Ulang tahunku jatuh pada hari ke-143 aku berada di site.
Aku tahu itu karena ada coretan kecil di kalender dinding mess—kalender gratis dari vendor yang sudah dua bulan lalu selesai proyeknya, tapi kalendernya tertinggal. Angka tanggalnya sudah mulai pudar, tapi hari itu aku beri lingkaran kecil dengan pulpen biru.
Tidak ada yang istimewa dari pagi itu.
Alarm berbunyi jam lima. Suaranya sama seperti hari-hari lain—tajam, memaksa, dan tidak peduli hari apa. Aku bangun, duduk di tepi kasur besi, dan butuh beberapa detik untuk mengingat bahwa hari itu seharusnya berbeda.
Di rumah, ulang tahun biasanya sederhana. Nasi goreng buatan istri, telur mata sapi, dan anakku yang selalu lebih dulu meniup lilin walaupun bukan dia yang berulang tahun. Tidak ada kue mahal. Tidak ada pesta. Tapi ada suara, ada tawa, ada tangan kecil yang menarik bajuku sambil berkata, “Ayah jangan kerja dulu hari ini.”
Di site, tidak ada permintaan seperti itu.
Yang ada hanyalah jadwal.
Pagi itu aku mengenakan seragam yang sama. Helm yang sama. Sepatu safety yang sama—yang ujungnya sudah penuh goresan, seperti menyimpan semua jarak yang pernah kutempuh.
Di kantin, menu sarapan juga sama. Telur rebus, tempe goreng, dan kopi hitam yang rasanya selalu terlalu pahit atau terlalu encer—tidak pernah pas.
Beberapa rekan satu meja mengangguk singkat. Sapaan tanpa kata. Kami sudah terlalu lama di sini untuk banyak bertanya.
Tidak ada yang tahu hari itu ulang tahunku.
Dan entah kenapa, aku tidak ingin memberi tahu.
Siang hari, panas naik tanpa permisi.
Debu batu bara menempel di kulit seperti lapisan kedua. Setiap kali aku menyeka wajah, tanganku berubah lebih hitam dari sebelumnya. Aku sempat berpikir, mungkin begini caranya site mengingatkan: di sini, waktu tidak berhenti hanya karena hidupmu ingin diberi jeda.
Di sela-sela pekerjaan, aku mengecek ponsel.
Tidak ada sinyal.
Aku memindahkan ponsel ke saku, lalu mengeluarkannya lagi. Seperti berharap keajaiban. Tidak ada.
Aku tahu, di jam-jam ini, di rumah, mungkin istriku sedang sibuk menyiapkan makan siang. Anakku mungkin sedang di sekolah. Mungkin tidak ada yang benar-benar memikirkan ulang tahunku secara khusus. Tapi tetap saja, ada perasaan ingin didengar. Ingin diingat.
Di site, perasaan seperti itu terasa kekanak-kanakan.
Sore hari menjelang malam, hujan turun tiba-tiba.
Bukan hujan romantis seperti di iklan. Hujan site selalu datang dengan suara keras, lumpur, dan pekerjaan tambahan. Helmku basah. Jaketku tidak banyak membantu. Lampu-lampu alat berat menyala lebih terang, memantul di genangan air.
Saat itulah salah satu rekan kerja menepuk pundakku.
“Hei,” katanya. “Malam ini lembur dikit, ya.”
Aku mengangguk.
Tidak ada pilihan.
Malam turun perlahan. Gelap di site bukan gelap total. Ada cahaya lampu, ada suara mesin, ada radio komunikasi yang sesekali berbunyi. Tapi tetap saja, gelap itu terasa—menekan, seperti tangan besar yang menutup langit.
Sekitar jam sembilan malam, kami berhenti sejenak.
Aku duduk di atas batu besar, menyalakan headlamp, dan membuka ponsel lagi. Kali ini, satu garis sinyal muncul. Tipis. Seperti ragu.
Aku langsung membuka aplikasi pesan.
Ada satu pesan dari istriku. Dikirim enam jam lalu.
“Selamat ulang tahun, Yah. Kami nunggu ayah pulang.”
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Tidak panjang. Tidak puitis. Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang menekan dada dari dalam.
Aku mencoba menelepon.
Nada sambung terdengar. Sekali. Dua kali.
Lalu terputus.
Aku mencoba lagi.
Kali ini video call.
