Hari pertama saya masuk site sebagai orang IT, saya masih membawa logika kantor kota.
Di kepala saya, IT adalah soal sistem, SLA, dokumentasi, dan best practice. Ada tiket. Ada prioritas. Ada eskalasi. Ada jam kerja yang masuk akal. Brosur rekrutmen pun menegaskan itu: “Mendukung operasional tambang melalui sistem dan teknologi informasi yang andal.”
Kalimat itu terdengar rapi. Profesional. Masuk akal.
Tidak ada satu pun kalimat yang menjelaskan bahwa di site, IT bukan fungsi pendukung—IT adalah garis depan yang tidak pernah diakui sebagai garis depan.
Saya sadar ini sejak jam pertama.
Bahkan sebelum saya sempat menyimpan tas di barak, radio HT sudah memanggil. Bukan soal login, bukan soal akses email. Tapi soal jaringan mati di pit. Operator tidak bisa kirim data. Dispatch mulai panik. Produksi terancam.
Tidak ada waktu untuk orientasi. Tidak ada waktu untuk adaptasi. Di site, masalah IT tidak menunggu onboarding selesai.
Shock budaya pertama saya sebagai orang IT adalah: waktu bukan milik kita.
Di kantor kota, sistem boleh down di luar jam kerja—asal ada jadwal maintenance. Di site, “di luar jam kerja” tidak pernah benar-benar ada. Tambang berjalan 24 jam. Dan IT dituntut hadir mengikuti ritme itu.
Malam pertama saya di site, saya tidur dengan ponsel di samping kepala. Bukan kebiasaan, tapi refleks yang cepat terbentuk. Takut ada panggilan. Takut ada sistem mati. Takut ada orang yang menyalahkan IT sebelum benar-benar memahami masalahnya.
Shock kedua datang dari ekspektasi terhadap IT.
Di brosur, IT digambarkan sebagai enabler. Di lapangan, IT sering dianggap penyebab. Sistem lambat? IT. Data tidak masuk? IT. Aplikasi error? IT. Jaringan fluktuatif di tengah hutan, hujan, dan debu? Tetap IT.
Saya belajar cepat bahwa IT di site bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang bertahan.
Router bukan dipasang di ruang ber-AC, tapi di shelter panas dengan debu tebal. Kabel bukan lewat tray rapi, tapi ditarik sejauh mungkin dari alat berat. Server bukan berdiri di data center, tapi di ruangan yang harus berbagi listrik dengan sistem lain.
Saya datang dengan best practice. Site menyambut saya dengan realita.
Shock budaya berikutnya adalah cara kerja lintas fungsi.
Di kota, IT bisa berkata, “ini bukan scope kami.” Di site, kalimat itu dianggap asing. Jika sistem terkait operasional, IT harus terlibat. Bahkan jika masalahnya listrik, mekanik, atau prosedur.
Saya beberapa kali berdiri di pit, bukan karena jaringan semata, tapi karena harus menjelaskan ke operator kenapa tablet mereka tidak sinkron. Saya belajar bahwa solusi IT di site sering dimulai dari bahasa manusia, bukan bahasa teknis.
Dokumentasi tebal tidak berguna jika user kelelahan. Diagram jaringan tidak berarti jika orang lapangan tidak paham dampaknya ke pekerjaan mereka.
Shock lain yang tidak saya siapkan adalah hierarki dan otoritas operasional.
Sebagai IT, saya membawa logika teknis. Tapi di site, keputusan teknis sering tunduk pada operasional. Jika pilihan terbaik secara sistem mengganggu produksi, maka sistem yang harus menyesuaikan.
Ini konflik batin pertama saya sebagai IT: memilih stabilitas jangka panjang atau kelangsungan hari ini.
Banyak kompromi teknis yang diambil bukan karena bodoh, tapi karena realita lapangan tidak memberi pilihan ideal.
Saya juga terkejut dengan cara kegagalan dipersepsikan.
Di kota, downtime adalah insiden. Di site, downtime adalah ancaman langsung. Saya merasakan tekanan yang berbeda ketika satu sistem mati berarti satu area berhenti. Bukan teori. Bukan simulasi. Nyata.
Saya pernah berdiri di depan layar yang kosong, tahu bahwa ratusan orang menunggu sistem hidup kembali. Dan saya belajar bahwa beban mental IT di site jarang dibicarakan.
Kami dituntut tenang, cepat, dan tepat—di tengah keterbatasan yang sering tidak kami kontrol.
Shock budaya yang paling berat datang dari kesendirian peran IT.
Jumlah orang IT di site biasanya minim. Skill dituntut luas. Dari jaringan, aplikasi, hardware, sampai troubleshooting di lapangan. Tidak ada spesialisasi ideal. Yang ada adalah kemampuan bertahan.
Saya sering menyelesaikan masalah sendirian, bukan karena ingin, tapi karena tidak ada pilihan. Dan itu melelahkan secara mental.
Teknologi di site juga mengajarkan saya satu hal penting: otomasi tidak menghilangkan beban manusia, hanya menggesernya.
Sistem monitoring bisa memberi notifikasi, tapi seseorang tetap harus bangun malam. Dashboard bisa menampilkan status, tapi seseorang tetap harus menjelaskan ke operasional kenapa status itu merah.
Dan sering kali, IT menjadi jembatan antara teknologi yang tidak sempurna dan manusia yang sudah terlalu lelah.
Yang paling mengejutkan saya adalah seberapa cepat standar bergeser.
Hal-hal yang dulu saya anggap “tidak acceptable” menjadi “masih bisa jalan”. Sistem yang seharusnya redundant menjadi single point of failure yang diterima. Bukan karena malas, tapi karena keterbatasan resource dan tekanan target.
Di titik itu, saya mulai bertanya: apakah ini adaptasi atau kompromi berbahaya?
Shock budaya terakhir—dan paling halus—adalah hilangnya batas diri.
Saya tidak lagi tahu kapan benar-benar off. Bahkan saat cuti, kepala saya masih memikirkan sistem. Saya pulang, tapi site ikut pulang. Saya bangga disebut “orang IT yang selalu bisa diandalkan”, sampai sadar bahwa itu datang dengan harga.
Saya menulis cerita ini bukan untuk menyalahkan. Tapi untuk mengungkap yang jarang dibicarakan.
Masuk site sebagai orang IT bukan hanya soal skill teknis. Ia adalah ujian mental, komunikasi, dan kemampuan menerima bahwa solusi sempurna sering tidak mungkin.
Jika Anda orang IT yang akan masuk site, bersiaplah bukan hanya dengan sertifikasi, tapi dengan ketahanan mental dan empati lapangan.
Dan jika Anda memimpin IT di tambang, ingat satu hal: sistem Anda dijalankan oleh manusia yang bekerja di batas kemampuannya.
Shock budaya itu nyata. Dan tidak pernah ada di brosur.


