Akar yang Kembali ke Langit
Anda telah menyaksikan perjalanan panjang Desa Pangpung. Dari kehancuran yang berbau diesel dan pasir gosong, hingga kemenangan etika di meja bundar global. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah desa kecil berhasil menaklukkan Naga Mangsa—keserakahan yang berwujud Kuwu Asmara, korporasi raksasa, dan godaan uang Karbon Biru yang tak terbatas.
Namun, kemenangan ini bukan diraih oleh uang. Ia diraih oleh sebuah penemuan kembali: Papada Rasa.
Arsyad, sang sarjana yang dulunya tuli oleh data, akhirnya mendengar bisikan Ilmu Luhung dari Ema Warsih. Lia, sang ahli data yang hanya percaya pada angka, akhirnya memberi jiwa pada ilmu tersebut. Bersama-sama, mereka membuktikan bahwa Ilmu Kertas dan Kearifan Adat bukanlah musuh, melainkan Dua Sayap yang harus bekerja sama untuk mencapai keberlanjutan sejati.
Warisan sejati Pangpung bukanlah kekayaan dari Karbon Biru, melainkan Harga Diri yang tak terhingga. Mereka berhasil memaksa pasar global untuk menerima Tali Paranti—janji suci leluhur—sebagai klausul kontrak yang sah, menjamin bahwa kekayaan hanya akan digunakan untuk memelihara Rasa dan mendidik Generasi Cikal.
Kisah ini adalah pengingat bahwa di setiap komunitas, terlepas dari seberapa modern atau majunya, selalu ada Wasiat Benih Purba yang menanti untuk ditemukan.
Papada Rasa telah tercapai. Tunas Karuhun berdiri kokoh.
Kini, pertanyaan itu beralih kepada Anda, Pembaca. Di manakah letak Muara Cijulang Anda? Dan Wasiat Benih Purba apa yang Anda miliki untuk mempertahankan Akar Sejati di hati Anda?
Tanjung Redeb, Desember 2025
Penulis
Kheri Arionadi Shobirin, S.Si., M.T.
Janji Suci di hadapan Tali Paranti
Anda Telah Menyelesaikan Kisah Kemenangan Rasa Melawan Naga Mangsa. Kini, Uji Komitmen Anda Sendiri.
Anda telah mengikuti perjalanan Arsyad dan Lia dari lumpur Muara Cijulang hingga meja bundar Karbon Biru global. Anda telah melihat bagaimana mereka berjuang melawan Naga Mangsa—wujud purba dari keserakahan —yang mencoba mengambil keuntungan dari hasil jerih payah orang lain.
Maka, izinkan kami mengajukan pertanyaan reflektif:
Anda telah mendapatkan Ilmu dan Rasa dari kisah ini. Namun, jika Anda memperoleh novel ini tanpa membeli dari merchant resmi, Anda secara tidak sengaja telah berpartisipasi dalam kerugian moral yang dialami Tunas Karuhun—memisahkan hasil karya (Ilmu Kertas) dari hak penciptanya.
Inilah saatnya menunaikan Ngawekas Anda sendiri.
Tetapkan Harga Diri Anda dan Bayar Rasa Karya Ini
Kami tidak meminta Anda membeli buku kedua. Kami meminta Anda menunaikan komitmen moral, sebuah Janji Suci, kepada penulis, yang telah mendedikasikan waktu dan pengalamannya untuk mengubah kompleksitas Ilmu Luhung menjadi sebuah kisah.
Donasi Anda BUKAN sekadar pembayaran, tetapi merupakan:
- Pengakuan Tali Paranti: Anda mengakui bahwa sebuah karya, seperti hutan bakau, memiliki nilai yang harus dijaga.
- Investasi Generasi Cikal: Dana ini akan dialokasikan untuk mendukung proyek-proyek pendidikan dan Pusat Studi Ema Warsih di Pangandaran, sesuai dengan etos yang diperjuangkan Arsyad dan Lia.
- Penolakan Naga Mangsa: Anda memilih Rasa daripada konsumsi gratis. Anda menetapkan Harga Diri Anda.
Jika novel ini telah menginspirasi Anda untuk bertindak, tunjukkanlah bahwa Anda telah memahami esensi dari Papada Rasa.
Jika Anda Belum Membeli Karya Ini.
Hormati Rasa dan segera Kirim Donasi Sukarela-nya

Biografi Penulis
Penulis novel PAPADA RASA: Mengukir Janji Abadi di Atas Lumpur adalah Kheri Arionadi Shobirin, S.Si., M.T..
Meskipun lahir di Merauke, Papua, Kheri Arionadi Shobirin adalah asli Sunda Ciamis yang identik dengan karakteristik fisik kulit putih dan mata sipit. Menghabiskan masa kecilnya di daerah pesisir Pangandaran. Kedekatan emosional dan fisik dengan ekosistem pantai dan hutan bakau inilah yang membentuk Rasa mendalamnya terhadap alam dan kearifan lokal.
Latar belakang pendidikan formal penulis mencerminkan perjalanan sintesis antara Rasa dan Ilmu:
- Penulis menempuh pendidikan di SDN 1 Kedungwuluh. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Padaherang dan terus menempuh pendidikan di SMAN 1 Ciamis.
- Meraih gelar Sarjana Sains (S.Si.) dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan menyelesaikan studi Magister Teknik (M.T.) di Universitas Udayana (Udayana).
Pengalaman hidup Kheri yang berakar di tanah Sunda (Ciamis dan Pangandaran) dan didukung oleh pendidikan ilmiah (IPB dan Udayana), menjadikannya sosok yang ideal untuk mengeksplorasi konflik dan harmonisasi antara Data Global dan Kearifan Lokal yang menjadi jantung narasi Papada Rasa.
Melalui karyanya, Kheri Arionadi Shobirin bukan hanya menyajikan sebuah fiksi, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana seorang anak Sunda menemukan bahwa solusi untuk krisis lingkungan modern harus selalu berpulang pada janji suci Tali Paranti dan kebijaksanaan Ilmu Luhung yang diturunkan oleh leluhurnya.


