Peringkat Sebelas dan Pelajaran tentang Kejujuran

Posted on

(Sebuah Kisah tentang Pendidikan, Kejujuran, dan Tanggung Jawab Moral Sekolah)

Hujan turun perlahan sore itu, seperti sengaja menunda jatuhnya agar tidak terlalu menyakitkan. Langit kelabu menggantung rendah di atas sebuah rumah sederhana. Di ruang tamu yang tak luas, seorang anak perempuan duduk diam, mengenakan jilbab putih yang rapi namun telah memudar warnanya oleh waktu dan cucian yang berulang.

Di tangannya, selembar rapor semester pertama terlipat rapi.
Di dadanya, ada kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Ayahnya baru saja pulang bekerja. Wajahnya lelah, bajunya masih belum diganti. Namun seperti biasa, matanya tetap menyimpan keteduhan. Ia duduk berhadapan dengan anaknya, menunggu tanpa bertanya. Ia tahu, keheningan itu bukan tanpa isi.

“Yah…”
Suara itu pelan. Hampir seperti takut terdengar.

“Iya, Nak.”

Anak itu menunduk. Tangannya saling menggenggam, seolah menahan sesuatu yang ingin runtuh.

“Maaf, Yah… nilai raporku nggak sebaik nilai teman-teman.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas.
“Aku ranking sebelas.”

Angka itu bukan angka besar. Bukan pula angka yang buruk. Namun bagi seorang anak yang jujur di tengah sistem yang tidak sepenuhnya jujur, angka itu terasa seperti vonis yang sunyi.

Anak itu melanjutkan, suaranya mulai bergetar.

“Teman-temanku hampir semuanya nyontek. Waktu ulangan harian, tengah semester, sampai akhir semester. Mereka saling berbagi jawaban. Kadang terang-terangan.”
Matanya mulai basah.
“Aku ingat pesan Ayah untuk tidak mencontek. Jadi aku nggak ikut. Tapi mungkin karena itu nilaiku jadi biasa saja. Jadi… maaf kalau aku mengecewakan Ayah.”

Kalimat terakhir itu nyaris tak terdengar.

Ayah tidak langsung menjawab. Ia menatap anaknya lama. Sangat lama.
Lalu ia tersenyum—senyum yang tidak lahir dari ekspektasi, melainkan dari kasih.

Ia mengusap kepala anaknya perlahan.

“Ayah tidak menuntut kamu dapat nilai paling tinggi,” katanya lembut.
“Ayah tidak menuntut kamu ranking satu.”

Anak itu mengangkat wajahnya, terkejut.

“Ayah hanya ingin melihat usaha dan kejujuranmu,” lanjutnya.
“Nilai bisa diperbaiki. Tapi kejujuran—kalau rusak sejak kecil—akan sulit diperbaiki saat dewasa.”

Air mata anak itu jatuh. Kali ini bukan karena sedih, melainkan karena merasa dimengerti.


Semester yang Berulang, Ketidakadilan yang Sama

Semester pertama berlalu.
Lalu semester kedua.
Semester ketiga.
Semester keempat.

Dan cerita itu terus berulang.

Setiap pembagian rapor, anak itu pulang dengan ekspresi yang hampir sama: lelah, sedikit kecewa, namun tetap berusaha tersenyum. Rangkingnya naik-turun, tak pernah masuk lima besar. Sementara itu, beberapa teman yang ia tahu sering mencontek justru konsisten berada di peringkat atas.

Di ruang kelas, pemandangan itu menjadi rutinitas.

Kertas jawaban berpindah tangan.
Bisikan pendek terdengar di sela-sela batuk pura-pura.
Tatapan mata menjadi kode.

Lebih menyedihkan lagi, tidak semua itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kadang terjadi di hadapan guru. Dan sering kali, respons yang muncul hanyalah diam.

“Yang penting anak-anak lulus.”
“Kasihan nanti kalau nilainya jelek.”
“Sudah biasa.”

Kata biasa itu terdengar sederhana. Namun justru di sanalah masalahnya.

Ketika kecurangan dianggap biasa, maka kejujuran perlahan menjadi anomali.
Ketika mencontek dibiarkan, maka integritas kehilangan makna.

