak eksklusif hutan mereka. Di meja bundar konferensi internasional, Arsyad harus menetapkan Harga Rasa yang Tak Terkalahkan, membuktikan bahwa Tali Paranti (Warisan Adat) adalah garansi perlindungan terbaik di dunia modern.
Ini adalah epik tentang kepulangan, penyatuan ilmu dan batin, dan janji abadi untuk Tunas Karuhun—generasi baru yang akan menjaga Warisan Cijulang.


