Bab 9 Warisan dan Tali Paranti

Posted on

9.1 Angin Perubahan di Muara

Kembalinya Delegasi Cijulang dari Singapura disambut dengan sukacita dan kebanggaan yang meluap-luap. Berita tentang kemenangan mereka di meja bundar global—bahwa Koperasi Tunas Karuhun (KTK) berhasil memaksa broker Karbon Biru terbesar untuk menerima harga premium dan Klausul Pendidikan Adat—telah menyebar ke seluruh pelosok Pangpung.

Angin Perubahan yang dijanjikan Arsyad kini bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang dapat dilihat dan dirasakan. Muara Cijulang telah mengalami fase terakhir dari transformasinya, dari pusat kehancuran menjadi laboratorium hidup kemakmuran dan etika.

Dampak Finansial Karbon Trading pada Kemakmuran Desa

Kontrak Karbon Biru dengan GCF segera mendatangkan dampak finansial yang mengubah tatanan sosial Pangpung secara radikal. Sesuai dengan Klausul Pendidikan Adat dan bagi hasil 60% untuk KTK, dana pertama yang diterima dialokasikan untuk tiga pilar utama:

  1. Dana Proteksi Abadi (30%): Dialokasikan untuk gaji tetap Penjaga Adat (Mantri Hutan), sistem peringatan dini abrasi, dan asuransi Koperasi. Mang Darta dan Mang Udin kini mendapatkan gaji yang layak sebagai penjaga resmi Lahan Ngawekas, memastikan bahwa tidak ada nelayan yang terpaksa kembali menjadi kuli pasir.
  2. Dana Pendidikan Adat (50%): Dana ini mengalir langsung ke Pusat Studi Ema Warsih dan program Generasi Cikal. Pendidikan anak-anak desa, yang dulunya terabaikan, kini menjadi prioritas utama, sepenuhnya didanai oleh uang yang berasal dari hutan bakau yang sehat.
  3. Dana Infrastruktur dan Dividen (20%): Digunakan untuk membangun fasilitas komunal dan dividen yang dibagikan secara adil kepada setiap anggota KTK, memastikan setiap keluarga merasakan manfaat langsung dari Tunas Karuhun.

Kemakmuran yang Adil:

Kemakmuran yang dibawa oleh Karbon Trading ini berbeda dengan kemakmuran Kuwu Asmara. Itu adalah kemakmuran yang didistribusikan secara adil dan terikat pada etika Silih Asih. Tidak ada lagi keluarga yang harus memilih antara Pamali dan makan. Uang itu menjamin otonomi dan martabat yang telah diperjuangkan Arsyad.

Lia, sebagai bendahara dan pengawas data, memastikan setiap rupiah transparan dan dilaporkan secara real-time kepada komunitas, mengukuhkan sistem Anti-Kuwu yang mereka bangun.

Kuwu Asmara yang Kini Menyesal

Salah satu bukti paling nyata dari Angin Perubahan ini adalah kondisi Kuwu Asmara. Setelah lengser dan dikalahkan secara finansial, Kuwu Asmara kini hidup dalam isolasi di tepi desa. Ia telah kehilangan semua asetnya (disita untuk ganti rugi perdata) dan seluruh wibawa sosialnya.

Kuwu Asmara, yang dulunya memandang Arsyad sebagai sarjana bodoh yang membawa takhayul, kini dipaksa untuk menyaksikan dari kejauhan bagaimana takhayul itu menghasilkan kekayaan dan kemakmuran abadi. Ia melihat Tunas Karuhun tumbuh menjulang tinggi di atas lahan yang ia klaim ‘mati’.

Suatu pagi, saat Arsyad sedang menginspeksi Lahan Ngawekas, ia melihat Kuwu Asmara berdiri sendirian, menatap hutan bakau yang lebat. Wajah Kuwu Asmara dipenuhi penyesalan yang mendalam dan pahit—penyesalan karena telah menukar harta abadi dengan uang tunai sesaat.

Arsyad mendekatinya, tanpa rasa benci atau dendam.

“Hutan ini sudah kembali, Kuwu,” sapa Arsyad pelan.

Kuwu Asmara menoleh, matanya kosong. “Kau menang, Arsyad. Kau menang dengan omong kosong Rasa dan Pamali itu. Aku salah. Aku hanya melihat pasir dan kayu, aku tidak melihat Emas Biru yang kau ciptakan.”

“Bukan aku yang menciptakannya, Kuwu,” jawab Arsyad. “Kami hanya mendengarkan. Muara ini tidak mati. Ia hanya sakit karena keserakahan. Aku berharap kau bisa melihat, Kuwu, bahwa kekalahanmu adalah untuk kebaikan semua.”

Kuwu Asmara hanya mengangguk pahit. Penyesalannya bukan hanya karena kalah, melainkan karena ia menyadari bahwa selama ini, ia telah merusak sumber kekayaan dan kehormatan yang sebenarnya. Ia telah menjadi Naga Mangsa yang melahap dirinya sendiri.

Penjaminan Warisan: Model Pangpung

Kisah Pangpung menjadi legenda yang diakui secara regional. Delegasi dari desa-desa pesisir lain mulai berdatangan ke Pusat Studi Ema Warsih. Mereka tidak lagi datang untuk meminta ikan atau uang, melainkan untuk mempelajari metodologi Wasiat Benih Purba dan model Koperasi Tunas Karuhun—dua senjata yang menyatukan Ilmu dan Adat.

Arsyad dan Lia, menggunakan dana Pendidikan Adat dari Karbon Biru, mulai menyelenggarakan lokakarya. Mereka secara terbuka mengajarkan formula Wasiat (seperti janji yang mereka buat kepada GCF), memastikan bahwa Ilmu Luhung Pangpung menjadi warisan nasional, bukan hanya aset lokal.

Angin Perubahan telah membawa Pangpung ke masa depan yang stabil, di mana konservasi ekologis adalah pilar ekonomi utama, dan Tali Paranti adalah undang-undang tertinggi yang dihormati secara global.

9.2 Upacara Silih Asih dan Pernikahan

Kemenangan melawan Naga Mangsa Global dan kemakmuran yang dibawanya telah mengukuhkan status Arsyad dan Lia sebagai pemimpin sejati Pangpung. Namun, hubungan pribadi mereka, yang tumbuh di tengah lumpur dan disahkan oleh data ilmiah, belum mencapai puncak spiritualnya.

Setelah keberhasilan kontrak Karbon Biru dan kembalinya stabilitas, Arsyad dan Lia memutuskan untuk menyatukan Papada Rasa (Penyatuan Jiwa) mereka secara permanen, melalui pernikahan yang sepenuhnya dijalankan dengan ritual adat Pangpung.

Persiapan: Menyatukan Ilmu dan Adat

Pernikahan ini menjadi simbol fusi antara dua dunia yang mereka wakili. Lia, yang dulu merupakan ahli data Jakarta, kini merancang pernikahannya dengan ketelitian adat yang ia pelajari dari Ema Warsih.

1. Lokasi: Upacara tidak diadakan di Balai Desa yang formal, tetapi di tepi Lahan Ngawekas, di bawah rindangnya Tunas Karuhun yang mereka tanam. Tempat yang dulunya adalah arena pertempuran kini menjadi altar suci. 2. Waktu: Dipilih berdasarkan perhitungan siklus bulan adat oleh Ema Warsih, yang melambangkan kesuburan dan keberlanjutan. 3. Busana: Lia dan Arsyad mengenakan pakaian adat Pangpung yang terbuat dari serat alami dan dihiasi motif akar bakau, melambangkan ikatan mereka pada bumi Muara Cijulang.

Seluruh Koperasi Tunas Karuhun—Mang Darta, Mang Udin, dan Jabar—bekerja sama untuk menyelenggarakan upacara ini, menjadikannya perayaan komunal terindah sejak Hajat Leuweung Anyar.

Upacara Silih Asih: Inti Janji Abadi

Inti dari pernikahan ini adalah ritual Upacara Silih Asih, yang dipimpin langsung oleh Ema Warsih. Upacara ini melambangkan janji untuk saling menjaga (Silih Asih), bukan hanya sebagai suami-istri, tetapi sebagai penjaga Tali Paranti.

1. Penyerahan Akar Sejati: Ritual dimulai dengan Arsyad dan Lia menyerahkan Batu Akar Sejati dan Naskah Lontar Wasiat Benih Purba kepada Ema Warsih. Ema Warsih mengembalikan Batu Akar Sejati itu kepada Lia, bukan kepada Arsyad.