Anak itu pulang dan bercerita pada ayahnya. Dan ayahnya selalu menjawab dengan nada yang sama—tenang, konsisten, dan teguh:

“Teruslah jujur, Nak. Meski hasilnya tidak selalu adil.”

Anak itu belajar lebih keras.
Belajar di luar jam sekolah.
Mengulang materi yang belum dipahami.
Mengerjakan soal tanpa jalan pintas.

Namun di dalam hatinya, sering muncul pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan:
Apa gunanya kejujuran jika yang curang selalu menang?


Ujian yang Mengubah Segalanya

Menjelang semester kelima, sesuatu yang berbeda terjadi.

Pemerintah mengumumkan Tes Kemampuan Akademik Nasional.
Pengawas ujian bukan lagi guru dari sekolah masing-masing, melainkan ditukar secara acak antar sekolah di setiap daerah.

Hari ujian tiba.

Suasana ruang kelas berubah drastis.
Tidak ada bisikan.
Tidak ada kode.
Tidak ada celah.

Pengawas berdiri tegas.
Setiap siswa duduk sendiri, berjarak.

Anak itu membuka lembar soal. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, tetapi karena sadar: untuk pertama kalinya, semua berada di garis yang sama.

Soal demi soal ia kerjakan. Ada yang sulit. Ada yang membuatnya berpikir lama. Namun semuanya terasa jujur. Tidak ada rasa was-was. Tidak ada rasa bersalah.

Ia pulang dengan hati tenang.


Hasil yang Menjawab Segalanya

Liburan akhir tahun tiba.

Suatu pagi, anak itu berlari masuk ke rumah. Nafasnya terengah. Wajahnya bersinar. Di tangannya, selembar kertas yang ia genggam erat.

“Yah!”
“Hasil TKA sudah keluar!”

Ayah menerima kertas itu. Membacanya perlahan.

Peringkat kedua di kelas.
Selisih dengan peringkat pertama hanya dua poin, dari skala maksimal lima ratus.

Ayah terdiam. Matanya berkaca-kaca.

Anak itu tersenyum lebar, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Yah…” katanya terisak,
“ternyata aku bisa ranking dua… kalau mereka nggak bisa nyontek.”

Kalimat itu sederhana. Namun mengandung kebenaran yang menyakitkan sekaligus membebaskan.

Ayah memeluk anaknya erat. Lama. Seolah ingin memeluk seluruh proses panjang yang selama ini tidak terlihat oleh angka di rapor.

“Inilah yang Ayah maksud,” katanya pelan.
“Kejujuran mungkin tidak selalu cepat membuahkan hasil. Tapi ia tidak pernah mengkhianati.”


Catatan Penting untuk Dunia Pendidikan

Kisah ini bukan tentang satu anak.
Dan bukan pula tentang satu ayah.

Ini adalah cermin bagi sistem pendidikan kita.

Ketika sekolah membiarkan kecurangan demi angka kelulusan, sesungguhnya yang sedang dikorbankan adalah karakter generasi masa depan.
Ketika guru menutup mata terhadap mencontek, maka sekolah sedang mengirim pesan diam-diam bahwa integritas bisa ditawar.

Perilaku curang tidak berhenti di ruang kelas.
Ia tumbuh.

Dari mencontek menjadi manipulasi.
Dari manipulasi menjadi penyalahgunaan wewenang.
Dan pada skala yang lebih besar, ia menjadi akar dari praktik korupsi yang kita sesalkan hari ini.

Sekolah seharusnya bukan sekadar tempat mencetak nilai, tetapi ruang aman untuk menanamkan nilai.


Penutup: Kemenangan yang Sesungguhnya

Hari itu tidak ada pesta.
Tidak ada perayaan mewah.

Hanya seorang ayah dan anak yang duduk berdampingan, dengan rasa syukur yang tenang.

Seorang ayah yang berhasil mendidik anaknya menjadi manusia jujur.
Seorang anak yang belajar bahwa peringkat tertinggi bukan di rapor, melainkan di hati dan karakter.

Dan hujan di luar… akhirnya berhenti.
Langit perlahan cerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *