Tema: Kualitas Daya (Power Quality) | Pembuktian Berbasis Data | Diplomasi Antar-Departemen | Fisika Kelistrikan vs Elektronika Sensitif
Gangguan jaringan listrik datang bukan hanya dari cuaca, tetapi dari mesin-mesin raksasa yang memakan daya seperti monster lapar. Pola lonjakan yang tidak masuk akal muncul di log—seolah ada hantu yang bermain-main dengan arus. Kami mengejar jejak yang tidak terlihat untuk mencari sumber gangguan yang tak mau mengaku.
Di kota-kota besar yang mapan seperti Jakarta atau Surabaya, listrik adalah sebuah konstanta yang membosankan. Anda berjalan masuk ke ruangan, menekan sakelar, dan lampu menyala. Anda mencolokkan server ke dinding, dan aliran 220 Volt yang bersih mengalir tanpa henti. Kita menganggapnya sebagai hal yang pasti (taken for granted), sebuah hak asasi manusia modern yang tak perlu dipikirkan lagi. Namun, di Site Delta, markas operasional PT Bara Nusantara Energi di pedalaman hutan Kalimantan, listrik adalah binatang liar yang harus dijinakkan setiap detik.
Karena lokasi kami terletak ratusan kilometer dari gardu induk PLN terdekat, kami tidak terhubung ke jaringan listrik nasional (Grid). Kami beroperasi dalam mode Island Mode (Pulau Mandiri). Setiap watt listrik yang menyalakan AC, mengisi baterai laptop, menghidupkan server, hingga menggerakkan mesin las di bengkel, diproduksi di tempat oleh deretan generator diesel raksasa (Genset Farm). Genset-genset ini bukan mesin kecil yang Anda lihat di pasar malam. Ini adalah monster V16 berdaya Megawatt yang meraung 24 jam sehari tanpa henti, meminum ribuan liter solar untuk menjaga peradaban kecil kami tetap hidup di tengah hutan.
Secara teori, genset modern memiliki komponen canggih bernama AVR (Automatic Voltage Regulator) yang bertugas menjaga tegangan tetap stabil di angka 220V/380V, tidak peduli berapa pun bebannya. Secara teori, listrik kami seharusnya bersih. Namun, secara praktik, jaringan listrik di tambang adalah medan pertempuran yang brutal. Beban listrik di sini bukan hanya lampu LED yang hemat energi. Di jaringan kabel yang sama, terhubung mesin-mesin industri “kasar” yang rakus energi: Overhead Crane yang mengangkat mesin truk seberat 5 ton, mesin bubut raksasa, dan yang paling masif: Pompa Dewatering bertenaga 500 Kilowatt yang bertugas mengeringkan lubang tambang dari air hujan.
Masalah dimulai dengan fenomena misterius yang kemudian kami sebut “The Phantom Reboot” (Reboot Hantu). Setiap hari, tanpa pola waktu yang jelas—kadang pagi, kadang siang—Distribution Switch Cisco di Blok Perkantoran B akan melakukan restart dengan sendirinya. Blok B adalah area vital yang menampung departemen Engineering, HRD, dan Keuangan. Dampaknya instan dan sangat menjengkelkan: Internet putus selama 3 sampai 5 menit (waktu yang dibutuhkan switch untuk booting ulang dan memuat konfigurasi). Telepon VoIP mati mendadak di tengah percakapan penting dengan Jakarta. Koneksi ke server SAP terputus, menyebabkan form yang sedang diisi oleh staf admin menjadi error dan data yang belum disimpan hilang (unsaved work lost). Lalu, seolah tidak terjadi apa-apa, semuanya menyala kembali. Lampu hijau di switch berkedip polos, mengejek kami.
Bagi pengguna biasa, ini adalah gangguan kecil yang memicu omelan di kantin. “Ah, internetnya lemot lagi,” keluh mereka. Atau, “IT-nya payah, WiFi kok putus-nyambung kayak hubungan remaja.” Tapi bagi saya, sebagai Manajer IT, ini adalah mimpi buruk integritas infrastruktur. Setiap kali switch reboot secara tidak wajar (dirty shutdown), ada risiko korupsi pada konfigurasi firmware-nya atau kerusakan fisik pada flash memory. Dan yang lebih menyakitkan, ketidakpastian ini menggerogoti kepercayaan manajemen terhadap kompetensi departemen IT. Kami terlihat seperti amatir yang tidak bisa menjaga lampu tetap menyala.