“Arsyad membawa Batu ini dari lumpur Muara. Tapi kau, Lia, kau yang membungkusnya dengan Ilmu Kertas dan menjaganya dari godaan global,” ujar Ema Warsih. “Mulai hari ini, kau adalah Pemegang Batu dan Perisai Adat. Kalian berdua adalah dua sayap yang menjaga Tunas Karuhun.”

2. Tujuh Janji Adat (Ngawekas Pernikahan): Sebagai ganti janji pernikahan modern, Ema Warsih meminta Arsyad dan Lia mengucapkan Tujuh Janji Adat (Ngawekas Pernikahan) di hadapan komunitas dan Karuhun:

  • Janji I: Saling Menjaga Rasa: Tidak akan pernah ada kebohongan dalam perkataan maupun data.
  • Janji II: Melindungi Tali Paranti: Tidak akan pernah ada keputusan yang melanggar Adat demi keuntungan materi.
  • Janji III: Setia pada Lumpur: Akan selalu kembali ke Muara, betapa pun jauhnya ilmu membawa mereka.
  • Janji IV: Memelihara Tunas Karuhun: Menjaga hutan bakau lebih dari menjaga harta pribadi.
  • Janji V: Mengutamakan Silih Asih: Menggunakan kekuasaan untuk melayani, bukan untuk menguasai.
  • Janji VI: Menolak Naga Mangsa: Tidak akan pernah menyerah pada keserakahan, dalam wujud apa pun.
  • Janji VII: Menjadi Cikal: Berjanji untuk membesarkan generasi baru yang menghormati Ilmu dan Rasa.

Janji-janji ini mengubah pernikahan mereka dari ikatan personal menjadi Perjanjian Komunal Abadi, mengikat nasib mereka pada kelanjutan Tali Paranti Pangpung.

Ciuman Janji Abadi

Setelah mengucapkan janji, Arsyad dan Lia berbagi Ciuman Janji di bawah kanopi bakau, di tengah tepukan tangan dan kidung yang dilantunkan Ema Warsih dan para tetua. Ciuman itu adalah simbol puncak dari Papada Rasa mereka, menyatukan Ilmu (logika, data) dan Rasa (cinta, adat) secara definitif.

Jabar, yang bertindak sebagai Dalang Upacara, melontarkan kalimat penutup yang penuh humor dan makna.

“Kuwu Asmara dan Naga Mangsa telah dikalahkan karena mereka tidak tahu cara mencintai,” seru Jabar kepada kerumunan. “Mereka hanya tahu cara mengambil. Tapi hari ini, Sarjana kita dan Nona Lia membuktikan: Papada Rasa yang tulus adalah Ilmu yang paling unggul! Semoga Tunas Karuhun mereka tumbuh subur, dan semoga janji ini mengikat Muara kita selamanya!”

Hadiah dan Warisan Komunal

Hadiah yang diterima Arsyad dan Lia bukan perhiasan atau uang. Komunitas memberikan:

  • Jala Kehidupan Baru: Jaring anyaman tangan yang baru, melambangkan jaringan dukungan yang tak akan pernah putus.
  • Benih Terbaik: Sekantung bibit bakau Wasiat terbaik, sebagai simbol permintaan agar mereka terus menanam dan bereksperimen.

Pernikahan ini menegaskan bahwa Koperasi Tunas Karuhun tidak hanya memiliki dana abadi, tetapi juga memiliki kepemimpinan abadi yang berakar kuat pada nilai-nilai adat. Mereka telah menemukan keseimbangan yang sempurna antara Ilmu dan Rasa, antara Jakarta dan Pangpung.

Dengan janji ini, Arsyad dan Lia siap untuk fase selanjutnya: menurunkan warisan kepada generasi Cikal Pangpung.

9.3 Wasiat Baru untuk Generasi Berikutnya

Dengan dana Karbon Biru yang dialokasikan secara eksklusif untuk Pendidikan Adat, Arsyad dan Lia segera mengalihkan fokus mereka untuk mendidik Generasi Cikal—anak-anak Pangpung yang akan menjadi penjaga Muara Cijulang berikutnya. Mereka tahu bahwa kelangsungan hidup Tunas Karuhun tidak bergantung pada kontrak GCF, tetapi pada pemahaman dan komitmen anak-anak ini.