Wajah istriku muncul sekilas. Buram. Terpotong. Anakku melompat ke layar, mulutnya bergerak cepat, tapi suaranya patah-patah.
“Ayah… ulang ta—”
Gambar berhenti.
Layar membeku.
Lalu gelap.
Sinyal hilang lagi.
Aku menatap layar ponsel yang sudah kembali kosong.
Di sekelilingku, mesin masih bekerja. Orang-orang masih bergerak. Tidak ada yang tahu bahwa di satu titik kecil di tengah site, seseorang sedang mencoba menahan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Aku mematikan ponsel.
Malam itu, setelah pekerjaan selesai, aku kembali ke mess.
Lampu di kamar menyala redup. Aku duduk di tepi kasur, melepas sepatu pelan-pelan. Kakiku terasa berat, bukan karena lelah fisik semata.
Aku membuka tas kecil, mengeluarkan sebuah benda yang selalu kubawa: foto keluarga.
Kertasnya sudah mulai melengkung di sudut. Wajah kami bertiga tersenyum di sana. Aku ingat hari foto itu diambil. Hari Minggu. Tidak ada helm. Tidak ada debu.
Aku menatap foto itu lama.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di site, aku bertanya pada diriku sendiri dengan jujur:
Apakah semua ini sepadan?
Jawabannya tidak datang malam itu.
Yang datang justru kenangan.
Tentang pertama kali aku menerima pekerjaan ini. Tentang obrolan panjang dengan istri di ruang tamu. Tentang hitung-hitungan gaji, sekolah anak, dan masa depan yang selalu terasa terlalu mahal.
“Kita bertahan dulu,” katanya waktu itu. “Nanti juga ada jalan.”
Aku tidak pernah menyangka bahwa “bertahan” bisa terasa sepanjang ini.
Sekitar tengah malam, pintu kamarku diketuk.
Aku terkejut.
Salah satu rekan kerja masuk. Di tangannya ada dua gelas kopi instan dan satu bungkus biskuit yang sudah remuk setengahnya.
“Katanya kamu ulang tahun,” katanya sambil tersenyum canggung.
Aku terdiam.
“Dari mana kamu tahu?”
“Obrolan tadi. Kamu kelihatan aneh sejak siang,” katanya sambil tertawa kecil.
Kami duduk di lantai. Tidak ada lilin. Tidak ada lagu. Hanya kopi hangat dan biskuit murah.
“Tahun berapa?” tanyanya.
Aku menyebut angka.
Dia mengangguk. “Kita makin tua di tempat yang makin jauh.”
Kami tertawa. Tawa pendek. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat malam itu terasa sedikit lebih ringan.
“Satu hal yang kupelajari di sini,” katanya setelah hening sebentar. “Kalau kita masih bisa duduk dan minum kopi begini, berarti hari ini masih aman.”
Aku mengangguk.
Di site, aman adalah bentuk kebahagiaan paling sederhana.
Sebelum pergi, dia menepuk pundakku.
“Pulang nanti, cerita ke anakmu kalau ayahnya kuat.”
Aku tidak menjawab.
Tapi kata-kata itu tinggal.
Aku tidur malam itu dengan helm masih tergeletak di dekat pintu.
Dalam mimpiku, aku melihat anakku meniup lilin. Aku melihat istriku tersenyum. Tidak ada suara mesin. Tidak ada debu.
Aku terbangun sebelum pagi.
Keesokan harinya, aku menerima pesan lagi. Kali ini saat sinyal muncul lebih lama.
Anakku mengirimkan pesan suara.
Suaranya sedikit serak, mungkin baru bangun.
“Ayah… nanti kalau pulang, kita ulang tahun lagi ya.”
Aku menutup mata saat mendengarnya.
Ada rasa perih. Tapi juga hangat.
Aku membalas singkat.
“Iya. Ayah janji.”
Ulang tahunku di site tidak dirayakan dengan kue.
Tidak ada lagu.
Tidak ada lilin.
Hanya helm, headlamp, kopi instan, dan pesan yang datang terlambat.
Tapi di situlah aku belajar sesuatu yang tidak pernah kutemukan di kota:
Bahwa bahagia tidak selalu datang tepat waktu.
Kadang ia datang terlambat, patah-patah, dan sebentar.
Tapi jika kita mau bertahan sedikit lagi,
ia tetap menemukan jalannya.
Dan malam itu, di tengah debu dan jarak,
aku merasa—untuk pertama kalinya—
bahwa aku tidak benar-benar sendirian.