Titik Emosional Terendah: Dipermalukan di Depan Direksi
Puncak krisis terjadi pada hari Kamis yang cerah di bulan Oktober. General Manager (GM) Site, Pak Hartono, sedang melakukan Video Conference strategis bulanan dengan Dewan Direksi di Jakarta. Agendanya sangat krusial: Pembahasan Persetujuan Anggaran Tahunan (Budget Approval). Karir Pak Hartono dan nasib bonus tahunan kami bergantung pada keberhasilan presentasi ini. Saya sudah memerintahkan tim jaringan untuk memprioritaskan bandwidth (QoS) ruang rapat. “Jangan sampai ada lag, jangan sampai buram, berikan prioritas tertinggi,” perintah saya pada tim NOC. Semuanya tampak sempurna. Gambar tajam, suara jernih sebening kristal.
Namun, tepat pukul 10.15 pagi, saat Pak Hartono sedang berapi-api menjelaskan slide tentang efisiensi bahan bakar di layar besar, bencana terjadi. Layar TV 60 inci di ruang rapat berkedip sekali, lalu menjadi hitam pekat. NO SIGNAL. Koneksi terputus. Lampu indikator di telepon konferensi Polycom padam. Switch Blok B kembali dihantui. Hantu itu telah mematikan rapat paling penting tahun ini.
Lima menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka dengan kasar. Pak Hartono keluar dengan wajah merah padam menahan amarah. Dia tidak berteriak—yang justru membuatnya lebih menakutkan. Dia berjalan lurus ke arah saya yang berdiri di koridor dengan wajah pucat, memegang radio HT. Tatapannya tajam menusuk, seolah ingin melubangi kepala saya. “Kheri,” katanya dengan suara rendah yang bergetar karena emosi tertahan. “Saya baru saja kehilangan muka di depan pemilik perusahaan. Layar mati tepat saat saya minta persetujuan budget. Mereka pikir kita di sini main-main karena koneksi internet saja tidak becus.” Dia mendekatkan wajahnya. “Kamu punya waktu 24 jam. Jelaskan kenapa infrastruktur IT yang katanya canggih dan menelan biaya miliaran ini tidak bisa menahan video call sederhana. Jangan beri saya alasan teknis yang rumit. Beri saya solusi. Atau saya cari manajer IT baru yang bisa.”
Saya merasa kerdil. Saya merasa dikhianati oleh peralatan saya sendiri. Rasanya ingin menghilang ditelan bumi. Saya adalah insinyur bersertifikat, saya punya gelar Master, tapi saya tidak bisa menjaga koneksi tetap hidup selama satu jam. Kepercayaan diri saya hancur.
Investigasi: Mencari Kambing Hitam
Saya segera kembali ke ruangan dan menghubungi vendor perangkat jaringan tersebut (sebuah merek Amerika ternama). Jawaban mereka klise, defensif, dan sama sekali tidak membantu. “Pak Kheri, kami sudah ganti unit switch itu dua kali bulan ini. Kami sudah kirim unit baru dari Jakarta. Log internal alat kami menunjukkan pesan Power Loss Detected. Alat kami sehat. Itu listrik Bapak yang ‘kotor’. Jangan salahkan alat kami, perbaiki genset Bapak.”
Saya beralih ke Tim Elektrikal (Power Plant Department). Rivalitas antara IT dan Elektrikal adalah kisah klasik di setiap tambang. Orang IT dianggap “manja” karena butuh AC dingin dan listrik stabil, sementara orang Elektrikal dianggap “kasar”, berlumuran oli, dan tidak peka terhadap nuansa digital. Saya menemui Kepala Elektrikal, Pak Darto, di ruang kontrol Genset yang bising dan panas. “Pak Darto, listrik di Blok B tidak stabil. Switch saya mati terus. Bapak harus cek panelnya, mungkin ada kabel kendor atau MCB lemah,” keluh saya, berusaha sopan.
Pak Darto tertawa kecil, seolah mendengar lelucon anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Dia mengajak saya ke depan panel distribusi utama yang penuh dengan meteran analog. Dia menunjuk jarum voltmeter analog besar di panel tersebut. “Lihat matamu sendiri, Pak Kheri. Jarumnya anteng di angka 380/220 Volt. Tidak goyang sedikitpun. Frekuensi 50Hz stabil. Genset saya sehat walafiat, tenaganya kuda. Jangan cari kambing hitam di sini kalau komputer Bapak yang terlalu sensitif. Mungkin kabel Bapak yang digigit tikus? Atau software-nya yang error? Orang IT kan suka nyalahin bug.”
Saya berdiri terpaku menatap jarum analog itu. Memang benar, jarum itu diam stabil. Tapi insting insinyur saya mengatakan ada yang salah. Saya terjepit di tengah. Vendor menyalahkan listrik, Elektrikal menyalahkan alat IT. Saya berdiri sendirian tanpa bukti, hanya dengan reputasi yang hancur lebur dan ultimatum 24 jam. Saya tahu jarum analog Pak Darto berbohong. Bukan karena rusak, tapi karena hukum fisika: Inersia. Jarum mekanik itu memiliki bobot dan pegas. Ia butuh waktu untuk bergerak. Jika listrik berkedip sangat cepat—dalam hitungan milidetik—jarum itu tidak akan sempat bereaksi. Ia terlalu lambat untuk melihat hantu itu. Saya butuh mata yang lebih cepat dari jarum itu.