Pusat Studi Ema Warsih kini menjadi institusi pendidikan paling penting di Pangpung, mengalahkan dominasi sekolah formal. Arsyad dan Lia merancang kurikulum yang mereka sebut Wasiat Baru—sebuah sintesis sempurna dari Ilmu Luhung dan Ilmu Kertas.

Kurikulum Wasiat Baru: Fusi Sempurna

Wasiat Baru ini adalah jawaban atas konflik batin Arsyad, di mana ijazahnya terasa mandul di Muara. Kini, ia mengajarkan anak-anak cara memegang sekop (Rasa) sambil memegang mikroskop (Ilmu).

1. Modul Rasa (Tali Paranti dan Filsafat Adat):

  • Pelajaran Pamali: Anak-anak diajarkan bukan hanya daftar larangan, tetapi filosofi di balik Pamali (tabu adat). Misalnya, larangan membuang sampah di Muara dijelaskan sebagai “menghormati rahim penyembuh”—konsep Rasa yang mendasari Ilmu Bioremediasi. Ema Warsih menjadi pengajar kehormatan, melantunkan Kidung Naga Mangsa untuk mengajarkan sejarah dan etika lingkungan secara lisan.
  • Sejarah Wasiat: Anak-anak diajarkan cara membaca Naskah Lontar Wasiat Benih Purba. Mereka memahami bahwa formula bubuk kerang dan fermentasi bukanlah ilmu sihir, melainkan sains terapan yang diwariskan Karuhun.

2. Modul Ilmu (Teknologi dan Data Konservasi):

  • Ecology Forensik: Lia mengajarkan anak-anak cara menggunakan alat uji pH portabel untuk memantau kesehatan Muara. Mereka belajar cara mengambil sampel tanah, menganalisis kontaminasi oli (menggunakan sampel lama sebagai pelajaran sejarah), dan cara menghitung survival rate bakau.
  • GIS dan Karbon Biru: Anak-anak diajarkan dasar-dasar pemetaan GIS. Mereka belajar cara membaca data satelit, seperti yang digunakan Lia untuk memantau pertumbuhan hutan bakau, dan yang terpenting, mereka diajarkan cara menghitung nilai Karbon Biru hutan mereka sendiri. Arsyad memastikan anak-anak memahami bahwa mereka adalah penjual karbon yang cerdas, bukan objek eksploitasi.

Generasi Cikal: Penjaga Hutan Bakau

Para murid, yang dijuluki Generasi Cikal (generasi akar atau tunas pertama), menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Mereka tumbuh dalam lingkungan di mana guru mereka adalah sarjana dari kota yang memilih lumpur Pangpung (Lia) dan seorang cucu Pini Sepuh yang menjadi pahlawan (Arsyad).

Kegiatan Kritis Generasi Cikal:

  • Patroli Pamali: Dipimpin oleh Mang Darta, anak-anak melakukan patroli harian di Lahan Ngawekas. Mereka tidak membawa senjata, melainkan membawa buku catatan untuk mencatat pelanggaran Pamali (sampah, penangkapan ilegal) dan alat uji pH untuk memantau kesehatan air. Mereka adalah Polisi Adat Cilik.
  • Petualangan Badud Cilik: Jabar melatih anak-anak yang lebih besar untuk menjadi pemandu Ekowisata Badud. Mereka belajar menjadi Storyteller yang efektif, mampu menjelaskan data 85% survival rate dan filosofi Naga Mangsa kepada wisatawan asing dan domestik.

Arsyad menyadari bahwa anak-anak ini tidak hanya menerima warisan, mereka memperkuatnya. Mereka memiliki Rasa yang murni dari lahir, dilengkapi dengan Ilmu Kertas yang tangguh, memastikan mereka tidak akan mudah ditipu oleh Kuwu Asmara yang baru atau Victor dari GCF.

Wasiat Baru: Abadi di Tangan Anak-Anak

Suatu hari, setelah pelajaran tentang Ngawekas, Arsyad membawa anak-anak ke Muara. Ia tidak lagi membawa Batu Akar Sejati; ia meminta setiap anak membawa sepotong kecil cangkang kerang.

Wasiat Benih Purba yang pertama adalah formula untuk menyembuhkan Muara yang sakit,” ujar Arsyad kepada Generasi Cikal. “Tapi Wasiat Baru kalian adalah janji untuk menjaga Muara yang sudah sehat ini abadi.”

Ia meminta setiap anak menanam satu tunas bakau kecil di area yang baru diremediasi. Di setiap tunas, mereka menaburkan bubuk cangkang kerang.

Wasiat Baru itu adalah: Ilmu yang kau bawa harus selalu melayani Rasa di tempat kau berpijak,” simpul Arsyad. “Jika suatu hari nanti, ada Kuwu atau korporasi yang datang dan menawarkan uang untuk menjual hutan ini, kalian sudah tahu cara menghitung nilai sebenarnya—bahwa Harga Diri kalian jauh lebih mahal daripada Karbon Biru di pasar global.”

Dari kejauhan, Ema Warsih, yang kini sangat lemah, mengamati pelajaran itu. Ia melihat cucunya, menantunya (Lia), dan Generasi Cikal yang bersorak gembira menanam tunas. Ia melihat Tali Paranti telah diwariskan dengan sempurna. Beban Ngawekas telah terlepas darinya.

9.4 Jabar Menjadi Raja Hutan

Jika Arsyad dan Lia adalah Akar Kepemimpinan dan Perisai Ilmu dari Koperasi Tunas Karuhun (KTK), maka Jabar adalah Wajah, Suara, dan Jantung dari keberhasilan ekonomi Pangpung. Dari pemuda skeptis yang memperbaiki mesin motor, Jabar telah mengalami evolusi spiritual dan profesional, menjadikannya ikon Green Success yang unik.

Ia kini dikenal luas di kawasan Jawa Barat—dan di kalangan LSM internasional—sebagai Raja Hutan Badud Pangpung.

Tahta Raja Hutan: Otonomi dan Humor

Kepemimpinan Jabar atas Divisi Ekowisata KTK tidak hanya sukses secara finansial; ia sukses secara ideologis. Jabar memastikan bahwa setiap rupiah yang didapat dari kunjungan wisatawan adalah rupiah yang dihasilkan dengan Martabat dan kepatuhan pada Rasa.

1. Ikon Penceritaan: Jabar adalah storyteller utama Pangpung. Ia menggunakan humor dan satir khas Badud  untuk mengemas pelajaran konservasi yang berat. Wisatawan tidak hanya disuguhi pemandangan bakau, tetapi juga pertunjukan dramatis tentang bagaimana:

  • Kuwu Asmara (Sang Naga yang mengenakan sepatu mengkilap) dihancurkan oleh bubuk kerang yang direstui oleh Ema Warsih.
  • Bagaimana data ilmiah Lia (Ilmu Kertas) membuktikan bahwa tawa dan Silih Asih adalah kunci konservasi.

Jabar mampu membuat turis tertawa terbahak-bahak saat ia menirukan ekspresi Kuwu Asmara yang kalah di hadapan traktor, namun di balik tawa itu, ia menanamkan pemahaman mendalam tentang Tali Paranti dan bahaya keserakahan.

2. Penegakan Etika Wisata: Di bawah Jabar, aturan Pamali di Muara ditegakkan dengan ketat, tetapi humoris. Pemandu Badud yang dilatih Jabar memiliki kode etik:

  • Jika turis mencoba membuang sampah, Badud akan menampilkan tarian marah yang lucu.
  • Jika ada turis yang mencoba mengambil sampel tumbuhan atau hewan, Badud akan berbisik dramatis, “Jangan sentuh, itu adalah harta warisan Generasi Cikal, nanti kau digugat di Pengadilan Adat!”

Jabar memastikan bahwa turis membayar harga premium, tetapi mereka pulang dengan pelajaran moral yang tak ternilai. Ekowisata Badud menjadi contoh sempurna bagaimana Rasa dan Keuntungan dapat berjalan beriringan.

Traktor sebagai Mahkota Raja

Simbol paling kuat dari kepemimpinan Jabar adalah Si Pangpung—traktor backhoe bekas yang diselamatkan dari PT. ADIGUNA.

Jabar tidak hanya mengoperasikan traktor itu untuk membersihkan kanal, tetapi ia menjadikannya kendaraan upacara. Ketika rombongan turis penting datang, Jabar menyambut mereka di Muara dengan menaiki Si Pangpung, memakai topeng Badud yang keren, dan bendera KTK.