Investigasi: Menangkap Hantu dengan Data Digital
Saya tidak bisa memenangkan debat ini dengan argumen kosong atau perasaan. Saya butuh bukti forensik digital yang tak terbantahkan. Saya teringat bahwa salah satu kontraktor Commissioning asing sedang berada di site untuk proyek pembangunan pabrik pengolahan (Wash Plant) baru. Kontraktor elektrikal asing biasanya membawa alat diagnostik canggih. Saya mendatangi camp mereka malam itu juga, menembus hujan gerimis. “Saya pinjam alat,” kata saya pada Site Engineer mereka, seorang pria Jerman bernama Hans. “Saya butuh Power Quality Analyzer (PQA).” Hans meminjamkan sebuah koper kuning berat berisi alat merek Fluke. Ini adalah alat diagnostik seharga ratusan juta rupiah yang mampu merekam bentuk gelombang listrik hingga ribuan kali per detik. Ini adalah mikroskop untuk listrik.
“Saya pinjam semalam,” kata saya. Saya memasang probe PQA tersebut tepat di soket listrik rak server Blok B yang bermasalah. Saya membiarkannya merekam (logging) semua anomali tegangan selama 24 jam penuh. Saya seperti detektif yang sedang melakukan pengintaian (stakeout) di tempat kejadian perkara, menunggu si pencuri lewat. Saya tidur di kursi kantor malam itu, menunggu “hantu” itu muncul.
Besok paginya, saya kembali ke rak server dengan jantung berdebar. Saya mencabut alat itu dan mengunduh datanya ke laptop. Saya membuka software analisisnya. Grafik berwarna-warni muncul di layar. Dan di sanalah dia. Si Hantu itu tertangkap basah.
Grafik menunjukkan bahwa tegangan listrik di kantor kami bukanlah garis lurus 220 Volt yang mulus seperti klaim Pak Darto. Tepat pukul 10.15 (saat rapat GM putus kemarin) dan pukul 13.45, garis tegangan itu anjlok drastis membentuk jurang yang tajam (Voltage Sag). Tegangan jatuh dari 220V menjadi 165V hanya dalam waktu 200 milidetik (0,2 detik), lalu melonjak liar (Swell) ke angka 260V sebelum akhirnya stabil kembali.
Kedipan 0,2 detik. Bagi bola lampu pijar di ruangan, ini hanya kedipan yang tak terlihat mata manusia karena filamen lampu masih panas. Bagi jarum analog Pak Darto yang berat, ini terlalu cepat untuk digerakkan. Jarum itu belum sempat turun, tegangan sudah naik lagi. Tapi bagi Power Supply Unit (PSU) switch jaringan yang kapasitornya sensitif, tegangan 165V adalah bencana. Itu di bawah batas operasional (under-voltage threshold). PSU itu mengira aliran listrik akan mati total, sehingga mekanisme proteksinya memicu shutdown darurat untuk menyelamatkan komponen internal. Lalu, sedetik kemudian listrik normal, dan dia melakukan booting ulang. Itulah penyebab reboot-nya.
Tapi siapa pelakunya? Apa yang menyebabkan tegangan anjlok begitu parah di jam-jam tertentu secara konsisten? Saya mencetak grafik tersebut. Lalu saya berjalan ke Ruang Dispatch Tambang. Saya meminta log operasional harian. “Jam berapa pompa tambang dinyalakan dan dimatikan kemarin?” tanya saya pada Dispatcher. Dia memeriksa catatannya. “Kemarin… Operator Pompa Pit Selatan istirahat jam 9 sampai 10. Lalu dia menyalakan kembali pompa utama jam 10.15.”
Bingo. Jam 10.15. Detik yang sama dengan jatuhnya tegangan. Pompa Dewatering di Pit Selatan adalah monster listrik berdaya 500 Kilowatt. Ketika motor listrik raksasa itu pertama kali dinyalakan dari posisi diam (Start-up), ia membutuhkan arus awal (inrush current) yang sangat masif—bisa 3 sampai 5 kali lipat arus normalnya—untuk memutar baling-baling melawan tekanan air. Tarikan mendadak itu begitu besar hingga ia “menyedot” energi dari seluruh jaringan listrik site sesaat, sebelum governor (pengatur gas) di mesin genset sempat bereaksi menyemprotkan lebih banyak solar untuk mengompensasi beban. Pompa itu “mencekik” genset selama 0,2 detik. Dan switch IT saya di kantor yang jaraknya 2 kilometer—yang sialnya berada di jalur kabel feeder yang sama—adalah korban sampingannya.