Reversal Simbolis: Traktor, yang dulunya melambangkan Kekuatan Mesin Diesel Kuwu, kini telah diubah menjadi Alat Pelayan Ekologi. Ini adalah metafora sempurna dari kemenangan Pangpung: menggunakan senjata Kapitalisme dan Global untuk tujuan Adat dan Komunal. Jabar sendiri yang menjuluki dirinya ‘Raja Hutan yang Dilantik oleh Traktor’.

Jabar dan Konsolidasi Akar

Jabar, dalam kesuksesannya, tetap rendah hati dan menjunjung tinggi Papada Rasa timnya.

  • Penghormatan pada Ilmu: Jabar secara teratur membawa Lia (ahli GIS) ke Muara untuk memvalidasi rute Ekowisata, memastikan perahu tidak merusak sedimen kritis. Ia tahu bahwa narasi Badud akan runtuh tanpa data ilmiah yang solid dari Lia.
  • Jembatan Generasi: Jabar bekerja erat dengan Mang Darta, memastikan cerita rakyat dan pengetahuan navigasi yang ia gunakan dalam Ekowisata akurat dan otentik. Ia juga menjadi mentor bagi Generasi Cikal yang ia latih sebagai pemandu Badud cilik.

Dalam wawancara dengan sebuah majalah konservasi internasional, Jabar menyimpulkan filosofi kepemimpinan mereka dengan humor yang khas:

“Dulu, Kuwu Asmara adalah raja. Dia menjual harga diri kami dengan harga murah. Kami tidak butuh raja baru. Kami butuh Rasa. Arsyad memberi kami Wasiat (Ilmu), Lia memberi kami Data (Benteng), dan saya hanya memberi tahu semua orang bahwa Martabat itu jauh lebih lucu dan menguntungkan daripada korupsi. Ekowisata Badud adalah bisnis paling jujur di dunia, karena kami sudah pernah di posisi paling bohong. Kami tidak akan kembali ke sana.”

Jabar telah mencapai puncak kepemimpinannya: ia adalah perwujudan fisik dari Kemenangan Tunas Karuhun—berhasil, mandiri, dan secara kolektif bertanggung jawab. Ia telah membuktikan bahwa Papada Rasa adalah model yang layak untuk direplikasi.

9.5 Naga Mangsa Tertidur Abadi

Sepuluh tahun telah berlalu sejak Kidung Perpisahan terakhir Ema Warsih, dan Muara Cijulang kini menjadi laboratorium hidup bagi Papada Rasa. Ketenangan dan kemakmuran yang terjalin erat itu adalah bukti bahwa Tali Paranti telah ditegakkan dengan sempurna. Arsyad dan Lia mengelola Koperasi Tunas Karuhun dengan transparansi absolut, Generasi Cikal tumbuh menjadi penjaga hutan yang cerdas, dan dana Karbon Biru mengalir deras ke Pusat Studi Ema Warsih.

Ema Warsih, sang Pini Sepuh dan penjaga Ilmu Luhung, kini berusia mendekati seratus tahun. Fisiknya melemah, tetapi jiwanya memancarkan kedamaian yang mendalam. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di bale-bale pondoknya, mengamati anak-anak Generasi Cikal yang riuh belajar memetakan GIS sambil menghafal Kidung Ngawekas.

Akhir dari Sebuah Siklus: Pemenuhan Ngawekas

Ema Warsih tahu tugasnya telah selesai. Ia telah menyaksikan bagaimana Arsyad (Rasa) dan Lia (Ilmu) berhasil menjinakkan Naga Mangsa dalam semua wujudnya:

  1. Naga Material (Pasir): Lumpur yang diracuni Kuwu telah dibersihkan oleh formula Wasiat Benih Purba.
  2. Naga Sosial (Korupsi): Struktur Kuwu telah diganti dengan sistem Koperasi yang transparan dan berbasis Silih Asih.
  3. Naga Global (Karbon): Tali Paranti telah diakui dan didanai oleh pasar global, memastikan hutan bernilai lebih hidup daripada mati.

Ema Warsih tidak lagi merasa terbebani untuk menjaga Wasiat atau Rasa. Itu karena Rasa telah diinstitusionalkan. Itu telah diubah menjadi kurikulum, klausul kontrak, dan sumber pendapatan abadi.

Ia memanggil Arsyad, Lia, dan Jabar untuk terakhir kalinya. Mereka berkumpul di Ruang Pini Sepuh, di depan Batu Akar Sejati.

“Aku melihat Naga Mangsa tertidur di lumpur Pangpung,” ujar Ema Warsih, suaranya pelan, seperti bisikan akar. “Ia tidak akan bangun karena ia kelelahan menghadapi kebenaran kalian. Ia kalah karena kalian memiliki Iman yang diukur oleh data, dan Martabat yang harganya tak ternilai.”

Ema Warsih menyerahkan Batu Akar Sejati yang telah ia pegang selama seabad kepada Arsyad, dan Naskah Lontar kepada Lia. Penyerahan simbolis ini bukan pengangkatan, melainkan penegasan bahwa mereka berdua kini adalah Akar Spiritual yang baru.

Kidung dan Permintaan Terakhir

Ema Warsih kemudian memimpin Kidung Pembebasan terakhirnya. Kidung itu adalah perayaan, bukan ratapan, tentang kebenaran bahwa Tali Paranti telah diwariskan dengan sempurna.

…Ilmu datang dari seberang lautan, Kini Rasa tumbuh dari lumpur yang basah. Kertas dibakar, tapi janji diteruskan, Warisan telah terjamin, Tali Paranti sempurna.

Setelah kidung selesai, Ema Warsih memberikan permintaan terakhirnya, yang sepenuhnya mencerminkan filosofi Ilmu Luhung.

“Aku tidak meninggalkan wasiat baru, Cung,” ujar Ema Warsih. “Karena kalian sudah menciptakannya. Tapi aku meminta satu hal terakhir: Agar kematianku dirayakan sebagai Hajat Pembebasan—bukan upacara berkabung.”

Ema Warsih menjelaskan filosofinya. “Kematianku adalah pembebasan karena tugasku sudah selesai. Aku adalah Akar yang harus kembali ke tanah agar kalian bisa tumbuh. Pergilah dan ajarkan Wasiat ini ke seluruh dunia.”

Ia meminta mereka untuk tidak menangis, melainkan bersorak. Ia meminta bahwa, sebagai pengganti tangisan, Koperasi Tunas Karuhun harus mengalokasikan dana pendidikan adat untuk membantu mereplikasi model Wasiat di desa pesisir lain di Indonesia, menyebarkan Tali Paranti sebagai warisan nasional.

Pembebasan yang Damai dan Warisan Abadi

Beberapa jam kemudian, saat matahari terbenam menyinari puncak bukit, Ema Warsih meninggal dunia dengan damai dalam pelukan Arsyad dan Lia. Kematiannya terasa seperti transisi yang wajar, bukan tragedi.

Komunitas Pangpung menghormati permintaan Ema Warsih. Pemakamannya adalah Hajat Pembebasan yang penuh tawa, kidung meriah, dan janji-janji baru. Jabar dan pemuda Badud memainkan musik yang riang. Mereka menanam tunas bakau Wasiat yang paling subur di pusaranya.

Kematian Ema Warsih adalah penutup sempurna. Ia tidak meninggalkan kekosongan; ia meninggalkan Warisan Tunas Karuhun yang berakar kuat dan kokoh. Ia telah memberikan Arsyad dan Lia restu terakhir, menjamin bahwa Papada Rasa mereka akan memimpin Pangpung menuju masa depan yang cerah, di mana Tali Paranti akan terus hidup abadi.

9.6 Epilog: Akar dan Langit

Sepuluh tahun telah berlalu sejak hari ketika Arsyad pulang membawa beban ijazah. Muara Cijulang kini bukan lagi Pangpung yang di ambang kehancuran, melainkan sebuah ekosistem yang matang, lebat, dan stabil—sebuah bukti hidup dari kekuatan Wasiat Benih Purba.

Jalan masuk desa kini dihiasi dengan plang besar bertuliskan “Kawasan Konservasi Adat Mutlak Tunas Karuhun.” Peta Adat yang dulu hanya digambar di kain usang, kini tercetak rapi di plang tersebut, disahkan dan diakui oleh pemerintah regional.