Showdown: Diplomasi Data
Rapat pagi berikutnya, tepat sebelum tenggat waktu 24 jam saya habis. Saya datang membawa proyektor portabel ke ruang rapat Engineering. Di hadapan GM Pak Hartono dan Kepala Elektrikal Pak Darto, saya tidak banyak bicara. Saya tidak marah-marah. Saya tidak defensif. Saya hanya menampilkan dua grafik bersandingan di layar besar: Sebelah Kiri: Grafik Voltage Sag dari alat Fluke PQA yang menunjukkan lembah curam di jam 10.15. Sebelah Kanan: Log Harian Operator Pompa yang ditandatangani pengawas tambang, menunjukkan waktu Start pompa di jam 10.15.
“Pak Darto,” kata saya tenang, suara saya penuh hormat namun tegas. “Bapak benar, Genset Bapak sehat dan kuat. Tapi beban Pompa Pit Selatan terlalu agresif. Lihat grafik ini.” Saya menunjuk lembah curam di grafik tegangan. “Setiap kali tombol hijau ‘START’ ditekan di pompa Pit Selatan, listrik di seluruh site ‘berkedip’ sedalam 55 Volt. Jarum analog di panel Bapak tidak bisa melihatnya karena kejadiannya secepat kedipan mata. Tapi alat digital ini merekamnya. Switch IT kami di kantor mendeteksi undervoltage ini dan melakukan restart untuk menyelamatkan diri.”
Ruangan hening. Hanya terdengar suara dengungan proyektor. Data itu tak terbantahkan. Tidak ada opini, tidak ada perasaan, tidak ada “katanya”. Hanya fakta fisika. Pak Darto menatap grafik itu lama. Dia adalah insinyur senior yang jujur. Dia mengerti grafik itu. Dia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya. Ego sektoralnya runtuh di hadapan data empiris. Dia tidak bisa lagi menyalahkan kabel atau software saya. “Saya tidak sadar tarikan inrush-nya merambat sampai ke jalur kantor,” akunya pelan. “Kabel feeder-nya memang masih satu busbar di gardu induk utama. Harusnya terpisah.”
Solusi & Kemenangan
“Jadi, apa solusinya?” tanya GM Pak Hartono, nada suaranya sudah tidak lagi marah, melainkan konstruktif. Dia melihat bahwa saya tidak mencari alasan, tapi mencari akar masalah. “Kita harus memisahkan ‘Darah Bersih’ dan ‘Darah Kotor’,” jawab saya menggunakan metafora medis. “Beban IT dan Kantor Admin yang sensitif (Darah Bersih) tidak boleh satu jalur dengan beban Pompa dan Mesin Las yang kasar (Darah Kotor). Saya usul kita pindahkan jalur listrik kantor ke Genset Auxiliary yang lebih kecil yang khusus melayani perumahan (camp). Biarkan genset besar bertarung dengan pompa.”
“Lakukan hari ini,” perintah Pak Hartono. “Dan Pak Darto, pastikan itu terjadi.”
Hari itu juga, tim Elektrikal bekerja sama dengan tim IT melakukan manuver beban. Kabel feeder kantor dipindahkan ke panel distribusi genset camp. Saya memantau log switch selama seminggu ke depan. Bersih. Stabil. Tidak ada satu pun reboot. Grafik tegangan lurus seperti jalan tol. Hantu itu telah pergi selamanya.
Kepercayaan manajemen pulih total. Tapi kemenangan terbesar bagi saya bukanlah internet yang lancar, melainkan perubahan hubungan dengan tim Elektrikal. Sejak hari itu, mereka berhenti memanggil kami “IT manja”. Setiap kali ada masalah listrik atau mau menyalakan mesin besar, Pak Darto akan menelepon saya dulu: “Pak Kheri, tolong cek di alat digital Bapak, listrik saya bersih tidak? Aman kalau saya nyalakan sekarang?” Kami bukan lagi musuh. Kami adalah partner yang berbicara dalam bahasa yang sama: Data.
Quote: “Listrik adalah darah bagi tubuh infrastruktur IT. Jika darahnya kotor, organ-organnya akan gagal satu per satu. Jangan pernah percaya pada asumsi ‘lampu menyala berarti listrik bagus’. Percayalah hanya pada data kualitas daya. IT tidak bisa berdiri kokoh di atas pondasi energi yang berguncang. Dan ketika Anda memiliki data yang akurat, Anda tidak perlu berteriak untuk didengar; fakta akan berteriak untuk Anda.”