Muara Baru dan Pangung Ngaruat Jagat Dibangun Kembali

Arsyad dan Lia, kini suami istri dan pemimpin Koperasi Tunas Karuhun (KTK), berdiri di tepi muara. Anak mereka, seorang putri kecil berusia lima tahun bernama Naga Rasya (perpaduan yang Arsyad dan Lia ciptakan: Naga yang dijinakkan dan Rasa yang murni), berlarian di lumpur.

Pangung Ngaruat Jagat telah dibangun kembali. Bukan di lokasi lama yang diklaim Kuwu Asmara sebagai lahan resor, tetapi di tengah-tengah Lahan Ngawekas yang kini menjadi hutan bakau lebat. Panggung baru ini dibuat dengan arsitektur modern yang ramah lingkungan, tetapi tiang utamanya menggunakan potongan kayu Ulin baru yang disucikan dan ditanam di atas Batu Akar Sejati yang ditemukan Arsyad.

Panggung ini adalah simbol Sintesis Akhir: ia menghormati tradisi (Rasa) tetapi menggunakan Ilmu (arsitektur modern dan dana Karbon Biru) untuk berdiri tegak di lokasi ekologis yang paling sempurna.

Akar dan Langit: Warisan Papada Rasa

Arsyad kini adalah Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Ema Warsih. Lia adalah Chief Financial Officer (CFO) KTK, yang terus bernegosiasi dengan GCF untuk harga karbon yang lebih baik, menggunakan data terbaru dari pertumbuhan bakau.

Mereka melihat putri mereka, Naga Rasya, yang dibesarkan di tengah-tengah Wasiat Baru. Naga Rasya tidak takut pada lumpur. Ia tahu nama ilmiah setiap spesies bakau, tetapi ia juga tahu Kidung Ngawekas yang diajarkan Ema Warsih. Ia adalah Tunas Cikal yang sempurna:

  • Ia memiliki Akar (Rasa): Ia percaya pada Pamali dan menjunjung tinggi kehormatan Muara.
  • Ia memiliki Langit (Ilmu): Ia tahu cara menghitung nilai karbon dan menggunakan tablet kecil untuk mencatat pertumbuhan kepiting.

“Li,” bisik Arsyad, merangkul istrinya. “Kita berhasil. Naga Rasya tidak perlu memilih antara Ilmu dan Rasa. Baginya, keduanya adalah satu.”

Lia tersenyum. Ia telah meninggalkan gaji fantastis di Jakarta untuk ini—untuk menciptakan kehidupan di mana data dan spiritualitas bekerja harmonis. Ia melihat Jabar, yang kini sudah menjadi Raja Hutan Badud yang disegani, sedang memandu rombongan wisatawan. Ia melihat Mang Darta, yang dulunya nelayan putus asa, kini mengajar anak-anak cara merawat propagule.

“Kita tidak hanya memenangkan pertarungan, Syad,” ujar Lia. “Kita memenangkan kebenaran. Kita membuktikan bahwa kearifan lokal adalah sains yang hilang, dan cinta kita (Papada Rasa) adalah metodologi yang membuatnya kembali ditemukan.”

Mereka telah mengubah narasi: dari survival menjadi kebangkitan abadi. Kontrak Karbon Biru mereka menjamin dana, tetapi Wasiat Baru menjamin kemanusiaan mereka.

Penutup: Janji Abadi pada Tunas Karuhun

Arsyad dan Lia berjalan menuju Panggung Ngaruat Jagat yang baru. Arsyad menyentuh Tiang Jati Diri, yang di bawahnya terkubur Batu Akar Sejati. Ia mengingat semua yang telah terjadi: ironi ijazah, kesedihan kehancuran, janji suci Ngawekas, dan pengkhianatan Kuwu.

Warisan sejati mereka bukanlah traktor bekas atau kontrak puluhan miliar. Warisan mereka adalah Papada Rasa itu sendiri—sebuah model kepemimpinan dan kehidupan yang menolak perpisahan antara manusia dan alam, antara jiwa dan data.

Mereka telah mengukir nasib Pangpung, memastikan bahwa Warisan Cijulang akan terus hidup, kokoh, dan bersemangat, ditopang oleh Akar yang kuat dan ambisi yang menjangkau Langit.

Arsyad dan Lia berdiri bersama, melihat putri mereka bermain riang di antara akar bakau yang rimbun—sebuah janji yang tak terucapkan bahwa Tali Paranti akan terus mengikat generasi mendatang.

———-TAMAT———-